Make a baby

520 Words
Penthouse. Baru kali ini gue masuk ke dalam penthouse. Terletak di lantai paling atas sebuah apartemen mewah dikawasan Ibukota, sangat mewah, dan luas, OMG ada kolam renangnya. Gue ga akan mampu beli unit ini, sekalipun gue bekerja dari bayi, sampai kehidupan yang ke 4 sekalipun, gue tidak akan mampu membeli penthouse. Sofio yang masih bisa berjalan walau lemah, gue menolongnya duduk di sofa, gue bantu membuka jaketnya. Gue intip brand nya, waow... harga jaketnya seharga gajiku sebagai kepala bagian. Beruntungnya dirimu. "Mau aku ambilkan minum?" Tawaran gue dengan nada sok kuatir. "Maaf ya, aku ga tahu kamu ga kuat minum alkohol." Gue berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu mendekati dia dan berpura-pura tersandung. "Aduh" Gue menjatuhkan air minum tepat di paha nya yang besar itu. Gue mengambil tisu dan mengelapnya. "Aduh maaf tumpah." Sofio memegang tanganku. "Jangan Cin!" Dengan desahan Sofio sedikit gemetar. "Maaf... kamu kenapa? " Kata gue pura-pura bersalah. "Cin... aku... aku..." Nafas Sofio sudah kembang kempis, wajahnya memerah, dia menutup matanya. "Kenapa kamu, kenapa?" Gue belai-belai wajahnya biar makin terangsang. "Aku... bergairah... sebaiknya kamu pergi, aku... aku ga kuat lihat kamu." Jawabnya lirih menahan gairah. "Apa? aku ga kedengaran." Gue berdiri lalu sengaja menunduk kearahnya memperlihatkan p******a yang cukup berbentuk, walau ga besar tapi ga kecil juga, lumayan pakai push up bra. Kebentuk dikit. "Cin... maaf..." Sofio menerkam gue. Gue bermain gadis lugu, pura-pura ga mau, padahal ini yang gue tunggu. Ayo hamili aku abang... "Emmmh..." Sofio memcium, kasar, dia belum pernah ciuman sepertinya, ga enak banget. "Sabar..." Gue menghentikan Sofio, mendorongnya sedikit menjauh dari gue, menatap matanya yang sudah dilanda gairah. "Aku ajarin ciuman..." Kataku mengambil alih, gue berada diatas Sofio, sofa empuk itu menjadi saksi gairah malam ini. Gue mencumbunya, dia mencumbu gue, ternyata dia pintar, sekali ajar sudah langsung mahir. Tangan Sofio sudah meraba kemana-mana. "Ahh..." membuatku melenguh. Dia membuka bajunya. Udah ga sabar ya bang? pikiran jorok menyerang. "Role play dulu malaikatku." Bisik gue penuh desahan. Udah bitchy bangetlah gue pokoknya. "Apa yang harus aku lakukan?" Sofio bertanya. Dia bertanya? My Goat! dia masih perjaka? "Sentuh seluruh tubuhku, nikmati seluruh tubuhku." Dia patuh. Dia melakukan apa yang aku perintahkan, membuatku menjerit... "Ahh... Ahh... Uhh... Uhh" Jangan nyanyi ya. Siapa yang nyanyi lagunya Mulan Jameela? Masa sih pria tamvan seperti dia belum pernah melakukan hal ini? Uhh pokoknya ga enak banget deh, sakit, ga seperti di film-film biru yang gue tonton dan jadikan acuan untuk berhubungan. Tapi gue ga boleh nyerah, harus bikin dia menghamili gue. "Lagi ya?" Dia mengangguk. Yes dalam hati. Tidak berapa lama, miliknya kembali menegang, ahh obat yang bagus, besok beli merk ini lagi buat jebakan. Kami melakukannya, di sofa, di kamar, di dapur, sampai terakhir di kamar mandi. "Ahhh..." Akhirnya gue bisa hamil. Eh, dia subur ga ya? Hari sudah pagi, Sofio masih pulas, gue membuatkan sarapan nasi goreng. Lalu pergi dengan selembar kertas surat, ucapan "Terimakasih dan sayonara." *** Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Palgiator dilarang nyolong! Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD