“Aku … howek … howek ….” Jasmine berlari ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Dia muntah-muntah di sana. Janetta berlari mengikuti dan memijit-mijit tengkuk lehernya. Sementara Mahendra menatap kebingungan dengan apa yang tengah terjadi pada sang putri, sedangkan Juna hanya membisu menatap dari lanntai atas, lalu dia kembali masuk ke kamar. Juna merebahkan tubuh di ranjang. Pikirannya sedang kalut tak menentu dan tiba-tiba gelisah. ‘Ada apa denganku, mengapa perasaanku tidak menentu begini? Aahh … jika aku terus berada di rumah seperti ini, otakku semakin stres. Lebih baik aku keluar mencari hiburan.’ Juna merogoh ponsel yang ada di saku, lalu menghubungi Bian. Tak lama kemudian, dia bergegas turun untuk menemui Bian yang sudah menunggu di halaman rumah. Namun, ketika melewati

