Sudah 5 minggu sejak malam bulan madu yang uwwuw... Kangen banget sama malaikatku, apaan sih Bening, kayak dia bakalan inget aja sama lo?
Ya pasti orang kayak dia ga bakalan inget sama cewek nakal kayak gue waktu itu. Kalo gue inget-inget, dandanan gue waktu itu seksi banget, gue aja sampe napsu liat diri gue sendiri.
Tapi that's worked, berhasil bikin dia nembak 4 kali, dengan berbagai gaya, eh itu sih karena obatnya. Ga sia-sia juga usaha gue riset, nonton bokep berbagai genre, jadi bisa kayak udah pengalaman banget gue, bisa gaya lalet ijo, gaya lumba-lumba, gaya gaya lainnya.
Sekarang gue lagi shift malam, gue kerja dari jam 9 malem sampe jam 7 pagi nanti, biasanya gue sendirian kalo malam gini, kalau malam jarang banget ya ada masalah, jadi biasanya waktu gue, gue habiskan buat nyari rekaman orang-orang penting yang nginep di hotel. Seperti sekarang ini, ada tokoh politik yang kalau di depan publik itu romantis banget sama istrinya, eh tahu-nya, bulet digoreng dadakan, dia bawa dong cewi-cewi seksi ke kamar, uuwh, mau ewita bertigaan pak? Lumayan deh, rekam dikit, buat nyari duit, hahahahaha jangan sampe ketahuan.
Well it's time to us to go. Yes, akhirnya bisa tidur dengan nyenyak, paling capek emang kalau begadang.
"Mas Beni, nanti jam 10 Presdir baru dateng, ada pertemuan dengan seluruh karyawan."
"Hah? Aku baru selesai shift, mbak..." Jawab gue penuh keluh kesah pada salah satu teman selevel.
"Ya, kamu pulang aja dulu, tidur bentar, nanti sebelum jam 10 dateng lagi, dandan yang cantik ya, katanya Presdir baru, ganteng gila." Ujar Mbak Ira dengan penuh semangat.
"Please deh mbak."
Ga bisa deh nih lanjut tidur sampe sore, harusnya hari ini masuk jam 3 sore, eh malah harus datang jam 10. Ish, gue acak-acak rambut gue, kesel sendiri, kenapa sih itu Presdir, bukan datang dari kemaren-maren! Kemaren kan gua ga shift malam. Padahal ini hotel ga ada Presdir aja bisa jalan sendiri, auto pilot.
Tapi tetap aja gue datang, sebelum jam 10, karena gue masih karyawan disini, masih butuh gaji, don't bite the hands that feed you, harus patuh sama majikan, jangan jadi pengkhianat. Gue dandan ganteng dong, pakai blazzer dan celana hitam, tidak lupa konde rambut dengan pulpen, kacamata bulet besar juga dipakai biar nambah ganteng.
"Mbak Bening, gawat mbak." Jun menghampiri dengan panik.
"Gawat apa Jun?" Gue jadi ikutan panik, gue pikir ada yang ngehack akun keuangan hotel atau apa.
"Nama Presdir di papan namanya salah hurup mbak."
"Hah?"
"Aduh gimana dong mbak?"
"Cuma itu gawatnya?"
"Mbak! Ga 'cuma itu'. Katanya Presdir yang baru perfectionist kalau tahu namanya salah, bisa habis kita mbak." Ujar Jun penuh ketakutan. Gue tambahin aja ketakutannya.
"Kita? kan elo yang bikin, ntar gue bilang aja elo yang salah, biar lo yang habis sendiri."
"Mbak... kamu kejam... kejam Roma!"
"Hahaha, ga usah khawatir, itu hanya hal kecil Jun, nanti biar gue yang urus, lo print lagi aja yang baru!"
Karena ngantuk banget, gue merem dikit, mumpung tuh Presdir belum datang. Kita ada di ruangan rapat besar, dewan direksi duduk di depan meja bentuk U, sedangkan para manager seperti kami duduk di belakang, tanpa meja, gue memilih duduk mojok, biar bisa merem dikit ga ketahuan.
"Selamat siang rekan-rekan semua, hari ini Presdir kita yang baru sudah hadir, mari kita beri sambutan yang meriah." Suara direktur HRD terdengar, semua orang memberi tepuk tangan, gue masih merem.
"Terimakasih." Suara Presdir mulai terdengar, tapi kalian tahu? yang gue denger malah suara Sofio, ya ampun segitu kangennya gue sama nih laki, sampe bisa halusinasi begini, bikin senyum-senyum sendiri.
"Selamat siang rekan-rekan semua..." Tuhkan suaranya berat tapi seksi.
"Ben, bangun!" Linda menggoyang lengan gue, membuyarkan imajinasi. Gue buka mata, melotot ke Linda.
"Ngantuk gue!"
"Itu lihat Presdirnya."
"Perkenalkan nama saya Sophio Rahmat, bukan Sophia ya, seperti di name tag ini."
-DUAR-
Seperti ada bom di hati gue. Itu itu Sofio... dia... dia... Sofio gue? Mampus gue, dia kenal gue ga ya? Gimana kalau dia tahu gue. Matanya berhenti di gue, dia melihat gue, tapi lalu dia mengalihakan pandangannya.
Fiyuhh.
Untung lah, sepertinya dia ga kenal dengan gue yang dandan seperti ini.
Dia tampak sedang berbisik dengan sekretarisnya.
Gue mulai gelisah, bingung kalau sampai dia kenal gue sebagai Cindy.
Tapi, ini kesempatan gue, bisa bikin anak lagi sama dia.
Shut! Gue malah jadi bayangin batangan, batang milik Sofio yang panjang, besar, berurat itu.
"Ugh baby, jadi pengen office lady role play." Tanpa sadar gue bergumam seperti itu.
"Apa Ben?" Linda berpikir gue ngajak ngomong dia. Gue juga terkejut. Gila! Gue bisa mijor begini siang-siang.
Apa jadinya kalau sekantor tahu, kalau gue pernah menggagahi Presdir mereka. Eh, yang digagahi gue seharusnya gue ya? Tapi kemarin itu lebih banyak gue yang ambil alih kendali.
Mendengar Sofio pidato, jadi teringat suara desahannya yang buat bulu kuduk merinding, "Ahh, again baby, move faster." Gumamku.
"Apa sih Ben?" Tanya Linda.
"Ups." Gue cuma tersenyum aneh ke Linda. Gue jadi h***y Lind, ngelihat boss kita ini.
Acara perkenalan singkat sudah selesai, semua kembali ke pos-nya masing-masing, dan gue mau pulang ke kos dulu. Lanjutin tidur.
Tapi.
"Ben, kamu disuruh ke ruangan Presdir!"
"Apa?"
***
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
Palgiator dilarang nyolong!
Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.