***
Kasih bintang 5 dong kalau suka sama ceritanya, like dan komen juga. Tengkyu.
***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
***
Hotel 10 lantai dengan view terbaiknya di Bali. Masuk kerja hari ini tidak terlalu semangat, harusnya hari ini masuk sore, tapi karena masih malu ya dengan kejadian tadi, gue tukeran shift aja sama Jun, gue malem lagi aja deh, biar bisa tidur lebih lama siangnya.
"Sialan tuh orang, udah bikin h***y. Malah ditinggal nanggung, diusir lagi!"
Gue buka ruangan gue, "Ahh... aroma kabel..." Gue paling seneng di ruangan gue yang sempit, dingin dan banyak PC. Langsung duduk di meja kerja, nyalain monitor gue yang besarnya 32 inci. Bikin kopi dulu ah.
"Waaak." Kaget gue, kaget. Ada mahluk berdiri menatap tajam dengan wajah yang mengerikan.
"Bapak, bisa ga sih ketuk pintu kalau masuk, jangan mendadak ada di belakang pak."
"Kamu pikir saya setan? Ngapain teriak-teriak kayak tadi? Hiperbol banget!"
Ya amplop, gini amad punya boss, ganteng-ganteng seringgila.
"Maaf pak. Bapak ada keperluan apa?"
-Brak- Pintu ruangan gue ditutup sama dia. Dia maju mendekati gue, otomatis gue mundur, tapi mentok di meja monitor.
"Kenapa kamu tukeran shift?" Muka Sofio hanya satu senti jaraknya dari muka gue.
"Ke... kenapa pak?" Duh, kenapa gue jadi gugup gini, pengen gue caplok tuh bibir.
"Emmmh..." Malah dia yang nyaplok bibir gue, gue dorong dadanya, ciumannya terlepas, mata kami saling memandang, ada kerinduan disinar matanya. Tangan kiri Sofio menarik pinggang gue, tangan kanannya menahan tengkuk kepala gue, lalu dia mencium gue lagi, kali ini ga gue tolak karena gue lihat dia menutup mata saat ciuman, ini artinya dia menikmati ciuman ini, karena lembut dan manis bibirnya membuat gue sedikit membalas ciumannya, tapi malah bikin dia makin liar dan intens. Karena kapok dipermainkan lagi. Gue gigit aja bibirnya.
"Aww..." Dia lepas ciumannya, "Kenapa gigit sih?"
"Pak maaf pak, saya bisa laporkan bapak untuk tindakan pelecehan seksual!"
"Pelecehan seksual? Lalu saya harus melaporkan tindakanmu juga karena telah memberi obat perangsang pada saya dan mengambil keuntungan dari saya."
Gue diem, emang iya sih gue kasih perangsang dan ambil keuntungan dari dia.
"Hey! Hal itu kita lakukan karena sama-sama mau, kalau bapak ga mau, kan ga mungkin hal itu terjadi."
"Lalu kenapa kamu meninggalkan saya begitu saja? Hah? Hanya dengan nasi goreng lalu menghilang! Kamu pikir saya laki-laki macam apa?"
Eh. Itu bukannya yang harusnya ngomong kayak gitu yang perempuan ya? Gue. Kan gue yang udah kehilangan keperawanan. Tapi kenapa dia yang ngomong gitu?
"Ayo kita menikah! Akhir minggu ini saya ke rumah mu, ketemu orang tuamu."
"Apa?"
"Omongan saya sangat jelas. Ga perlu diulang!"
Otak gue mendadak kosong, re-load terus, lah kok gue malah bengong, orangnya udah keburu minggat.
"Saya belum mau nikah!"
Percuma gue teriak, ga ada yang denger. Damn it! Maen ajak nikah aja tuh orang, padahal Kitakan ga saling kenal, dia aja ga tahu tanggal lahir gue, sifat gue, dark side job gue, keluarga gue, maen ajak nikah aja. Sekalipun dia gue kenal banget, tetep gue ga mau nikah! Gue cuma mau punya anak...
Sial! Waktu gue terbuang percuma gara-gara mikirin si GGS, ganteng-ganteng seringgila!
Duh lupa, ada kerjaan masuk, buat nyari data pabrik. Ya, ada kerjaan dari makelar gue, ada satu Avatar rahasia yang tahu akun game gue, biasanya dia yang ngasih kerjaan lewat game. Bayarannya lumayan banyak ya 100juta, buat meretas server utama pabrik pakaian, dia minta semua data yang ada, tanpa jejak tentunya. Gampang, tinggal SQL Injection dan pastikan IP address tidak terlacak. Done!
Barang udah terkirim duit udah keterima di rekening siluman. Muehehehehe bisa buat tambahan bangun villa di Bogor, yes, akhir bulan ini villanya udah beres, walau villa kecil, tapi gue bangun secantik dan senyaman mungkin.
Sudah waktunya pulang, gue pengen banget pulang cepet, tapi ini udah jam 8 lewat, belum ada yang datang, semena-mena nih tim gue, mentang-mentang managernya baik hati macaem gue.
Suara telepon ruang IT bunyi, ahh bakalan dapet kerjaan lagi nih.
"Mas Beni, dipanggil Presdir."
"Oke..." Jawabnya dengan lesu. Adduh mau apa lagi nih orang...
Saat mau naik ke lantai atas, Jun keluar dari lift.
"Jam segini baru datang lo! Kena kerjaan deh gue!"
"Ampun mbak, saya tukeran sama Dadi, dia sakit, saya harus long shift Ini mbak."
"Ya ya ya..." ga peduli gue, sekarang gue lagi mikirin Sofio mau apa lagi sama gue.
Gue udah di depan ruangannya dengan muka tidak bahagia, lesu, laper, perut udah minta diisi.
"Masuk aja mbak udah ditunggu."
Gue masuk, dia lagi baca laporan, serius banget bacanya, tapi tetap ganteng walau dengan dahi yang berkerut begitu. Eh dia umurnya berapa ya? Nanti gue cari data-datanya.
Sofio melihat gue, lalu mengambil sesuatu dari laci mejanya, sebuah amplop coklat, tebal.
"Nih... ambil."
Wow, duit bukan ya? kalau duit itu setebel itu kira-kira ada 20 juta... Uang tutup mulut kali ya, biar ga ada yang tahu apa yang sudah terjadi di antara kami.
"Ambil! Malah bengong!" Ya ampun, galak amad... Kayak gini ngajak nikah, bisa berantem melulu tiap hari. Gue ambil deh tuh amplop, gue buka, lah kok isinya beginian?
"Pak, ini apa?"
"Masa kamu ga tahu?"
"Tahu, maksudnya kok begini?"
"Cin... eh, Bening, saya harus tahu kamu hamil anak saya atau ngga. Buruan di pake!"
"Ngga pak, saya ga hamil."
Sofio memicingkan mata, menatap tak percaya ke arah gue.
"Serius, saya juga udah ngetes dan hasilnya negatif."
Sofio masih tak percaya, dia tampaknya sedang berpikir. "Kamu tahu, kakak saya sekali keluar, kakak ipar bisa langsung hamil. Masa saya yang 4 kali keluar ga bisa bikin kamu hamil? Coba sana! Sekarang! Saya tunggu!"
"Oke! Ga percaya banget sih!"
Gue keluar sambil bersungut-sungut. Ke toilet perempuan.
"Coba test pack yang mana nih? Banyak banget lagi. Coba yang ini aja, yang udah pernah gue pakai." Nunggu hasil tes kira-kira 2 menit, mainan Free fire dululah. Udah dua menit lebih gue lihat hasilnya, tuh kan garis dua, negatif juga.
"What?! Garis dua? tunggu, artinya... positif? Aaaaaakkk... gue hamil... Yess! Hamil! Punya anak... Horray..."
Tapi. Apa Sofio harus tahu? Malah makin pengen nikahin gue lagi dia. Duh gimana dong?
"Jun! Ke toilet lantai 10 sekarang! Udah jangan banyak nanya, cepet!"
Jun datang dengan kecepatan kilat.
"Kenapa mbak?"
"Nih isi tabungnya air seni lo, dikit aja!"
"Hah? Mbak... aneh-aneh aja."
"Jun, please tolong gue... ga usah banyak nanya, dan jangan bilang-bilang ke orang-orang, nanti gue ceritain!"
Untung Jun orangnya penurut, dia dengan mudah memberikan urinnya.
Lalu gue test, sambil gue rekam, bukti. Hasilnya negatif semua, ya iyalah pipis laki, masa iya tekdung lala la.
-Brak-
Gue taruh semua hasil test pack nya.
"Negatif semua! Puas?"
"Tunggu tadi saya kasih 10 merk, ini hanya ada 9, mana 1 lagi."
"Kecemplung di toilet, ambil aja sendiri kalau mau!"
Aku berbalik pulang.
"Eh, mau kemana? Emang udah saya suruh pergi?"
"Ada perlu apa lagi pak?"
"Ingat akhir minggu ini kita ke rumah orang tuamu, aku lamar kamu!"
"Hey! saya kan ga hamil, saya ga perlu tanggungjawab!"
"Tapi perlu kamu perlu bertanggung jawab sama saya! Kamu sudah mengambil keperjakaan saya, jadi kamu harus bertanggungjawab!"
Aku bengong...
"Udah sana pulang, mandi! Bau kecut!"
Sial! Gue diusir lagi!
***
Jangan lupa subscribe, bintang, like, komen and follow. Love you full...