“Tatap aku, Jani! Katakan, apa alsanmu ingin resign?!”
Suara Juna menggelegar. Dia sangat murka ketika HRD menyampaikan surat resign milik Anjani untuk ditandatangani olehnya. Anjani semakin ketakutan mendengar suara Juna. Tubuhnya gemetar. Dia tidak berani menatapnya, meskipun diperintahkan.
“Apa kamu tuli? Aku bilang tatap aku! Dan jelaskan apa alasanmu ingin resign!”
Sekali lagi Juna memerintahkan Anjani agar menatapnya, tapi gadis itu justru semakin menunduk. Juna sangat geram melihatnya. Dia melangkah mendekat, lalu tangannya yang besar mencengkeram wajah Anjani yang mungil. Dia meremas rahang gadis itu hingga mendongak.
Matanya yang teduh kini beradu tatap dengan mata elang milik Juna. Rasa ketakutannya kian bertambah ketika melihat mata Juna yang memerah. Pria itu menatapnya dengan sangat tajam.
Untuk yang kedua kalinya hati Juna berdebar, jantungnya berdetak kencang, dan darahnya berdesir hebat. Namun, kali ini dia mengabaikannya karena lebih fokus dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
“Jangan membuatku semakin emosi, Jani! Cukup kamu jawab pertanyaanku! Cepat katakan, apa alasanmu ingin resign!” Dengan kasar Juna menghempas wajah Anjani.
Anjani meringis menahan sakit. Namun, dia tidak menunjukkannya. Dia berusaha bersikap tegar dan kuat. Dia tidak ingin sampai mengeluarkan air mata lagi. ‘Ya Tuhan, tolong aku agar berani mengatakan yang sebenarnya tentang alasanku resign.’
Dengan memberanikan diri Anjani mengangkat wajah dan menatap Juna. Juna balas menatap seraya tangannya dimasukkan ke saku. Dia masih menunggu jawaban dari gadis itu.
“Sebelumnya saya minta maaf kepada Anda, Pak Juna. Karena saya mengajukan surat pengunduran diri, sedangkan saya masih terikat kontrak. Tapi —” Anjani kembali menunduk.
“Tapi apa? Kamu tentu tahu kan, apa konsekuensinya bila berhenti bekerja dalam masa kontrak? Aku rasa kamu tidak lupa tentang isi surat perjanjian kontrak yang telah kamu tandatangani dulu.” Deru napas Juna terdengar menggebu-gebu. “Atau kamu amnesia, sehingga kamu lupa dengan isi perjanjian itu?”
Anjani terdiam, tidak langsung menjawabnya. Dia belum berani mengangkat wajah. Kini rasa takut di dalam dirinya semakin mencekam. Dia menggigit bibir bawahnya. Dan tanpa disadari jika Juna sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.
“Kamu sengaja ya, menggigit bibir seperti itu untuk memancingku? Kamu merasa seksi, begitu?” Juna tersenyum smirk.
Anjani tersentak. Dengan susah payah dia menelan ludah sembari menggeleng. “Ti-tidak, Pak.”
“Hmm … ok. Jadi sekarang aku jelaskan poin-poin penting di surat perjanjian kontrak kerja, supaya kamu kembali mengingatnya,” ujar Juna, “jika kamu berhenti bekerja dalam masa kontrak, atau belum habis masa kontrak, maka kamu harus dan wajib membayar royalti sebesar 300 juta sebagai denda resign! Tapi jika kamu tidak mau membayar royalti, maka kamu akan berurusan dengan hukum!”
Deg!
Jantung Anjani berdetak dengan kencang mendengarnya. Dia terhenyak karena sangat terkejut. Matanya membulat, dan napasnya memburu. Dia meneguk ludah yang terasa serat melewati tenggorokannya.
Bayangan 9 bulan yang lalu ketika dia menandatangani kontrak kerja selama 3 tahun, kini menari-nari dalam benaknya. Masa kontraknya masih tersisa 2 tahun 3 bulan lagi. Dan jika karyawan yang berhenti bekerja, sedangkan masih terikat kontrak kerja, maka diwajibkan membayar royalti kepada pihak perusahaan sebagai denda. Namun, jika tidak bersedia membayar royalti, maka akan ditempuh dengan jalur hukum.
Anjani baru menyadari semua itu. Tubuhnya seketika lemas tak berdaya. Pupus sudah harapannya untuk bebas dari Juna, pria yang sangat ia hindari. Sebab ia tidak ingin jika Juna akan kembali merudapaksanya.
“Apa sekarang kamu sudah mengingatnya?” Juna bertanya sembari berjalan memutar mengitari tubuh Anjani. Anjani hanya mengangguk. Dia sudah tak mampu untuk bersuara.
“Tatap aku! Kamu belum menjelaskan apa alasanmu ingin resign! Ini kali ketiga aku bertanya padamu, tapi kamu mengabaikan pertanyaanku!” Juna berkata dengan sarkas.
Anjani kebingungan untuk menjawab pertanyaan Juna. Karena alasannya hanya ingin terbebas dari pria tersebut, tapi jika ia mengatakan yang sejujurnya, ia takut jika Juna akan semakin marah padanya.
Karena Anjani hanya diam membisu, membuat emosi Juna semakin memuncak. Dia kembali mencengkeram rahang gadis itu dan meremasnya kuat. “Jangan memancing emosiku terus-menerus, Anjani Zeva!”
Deg!
Anjani terkejut. Dia menatap wajah tampan di hadapannya yang kini sudah memerah akibat menahan amarah. Anjani terkejut ketika mendengar Juna memanggil nama lengkapnya. Itu berarti jika pria tersebut sungguh sedang sangat marah.
Matanya berkaca-kaca. Dengan sekuat tenaga dia menahan agar air mata tak keluar. Juna pun membalas tatapannya dengan tatapan tajam. Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam pandangan dan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya suara Anjani yang gemetar dan terbata-bata membuyarkan lamunan Juna.
“A-alasan sa-saya ingin resign … k-karena saya ingin terbebas d-dari An-da, Pak Juna Mahendra Atmaja. Karena saya tidak ingin Anda selalu merudapaksa saya lagi!” Anjani memejamkan mata. Dia tak kuasa menatap mata Juna.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Juna serasa diremas. Darahnya seketika mendidih. Dia merasa sangat terhina mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Anjani, gadis yang akhir-akhir ini sudah menjadi candu baginya. Namun, ternyata gadis tersebut ingin terbebas darinya.
Emosi kini kembali menguasai jiwanya. Napasnya semakin memburu. Lalu dia meninju tembok berulang kali untuk melampiaskan emosinya hingga buku-buku jarinya terluka.
Anjani menatap nanar tindakan yang dilakukan sang CEO tersebut. Dia menjadi serba salah dibuatnya. Dia ingin menghentikan, tapi rasa takut lebih mendominasi. Akhirnya dia memilih diam.
Emosi Juna semakin memuncak ketika melihat Anjani yang hanya mendiamkannya. Dia merasa diabaikan. Dia pun mendekati gadis tersebut dan menariknya menuju sofa. Didorongnya tubuh mungil itu hingga terjengkang.
Secepat kilat Juna melepas pakaiannya. “Kamu benar-benar semakin berani padaku! Kamu semakin kurang ajar padaku! Baiklah jika itu maumu. Aku akan memberimu pelajaran!”
Dengan cekatan tangannya melucuti pakaian Anjani hingga tubuh gadis malang itu kini sudah terpampang polos di hadapannya. Anjani menutupi bagian intimnya dengan tangan, dan merapatkan pahanya. Namun, tenaga Juna yang berkali-kali lipat darinya membuatnya kalah. Kini, Juna sudah berhasil mengungkung tubuhnya dan mencumbuinya dengan brutal.
“Kamu ingin resign karena kamu ingin menghindariku, kan? Karena kamu ingin terbebas dariku. Maka aku akan semakin menjeratmu. Camkan itu!” Juna berkata di sela-sela cumbuannya.
Anjani memberontak. Dia meronta-ronta sambil memukul-mukul tubuh tinggi besar yang menindihnya. Namun, semakin dia memberontak, maka semakin kuat pula Juna menindihnya. Pria tersebut seperti orang kesetanan. Dia kembali menggagahi Anjani dengan kasar dan brutal hingga tubuh gadis tersebut terasa remuk redam dibuatnya.
“Aahhhh … Jani. Aku benar-benar sudah kecanduan tubuhmu dan semua yang ada padamu. A-aku tak akan mungkin membiarkanmu pergi dariku. Sampai kapan pun aku tak akan melepaskanmu. Mulai sekarang kamu harus setiap hari melayaniku. Oouuhhh ….”