Anjani terbaring lemah. Dia sudah siuman dari pingsannya. Farhan dengan setia menemani. “Anjani, syukurlah kamu udah sadar. Aku khawatir banget sama kamu.” Farhan menggenggam tangan Anjani. Anjani berusaha duduk. Dia meringis ketika tangannya yang terpasang jarum inpus sedikit ketarik oleh pergerakannya. Dengan sigap Farhan membantu menaikkan hospital bed dengan menggunakan remote kontrol yang terletak di pagar pengaman, supaya Anjani lebih nyaman. “Terima kasih banyak, Pak Farhan. Maaf, karna aku selalu ngerepotin kamu.” Anjani menatap sendu. Tangan Farhan membelai kepala Anjani seraya tersenyum. “Kamu nggak pernah ngerepotin aku. Dan aku nggak pernah ngerasa direpotin sama kamu. Pokoknya kamu harus fokus sama kesehatan dan kandunganmu.” “Berterima kasihlah sama pemilik rumah sakit i

