KELAKUAN ANDRA

1504 Words
Diruang inap yang sepi ini terdapat dua insan manusia yang bergenre sama menatap satu sama lain dengan pandangan yang tidak bisa dikatakan biasa. Mereka seakan saling mengeluarkan aura paling hitam yang ada di diri masing-masing. "Ngapain Lo liatin gue?". Arjun lebih dulu memutuskan pandangan nya, ia kemudian merebahkan diri di atas sofa yang tersedia diruangan tersebut. Sedang Andra, ia menatap Arjun dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, kemudian naik keatas brangkar tempat Dira dan ikut berbaring sembari memeluk cewek tersebut. "Woi, gila ya Lo, ngapain Lo ikut tidur disitu?". Arjun terbelak, dan ia dengan cepat berdiri untuk menarik tangan Andra agar segera turun. "Ishhh, apaan si , g****k pisan". Ringis Andra saat ia mau tak mau turun dari atas tempat tidur, menatap Arjun dengan sebal, dan me- mutuskan duduk di kursi yang memang tersedia. "Nyari kesempatan banget Lo, bangke emang". Arjun menatap tidak percaya pada Andra. Kenapa sikap yang Andra keluarkan terkesan kekanakan. Berbeda jika sedang dalam urusan bisnis, Andra yang ia kenal adalah Andra yang tidak pernah mengeluarkan ekspresi selain dari datar dan sarkas. "Bukan urusan Lo, pulang sana". Tanpa perasaan Andra mendorong tubuh Arjun, namun dengan sekuat tenaga dilawan oleh Arjun, dan pada akhirnya Andra menyerah dan membiarkan saja. Toh nanti juga capek sendiri. "Soal yang tadi gue serius, Dira gak pantas dapat cowok kaya Lo". Nada bicara Arjun kembali serius, menatap Dira dengan pandangan yang amat dalam, entah kenapa ia merasa harus melindungi cewek ini dari seorang Afandra Matteo. "Maksud Lo,?". Andra bertanya singkat. "Gue tau seluk beluk kehidupan Lo, jadi lebih baik Lo mulai mikir buat gak lanjutin hubungan Lo". Perkataan Arjun sukses membuat Andra sedikit tertegun, namun dengan cepat pemuda itu menyembunyikan keterkejutannya. "Apa yang Lo tau tentang gue?". Andra bertanya dengan serius, kaki ini ia harus mulai waspada terhadap pemuda didepannya. "Lo psikopat". Andra meneliti wajah Arjun, melihat apakah didalam diri pemuda ini terdapat rasa takut, namun sedikit pun ia tidak menemukan hal itu. "So, jangan ganggu psikopat ini, kalo Lo masih mau hidup". Arjun terkekeh mendengar ancaman yang dikeluarkan oleh Andra, apa yang harus ia takutkan jika ia pun memiliki hal yang sama. "Uhh takut". Arjun mengejek, dan kemudian berlari dari ruang inap Dira dengan pandangan yang menggelikan. "Anjingg". Andra mengumpat dengan nada yang amat kesal, tapi satu hal yang menjadi pertanyaan nya adalah maksud dari perkataan Arjun, mempunyai hal yang sama?, tidak mungkin jika Arjun sama dengan dirinya bukan. "Kak Andra". Suara lemah itu menyadarkan Andra dari lamunannya, ia menatap Dira yang sudah mulai membuka matanya, dengan cepat ia mendekat. "Dira, sayang kamu udah sadar?, mau apa?, mana yang sakit?", Dira yang baru saja sadar merasa pening dengan segala pertanyaan yang dikeluarkan oleh Andra. Baru saja ia membuka mata sudah dihadiahi banyak pertanyaan. "Minum,minum ka" Dengan cepat Andra mengambil minuman yang tersedia di meja kecil disamping brangkar Dira, ia membantu Dira untuk duduk sejenak dan minum. "Udah, kamu disini dulu, aku mau manggil dokter". Tanpa menunggu jawaban Dira, Andra keluar dari ruangan dan pergi memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Dira. Dira yang ditinggalkan sendirian hanya bisa mengerutkan bibirnya, merasa kesal dengan tingkah Andra, kenapa harus keluar coba, padahal disisi tempat tidur ada tombol yang akan langsung terhubung dengan dokter. Dasar Andra bodoh. "Ih. Ini apalagi, udah tau gerah". Dira membuang selimut yang menutupi sebagian badannya, ia terkekeh senang saat melihat di atas meja banyak buah buahan. Ini kan ruang inap nya sudah pasti ini juga miliknya. Dengan cepat ia mengambil buah jeruk yang terlihat begitu menggoda, mengupas dengan tidak sabaran, dan memakannya tidak santai. "Enaknya". Dira membersihkan air yang keluar dari mulutnya, yang merupakan air dari buah jeruk tersebut. Kemudian pilihannya jatuh pada buah apel yang terlihat tidak kalah menggoda. *Harus cepat cepat nih, takut nanti kak Andra liat". Ucapnya dengan tangan yang sigap memasukkan buah itu pada mulutnya. "Hayo ngapain Lo". Alka datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia menatap curiga pada Dira yang makan dengan cepat cepat, seperti pencuri yang takut ketahuan. Di tangan kanan Dira ,Alka bisa melihat buah apel yang sudah berbekas gigitan. "Ih gak ada tau, lagian Lo ngapain disini?". Dira mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tau Alka ini orangnya ember, daripada nanti ketahuan oleh Andra lebih baik pura pura tidak tau bukan. "Ye si anjing, gue mau jenguk Lo lah, gue kan Abang yang baik". Alka menepuk dadanya dengan bangga. Ia senang melihat adiknya sudah bisa mengomel artinya Dira sudah sembuh bukan. Tadi saat ia mendapat info jika Dira masuk rumah sakit dengan cepat ia meninggalkan segala keperluan yang juga lumayan mendesak. Menyetir dengan begitu cepat, dan juga tidak lagi memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Yang ada diotaknya adalah bagaimana ia bisa cepat sampai di rumah sakit dan melihat kondisi Dira. Tapi saat baru saja tiba nyatanya orang uang ia khawatirkan sedang asik makan dan menikmati hidup. Sungguh membangongkan. "Baik apaan, yang ada laknat ia". Balas Dira sinis. "Eh jangan macam macam ya Lo, atau gue aduin sama si Andra". Alka mengancam ,dan ancaman langsung tepat sasaran, buktinya Dira langsung terdiam dan menatap dirinya memohon. "Aduin apa?". Suara datar yang berasal dari arah belakangnya membuat Alka tersenyum mengejek pada Dira. Ia bisa melihat Dira kian memucat. Sekedar info saja, Andra sangat amat melarang Dira untuk berkata kotor, tidak sopan pada yang lebih tua, dan terlalu semena mana. "Ini Ndra, masa si Dira nyuruh gue buat kupasin dia buah kan gak sopan banget, mana dia bicara kotor lagi". Mendengar itu Andra menatap Dira dengan tatapan tajam, ia tak pernah suka Dira berkata dan bertindak keterlaluan. "Udah gitu dua juga bilang kalo dokternya ganteng Ndra, parah emang si Dira". Kompor Alka tanpa tau aura yang Andra keluarkan sudah berubah. "Dira, jaga batasan kamu". Nada yang Andra keluarkan begitu dingin, membaut Alka yang sedari tadi tersenyum mengejek kini mulai menatap Dira khawatir. Ia seketika merasa bersalah. "Gak usah gitu juga kali, liat adek gue takut". Ucap Alka tak suka. Biar bagaimana pun ia tetap lah seorang kakak. Ia takkan pernah tega jika ada orang lain yang menyakiti adiknya. Ia akui sering menakuti dan menjahili Dira, tapi melihat raut adiknya saat ini membuat dirinya tidak tega. "Diam ini urusan gue sama Dira".peringat Andra menatap Alka tajam. "Tapi yang lagi Lo buat takut itu adek gue". Balas Alka dengan nada yang tidak bisa dikatakan santai. Andra menatap Dira dan Alka bergantian, kemudian ia terkekeh dan berlalu dari ruangan itu tanpa kata. Meninggalkan Alka yang menatap sinis, dan Dira dengan wajah sedihnya. "Udah gak papa ada gue". Hibur Alka memeluk Dira. Yang di jawab anggukan oleh Dira. "Permisi , kita periksa dulu ya". Seorang dokter datang lengkap dengan at alatnya. Ia mendekat pada Dira, dan mulai memeriksa pasien tersebut. "Semua aman, kondisi pasien juga sudah lebih baik, sore ini boleh pulang ya, jangan lupa tebus resep yang saya buat". Alka menyimak penjelasan dokter tersebut dengan seksama. Sesekali kepalanya mengangguk tanda mengerti. "Baik terimaksih dok". Sahut Alka sopan. "Kalo begitu saya pamit terlebih dahulu". Ucap sang dokter dan pergi dari ruangan tersebut. "Senang kan Lo bentar lagi mau pulang". Goda Alka. Namun Dira hanya diam tidak menyahut, Alka yg melihat itu hanya bisa menarik nafas kasar. Sementara itu disebuah tempat temaram, seorang pria sedang duduk tersiksa, dengan tangan yang terikat dengan begitu erat, dan juga mata uang tertutup kain. Jangan lupakan mulutnya yang tersumpal kain itu. Tok....tok..tok... Suara gesekan sepatu dengan lantai membaut ruangan yang tadinya sunyi mulai bising, pemilik sepatu itu menatap orang yang terikat dengan pandangan puas, seakan ia baru mendapat mainan baru. "Buka pengikat kepalanya". Perintah tersebut langsung dituruti oleh pemuda berbadan kekar yang sedari tadi berada di dalam ruangan ini. "Halo Dewa". Sapa pemilik ruangan tersebut dengan ramah. Ia bertidak seakan akan layaknya teman lama yang baru saja bertemu setelah sekian lama. "Hmmmm.....hmmm....". Hanya itu yang dapat orang yang dipanggil dewa tersebut keluar kan. Ia hanya menatap orang didepannya dengan pandangan tidak percaya. Dia pikir ia bekerja dengan orang yang begitu tulus walau terkenal dingin, namun nyatanya ia bekerja pada orang yang berwajah malaikat namun berhati iblis. Dewa mengalihkan pandangannya, bisa ia lihat didalam ruangan ini banyak insan manusia yang sudah tak lagi bernyawa, dan dalam kondisi yang begitu mengenaskan, mulai dari orang yang kepalanya tak lagi menyatu dengan badan, dan juga beberapa organ tubuh yang disimpan layaknya barang berharga. Sungguh ia sangat menyesali takdir yang mempertemukan dirinya dengan iblis in. Tapi ia juga cukup penasaran apa yang menjadi penyebab dirinya berada disini. "Menikmati pemandangan ini dewa?". Tanya orang itu dengan seringainya. Dewa mengumpat dalam hati, menikmati katanya, hanya orang gila yang bisa menikmati hal yang saat ini ia lihat. Sungguh rasanya ia ingin muntah, perut nya seperti terasa diaduk, namun sebisa mungkin ia harus tetap menahannya. "Oh, saya lupa kamu tidak bisa bicara". "Buka penutup mulutnya!". Dengan cepat orang tadi membuka pengikat mulut yang terpasang dengan erat di mulut Dewa. "Pak Andra". Panggil Dewa dengan nada kecewa. Bagaimana pun ia mengenal Andra sebagai orang yang baik, namun nyatanya semua itu hanya sandiwara belaka. Jujur saja ia kecewa, namun siapa lah dia. Hanya orang yang menjadi pesuruh untuk Andra. "Iya, ada pesan terakhir dewa, untuk anak kamu mungkin". Andra menatap dewa dengan senyum manis miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD