Jujur

544 Words
"Kenapa pak? Ada urusan apa kok saya dipanggil Pak Presdir?" "Hayo loh, kamu pasti bikin salah. Dia itu perfectionist. Sudah sana naik, sebelum dia makin marah." Adooh, gimana ini? Apa dia marah karena name tagnya? Ya, ellah kerjaan gini amad. Aku sudah di depan ruangan Presdir. "Masuk saja mbak sudah ditunggu." Kata Chintia, sekretarisnya. "Baik." Gue benerin kemeja dan jas gue. Gue dorong pintunya, tapi kok kosong, gue mendekat ke mejanya, siapa tahu ada di ruangan sebelah, karena gue lihat ada ruangan yang cuma ditutup sekat. "Aaaakk." Astaga kaget gue. Ada yang meluk dari belakang, gue berontak tapi pelukannya di perut gue, erat banget. "Sudah, biarkan seperti ini." Dagu Sofio, ditaruh dipundak gue, tinggi gue cuma 165cm, tinggi Sofio mungkin 180cm. Sofio? Wangi kamu tetep sama ya... memabukan. "Pak, maaf pak, tolong dilepaskan." "Kamu tahu, aku mencarimu kemana-mana, tapi takdir sungguh lucu, kamu ada dibawah mataku sendiri." "Pak maksudnya pak." "Apa kamu melupakanku, Cindy?" -Deg- Tuhkan dia tahu. "Maaf pak, tapi saya Bening bukan Cindy." Sofio berbisik di telinga gue, "Kamu pikir, kamu bisa menipuku hanya dengan berdandan seperti ini Cindy?" Sofio membalik badan gue, ditariknya pulpen yang jadi tusuk konde gue, dilepasnya kacamata bulat gue. "Kamu, Cindy... atau Bening? Kamu tetap wanita itu." Gue nunduk ya, ga berani lihat mata, gue ga bisa bohong orangnya, bisanya nipu dikit. Tangan Sofio angkat dagu gue, "Eemmh..." Sofio nyium gue. Lembut banget ciumannya, dia udah makin jago nyium rupanya. Niatnya pengen bohong kalau gue bukan Cindy, tapi apa daya, bibir gue pengkhianat banget, malah bales ciumannya. Mana main lidah lagi dia. Badan gue diangkat, didudukan di atas meja kerjanya. "Emmmh..." Kita ciuman udah seperti ga akan ada hari esok. Liar, penuh nafsu. Sampai tangannya kemana-mana. "Ahhh..." Desahan gue. Membuat dia mengehentikan ciumannya. "Masih mau menyangkal kalau kamu bukan Cindy?" Sofio menatap gue, yang masih h***y, muka gue merah pastinya, inti gue udah berkedut minta disentuh. Gue diam. Jujur apa ngga nih? Kalau jujur apa dia bakalan mecat gue? "Masih belum mau ngaku?" Kata Sofio, lalu dia melanjutkan cumbuannya, ciumannya semakin panas, jantung ini udah berdebar ga karuan, dia gendong gue ke sofa, dia rebahin gue di sofa, kancing kemeja gue dilepas sampai bra gue bisa dia lihat, lalu dilepas juga itu bra. "Ahhh..." Gue udah nafsu banget. Tapi ga dia apa-apain. "Udah kepengen banget ya?" "Iyaaah..." Jawab gue penuh desahan. "Kalau gitu jujur, kamu Cindy kan?" "Iyaaah... Sof, aku... aku Cindy..." Ahh udahlah jujur aja, udah ga tahan gue pengen diewi. Tapi yang dia lakukan malah, berdiri, dan meninggalkan gue sendiri dengan nafsu yang membara. "Sofio...?" "Kamu ngapain disitu!" Kok dia marah? Gue berdiri, benerin baju gue, rambut gue, dan ambil kacamata gue di mejanya. "Ini benerin name tagnya, kerjaan seperti ini aja ga becus! Lalu ganti aplikasi keuangan dengan yang lebih efisien!" Melongo dong gue. Ini orang? Sial! Gue dijebak! "Ngapain bengong aja?! Udah sana kerjain." Shit! Gue ambil name tag nya, gue pergi dengan marah, gue banting tuh pintu Presdir, mau dipecat, pecat deh bodo amad. *** Kasih bintang 5 dong kalau suka sama ceritanya, like dan komen juga. Tengkyu. *** Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Palgiator dilarang nyolong! Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD