Kali ini Bian benar-benar menepati janjinya pada Jihan untuk datang membawa Mama dan Papa ke rumahnya lagi. Malam ini, hanya bertiga, minus Aliya serta krucils juga Bhima dan Jasmine.
Bersetelan batik dan celana bahan hitam, Bian turun dari dalam mobil dengan menggandeng Mama. Dari binar matanya Mama tahu Bian sedang bahagia walau wajahnya tetap datar seperti biasa.
Papa mengetuk pintu rumah di depannya, beliau menyapa Bapak setelah pintu di bukakan. Mereka lalu di persilakan masuk dan duduk di ruang tengah, sembari menunggu Ibu dan Jihan yang masih berberes.
"Nah itu dia Jihan," ujar Bapak saat melihat putri tunggalnya turun bersama Ibu.
Jihan langsung menyalami Mama dan Papa bergantian lalu Bian. Ibu juga langsung menyalami sahabatnya itu, mereka masih saja tak percaya bahwa saat ini mereka akan berbesan.
Ternyata, pertemuan mereka yang tak sengaja hari itu membawa perjodohan bagi anak-anak mereka sekarang.
Hari itu...
Mama sedang berbelanja sendirian di salah satu pusat perbelanjaan. Selesai praktik Mama tidak langsung pulang ke rumah, beliau bosan sendirian karena si kembar belum kembali ke Jakarta, Kani masih sibuk dengan KKNnya di luar kota, sementara Aliya sibuk membantu Adrian mengurus akreditasi rumah sakit dan mengurus anak-anaknya.
Ada seseorang yang memperhatikan mama dari jauh. Sedang mengamati gerak geriknya, Ibu-ibu tersebut lantas menghampiri Mama yang sedang memilih sereal kesukaan cucu kembarnya.
"Mailanny?" sapanya. Mama menoleh begitu namanya di panggil.
Sebentar Mama mengamati wajah orang di depannya ini. "Ya Allah, Fitri?" mereka berdua lantas berpelukan, sudah banyak tahun bereganti dan mereka tidak pernah lagi berjumpa, terakhir, sebelum Mama dan Papa berangkat ke New York saat itu, beliau juga tahu saat Mama harus meninggalkan Aliya saat itu.
"Apa kabar, Mai?"
"Alhamdulillah, baik, Fit. Kamu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah, sehat. Kamu udah balik lagi ke Jakarta? Dari kapan? Sulungmu apa kabar? Anakmu berapa sekarang" Ibu memberondong banyak pertanyaan sekaligus.
"Anakku 4, sepasang kembar dan 2 perempuan. Aliya, Alhamdulillah dia juga sehat, sudah menikah, anaknya 3. Anakmu, piro, Fit?"
"Masha Allah, Mai sudah ada cucu. Anakku satu perempuan, tunggal." ujar Ibu saat itu.
Dan mengalirlah cerita bahwa Mama sedang mencarikan jodoh untuk si kembar dan akan mengenalkannya bila mereka pulang nanti. Dengan tanpa berpikir lagi, Ibu bilang bahwa Jihan juga sedang mencari jodohnya. Tak menyebutkan secara spesifik seperti apa, yang penting punya pekerjaan dan bertanggung jawab.
Mama pun setuju dan janji akan mengenalkan Jihan dengan dua anaknya, Abiandra dan Abhimata. Ketika itu Mama optimis bahwa Bhima akan mau di kenalkan pada Jihan namun setelah dibicarakan lewat telepon, Bhima menolak mentah-mentah dan akan mencari jodoh pilihan hatinya sendiri.
Tinggal Bian yang bisa Mama harapkan, lewat telepon juga Mama sampaikan bahwa beliau akan mengenalkan salah satu anak temannya yang juga sedang kuliah kedokteran di salah satu universitas ternama di Jakarta.
Bian setuju dengan pilihan Mama walau ia juga belum melihat seperti apa rupanya Jihan. Mama hanya mendeskripsikan bahwa anaknya cantik dan pintar, tidak lebih dari itu.
Mama cukup membuat Bian penasaran selama masih berada di Jerman.
Berawal dari pertemuan singkat dan tak sengaja Mama yang membuka jalan silaturahmi kembali terjalin lewat perjodohan Bian dan Jihan.
.
..
.
.
.
"Pak, buk. Sesuai dengan apa yang saya janjikan, saya nggak mau berlama-lama lagi, Jihan sudah dapat gelar S.Ked nya. Sembari menjalani koasnya, memang sejak kemarin-kemarin kami sepakat untuk akad secepatnya, bagaimana? Ibuk sama bapak nggak keberatan, kan?" jelas Bian cukup panjang, ia menatap Bapak dan Ibuk dengan serius menanti jawaban.
"Bapak, sih, setuju aja, nak Bian. Lebih baik jika disegerakan, secepatnya." jawab Bapak akhirnya.
"Jadi enaknya kapan kita laksanakan akad?" tanya Ibuk to the point.
"Besok saya dan Jihan akan urus berkas ke KUA buk, sebelum Jihan masuk kerja izin sebentar,"
"Yawes, kalian urus berkas ke KUA. Biar mama dan ibuk yang urus lain-lain." tambah Mama.
"Ehm, buk, ma, kemarin kami juga udah diskusi soal di mana acaranya berlangsung. Mas Bian mau acaranya di sini, hanya keluarga dan teman-teman dekat saja. Resepsi bisa menyusul, ibuk, bapak sama mama dan papa nggak keberatan kan?" kini Jihan bersuara.
"Yo nggak apa-apa toh, nduk. Malah ya, acaranya akan terasa lebih khidmat, nah sisanya untuk yang nggak datang pas akad, bisa ibuk undang di acara siraman dan pengajian." sahut Ibu semangat.
"Betul kata ibuk, Jih. Mama juga setuju kok, akan menghemat pengeluaran kalian juga kan? Yang penting, akadnya. Di luar itu bisa menyusul supaya Jihan juga nggak stress karena nyambi koas,"
Akhirnya keputusan sepakat sudah. Akad akan dihelat di kediaman Jihan, hanya pengajian, siraman lalu akad, tanpa resepsi. Jihan bahkan sudah mempersiapkan mentalnya bila berita pernikahannya ini terkesan buru-buru dan mendatangkan fitnah Jihan MBA. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk yang terjadi setelah ini dan Jihan tidak akan peduli omongan orang-orang nyinyir itu.
Setelah semua mencapai keputusan dan makan malam. Mama, Papa serta Bian pamit pulang karena sudah malam. "Saya pulang ya, Jih." Bian mengelus puncak kepala Jihan saat Jihan meraih punggung tangannya lalu dicium seperti biasa.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut ya, kamu bawa mama papa," pesannya. Bian mengangguk pasti lalu pamit dengan Bapak dan Ibuk.
Jihan menatap mobil civic hitam itu menghilang, menjauh dari rumahnya. Ada perasaan hangat di hatinya saat ini, akhirnya Bian secara resmi akan mengikatnya. Setelah berbagai macam drama menjelang pernikahan terjadi kemarin-kemarin. Tak apa, hitung-hitung latihan batin dan mental sebelum memasuki lembaran kehidupan yang baru.
.
.
.
.
Bian menjemput Jihan pagi-pagi ke rumahnya, tujuannya pagi ini sebelum ke rumah sakit adalah KUA, untuk mendaftarkan berkas-berkas pernikahan yang di butuhkan.
Setelah semua urusan KUA selesai Bian langsung mengantar Jihan ke rumah sakit karena Jihan hanya bisa izin sekitar 1jam dan Bian juga harus pergi ke kantor.
"Nanti sore saya jemput seperti biasa. Saya mau bawa kamu lihat sesuatu," ujar Bian sebelum Jihan turun dari mobil.
"Ke mana, mas?" tanya Jihan bingung.
"Ada, nanti juga kamu tahu. Udah sana turun,"
"Heum, kamu hati-hati mas. Assalammualaikum,"
"Wa'alaikumsalam," sahut Bian sambil melambaikan tangannya saat Jihan menengok lagi ke arah mobil.
Ada sedikit senyum terbit di wajah Bian. Sebentar lagi statusnya berubah, tanggung jawabnya akan bertambah seiring berjalannya waktu.
Ia harus bekerja lebih keras dari sebelumnya, akan mengusahakan apapun yang penting halal dan tidak haram. Doanya hanya satu saat ini, semoga segala sesuatunya akan berjalan lancar hingga nanti.
Sepanjang perjalanan menuju kantor ada saja yang menarik perhatiannya. Ketika mobilnya berhenti di lampu merah persimpangan jalan, ada rasa sedikit nyeri di hatinya ketika melihat anak sekecil itu, sepagi ini bahkan sudah ada di jalanan. Tempat yang bukan seharusnya, ah, hidup di Jakarta semakin keras saja setiap harinya.
Begitu sampai di kantor Bian langsung naik ke atas dan masuk ke ruangannya. Seperti biasa, ada Patricia yang menyapa dan memberikan schedule Bian seharian ini.
"Pagi, Pak."
"Pagi, Pat, ada apa kita hari ini?" tanya Bian sambil mengambil secarik kertas yang di sodorkan Patricia.
"Seperti biasa, pak. Kunjungan proyek dan meeting juga acara tasyakuran ulang tahunnya Bu Siska hari ini, pak," jelas Patricia rinci.
Bian mengangguk paham. "Nggak ada jadwal setelah jam 4 ya," Bian memperingatkan.
"Baik pak, jadwal bapak cuma sampai jam 3 aja kok,"
"Oke, thank you," Bian segera masuk ke ruangannya setelah mendengar Patricia menjelaskan beberapa jadwalnya hari ini.
.
.
.
.
Hari ini terasa begitu cepat, setelah acara makan-makan ulang tahun Bu Siska di ruang auditorium kantor, Bian segera pamit pada Papa untuk menjemput Jihan di rumah sakit.
Bian akan memberi kejutan untuk Jihan. Ia segera turun ke basement dan melajukan civicnya keluar dari area kantor, Jihan juga sudah meneleponnya tadi dan memberi tahu bahwa 15 menit lagi jam jaga Jihan selesai.
Suara khas Raisa dari radio yang di nyalakan Bian memenuhi kabin mobilnya. Kenapa lagu ini terdengar pas dengan apa yang sedang Bian dan Jihan rencanakan kini?
Mungkin hari ini semua hanya mimpi.
Tapi cepat atau lambat semua kan terjadi.
Kau dan rencanamu aku disampingmu.
Kita erat bersepakat kelak kan kesana.
Cinta bukan satu-satunya yang bawa kita ke sana.
Sebut saja dia logika.
Menang mengalah bahagia.
Jeda tak sepaham.
Bukan tak seberapa.
Kita erat pasti bisa lalui semua.
Hari yang bahagia...
Cinta bukan satu-satunya yang bawa kita ke sana.
Sebut saja dia logika.
Menang mengalah bahagia.
Lagu itu habis ketika mobil Bian berhenti di lobby rumah sakit, menunggu Jihan masuk. "Assalammualaikum," ucap Jihan lalu meraih punggung tangan Bian.
"Wa'alaikumsalam,"
"Ke mana kita hari ini pak bos?"
"Hmm, udah kamu ikut saya dulu ya,"
Jihan mengerjap beberapa kali lalu mengangguk patuh dengan permintaan Bian.
Mobil Bian sudah kembali berkutak dengan macetnya sore hari di Jakarta, bersamaan dengan matahari senja yang bersinar terang menuju ke peraduannya.
Tangan kiri Bian reflek menggenggam tangan kanan Jihan. Sesekali di elusnya tanpa Bian menatap Jihan, Jihan terjingkat dengan perlakuan Bian hari ini.
Matahari menyapa
Kala dirimu ada
Kaulah sebuah jawaban
Semua tanya
Sungguh hati ini tak mampu ungkapkan
Semua rasa yang lama terpendam di dada
Hanya kamu membuatku
Merasakan cinta yang sempurna
Walau musim berganti
Ku kan selalu setia menanti
(walau hanya) walau hanya dalam hati
Ku nyatakan dengarkanlah
Cobalah kau dengar
Walau tanpa kata
Kau yang bisa memberikan
Cinta sempurna
Sungguh hati ini tak mampu ungkapkan
Semua rasa yang lama terpendam di dada
Hanya kamu membuatku
Hanya kamu membuatku
Merasakan cinta yang sempurna
Lagi, suara Raisa memenuhi kabin mobil Bian. Entah Jihan harus berkata apa dengan perlakuan Bian saat ini, mengapa rasanya lain? Apa ini efek menjelang pernikahan mereka? Ah sudahlah, intinya saat ini Jihan bahagia karena Mr. Polar Bear nya kini bisa sedikit lebih romantis, sedikit, ingat itu.
"Mas kok kita ke mall?" tanya Jihan bingung saat mobil Bian memasuki parkiran Lippo Mall Kemang yang tak jauh dari rumah sakit.
"Iya, kamu akan tahu nanti." sahut Bian sambil memarkirkan mobilnya. "Ayo turun,"
Lagi lagi Jihan patuh tanpa banyak bertanya walau sesungguhnya di benak Jihan banyak pertanyaan berseliweran tapi ia memilih diam dan lihat apa yang di lakukan Bian.
Bian menggandengnya masuk ke dalam mall, Jihan tahu, Bian bukan orang yang suka jalan-jalan ke tempat seperti ini tapi entah ada angin apa kali ini Bian memilih mall sebagai tujuan jalan-jalannya.
Mereka berhenti di depan salah satu toko perhiasan. Tanpa banyak bicara Bian langsung membawa Jihan masuk ke dalam dan duduk di salah satu kursi dan di dapannya terhampar begitu banyak macam perhiasan.
"Kamu pilihkan untuk cincin pernikahan kita," ucap Bian. "Saya nggak bisa,"
"Cincin ini kan, kamu yang pilih, mas? Ini bagus kok." Jihan menunjukkan jarinya yang terdapat cincin putih bermata berlian yang Bian berikan saat lamarannya di cafe waktu itu.
"Itu hanya kebetulan, kali ini, saya mau kamu yang pilihkan, ya?"
Jihan tersenyum menatap Bian tanda ia setuju. Ia langsung meminta si pramuniaga toko untuk mengeluarkan model yang terbaru namun di rasa Jihan semua terlalu berlebihan. Akhirnya, satu cincin emas sederhana dan klasik jadi pilihan Jihan.
"Aku mau yang ini, mas Bi," ucapnya sambil mencabut cincin emas itu dari tempatnya.
"Apa nggak terlalu simpel?"
Jihan menggeleng. "Mas, cincin yang sekarang ku pakai aja itu udah lebih cukup. Aku cuma mau yang sederhana untuk akadnya. Pernikahan bukan hanya soal cincinnya aja, kan?" jawab Jihan lalu tersenyum.
"Always Forever," gumam Jihan lagi saat membaca ukiran di dalam cincinnya itu.
"Ya udah, kita ambil yang ini." putus Bian.
Jihan segera mencoba di jemarinya dan pas, begitu juga Bian. Rasanya cincin ini memang dibuat untuk mereka. "Makasi ya mas," ucap Jihan.
"Memang udah seharusnya,"
Bian segera mengurus pembayaran cincin yang di belinya. Setelah selesai Bian tiba-tiba sibuk dengan ponselnya lalu membawa Jihan ke lift yang terhubung ke salah satu tower gedung ini.
Jihan bingung kenapa Bian membawanya kemari? Ini kan, apartment? Ada seorang wanita berumur sekitar 40 tahunan menunggu Bian di salah satu pintu apartment. "Sore mbak," sapa Bian lalu berjabat tangan dengan seseorang itu.
"Mas, kita mau ngapain?" bisik Jihan.
"Oh iya, mbak Tina, kenalkan ini Jihan. Calon istri saya," ujar Bian. Jihan segera menjabat tangan Mbak Tina yang Jiham tebak dia sepertinya adalah agen properti.
Setelah sedikit basa basi, Mbak Tina segera membuka pintu apartment full furnished yang ternyata di beli Bian, untuk di tinggalinya bersama Jihan.
Jihan terperangah melihatnya. Ia tahu bahwa harga apartment di atas mall ini cukup tinggi, dan Bian membelinya tanpa dicicil? Full furnished pula. "Mas, kamu nggak bercanda kan?" Jihan mengerutkan dahinya lagi.
Bian menggeleng. "Sebenarnya, apartment ini udah saya booking sejak lama. Saya punya tabungan yang cukup banyak sejak SMA dari mama, papa dan belum pernah sedikitpun saya gunakan. Daripada mengendap begitu saja lebih baik di pergunakan untuk membeli properti. Kalau kamu tanya kenapa saya beli ini daripada rumah, alasannya, kita masih berdua, harga tanah di sini sedikit tinggi, jadi untuk sementara kita di sini dulu. Nggak apa-apa kan?" jelas Bian panjang kali lebar, Jihan tergugu tak percaya bahwa Bian sudah mempersiapkan sampai sejauh ini.
"Nggak apa-apa mas, terimakasih," ucap Jihan. Bian langsung merengkuhnya dalam pelukannya.
Selesai urusan melihat apartment, Mbak Tina langsung menyerahkan kunci serta berkas kepemilikan atas nama Bian lalu pamit pergi.
Jihan sama sekali tak pernah menyangka dan bisa menerka apa yang akan di lakukan Bian setelah ini. Lelakinya ini penuh dengan banyak kejutan, seperti sifatnya yang bisa tiba-tiba perhatian dan tiba-tiba dingin.
Rasanya Jihan menjadi perempuan paling bahagia saat ini. Ini semua di luar ekspektasi Jihan, Jihan pikir ia akan dibawa tinggal dirumah Mama sampai beberapa tahun ke depan. Namun dugaannya salah, Bian justru membeli apartment yang tak jauh dari rumah sakit dan akses mudah ke kantor Bian.
Ternyata Bian sudah berpikir sejauh itu. Mereka memilih tinggal sendiri, agar tidak berat ke salah satunya. Kalau seperti ini mereka bisa membagi waktu seminggu sekali akan berkunjung ke rumah Mama dan ke rumah Ibu di minggu berikutnya.
"Nanti setelah acara akad selesai, kita menginap di rumah mama beberapa hari baru setelahnya ke sini. Semua udah lengkap, tinggal bawa barang-barang penting juga baju-baju lainnya," jelas Bian saat Jihan masih tergugu tak percaya.
Jihan tersenyum menatap Bian, lagi. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan terimakasih hari ini. "I love you so much my polar bear," ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bian
"Love you too much more, sunshine." Bian mengecup puncak kepala Jihan dengan lama dan dalam.