Terlahir dari keluarga yang berkecukupan atau bisa dibilang berlebihan tentang harta, membuat seorang Afandra Matteo selalu bisa melakukan apapun yang dia inginkan, bisa berbuat semaunya dan bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan.
Hari ini untuk kesekian kalinya ia menghilangkan nyawa seseorang, entah apa yang ada di otaknya namun tidak ada penyesalan dalam dirinya setelah melakukan tindakan tersebut.
Seperti saat ini, Andra sedang asik dengan kegiatan salah satu paporitnya, lihat saja ia masih terlihat begitu asik dengan manusia yang tak lagi bernyawa tersebut.
Andra memotong tangan yang dengan begitu bodohnya m membiarkan Dira digendong oleh pria lain, kemudian ia beralih pada mata yang dengan santainya melihat wajah Dira yang sedang pingsan, dan ia tidak lupa juga untuk memotong telinga yang tadinya sempat mendengar rintihan Dira tapi tidak dengan cepat memberikan dirinya kabar. Terakhir ia beralih pada usus manusia tersebut sebagai bentuk kepuasan, ia merasa sangat bersemangat sekarang, seperti mendapat energi baru.
Para bodyguard yang sedari tadi melihat itu hanya bisa meringis dalam hati, bekerja dengan seorang Afandra memang sangat membahagiakan dalam bentuk materi sebab pemuda ini selalu memberikan gaji serta bonus yang tidak main main, tapi seperti menguji nyali jika sedang dalam keadaan mood yang rusak, Andra tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh siapapun, dan yang bisa menghentikan itu semua hanya seorang Anindira Ravindra seorang.
Drttt.....drt.....
Suara ponsel yang berbunyi mengalihkan pandangan semua orang pada pemilik ponsel, mereka bergedik ngeri melihat Andra yang menatap pemilik ponsel dengan raut wajah yang datar dan terlihat marah, sementara yang lain menatap pemilik ponsel dengan raut wajah pias.
Diki pemilik ponsel itu mengumpati orang yang meneleponnya, dengan pelan ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang dengan teganya membuat nyawanya dalam bahaya, seketika Diki bernafas dengan lega saat melihat siapa yang menelepon dirinya.
"Nona Dira tuan".
Lapor Diki dengan ponsel yang ia berikan pada Andra. Ia kemudian mundur beberapa langkah setelah Andra menerima ponsel tersebut.
"Kalian bereskan sisanya!".
Dengan patuh para bodyguard tersebut bergegas melaksanakan perintah dari bosnya, mereka merasa jijik melihat tubuh salah satu teman mereka yang sudah tak lagi berbentuk.
"Halo sayang, kenapa hm?".
Wajah yang tadinya begitu menyeramkan dengan begitu cepat berubah menjadi begitu lembut, diseberang sana Dira cemberut karena Andra pergi begitu lama.
"Ih kak Andra kok lama banget si, aku tu laper tau".
Andra terkekeh mendengar nada suara Dira yang begitu menggemaskan, Andra jadi merasa bersalah karena sudah pergi begitu lama.
"Maaf ya, kamu mau apa biar kakak bawain?".
Andra mencoba merayu sang pujaan hati, bisa berabe jika Dira Samapi marah, Andra tidak akan kuat sungguh.
"Aku mau MCD sama es krim, gak lama ya"
.
Ucap Dira dengan semangat, dan Andra hanya mengangguk saja. Setelah itu Dira memutuskan sambungan telponnya, setelah sebelumnya izin pada Andra, dan jangan lupakan ancaman yang mengatakan untuk tidak terlalu lama.
Andra segera berganti pakaian, tidak mungkin jika ia datang pada Dira dengan darah yang begitu banyak, bisa bisa Dira histeris dan takut padanya, atau yang lebih konyol Dira akan mengatakan Andra habis kecelakaan seperti dulu, dimana Andra pulang kerumah dengan darah yang menempel pada bajunya, dan tak disangka ternyata Dira sedang berada di rumah, awalnya Andra berpikir jika Dira akan curiga dan mencari tau tentang nya, namun yang tidak disangka sangka adalah Dira histeris dan menangis sebab mengira dirinya habis kecelakaan. Untung saja Andra bisa mengelabuhi Dira dengan mengatakan dia membantu tetangga memotong kambing, dan dengan polosnya Dira maklum dan percaya.
Sedangkan dirumah sakit.
Dira terus saja bergerak kesana-kemari membuat Alka yang sedari tadi memperhatikan nya jadi jengah sendiri, ia cukup kesal dengan tingkah Dira, bagaimana tidak sedari tadi Dira terus saja merengek agar Andra segera datang, dan baru saja selesai menelpon Dira sudah ingin mendengar suara Andra lagi, dasar Dira bucin
"Satu kali lagi Lo ngerengek gue lempar ni bantal ke kepala Lo".
Dira menatap Alka kesal, dengan sengaja ia merengek lebih keras bahkan kali ini sudah diikuti dengan suara tangisan bak anak kecil, membuat Alka kelimpungan sendiri.
"Huaaa papa, mama, kak Andra, bang Alka jahat". Dira menghentak- hentak kan kakinya diatas ranjang membuat ranjang itu jadi bergoyang, sementara Alka kaget dan langsung menutup mulut Dira menggunakan tangannya.
"Apaan si tangan Lo bau". Hina Dira menghempaskan tangan Alka dari mulutnya. Ia juga melap mulutnya menggunakan tisu, membuat Alka melotot kan matanya tidak percaya.
"Anjirr gak tau diri banget ni anak, gue balik ya".
Alka mengancam, sebenarnya mana tega dia meninggalkan Dira seorang diri di sini, terlebih lagi Dira ini ada miring miring'nya, selain itu Alka masih sayang nyawa, bisa habis dia jika sampai papanya tau Dira ditinggal sendiri dirumah sakit, Dira itu pawang dari seorang Ravindra, apapun yang Dira mau pasti akan dituruti, dan terkadang Alka cukup cemburu melihat itu, terlebih saat papanya pulang kerja mau secape apapun itu pasti yang dicari lebih dulu adalah Dira, kadang ia bisa melihat raut wajah kecewa dari papanya saat tidak menemukan Dira dikamar, persis seperti seorang kekasih yang tidak bisa berjumpa dengan pasangan nya.
"Pulang aja bentar lagi papa sampe kok".
Sahut Dira tak sepenuhnya bohong, memang benar tadi papanya memberikan kabar jika sebentar lagi akan sampai, dan bertanya Dira ingin dibawakan apa.
"Lah bukannya papa lagi sibuk ya?".tanya Alka heran.
"Dira anak papa, mana yang sakit hm?, kamu gpp kan?, mana Andra biar papa hajat dia?".
Tanpa aba-aba Ravindra datang dan langsung memeriksa semua tubuh Dira takutnya ada yang sakit atau lecet. Barang bawaannya ia serahkan pada Alka yang juga lumayan terkejut dengan kedatangan papanya, dengan mendengus kesal Alka menaruh barang yang papanya berikan pada meja yang tersedia.
"Aku gak baik Pa, kok papa lama banget si datangnya?".
Ravindra yang mendengar itu seketika merasa bersalah, sebenarnya saat ia mengetahui kabar jika Dira masuk rumah sakit, ia langsung ingin berlari meninggalkan segala kesibukannya, akan tetapi secara tiba tiba ada klien yang sangat penting dan sudah tiba di lokasi, jadi mau tidak mau ia harus ikut rapat terlebih dahulu.
"Maaf ya sayang, tadi papa rapat dulu, kamu udah makan?".
Tanya Ravindra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum pak, bang Alka gak bolehin".
Kata Dira bohong, matanya bahkan sudah mulai berkaca kaca , memang Dira ini terkadang polos polos b*****t.
Alka yang mendengar itu hendak menyangkal, akan tetapi tatapan mematikan yang dikeluarkan papanya membuat ia hanya bisa merutuki Dira dalam hati, lihat saja nanti Alka pasti akan mengerjai Dira habis habisan. Lihatlah sekarang Dira sedang menjulurkan lidahnya kearah Alka tanda mengejek.
"Gak usah dengarin kata Abang kamu, dia gak waras, sekarang biar papa yang suapin kamu".
"Bukain makanannya, kamu ini lelet banget sih". Lanjut Ravindra yang melihat Alka hanya diam.
'"ini banginda selamat menikmati"
ucap Alka memberikan makanan yang sudah ia buka, bertingkah layaknya pelayan, ia menatap kearah pasangan ayah dan anak itu dengan malas. Lihatlah Ravindra yang selama ini selalu dilayani sekarang sedang melayani, bahkan jika Dira meminta ayahnya ini untuk memanggil boyband idolanya Alka yakin Ravindra pasti akan menuruti nya.
"Papa, Minggu depan aku pergi nonton konser ya?". Ravindra yang sedang asik menyuapi Dira menghentikan gerakannya. Ia menatap putrinya lembut, konser berarti diluar negri bukan.
"Dimana?".tanya Ravindra singkat, tangannya sibuk menyuapi Dira.
"LA, BTS mau konser disana, papa tau kan aku tu pengen banget liat mereka, terlebih lagi RM OMG, papa tau dia punya sesuatu yang tidak bisa diungkapkan He is Ferfect''.
"Oh ya,emang gak bisa liat online aja ya".
Bujuk Ravindra. Ia hanya tidak yakin untuk melepaskan anaknya seorang diri di negri orang tersebut. Untuk masalah uang tidak ada masalah untuknya. Hanya saja ia tidak yakin pada Dira.
"Papa gak punya uang lagi ya, berarti benar kata bang Alka kalo sekarang papa itu miskin". Ucap Dira lesuh. Awalnya ia tidak percaya dengan perkataan Alka namun melihat hari ini mau tidak mau ia harus percaya kan.
"Bang Alka ngomong apa?". Tanya Ravindra penasaran.
"Kata bang Alka papa itu udah miskin, makanya sekarang jajan aku cuman satu yang berwarna merah, biasanya kan lima, tapi gak papa , nanti aku minta sama kak Andra jadi papa tenang aja ok".
Dira mengusap usap bahu papanya memberikan semangat. Biarpun sekarang papanya miskin ia terap sayang ko, kan masih ada Andra yang bisa ia minta uang.
"Alka".
tekan Ravindra menatap Alka yang hanya cengengesan. Ia membentuk tangannya jadi huruf V tanda meminta maaf, dengan cepat ia berlari keluar ruangan yang langsung diikuti oleh Ravindra.
Cklek...
Suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian Dira, disana Andra berdiri dengan tangan yang penuh dengan kantong plastik, yang Dira yakini didalamnya terdapat banyak makanan.
"Kok lama si kak". Rajuk Dira dengan bibir yang dimajukan.
"Maaf sayang". Sahut Andra mencium bibir Dira sekilas. Ia mengelus rambut Dira halus, dan kemudian mencium kening wanita ini.
"Kamu udah makan?". Tanya Andra saat melihat bekas makanan di meja.
"Udah tadi dibawain papa". Jawab Dira cepat. Ia kemudian menarik tangan Andra dan menyuruh pemuda itu untuk berbaring disebelahnya. Setelahnya Dira memeluk Andra erat, ia mencium wangi dari pemuda ini. Wangi yang sudah menjadi candu untuknya. Melihat itu Andra balik memeluk Dira tak kala erat, denagny pelan ia menepuk nepuk punggung Dira.
"Kak Andra aku boleh minta duit?".tanya Dira menatap Andra yang juga sedang menatapnya.
"Boleh buat apa". Sahut Andra. Jangankan uang apapun yang Dira minta pasti akan Andra turuti kecuali hal yang membuat Dira pergi darinya.
"Untuk papa, sekarang papanya Dira miskin ka". Ucap Dira pelan. Andra cengo mendengar itu sekarang Ravindra tidak akan mungkin bangkrut secepatnya itu kan.
"Ada saratnya tapi". Ucap Andra dengan wajah yang menyembunyikan banyak hal.