“Anjani, saya ingin memeriksa ke dalam kontrakanmu!” Tuti menelisik penampilan Anjani.
Anjani terkejut. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak menentu. Peluh dingin kini mulai membanjiri pelipisnya. Telapak tangannya pun dibanjiri keringat dingin. Dia memilin-milin jemari tangan sembari menunduk. Semua gerak-geriknya tak luput dari perhatian Tuti dan Odah.
Odah tersenyum sinis seraya menatapnya. Dia merasa sangat puas karena sudah berhasil menghasut dan menjadi provokator. Dengan berjuta cara dia berusaha meyakinkan Tuti agar mempercayainya. Dan tak disesali, karena usahanya itu membuahkan hasil.
“Anjani, kenapa kamu cuma diem aja. Emangnya kamu nggak denger ibu ngomong apa?”
Suara Tuti mengagetkan Anjani yang tengah sibuk melamun. Perlahan gadis itu mengangkat wajah dan menatap sang pemilik kontrakan dengan sayu. “Ma-af, Bu Tuti. Ibu mau meriksa dalam kontrakan saya emangnya ada apa ya, Bu?”
“Halah, Anjani! Kamu ini perasaan dari tadi kayak sengaja ngehindar dan nyari-nyari alesan melulu!” Odah menyeletuk.
“Sabar, Bu Odah. Jangan kebawa emosi. Omongan Bu Odah kan, belum terbukti bener atau nggaknya.” Tuti menimpali sambil menatap Odah yang terlihat bersungut-sungut.
Anjani semakin dibuat penasaran sekaligus merasa khawatir dan juga takut. Hatinya was-was tak menentu. Apalagi melihat gelagat Odah yang menunjukkan permusuhan. Sejak tadi wanita bertubuh gempal dengan warna lipstik menyala itu terus saja mendesaknya.
“Maaf, Bu Tuti. Maksud Ibu omongan Bu Odah yang belum terbukti tuh, apa ya, Bu?” Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Anjani.
“Begini, An —”
Belum juga sempat Tuti menjelaskan, Odah sudah menerobos masuk ke dalam kontrakan Anjani. Dengan begitu lancangnya dia membongkar seisi ruangan kontrakan yang sempit itu. Awalnya dia memeriksa kamar mandi, lalu kemudian ke ruang tidur.
Mata Odah menyusuri ruang tidur yang sempit itu. Lalu matanya fokus tertuju pada sebuah tas yang tergolek di atas meja plastik. Dengan tergesa-gesa dia membukanya. Wajah Anjani sudah memucat, sementara Tuti hanya memperhatikan saja apa yang Odah lakukan.
“Ternyata dugaan saya benar, Bu Tuti.” Mata Odah terbelalak seraya menatap Anjani dan Tuti secara bergantian.
Tuti semakin dibuat penasaran. “Bu Odah, apa maksud Ibu? Ngomong yang jelas dulu, Bu. Jangan bikin saya makin penasaran.”
Tangan Odah mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Dia menunjukkannya pada Tuti hingga membuatnya terbelalak lebar, sedangkan Anjani sudah berlinangan air mata. Rasa malu, sedih, dan sakit, kini menderanya.
“Bu Tuti, coba liat ini. Ini kan test pack, dan garisnya dua, jadi itu artinya positif hamil.” Odah tersenyum miring seraya menatap Anjani yang sesenggukan.
Tuti meraih benda pengetes kehamilan tersebut. Dia tak kalah syok melihatnya. “I-ini punya siapa, Anjani?”
“Udah jelas kalo itu punya si Anjani yang sok alim, sok lugu, sok polos ini, Bu Tuti. Dasar gadis liar, munafik, p*****r. Atau jangan-jangan kamu ini pelakor?!” Odah yang menjawab ucapan Tuti. “Bu Tuti, ini udah kuat buat bukti. Gadis ini udah ngerusak nama baik kampung kita. Usir dia dari kontrakan Bu Tuti, biar nggak bawa sial!”
Odah menatap Anjani dengan nyalang. “Eh, Cewek Murahan. Siapa yang ngehamilin kamu? Hah! Jangan bilang kalo lelaki itu salah satu suami dari ibu-ibu di kampung ini!”
Tungkai kaki Anjani sudah tak mampu menopang tubuhnya. Kakinya gemetar. Rasa takut kini lebih mendominasi. Dia ketakutan dan khawatir jika dirinya akan dihakimi massa.
Sementara Tuti menatap tak percaya. Karena selama ini dia melihat jika Anjani merupakan gadis baik-baik, sopan, periang, dan mudah bergaul. Rasanya sangat mustahil dan tak dapat dipercaya, benar-benar sangat sulit untuk dipercaya.
Perlahan Tuti melangkah mendekati Anjani yang terisak sambil memeluk lutut. Matanya berkaca-kaca melihat keadaan gadis malang di hadapannya. Saat kemarin Anjani pagi-pagi ingin ngerujak buah mangga muda, dia awalnya memang sempat mencurigainya. Namun, kecurigaannya ditepis jauh. Hingga akhirnya datanglah Odah yang menjadi provokator.
Tangannya memegang bahu Anjani yang terguncang. Kini dia tengah fokus pada gadis di hadapannya, sementara Odah perlahan-lahan melangkah keluar. Tuti tak menyadari itu, karena fokusnya tengah tertuju hanya pada Anjani yang terlihat sangat memprihatinkan.
“Anjani, tolong bicara yang jujur sama ibu. Apakah benar test pack itu punya kamu? Kamu hamil? Dan siapa yang ngehamilin kamu. Apa bener yang tadi Bu Odah bilang, kalo kamu pelakor, jadi yang ngehamilin kamu itu warga kampung ini?” Tuti memberikan pertanyaan beruntun.
Bibir Anjani bergetar. Dia menggeleng kepala pelan. “Bu Tuti … saya —”
Belum selesai Anjani berbicara, tiba-tiba suara riuh terdengar memekakkan telinga. Baik Anjani maupun Tuti dibuat terkejut. Mereka bangkit seraya menatap ke arah luar. Ternyata di sana terdapat banyak warga laki-laki dan perempuan. Ada yang memakai payung, ada yang mengenakan mantel atau jas hujan, dan ada juga yang tak mengenakan apa-apa hingga basah kuyup.
Odah yang membawa mereka. Wanita itu terlihat sangat antusias sekali. Tuti menatap Odah dengan beribu pertanyaan di benaknya. Anjani sejak tadi menangis ketakutan, apalagi melihat begitu banyak warga di depan kontrakannya.
“Bu Odah, kenapa Ibu bawa-bawa warga ke sini?” Tuti sudah tak kuat menahan keingintahuannya.
Odah menatap sinis ke arah Anjani. “Bu Tuti, saya sengaja bawa warga kampung buat ngusir cewek lacur dan pelakor ini!”
“Apa maksud Bu Odah?” Tuti menatap Odah dengan mimik wajah serius.
“Heh, Pelakor! Siapa yang udah ngehamilin kamu? Cepetan bilang, kenapa cuma diem aja, sih! Tebakan saya bener kan, kalo suami dari ibu-ibu warga kampung ini yang udah bikin kamu hamil!” Odah berkata dengan menggebu-gebu, tanpa memikirkan perasaan Anjani yang semakin terluka atas tuduhannya.
“Usir! Usir cewek sialan ini dari kampung kita. Dasar pelakor, cewek murahan, nggak punya harga diri!”
“Betul! Usir aja pelakor ini dari kampung kita. Daripada kampung kita kena sial akibat ulahnya!”
“Setuju! Ayo, kita seret paksa aja pelakor ini! Gayanya doang yang sok alim, kayak bener-bener pendiem. Eehh, gak taunya bunting di luar nikah. Dasar pelakor sialan pembawa petaka!”
“Seret dia biar cepat pergi dari sini! Karna kalo gak dipaksa, dia pasti nggak bakal pergi. Lagian nggak ada gunanya kampung kita nampung l***e ini!”
Caci-maki dan sumpah serapah dilontarkan oleh para warga, dan menambah sakit di hati Anjani. Hati gadis itu benar-benar sangat terluka. Harga dirinya diinjak-injak dengan kata-kata kotor serta hinaan dari para warga. Tangisnya pun semakin pecah.
Tanpa sadar tangannya menyentuh perut. Matanya terpejam. Bayangan saat Juna menodainya pertama kali, serta merudapaksanya setiap hari di ruang kerja pria tersebut semakin memenuhi benaknya.
Matanya seketika terbuka ketika bayangan Juna yang memperlakukannya seperti sampah pada saat dia meminta pertanggungjawaban, kini memenuhi otaknya. Air mata semakin deras membanjiri pipinya yang pias. Anjani menggigit bibir bawahnya hingga terluka.
“Eh, Pelakor! l***e! Pembawa sial! Cepat kamu pergi dari sini! Angkat kaki detik ini juga!”