0...o Kamu Ketahuan

901 Words
*** Kasih bintang 5 dong kalau suka sama ceritanya, like dan komen juga. Tengkyu. *** Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Palgiator dilarang nyolong! Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen. *** Senang banget rasanya tahu kalau gue hamil, gue langsung ke dokter kandungan, periksa kandungan, kemungkinan usia kandungan gue 5 minggu, HPL nya persis saat bulan ulang tahun gue, Juni. Yeay, I'll have a summer baby. Gue ke supermarket dekat rumah, beli s**u ibu hamil, trus beli makan. Lupa dari pagi belum makan sampai siang begini. Gue makan di tempat biasa, warung nasi biasa. Makan lahap banget gue, enak banget rasanya ayam betutu ini apa lagi makannya pakai sambal matah, mantabh, "Nambah nasinya Bli." Makannya sampai nambah, pokoknya nikmat banget makanan ini, sampai datang salah satu pengunjung yang pakai parfum wanginya kayak wangi kuburan baru, "Hueeek..." Duh langsung mual gue. Buru-buru deh gue bayar makanan gue, trus pulang. Sampai di rumah gue langsung mandi dan istirahat, gue lagi mikir cara untuk menghindar dari ajakan menikah Sofio. Kalau kabur sekarang belum gajian, gajian nanti tanggal 25. Lalu gue masih harus bikin aplikasi keuangan yang baru. "Ahh... Googling perihal ibu hamil ahh, apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan." Gue kalau di rumah hanya pakai tank top dan celana pendek. Sumuk a.k.a hareudang soalnya bukan kosan dengan AC. Karena capek membaca akhirnya tertidur juga gue, tapi tidur gue rasanya ga nyaman, tiba-tiba darah gue berdesir. "Ahh..." rasanya enak banget ada yang mainin cuping telinga. "Sofio!" Gue memutar badan ke tengah kasur, menghindari serangan nikmatnya. "Kok bisa masuk bapak?" "Bisa dong, aku bilang, aku suami kamu, jadi dibiarkan masuk ke komplek." Kosanku bentuknya komplek. "Eh... ga mungkin boleh pak! Pasti harus kasih bukti sahih dulu, baru boleh masuk." "Kalau cuma kita berdua kamu jangan panggil aku bapak! Kamu itu calon ibu anakku, kamu harus panggil aku sayang, suamiku, atau mas juga enak didengar." "Sayakan..." "Bukan saya! Kalau lagi berdua kayak gini kamu boleh manja-manja kok sama aku." Gue kaget bukan main, bisa-bisanya si horor ini jadi manis kayak kembang goyang. "Akukan tidak hamil, jadi kamu ga perlu tanggung jawab!" "Sayang, kamu kalau mau bohong yang rapi dikit dong, masa kalau ga hamil, beli s**u hamil lalu ke dokter kandungan?" Apa??? Dia tahu. Mati! Ga bisa bohong lagi gue, lupa itu s**u masih duduk manis diatas counter. Hasil USG juga ada dekat s**u hamil, juga asam folat dan vitamin kehamilan lainnya. "Huuft, iya aku hamil." Sofio berdiri berkacak pinggang, mukanya udah kecut banget, mau ngamuk ya dia? "Tuhkan kamu bodohi aku lagi, aku udah tahu saat Jun keluar toilet pria bawa-bawa urin, dia bilang untuk kamu." "Iya aku salah! Tapi aku ga mau nikah sama kamu!" "Kenapa? Kita udah berbuat dosa Be, kita melakukan hubungan suami istri bahkan sebelum sah menikah, apa kamu juga mau nambah dosa dengan membiarkan anak kita lahir tanpa orang tua yang utuh?" "Hey! Aku ga akan kabur bawa anak ini sendiri, aku akan bilang kamu papanya, kamu boleh ketemu dia kapan aja, tapi ga harus menikahkan?" "Ya harus menikah dong! Kamu udah berani menyetubuhi ku, kamu buat aku selalu terangsang kalau dekat kamu, lalu kamu mau membuang aku begitu saja, hah?!" Ini kok rasanya, bukannya harusnya aku yang nuntut tanggungjawab, eh kok malah dia yang nuntun minta dinikahkan gini sih? "Be, kalau aku terangsang gini didekat kamu, tapi kamu belum jadi istri ku, trus aku harus gimana?" "Kenapa jadi masalahku sih? Ya kamu cari istri baru aja!" Sofio marah, marah banget, tapi ditahan emosinya. Sofio mengatur nafasnya. "Apa kamu punya pacar?"Sofio bertanya dengan nada yang lembut. "Ngga." "Lalu kenapa kamu ga mau menikah sama aku?" Karena aku ga mau dilema rumah tangga, aku ga mau suatu saat nanti orang yang aku sebut suami, berselingkuh, meninggalkan ku. Aku ga mau punya mertua yang menyepelekan ku, apalagi kamu orang kaya, aku ga mau rumit. Tapi tentu saja itu hanya di pikiran saja, tidak gue ucapkan. "Ga ada alasan. Hanya ga mau!" Jawab gue lemah. "Be, kita bisa buat perjanjian pra-nikah, apa yang kamu takutkan bisa kamu tuliskan di perjanjian kita, aku akan menaati setiap klausul." Duh, gue harus buru-buru kabur deh kalau kayak gini. Sofio mengambil koper gue, dimasukin semua baju gue ke koper. "Eh... kamu ngapain?" "Mulai sekarang kamu tinggal sama aku!" Tinggal sama dia? Dia tinggal di penthouse hotel. Masa tinggal berdua, apa kata teman-teman lain? Bisa dibully penggemarnya. Gue keluarin lagi baju-baju gue dari koper. "Duh, gak mau ihh..." "Kamu ga boleh tinggal sendirian, nanti kalau ada apa-apa sama bayi kita gimana?" Gue bergeming mendengar ucapan Sofio. Dia peduli sama anaknya, dia sayang sama anaknya. "Hueeek... hueeekk..." Buru-buru ke toilet, sambil sedikit lari. "Hueeek hueeek..." Gue muntah di wastafel tapi ga ada yang keluar, badan jadi lemas banget, dan kepala pusing banget. Sofio dengan lembut memijat tengkuk gue, membelai punggung gue, membuat gue merasa, nyaman. "Tinggal saja sama aku, aku bisa ngurus kamu dan anak kita, ya?" Aku hanya menggeleng. Sofio menggendong gue ke kasur, membuatkan teh hangat. "Ya udah kamu tidur aja dulu. Nanti kalau kamu udah tidur, aku pulang." Bangun tidur udah cukup sore, ehh bener dong dia ga ada, udah pulang, tapi udah ada makanan enak di meja dapur gue. Ada tulisan cinta, "Dimakan ya, biar sehat ibu dan bayinya. Love." "Uhh so sweet banget sih..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD