Apapun yang terjadi, sejak awal Hikigaya Hachiman memanglah pribadi yang korup
Guru sastra Jepangku, Hiratsuka Shizuka, terlihat emosi ketika membaca essay milikku dengan
keras-keras. Ketika kudengarkan dengan cermat, aku ternyata baru sadar kalau skill menulisku jauh
dari kata bagus. Kupikir akan terlihat pintar jika kutaruh beberapa huruf yang asing disana, tapi
ternyata terlihat seperti sebuah taktik murahan yang dimiliki seorang penulis bermasalah.
Apakah karena tulisanku yang terkesan amatir tersebut, alasan dibalik dia memanggilku kesini?
Mungkin saja begitu. Pasti itulah alasannya. Setelah Sensei selesai membacanya, dia menaruh
tangannya di kening.
“Begini, Hikigaya, apa tugas yang kuberikan kepadamu ketika di kelas tadi?”
“...Well, itu adalah menulis essay dengan topik ‘Pandanganmu terhadap kehidupan SMA’.”
“Benar sekali. Jadi kenapa kau menulis surat ancaman seperti ini? Apa kau teroris? Atau mungkin,
idiot?”
Dia mengatakan itu sambil merapikan rambutnya, lalu tatapan matanya sangat tajam ke arahku.
Kalau dipikir-pikir, dia mungkin lebih tepat dikatakan ‘nyonya’ daripada ‘guru wanita’, karena yang
terakhir tadi lebih terkesan e****s. Ketika aku memikirkan banyak hal, kepalaku dipukul oleh kertas
yang digulung olehnya.
“Perhatikan yang benar!”
“Ya, Sensei.”
“Matamu, seperti mata ikan yang membusuk.”
“Tapi ikan kaya omega-3 bukan? Saya rasa itu bisa membuat saya terkesan pintar.”
Tapi gerakan mulutnya semakin emosi mendengarkan jawabanku.
“Hikigaya. Apa-apaan dengan essay semacam ini? Aku ingin mendengar dulu alasanmu.”
Tatapan matanya seperti orang yang melemparkan pisau ke arahku. Hanya wanita yang dikutuk
untuk menjadi cantik, adalah wanita yang bisa memberikan ekspresi yang cukup kuat sehingga
membuatmu terseret dalam auranya. Sederhananya, dia terlihat menakutkan.
“Uh-well...bukankah itu mencerminkan kehidupan SMA, benar tidak? Essay itu sudah melebihi
ekspektasi sebuah essay yang ditulis anak SMA!”
Aku terus menggumamkan kata-kataku. Aku sebenarnya gugup berbicara kepada orang, tapi
berbicara ke wanita yang lebih tua membuatku bertambah gugup.
“Biasanya, judul essay seperti itu akan membuat para siswa akan menuliskan pengalaman mereka di
dalamnya, benar tidak?”
“Memang benar judulnya seperti itu, sensei. Kalau sensei menulis judulnya lebih detail, mungkin
saya bisa menulis essay sesuai dengan apa yang sensei ingin baca di essay saya. Namun kalau tidak
sesuai harapan sensei, bukankah itu salah sensei yang memberi judul essay kurang detail?”
“Kau jangan mengajariku, dasar bocah.”
“Bocah...? Ya masuk akal juga kalau usia seperti sensei mengatakan itu kepada saya, mungkin saya
memang bocah.”
Ada sebuah angin bertiup. Dan ternyata itu adalah sebuah pukulan. Pukulan yang dilepaskan tanpa
adanya gerakan awalan. Dan kalau itu belum cukup, itu adalah pukulan yang mengagumkan sehingga
hanya beberapa mili dari pipiku.
“Selanjutnya kupastikan tidak akan meleset.” Dia mengatakannya dengan tatapan mata yang serius.
“Maafkan saya. Saya akan menulis ulang essaynya.”
Untuk mengesankan penyesalan, aku akan menuliskan kata-kataku dengan bijak. Tapi sekarang, dari
semua yang sensei lakukan, tampaknya menulis ulang essay tidak termasuk dalam salah satu cara
untuk memaafkanku. Kurasa yang tersisa untukku adalah berlutut dan membungkuk di depan
kakinya.
Ketika aku sedang mempersiapkan diriku untuk itu, dia lalu berkata.
“Tahu tidak, aku sebenarnya tidak marah kepadamu.”
Oh, jadi begini. Hal-hal mengganggu yang selalu mereka bilang. ‘Aku tidak akan marah, jadi tolong
beritahu’. Dan setelah kuberitahu, ternyata mereka marah. Tapi anehnya, kali ini dia tidak terlihat
marah. Well, kecuali adegan ketika aku membahas usianya.
Aku lalu melihat reaksinya ketika aku batalkan lututku yang hendak berlutut tadi.
Dari saku mantelnya, dia mengambil rokok Seven Stars dan mengetuk-ngetuk mejanya dengan
bungkus rokok yang ada sisi filternya. Persis seperti yang dilakukan para pria yang sudah tua. Setelah
membuka rokoknya, dia lalu menyalakan korek 100Yen tersebut dan menyalakan rokoknya. Dia lalu
menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya di depanku, dengan ekspresi wajah
yang serius.
“Kamu tidak ikut klub manapun, benar?”
“Benar.”
“...Kau tidak punya satupun teman, benar tidak?”
Dia bertanya seperti itu, seperti sudah menyimpulkan kalau aku memang tidak punya teman.
“Sa-saya beritahu saja kalau saya ini hidup dengan pandangan yang parsial, sehingga saya tidak bisa
punya hubungan yang dekat dengan orang lain!”
“Kesimpulannya, kau tidak punya, benar?”
“Pa-pada dasarnya, yeah begitulah...”
Seperti sudah menduga jawabanku seperti apa, ekspresi wajah sensei tiba-tiba berubah menjadi
sangat antusias.
“Jadi begitu ya! Kau benar-benar tidak punya teman! Tepat seperti diagnosisku. Melihat kedua mata
yang terlihat mati sepertimu, aku langsung tahu!”
Jadi kau bisa mengetahuinya hanya dengan melihat mataku? Kalau begitu kau tidak perlu repot-repot
tanya kepadaku lah!
Dia lalu menganggukkan kepalanya dengan mengatakan “mhmmm...ya” dan melihat ke arahku.
“.............Bagaimana dengan pacar atau semacam itu?”
Apa-apaan dengan ‘semacam itu’? Apa yang akan kau lakukan jika aku bilang kalau aku punya
homoan?
“Untuk sekarang ini, belum punya...”
Aku masih memiliki harapan agar memiliki itu di masa depan, jadi kukatakan ‘sekarang ini’, untuk
jaga-jaga...
“Begitu ya...”
Kali ini dia menatapku dengan tajam, dengan mata yang sedikit berembun. Kuharap itu karena asap
rokoknya yang membuat matanya iritasi.
Hey, hentikan itu! Jangan mengasihani nasibku dengan tatapan mata seperti itu!
Ngomong-ngomong, ujung dari pertanyaan tadi kemana sih? Apakah Hiratsuka-sensei memang guru
yang seantusias ini?
Mungkinkah dulunya dia adalah siswi SMA yang nakal dan dikeluarkan dari sekolah, yang kembali
ke sekolahnya untuk menjadi guru?...Serius nih, kembali saja ke sekolahmu!
[note: Kalau tidak salah ada sinetron Jepun berjudul Yankee Bokou ni Kaeru dimana anak nakal sekolah
tersebut kembali ke sekolah tersebut sebagai guru. Dimana guru tersebut membantu para anak nakal di
sekolahnya kembali ke jalan yang benar.]
Setelah mempertimbangkan sesuatu, dia mengepulkan asap rokoknya.
“Baiklah, begini saja. Tulis ulang essaymu.”
“Siap.”
Pasti akan kulakukan.
Baiklah, kali ini aku akan menulis banyak hal yang ‘normal’, tidak menyinggung siapapun. Mirip
seperti tulisan blog, gravure idol, dan seiyuu.
Seperti: Makan malam hari ini adalah...Kari!
Apa-apaan menggunakan ‘adalah...’? Tidak ada yang mengejutkan dengan mengatakan akan
memakan kari.
Sampai saat ini, reaksinya masih sesuai dugaanku. Tapi apa yang dia katakan selanjutnya adalah hal
yang diluar dugaanku.
“Tapi, fakta kalau kau mengatakan hal-hal yang melukai perasaanku itu tetap kucatat. Apa kau tidak
pernah diajari agar tidak membicarakan usia wanita di depannya? Sebagai hukumannya, kau akan
bergabung dengan Klub Relawan. Lagipula, yang salah memang harus menerima hukuman.”
Dia tidak tampak terluka, malahan dia seperti memerintahku saja. Tapi, dia seperti orang yang licik
saja.
Ngomong-ngomong licik, ini mengingatkanku dengan hal yang lain...Kedua mataku berusaha kabur
dari realitas dimana dari tadi aku melirik ke arah d**a sensei yang berusaha keluar dari sesaknya blus
yang dia pakai.
Sungguh pemikiran yang tercela...Tapi kalau begitu, hukuman macam apa yang tadi dia berikan?
“Klub Relawan...Saya harus melakukan apa di klub itu?”
Aku menanyakan itu karena bingung. Aku merasa kalau di klub itu aku harus melakukan perbuatan-
perbuatan kotor, seperti menculik orang.
“Ikuti saja aku.”
Hiratsuka-sensei lalu mematikan rokoknya di asbak dan berdiri. Ketika aku berdiri saja karena
bingung tidak ada penjelasan yang memadai, ternyata sensei sudah ada di pintu, melihat ke arahku.
“Oi, cepatlah!”
Dengan penasaran, kuikuti dirinya.
Bentuk gedung sekolah dari SMA Sobu kota Chiba agak aneh. Kalau dari atas, terlihat seperti huruf
kanji untuk mulut ( ロ ). Kalau ditambah gedung audio-visual, maka sekolah kita jika dilihat dari atas
akan terlihat seperti mata dari seekor burung. Gedung yang menjadi ruangan kelas berada di dekat
jalan raya, berseberangan dengan gedung khusus. Sebuah lorong panjang yang ada di lantai dua
menghubungkan kedua gedung, membentuk sebuah image persegi.
Area-area kosong yang mengelilingi gedung sekolah adalah tempat suci bagi anak muda yang
harusnya mati di essayku. Ketika jam makan siang, baik siswa maupun siswi makan siang bersama.
Lalu, bermain badminton bersama. Setelah pulang sekolah, dengan ditemani cahaya matahari yang
sedang tenggelam dan latar belakang gedung sekolah, mereka membicarakan tentang cinta-cintaan
sambil melihat ke arah bintang-bintang ditemani tiupan angin laut.
Yang benar aja!
Dari sudut pandang orang luar, mereka seperti para aktor yang memainkan drama berjudul ‘masa
muda’ dan memainkan peran mereka dengan baik. Dalam drama seperti itu, mungkin aku berperan
sebagai pohon atau semacam itu.
Jika melihat arah langkah sepatu ‘click-clack’ sensei yang membentur lantai, tampaknya dia menuju
ke arah gedung khusus.
Aku merasakan hal yang buruk soal ini.
Sebagai permulaan, sesuatu yang bernama ‘Klub Relawan’ sendiri sudah terdengar buruk. Kata
‘relawan’ sendiri adalah hal yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi kenyataannya, hal-hal seperti itu tidak akan terjadi. Tidak, sebenarnya, kalau dibayar maka
tidak masalah. Kalau kata orang uang bisa membeli segalanya, maka aku harusnya tidak perlu
bermimpi di dunia yang busuk ini. Dengan kata lain, ‘relawan’ sendiri terdengar buruk.
Yang terburuk adalah, kita sudah sampai di gedung khusus. Aku sepertinya akan melakukan hal-hal
semacam memindahkan piano dari ruang musik, membersihkan sampah-sampah eksperimen di lab
biologi, merapikan buku-buku di perpustakaan, atau semacam itu. Kalau begitu, aku harus
mempersiapkan rencana cadangan.
“Sensei, saya punya penyakit kronis di bawah punggungku...kalau tidak salah her, her, herpes?
Yeah, itu dia...”
“Kurasa maksudmu tadi itu hernia. Tapi santai saja. Kau tidak akan mengerjakan pekerjaan kuli.”
Hiratsuka-sensei berusaha meyakinkanku.
Oh begitu, tampaknya ini semacam pekerjaan kantoran? Kalau pekerjaan semacam itu, maka ini
adalah pekerjaan yang mengutamakan pikiran daripada aktivitas fisik. Ini mirip siksaan untuk mengisi
sebuah lubang daripada menggali lubangnya.
“Saya seperti merasakan kematian ketika memasuki ruangan kelas.”
“Apa itu mirip dengan sniper dengan hidung panjang? Ituloh yang ada di seri Bajak Laut si Topi
Jerami?”
Jadi anda baca komik shounen juga?
Ya sudahlah, aku sendiri tidak keberatan mengerjakan pekerjaan sendirian. Aku hanya mengatakan
ke pikiranku saja kalau aku ini adalah sebuah mesin, maka masalah selesai.
“Kita sudah sampai.”
Ruangan kelas di depan sensei tidak ada keanehan apapun jika dilihat baik-baik. Tidak tertulis
apapun di pintunya. Ketika aku menatap itu dengan penasaran, sensei membuka pintu gesernya. Ada
beberapa kursi dan meja yang disusun bertumpuk di pojokan.
Mungkin ini digunakan sebagai gudang. Kalau dipikir-pikir, ini tidak ada bedanya dengan ruangan
kelas yang normal, kecuali posisi perabotannya. Tapi, yang membedakan ruangan ini dari kelas
adalah di ruangan ini ada seorang gadis.
Ditemani cahaya matahari senja, dia terlihat sedang membaca buku. Mungkin kalau dunia akan
kiamat, dia akan tetap duduk disana, membaca bukunya. Dengan ilusi seperti ini, membuatku merasa
kalau yang kulihat ini adalah sebuah gambar lukisan.
Momen dimana aku melihat itu, baik pikiran dan tubuhku serasa membeku.
Aku sangat terpesona oleh pemandangan ini.
Menyadari kalau ada tamu, dia menaruh penanda halaman di bukunya dan melihat ke arah kami.
“Hiratsuka-sensei. Saya pernah mengatakan kepada sensei untuk mengetuk pintu dulu sebelum
masuk...”
Tubuh yang elegan. Rambut hitam yang panjang. Meski memakai seragam yang sama dengan gadis-
gadis di kelasku, dia tetap terlihat berbeda.
“Meski aku mengetuk, kau tidak akan meresponnya.”
“Itu karena anda langsung masuk tanpa menunggu respon dari saya.”
Dia memberikan ekspresi protes untuk merespon kata-kata sensei.
“Dan siapa orang konyol yang ada di belakang anda itu?”
Dia menatapku dengan tatapan yang dingin.
Aku tahu gadis ini. Dia adalah Yukinoshita Yukino, kelas 2J.
Sebenarnya, aku hanya tahu nama dan wajahnya, aku tidak pernah bicara dengannya. Mustahil aku
bisa, karena pada dasarnya aku sendiri sangat jarang berbicara dengan orang-orang di sekolah.
Di SMA Sobu, selain memiliki 9 kelas reguler per angkatan, disini ada sebuah kelas yang berisikan
siswa-siswa berprestasi yang diharapkan mampu bersaing dengan kurikulum internasional. Kelas
tersebut punya standar nilai 2-3 kali lebih tinggi daripada kelas lain. Kebanyakan berisi siswa
pindahan dari luar negeri ataupun siswa yang berkeinginan untuk kuliah di luar negeri.
Di kelas tersebut, ada satu siswa yang sangat terkenal, atau lebih tepatnya, menjadi perhatian semua
orang, dia adalah Yukinoshita Yukino. Entah di ujian biasa atau ujian semester, dia selalu konsisten
berada di ranking satu dari seluruh siswa SMA Sobu. Sederhananya, dia adalah gadis yang paling
cantik dan sempurna di sekolah ini, semua orang tahu siapa dia.
Di lain pihak, aku adalah pria standar, siswa level medioker. Oleh karena itu, kalau dia tidak kenal
diriku, akupun tidak akan tersinggung. Meski, aku agak sedikit tersinggung ketika dia mengatakan
diriku konyol.
“Ini Hikigaya. Dia akan bergabung dengan Klub.”
Karena tiba-tiba dikenalkan sensei, akupun mengangguk. Kalau begini, berarti aku harus
memperkenalkan diriku.
“Aku Hikigaya Hachiman, dari kelas 2F. Umm...Eh...Apa maksud anda dengan bergabung?”
Bergabung? Menjadi anggota klub ini?
Sensei lalu berbicara seperti sudah menduga apa yang ingin kukatakan.
“Kau harus terlibat aktif di kegiatan klub ini sebagai hukuman. Aku tidak menerima protes,
penolakan, pertanyaan, dan semacamnya. Coba kau renungkan sikapmu itu. Bercerminlah dahulu!”
Tanpa membiarkanku untuk protes, dia melanjutkan.
“Dengan semua itu, kau mungkin bisa tahu dari melihatnya sekilas, hatinya memang sudah korup.
Hasilnya, dia terlihat seperti seorang penyendiri yang perlu dikasihani.”
Bisakah anda bilang dari melihat sekilas saja sudah tahu, tanpa perlu menjelaskannya detail?
Sensei lalu menatap Yukinoshita dan berkata.
“Kalau dia bisa belajar caranya bersosialisasi, mungkin bisa kupertimbangkan lagi. Bisakah
kuserahkan dia padamu? Requestku adalah agar kau menghilangkan sifatnya yang korup dan
tertutup.”
“Begitu ya, kupikir akan lebih bagus jika anda bersikap keras kepadanya dan menanamkan disiplin.”
Yukinoshita meresponnya dengan tegas.
...Gadis yang menakutkan.
“Aku akan dengan senang hati jika bisa melakukannya, tapi aku sendiri punya masalah yang harus
kuselesaikan. Juga, disini tidak diperbolehkan adanya k*******n fisik.”
...Dia mengatakan itu seolah-olah k*******n verbal diperbolehkan.
“Dengan berat hati saya menolaknya. Tatapan matanya seperti punya maksud terselubung yang
membuat hidupku serasa dalam bahaya.”
Yukinoshita seperti membetulkan kerah seragamnya, lalu dia menatapku.
Aku ini tidak sedang melirik dadamu yang super datar..Eh, benar tidak ya? Tidak, tidak, aku tidak
meliriknya. Aku hanya mengatakannya sekilas dan tidak sengaja melirik dadanya.
“Jangan khawatir Yukinoshita. Karena mata dan hatinya sudah korup, dia sangat adaptatif dan
mengkalkulasi dengan baik resikonya. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang membuatnya mendapat
tuntutan hukum. Kau bisa mempercayai tampilan jahat yang menyedihkan darinya.”
“Itu bukanlah pujian...Apa anda tidak salah? Saya ini bukan mampu mengkalkulasi resiko, lebih
tepatnya saya ini mampu membuat keputusan yang masuk akal.”
“Penjahat yang menyedihkan ya...Begitu...” kata Yukinoshita.
“Kau bahkan tidak mendengarkan penjelasanku dan langsung setuju dengannya...”
Apa sensei berhasil mempengaruhinya ataukah tampilanku yang seperti penjahat yang menyedihkan
ini yang dia percayai? Entah apapun itu, Yukinoshita sekarang menganggapku seperti sesuatu yang
aku sendiri tidak ingin dia lihat.
“Ya sudah, kalau itu request dari sensei, saya tidak bisa menolaknya...Kuterima requestnya.”
Yukinoshita mengatakan itu dengan nada agak jijik terhadap sesuatu.
Sensei tersenyum puas.
“Oke, kalau begitu selanjutnya kuserahkan padamu.”
Setelah itu, dia keluar ruangan dengan terburu-buru.
Dan aku hanya berdiri disini...
Sejujurnya, aku akan lebih tenang kalau mereka meninggalkanku sendirian. Tapi berada dalam
lingkungan yang asing, membuatku gugup. Suara dari detik jam dinding membuatku ketakutan seperti
takut tiba-tiba bersuara dengan keras.
Hei, apa ini, serius? Apa ini sebuah perkembangan kehidupan rom-com-ku? Aku seperti diselimuti
sebuah tensi yang cukup tinggi. Aku tidak mau komplain dengan situasinya.
Tiba-tiba, sebuah memori kelam semasa SMP muncul di pikiranku.
Waktu itu jam pulang sekolah. Ada dua siswa yang masih berada di kelas. Gorden kelas seperti
tertiup angin yang lembut, dan cahaya matahari senja menyinari ruangan itu, seorang laki-laki
menembak si gadis di depannya.
Aku masih ingat betul kata-kata si gadis.
‘Bisakah kita berteman saja?’
Ah tidak, ini adalah memori buruk. Kita tidak pernah bicara apapun lagi setelah menjadi teman.
Karena itulah, aku berpikir kalau teman adalah sebuah hubungan dimana orang-orang tidak perlu
berbicara satu sama lain.
Intinya, sendirian ditemani gadis cantik di ruang tertutup adalah semacam situasi rom-com yang
tidak akan pernah terjadi dalam hidupku. Sayangnya, aku sudah terlatih dalam hal ini, jadi aku tidak
akan jatuh dalam perangkap ini begitu saja.
Para gadis tertarik kepada pria seksi dan populer. Mereka juga memiliki hubungan palsu dengan
mereka. Memikirkan itu saja membuatku tertawa cekikikan.
Dengan kata lain, gadis-gadis semacam itu adalah musuhku.
Sampai sekarang, aku sudah bersumpah kalau aku tidak akan merasakan pengalaman semacam itu
lagi. Cara tercepat agar tidak terjebak dengan situasi rom-com ini adalah dengan menjadi orang yang
dibenci. Sengaja kalah agar menang! Aku akan melakukan apapun untuk melindungi harga diriku,
jadi persetan dengan popularitas!
Kalau begitu, sebagai awalan, aku akan mengintimidasi Yukinoshita dengan terlihat seperti orang
jahat di depannya. Seorang binatang liar akan membunuh orang dari tatapannya!
Grrrr...!
Yukinoshita lalu menatapku seperti sampah. Dia menatapku dengan setengah mata tertutup dan
mengembuskan napasnya.
“...Kenapa kau tidak berhenti berdiri disana, berhenti membuat suara-suara yang menjijikkan, dan
duduk?”
“Huh? Oh, yeah. Maaf.”
...Woah, apa-apaan tatapan matanya tadi? Semacam binatang buas?
Mungkin dia habis membunuh 5 orang!
Meski aku seperti berusaha mengintimidasinya, Yukinoshita masih bersikap ramah kepadaku.
Sambil berusaha menghilangkan rasa gugupku, aku menarik kursi kosong terdekat dan duduk.
Setelah itu, Yukinoshita tidak mengatakan apapun. Dia hanya membalik-balik halaman bukunya.
Suara halaman buku yang dibalik seperti menjadi suara latar ruangan ini. Aku tidak tahu apa yang dia
baca kalau melihat sampulnya, mungkin semacam literatur. Semacam karya Salinger, Hemingway,
atau Tolstoy. Kupikir itu yang bisa k****a dari ekspresinya.
Yukinoshita terlihat seperti gadis dari kalangan elit kalau melihat bagaimana dia memperlakukan
siswa lain apapun yang terjadi, dia selalu terlihat sebagai gadis yang sangat cantik. Tidak seperti
orang elit yang normal, Yukinoshita Yukino memutuskan ikatannya dari lingkaran sosial di
sekitarnya. Seperti namanya, yuki no shita no yuki (Salju yang berada di bawah salju), tidak peduli
seberapa cantik dirinya, dia tetap tidak tersentuh dan tidak bisa didapatkan oleh siapapun. Yang bisa
orang lakukan hanyalah mengagumi kecantikannya.
Sejujurnya, aku tidak pernah menduga kalau kejadian aneh ini, berakhir dengan menjadi kenalannya.
Aku sangat yakin kalau kuceritakan ini ke teman-temanku, mereka akan cemburu. Meski, aku tidak
punya teman untuk kuceritakan.
Jadi, apa yang akan kulakukan dengan Nona Cantik ini disini?
“Apa ada sesuatu?”
Mungkin karena aku menatapnya cukup lama, tapi Yukinoshita menutup bukunya karena tidak
nyaman dan langsung menatapku.
“Ah, maaf. Aku sedang berpikir apa yang harus kulakukan.”
“Tentang apa?”
“Begini maksudku. Aku ini diajak kesini tanpa diberi penjelasan apapun.”
Dia menatapku seperti melihat seekor serangga, dia lalu mengembuskan napas seperti orang yang
menyerah dan mengatakan beberapa kata.
“...Kurasa kau ada benarnya. Kalau begitu, mari kita jadikan itu game.”
“Game?”
“Ya. Game yang membuatmu harus menebak semacam apa klub ini. Jadi, menurutmu...klub apa
ini?”
Aku memainkan sebuah game dengan gadis yang sangat cantik di ruangan tertutup...
Yang terbayangkan olehku hanyalah elemen-elemen e****s, tapi aura yang dia berikan bukanlah aura
yang lembut, tapi sejenis pisau yang tajam. Sangat tajam sehingga nyawaku bisa hilang jika salah. Oi,
kemana suasana rom-com tadi, kok hilang?