KISAH AMEL

1538 Words
masuk!". Amel yang sedang berdiri diluar mall, terkejut dengan suara dari pemuda yang berada didalam mobil mewah didepannya. Tanpa pikir panjang Amel langsung mengikuti perintah pemuda itu, saat berada didalam mobil dapat ia lihat jika pemuda ini sepertinya sedang dalam keadaan baik. Terbukti dari raut wajah yang terlihat lunak tidak seperti biasanya. "Kamu lagi senang ya?", Amel menatap pemuda disebelahnya dengan senyum tipis. Mendengar pertanyaan itu, pemuda yang sedari tadi menyetir dengan raut berbeda itu merubah raut wajahnya kembali menjadi datar. "Bukan urusan kamu". "Tetapi aku pacar kamu, Jun bisa gak sih sehari aja kamu gak ketus sama aku". Keluh kesah yang sudah lama dipendam akhirnya keluar juga, Amel terkadang bingung jika pemuda ini benar benar mencintai dirinya lantas mengapa memperlakukan dirinya dengan sikap yang acuh tak acuh. "Apaan si, lebay kamu".acuh Arjun, ia menatap malas pada Amel. Menurutnya Amel terlalu melebih-lebihkan masalah, pada dasarnya jika boleh jujur ia tidak pernah mencintai Amel, hanya saja saat itu ia dan teman-temannya sedang bertaruh dan sialnya dirinya sedang apes, dan sebagai hukuman ia harus menjadikan Amel sebagai kekasih selama dua bulan. Dan sialnya Amel sangat merepotkan menurutnya dan lagi ini baru jalan satu bulan. Tidak mau disebut sebagi pecundang tentu saja ia harus melakukan tantangan ini hingga akhir. "Lebay, kamu sadar gak sih sikap kamu kek aku itu kayak seakan akan cuman aku yang butuh kamu, sedangkan kamu?". Amel tanpa sadar sudah akan meneteskan air matanya, terbukti dengan suaranya yang bergetar, namun yang dilakukan oleh Arjun hanya diam dan menatap Amel malas. "Gak usah nangis bisa gak, cengeng banget''. Hardik Arjun melihat Amel yang menangis disebelahnya. Namun bukannya reda tangis Amel malah kian kencang membuat telinga siapapun yang mendengarnya takkan tahan. "Diam de, aku keganggu", sinis Arjun, ia malah kian dibuat kesal dengan suara tangisan Amel yang kian kencang, drama sekali bukan, "Turun!!". Perintah Arjun pada Amel. Saat ini mobil yang mereka tumpangi sedang berada di area yang cukup rawan, dengan pemukiman yang minum, dan juga pencahayaan yang tidak terlalu banyak. Amel menatap Arjun dengan pandangan bertanya, dengan sisa air mata di pipinya, ia bingung untuk apa Arjun menyuruhnya turun, sementara lokasi tempat tinggal mereka masih jauh, tidak mungkin jika Arjun akan meninggalkan dirinya disini bukan?. "Maksudnya?," Amel bertanya dengan wajah harap harap cemas. "Aku bilang turun, kamu pulang sendiri", Amel menatap tidak percaya pada Arjun, namun melihat kesungguhan dari Arjun membuatnya mau tak mau turun juga, ia hanya berharap Arjun masih mempunyai sedikit rasa kasihan dengan tidak meninggalkan dirinya sendirian. Melihat Amel yang sudah turun dari mobil miliknya ,tanpa pikir panjang Arjun langsung menancap gas, dan meninggalkan Amel sendirian, ia tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi pada gadis itu, lagipula Amel sudah besar dan iapun bisa pulang sendiri kan?, Dan jika gadis itu kenapa kenapa apa masalah untuknya, dia tidak mencintainya dan lagi dia hanya sebatas taruhan. Dihatinya kini sedang terisi oleh seorang gadis yang menggoda nya tadi siang, gadis yang ia ketahui sebagai kekasih dari musuh bebuyutan nya, Afandra Matteo, gadis mungil dan juga penuh pesona itu bisa mendebarkan hatinya, gadis pertama yang bisa membuatnya keluar dari sifat yang selama ini ia perlihatkan. "Anindira selamat karena sudah bisa membuat seorang Arjun tertarik". Monolognya dengan senyum tipis. Sementara itu ditempat berbeda Amel sedang mengomel omel karena ditinggalkan oleh Arjun sendiri ditempat sepi, ditambah ternyata tasnya tertinggal di mobil Arjun, yang saat ini ada ditangannya hanya sebuah handphone dengan baterai yang tidak lagi banyak, ia bingung harus berbuat apa, yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa sampai ke rumah dengan cepat, "Sial banget si, tapi gue cinta sama dia,".gumam Amel. Jika diingat kembali, pertemuan mereka sebenarnya cukup unik, dimana Amel yang sedang mengoceh ke arah Dira dan dilihat oleh Arjun serta beberapa temannya. Dan yang ia lihat saat itu Arjun beserta teman temannya berbicara dengan mata yang menatap ke arah mereka, tak lama setelahnya Arjun datang dan langsung mengatakan jika saat itu juga Amel resmi menjadi kekasih dari pria itu. Dan dengan hebohnya Dira yang malah menyetujui, katanya biar gak jomblo mulu, dan ya inilah akhirnya, sejujurnya Amel pernah meminta putus pada Arjun, saat itu hubungan mereka baru jalan satu Minggu kalau tidak salah, namun yang ia dapatkan malah sebuah ancaman. "Kalo kamu minta putus lagi, jangan salahin aku kalo semua rahasia kamu akan ke bongkar". Nada bernada rendah, dan juga dingin itu masih teringat dengan jelas dalam benak Amel, ia bingung darimana Arjun tau rahasia yang sudah ia pendam selama ini, semenjak hari itu Amel tidak lagi berani meminta sesuatu yang bisa menyulut emosi seorang Arjun. Jujur Amel bahkan tidak tau menahu tentang latar belakang dari Arjun, dan bahkan ia tidak tau nama lengkap pemuda itu, dan yang paling membuat dirinya penasaran adalah alasan Arjun menjadikan dirinya pacar. Tanpa sadar Amel sudah berjalan terlalu jauh, kakinya sudah mulai berat, tenaganya sudah terkuras habis, ia mendudukkan dirinya disamping bahu jalan, entah kesialan apa yang saat ini menimpah dirinya, sedari tadi bahkan tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Terdiam sebentar ia melirik pada ponsel yang sedari tadi ia genggam dan baru menyadari kebodohannya. "Bego". Amel menekan satu nomor dan mulai menempelkan benda persegi itu pada telinganya. "Halo". "..........." "Jemput gue dong, gue takut". "............" "Cepat ya". ".............." "Kali ini aja pliss". "..........." "Jangan kasih tau dong sayangg" " ............" "Ya usahin dong, gimana sih". ".......' "Okay gue tunggu , jangan lama Lo". Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Amel langsung mematikan ponselnya, ia yakin jika orang itu akan segera tiba, dan sekarang ia bisa bernapas lega. Sementara disebuah mobil lainnya, seorang gadis sedang tertidur dengan begitu lelapnya, sementara pemuda yang sedang mengendarai mobil itu menatap pada sang gadis dengan pandangan yang dalam, dari tatapan yang ia berikan siapapun tau jika gadis ini sangat berarti dan juga berharga. "Eungh.....eungh......." Sang gadis mengangkat tangannya layaknya orang bangun tidur seperti biasa. Badannya terasa segar, mengumpulkan nyawanya ia melihat sekeliling dan matanya terpaku pada pemuda yang sedang menyetir dengan begitu gagahnya. " Kak Andra". Panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kamu udah bangun, minum dulu ni". Andra menyerahkan air putih pada gadisnya. Ia memberhentikan mobilnya sejenak, merapikan rambut Dira yang berantakan, mengelus dengan sayang, dan berakhir dengan membawa tangan gadis nya pada genggaman hangat miliknya. "Sekarang jelasin". Andra tidak melepaskan pandangannya dari Dira, membuat gadis itu jadi gugup. "Aku minta maaf". Ucap Dira. Ia menatap Andra dengan tatapan takut takut. "Aku gak marah cuman mau tau alasan kamu lakuin itu apa?".tanya Andra hati hati. Ia tak ingin membuat Dira takut. "Aku takut kamu gak kasih izin". Ucap Dira pelan. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Andra. "Kalo udah tau kenapa masih lakuin". Ucap Andra mencoba menahan emosinya. Tadi saat ia menyelesaikan pekerjaannya dia langsung bergegas pergi ke kediaman sang kekasih, berharap mendapat pelukan guna menghilangkan penat selama bekerja. Namun harapan tinggal harapan, saat yang ia dapatkan adalah informasi bahwa sang tunangan sedang pergi bermain bersama orang bernama Amel, sahabat dari gadis nya, dengan bergegas ia pun pergi menuju lokasi sang kekasih berada, beruntung ia memasang GPS, melihat lokasi sang kekasih rasanya ia ingin marah yang bisa ia lakukan hanya memukul mukul setir mobilnya guna meluapkan emosi yang kini sedang meluap. Memasuki mall dengan pandangan datar, dan juga gaya cool khas miliknya Andra berjalan menuju salah satu tempat makan yang ia tau sang kekasih berada disana, ia bisa melihat tatapan kagum dari beberapa lelaki yang menatap sang kekasih dengan pandangan kagum dan juga lapar. Emosinya kian meluap saat mendengar perkataan dari Amel sahabat tunangannya, tak mau melihat Dira terpengaruh langsung saja ia memotong pembicaraan Amel dan Dira. "Kak Andra".panggil Dira pelan. Merasa sedari tadi Andra melamun dan mengacuhkan dirinya. Dira memberanikan diri menatap tepat pada mata teduh milik Andra, ia mendekat dan menggenggam tangan hangat itu kian erat, dengan keberanian yang datang entah darimana Dira mendekatkan wajahnya pada Andra. Cup.. Ia mencium pipi sang tunangan cepat dan menyembunyikan wajah yang sudah pasti Semerah tomat itu, ia tak berani menatap Andra, namun ia tak menyesal melakukan itu. Kelemahan terbesar Ndari seorang Anindira Ravindra adalah diacuhkan oleh sang tunangan, ia lebih baik kena marah daripada di acuhkan terdengar berlebihan memang tapi itulah kenyataannya. "Yang sebelah sini belum".canda Andra menunjukkan pipi sebelah kirinya, Biarkan lah kali ini ia memaafkan Dira, namun untuk Amel tentu saja tidak, tinggal menunggu waktu yang tepat dan ia pastikan perempuan itu mendapatkan balasan dari apa yang ia lakukan hari ini. Enak saja ia ingin membuat hubungan yang ia jaga dengan mati matian ingin dihancurkan begitu saja. Dipikir kerupuk apa bisa diremukkan dengan mudah. "Ishh kak Andra malu". Dira makin menyembunyikan wajahnya diantara kedai tangannya yang mungil. "Kalo gitu aku aja gimana?".tanya Andra menggoda. Ia Manarik tangan Dira yang menutupi wajah merah tomat sang kekasih, menurut nya wajah merona Dira sangat lah indah, ah tidak semua yang bersangkutan dengan Diranya sangat indah dan juga mengagumkan. "Ih gak mau,"bantah Dira manja, ia memajukan wajahnya, dan kesempatan itu tidak disia siakan oleh Andra. "Hmptt....hmptt" Dengan lembut Andra mengecup benda manis yang menjadi candunya itu, ciuman itu tanpa napsu yang ada hanya kasih sayang, ia kian memperdalam ciumannya dengan cara menekan tengkuk Dira, sementara Dira tangannya melingkar di leher Andra, mereka saling menikmati ciuman itu, dan saat dirasa Dira kehabisan nafas Andra melepaskan walau dengan tidak rela. Setelah dirasa Dira cukup mengambil oksigen Andra kembali memulai aksinya yang sudah kepalang tanggung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD