“Kenapa kamu gugup begitu, Jasmine. Ada apa?” Mahendra menatap Jasmine dengan mimik serius.
Jasmine terlihat tegang. Dia semakin gugup. Apalagi ketika matanya bersirobok dengan mata elang milik sang kakak, rasa takut itu semakin mendera. Janetta kembali mengusap-usap punggung sang putri, untuk memberikan ketenangan.
“Sayang, ada apa, hmm? Berbicaralah dengan tenang, jangan tergesa-gesa.” Janetta berkata seraya tersenyum.
Jasmine tersenyum tipis. Hanya sang mama lah yang selalu mampu memberikan ketenangan padanya. Hanya sang mama lah yang selama ini lebih dekat dengannya, sedangkan sang papa dan sang kakak, lebih terkesan dingin dan acuh. Dan semua itu selalu membuatnya merasa kekurangan kasih sayang.
“Maaf, Ma, Pa. Kuliahku berjalan lancar dan baik.” Setelah menguatkan hati, akhirnya Jasmine mampu berbicara dengan tenang.
“Syukurlah kalau begitu.” Mahendra menjawab sembari melanjutkan sarapannya.
Sementara Juna sudah selesai. Dia bangkit dan berpamitan untuk berangkat ke cabang perusahaan di luar kota. Bian sudah datang menjemputnya. Karena kali ini akan pergi ke luar kota, maka Juna meminta Bian untuk menemaninya.
Selama dalam perjalanan, antara Juna dan Bian saling membisu. Sesekali Bian melirik ke belakang melalui kaca. Dia menatap wajah Juna yang terlihat lesu. Bian menggeleng-gelengkan kepala, karena dia tahu apa yang tengah Juna alami.
“Jun, apa lo mau mampir dulu ke bar, atau gue hubungi Andin buat nemenin lo?” Bian membuka percakapan.
Juna menatap Bian dengan tajam. “Apa lo lupa, Bi. Kalo gue cuma maunya cewek kampungan itu yang ngelayanin gue. Gue nggak butuh cewek lain buat muasin gue!”
Bian menghela napas dengan berat. “Ya … tapi kan, lo tau sendiri kalo sekarang Anjani lagi hamil anak lo. Jadi dia pasti nggak boleh ngelakuin hubungan intim dulu.”
“Stop, Bi!” Juna berteriak.
Bian menginjak rem mendadak. Dia sangat terkejut mendengar teriakan Juna. “Omg, Juna! Lo apa-apaan, sih! Lo bikin gue jantungan, tau gak!”
“Hehe, sorry, Bro.”
Bian menatap Juna. Dia sangat penasaran mengapa bosnya itu sampai berteriak. “Lo mau ngomong apa emangnya, Jun? Cepet bilang, jangan bikin gue makin penasaran aja!”
“Hehe … kita tunda aja pergi ke luar kota.”
“What?! Apa maksud lo, Juna?”
“Makanya dengerin dulu penjelasan gue, Bi. Lo main potong aja, sih!”
Bian menggaruk-garuk tengkuknya sambil cengar-cengir. Karena dia sangat penasaran, maka sampai memotong pembicaraan Juna. Juna hanya menggelelengkan kepala melihat tingkah sang tangan kanan.
“Maksud gue … kita mampir ke MA Company aja. Karna gue pengen ketemu sama cewek kampung itu. Mmmm … maksud gue … gue pengen dia muasin hasrat gue dulu, baru kita lanjut ke luar kota. Karna dari kemaren gue puasa, Bi. Rasanya nyiksa banget.” Wajah Juna memelas.
Bian terbelalak mendengarnya. Dia sungguh tak menyangka jika Juna masih menginginkan Anjani untuk pelampiasan hasratnya. Karena seperti yang dia ketahui jika gadis itu tengah mengandung. Jadi tidak mungkin bila harus melakukan hubungan intim, apalagi Juna yang selalu menginginkannya terus-menerus, karena bisa-bisa akan mengalami pendarahan, bahkan keguguran.
“Jun, lo sadar gak sama yang lo omongin barusan?” Bian menatap Juna dengan tajam.
“Ya, tentu lah gue sadar, Bi. Emangnya kenapa sih, lo nanya kayak gitu?” Juna balik bertanya.
“Lo bener-bener ya, Jun!”
“Apa sih maksud lo, Bi?”
Bian menghela napas berat. “Jun, lo kan tau kalo Anjani itu lagi hamil.”
“Ya, terus kenapa? Apa hubungannya sama keinginan gue yang mau bercinta sama dia? Lagian kan, usia kehamilannya udah mau dua bulan, sementara selama dua bulan ini gue make dia terus-memnerus, tiap hari, bahkan malem pun pernah.” Juna menatap ke luar. “Dan selama ini, selama gue berhubungan badan terus sama dia, nggak pernah terjadi apa-apa, semuanya baik-baik aja. Lo jangan mempersulit keinginan gue lah, Bi. Apa lo nggak kasian sama gue? Hasrat gue udah di ubun-ubun, Bi!”
Bian kehilangan kata-kata. Dia sangat paham karakter Juna yang egois dan keras kepala. Jika dia tidak sadar sendiri, maka nasihat seperti apa pun dan dari siapa pun tidak akan pernah bisa untuk menghentikannya, bahkan kedua orang tuanya pun tak mampu mengendalikannya.
Bian merenung. Dia tengah dilema, antara memikirkan keinginan sang bos dan memikirkan keselamatan Anjani. Perlahan, pria jangkung berkacamata itu menjalankan mobil, dia memutar balik menuju ke MA Company.
Sesampainya di MA Company, Juna bergegas menuju ke ruang kerja. Namun, ketika melewati lantai bawah, di mana Anjani biasa mengerjakan tugas sebagai cleaning services, dia berhenti. Matanya mencari-cari keberadaan Anjani, tetapi tidak tampak. Ketika dia tengah fokus mencari-cari Anjani, tiba-tiba suara seorang cleaning services mengejutkannya.
“Selamat pagi, Pak Juna. Maaf, Bapak sedang mencari siapa? Apakah ada yang bisa saya bantu?” Cleaning Services wanita berusia sekitar 40 tahun bertanya sambil menunduk.
Juna terhenyak dan gugup. Namun, sesaat kemudian, dia kembali terlihat santai dan stay cool. “Hmm … saya tidak melihat cleaning services yang biasanya bekerja bersama Ibu. Ke mana gadis itu?”
“Maksud Bapak, Anjani?”
“Hmm!”
“Oh, Anjani sejak kemarin tidak masuk kerja, Pak.”
Wajah Juna seketika berubah muram dan merah. “Mengapa dia tidak masuk kerja?”
“Saya tidak tahu, Pak. Apa mungkin dia sedang sakit, ya?”
Juna menghela napas. “Atau mungkin dia hanya datang terlambat? Karena dulu saya pernah memergoki dia datang terlambat.”
“Mungkin juga, Pak.”
“Ya sudah. Nanti kalau Jani sudah datang, suruh ke ruangan kerja saya.”
“Baik, Pak.”
Juna melanjutkan langkahnya menuju lantai 5. Matanya tiada henti melihat arloji yang bertengger di tangannya. Satu detik terasa seperti satu jam baginya, karena terasa sangat lama menanti kedatangan Anjani. Hingga tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, waktunya makan siang. Namun, Anjani tak kunjung datang.
Juna benar-benar sangat kesal. Lalu dia menghubungi HRD, untuk bertanya tentang Anjani. Namun, jawaban dari HRD sama persis seperti jawaban cleaning services tadi. Juna semakin kesal mendengarnya karena merasa tidak puas dengan jawaban mereka. Emosinya memuncak karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun kembali tak terpenuhi. Akhirnya dia mengajak Bian untuk melanjutkan perjalanan ke luar kota.
Sementara itu, di lain tempat. Anjani baru siuman dari pingsan. Matanya mengedari sekeliling yang berwarna putih. Gadis itu berusaha duduk, tapi sedikit kesulitan. Sebuah tangan membantunya untuk duduk. Anjani terkejut, matanya melihat ke arah tangan itu, lalu beralih menatap wajahnya. Untuk beberapa saat mata mereka saling terpaku. Anjani menyipitkan mata, sepertinya dia tidak asing dengan wajah di hadapannya. Otaknya sedang berusaha keras untuk mengingatnya.
“Nona, syukurlah kamu sudah siuman. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu, dan bayi dalam kandunganmu.”