KISAH AMEL 2

1517 Words
"kak Andra". Dira memeluk Andra dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada punggung besar milik Andra yang sedang berdiri di balkon kamar miliknya. Tak mendapat jawaban dari Andra, Dira kemudian berbalik dan pergi dari sana, ia turun kelantai bawah dan bersiap siap untuk pulang kerumah orang tuanya. Memang semalam Andra membawa Dira pulang ke mansion miliknya, ia ingin memberikan Dira hukuman, memberikan gadis itu pelajaran karena sudah berani melanggar aturan darinya. Dira sudah sampai didepan pintu mansion, wajahnya lesu dan tidak bersemangat seperti biasa. Sapaan dan pertanyaan dari para penjaga pun ia hiraukan. Saat ini moodnya sedang tidak baik, padahal jika dipikir-pikir yang berulah adalah dirinya kan. Memang dasarnya Dira, tidak mau diatur tapi juga tidak mau diabaikan. Satu hal lagi Dira paling tidak suka di acuhkan apalagi itu oleh Andra. "Mau kemana kamu?". Suara dingin yang tidak pernah Dira dengar menghentikan langkah kakinya yang akan memang lambat. Para pelayan yang tadinya bersikap biasa saja kini tidak dapat menyembunyikan raut tegang wajah mereka. Dengan langkah pelan pada pelayan pun kembali mengerjakan tugas mereka masing masing, menghindar dari majikan mereka. "Pulang". Dira berbalik dan menatap Andra yang menatap dirinya dengan datar. Rasanya Dira ingin merengek tidak suka dengan raut wajah yang Andra keluarkan. Namun ia harus kuat agar tidak mengeluarkan tangisan dan rengekan yang sedari tadi ia tahan. "Emang aku pernah nyuruh, dan lagi kamu masih punya hukuman''. Andra mendekat pada tempat Dira berdiri. Ia menarik tangan gadis itu guna mengikuti langkahnya. Tadinya Andra ingin memberikan hukuman dengan cara mendiami Dira, baru setelah nya ia akan memberikan hukuman yang sebenarnya pada tunangan nakalnya, namun belum juga ia berapa lama Dira sudah berniat pulang, sebenarnya Andra mengamati Dira yang berjalan dengan lesu sedari tadi, ia juga bahkan tersenyum tipis saat dirasa Dira hendak menangis saat akan pulang dan ia abaikan, terbukti dari Dira yang bahkan tidak menyahut saat disapa oleh pelayan rumahnya. Andra senang tentu saja. Itu artinya Dira menganggap dirinya penting bukan. Tapi Andra harus bersikap tenang dan tetap abai pada Dira, sekalian pelajaran agar kedepannya gadis itu tidak lagi berani bertindak diluar aturan yang sudah ia tetapkan. "Kita mau kemana, hiks,ini kenapa air matanya keluar". Dira meracau dengan tangan yang bebas menghapus air matanya kasar. Ia bahkan tidak menyadari raut geli dari pemuda yang sedari tadi meliriknya diam diam. "Hukuman pertama, kamu bersihin taman ini, trus kamu harus ngumpulin rumput sebanyak satu karung, kalo kurang kamu belum boleh pergi dari sini". Dira syok dengan perkataan Andra, ia meneliti tempat ini dengan perlahan, taman luas namun tidak terawat, ditambah rerumputan yang tumbuh dengan begitu subur, ia yakin jika nanti tangannya pasti akan lecet. Membayangkan nya saja sudah membuat Dira bergidik ngeri. "Kak Andra yakin?". Andra menatap Dira sejenak sebelum akhirnya mengangguk mantap. Jika boleh jujur Andra tidak tega, namun biar bagaimanapun Dira harus diberikan hukuman. Ia memantapkan hatinya untuk tidak goyah dan kembali memaafkan kesalahan Dira. Sebab menurutnya jika saat ini saja Dira sudah berani mengabaikan perintahnya padahal masih hal yang sepele lantas bagaimana dengan hal hal besar dikemudian hari. "Aku tunggu disana". ujar Andra meninggalkan Dira. Ia memilih untuk berteduh di bawah pepohonan yang rindang. Mengamati Dira yang terdiam mengamati alat alat kebersihan yang sudah ia persiapkan terlebih dahulu. Sementara itu Dira mengamati benda benda aneh didepannya. Mulai dari alat yang sering digunakan oleh tukang kebun di rumahnya, sebuah sapu lidi, dan juga karung ukuran lumayan besar. Ia menatap Andra yang sedang berteduh dengan pandangan memelas, namun sayangnya Andra abai akan hal itu. Tidak ada pilihan lain Dira mulai mengerjakan pekerjaannya dengan pelan dan hati hati. Mula mula ia memotong rerumputan dan menaruhnya kedalam karung, ia terus mengulang hal yang sama secara terus menerus, walau dengan kaku , maklum saja ini pertama kalinya ia memegang alat alat yang menurutnya aneh ini. Keringat sudah bercucuran, badannya pun sudah lelah namun karung tersebut masih butuh banyak untuk penuh. Ia kemudian menyapu dedaunan yang memang sudah berjatuhan dari pohonnya, hal ini ia lakukan agar karung miliknya cepat penuh. Ia sesekali menatap pada Andra yang saat ini sedang asik dengan laptop yang berada dipangkuan lelaki itu. Dira kesal dan juga marah tapi ia pun sadar jika ini memang konsekuensi dari apa yang sudah ia lakukan. "Capek banget''. Dira berbicara pada dirinya sendiri. Tangannya sudah memerah karena memegang alat pemotong rumput dengan erat, keringat pun kian menetes makin deras. "Au ah aku capek". Dira hampir saja menangis saking lelahnya. Dengan kesal ia menendang karung berisi rumput yang ia kumpulkan. Dira berjalan dengan langkah lesuh pada Andra uang sedang menatap dirinya dengan penasaran. "Kenapa berhenti?".tanya Andra bingung. Ia melihat rumput yang tadinya dikumpulkan oleh Dira, sudah berserakan kembali. Meneliti penampilan sang tunangan yang sudah sangat kelelahan, keringat yang bercucuran dan juga mata yang hampir mengeluarkan kristal bening, berupa air mata. "Capek aku udah gak kuat, aku lelah, lesuh dan letih, udahan ya ka". Dira merebahkan tubuhnya disamping Andra yang sedang menatap Dira khawatir. Dengan tangan yang direntangkan dan juga mata yang menghadap pada langit yang saat ini sedang begitu cerah. Melihat pada arjoli yang ia gunakan, Andra paham kenapa Dira begitu lesuh sebab jam sudah menunjukkan pukul 10.00 wib. Pantas saja matahari juga sudah mulai naik ke permukaan. "Emang udah siap?".tanya Andra memfokuskan dirinya pada Dira yang tiduran di tanah . Ia meletakkan laptopnya sembarangan, tangannya yang tadi dengan lentik menari nari atas keyboard kini berpindah dengan menghapus keringat yang menetes di wajah tunangannya. "Aku tuh capek ka, lagian ini kenapa kayak gak ke urus banget si ". Nada bicara Dira kentara sekali jika ia sedang begitu kesal. Tangannya dengan cepat menghempaskan tangan besar milik Andra. Bukannya reda, ia malah kian kepanasan saat tangan Andra seakan menjelajahi wajahnya yang sedang keringatan itu. "Hmmm Yaudah, kalo gitu ayo masuk kedalam, kamu mandi terus kita makan". Andra berdiri terlebih dahulu, sebelah tangannya memegang laptop miliknya, sedangkan sebelah lagi terulur untuk menggenggam tangan Dira, mereka masuk kedalam mansion dengan Dira yang begitu kelelahan, dan Andra yang sedikit merasa bersalah sebab menghukum sang tunangan. "Aku mandi dulu, ingat makanannya jangan dihabiskan". Peringat Dira garang. Ia menatap Andra penuh dengan peringatan, yang hanya dijawab acuh oleh pemuda tampan itu. "Iya sayang, Sanah kamu mandi dulu, aku tunggu di meja makan ya". Andra mengusap lembut rambut Dira yang sudah lepek dengan keringat. Ia mendorong tubuh Dira pelan, kemudian setelah melihat Dira masuk kedalam kamar ia berjalan menuju ruang makan. Wajah yang tadinya lembut kini berubah menjadi dingin dan kaku, para pelayan yang sedari tadi mengamati kedua majikan nya bergedik ngeri, melihat perubahan sang tuan yang begitu cepat. Tak ada satupun dari mereka yang berani berbicara atau menegur, bukan rahasia lagi didalam mansion ini jika sang tuan akan bersikap sangat kejam jika sang nona muda tidak berada didekatnya. Namun begitupun sebaliknya, sang tuan akan bersikap layaknya kucing manis jika ada sang nona, persis seperti kucing dan juga tuannya. Sementara itu disebuah rumah yang tidak terlalu mewah, seorang gadis sedang duduk dengan wajah yang begitu angkuh, wajah yang jauh berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang selama ini ia perlihatkan dihadapan orang orang. "Saya tidak habis pikir, kenapa kamu jadi seliar ini Amel". Seorang pria paruh baya menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya. Bayangkan saja anak yang selama ini kau harapkan akan menjadi orang yang berguna dan sukses dimasa depan, tapi dengan naas orang itu menghancurkan harapan yang kau tumpuk dengan begitu mudahnya. "Ini bukan urusan papa, lagian apa urusannya sama papa". Ucap Amel dengan Santai. Ya kalian tidak salah, gadis ini adalah Amel teman atau mungkin satu satunya sahabat yang dimiliki oleh Dira. Siapa yang menyangka dibalik wajah tomboy dan juga kasarnya ia pun memiliki luka yang tidak orang lain ketahui. Tidak mendapatkan kenyamanan dari dalam rumah, ia mencari apa yang ia butuhkan diluar, namun sayangnya ia salah masuk pergaulan. Pernah dengar jika pergaulan kita akan menentukan masa depan kita, benar hal itu sangat lah benar. Sebab mau tidak mau kita akan mengikuti apa yang teman kita lakukan, begitulah yang saat ini dilakukan oleh seorang Amel. "Jangan kurang ajar kamu, lagian kenapa kamu jadi seperti ini, dimana Amel yang selama ini selalu menurut, dimana Amel yang tidak pernah macam macam, dimana?". Ucap sang papa dengan pandangan kecewa pada Amel. Ia merindukan anaknya yang dulu, anak yang selalu bercerita walau ia abaikan, anak yang selalu meminta waktunya, dan anak yang selalu menuruti perintahnya. "Amel yang dulu udah mati pa, Amel yang saat ini adakah Amel yang berbeda, yang tidak lagi membutuhkan untuk didengar, tidak lagi mau membagi cerita nya pada papa, dan Amel yang saat ini adalah Amel yang kelewat mandiri, sampai sampai gak butuh lagi akan orang lain, dia terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri, dan ia juga terbiasa diabaikan, hingga pada akhirnya ia terbiasa melakukan apapun sendiri". Amel menatap sang papa dengan pandangan kecewa. Namun dari sorot matanya bisa dilihat jika yang ia katakan memang apa yang saat ini ia rasakan. "Dasar anak gak tau diri, kalo kamu ngerasa bisa sendiri, fine, saya gak akan lagi ikut campur apapun tentang kamu lagi, anggap saja kita ini orang asing yang sedang tinggal di atap yang sama". Sang papa berkata dengan nada sinis, dan juga terdapat kemarahan didalam kalimat tersebut. Ia pergi meninggalkan Amel yang menatap sang papa dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD