No Marriage

566 Words
Usia gue sudah 29 tahun, sudah usia matang kata orang-orang, gue ingin punya bayi, tapi tidak ingin menikah. Gue tidak ingin bergantung hidup pada mahluk yang namanya lelaki. Gue bisa hidup sendiri, tapi gue ga bisa bikin bayi sendiri. Kecuali ikut program bayi tabung dan beli s****a ke bank s****a. Tapi mehong cyin... Gaji gue sebagai kepala IT di sebuah hotel bintang lima di Bali ga akan cukup. Cicilan banyak bro, cicilan rumah dan cicilan mobil itu sudah menyedot 50% gaji. Belum biaya hidup, untuk kirim ke ibu dan adik di Jakarta, juga hidup gue sendiri di Bali, gue juga baru saja membeli sebidang tanah 6000 meter persegi di daerah Bogor, masih murah jadi gue berani ambil. So, habislah gaji tiap bulan. Ibu gue orang baik, benar-benar baik, kata seorang motivator "perempuan baik untuk laki-laki baik." Cih! Ga usah dipercaya! Bapak gue orang terberengsek seAndromeda. Walau dia sudah meninggal tapi meninggalkan banyak kenangan buruk. Meninggalkan hutang-hutang, yang harus dilunasi ibu karena hobinya main judi. Bukan hanya hutang, tapi meninggalkan anak hasil selingkuhnya, adik laki-laki gue yang sekarang sudah SMA. Tapi gue sayang sama adik, dia tidak bersalah, yang salah adalah orang tuanya. Ibu juga sangat sayang pada Deon. Ibu gue itu penatua di gereja, jadi hidupnya selalu lurus, selalu beribadah dan berdoa sepanjang waktu, selalu berpuasa, rajin pelayanan. Bayangkan orang sebaik itu dapet orang seperti bapak gue. Gue rasa gue menuruni berengseknya bapak, tapi gak papa, gue b******k memang, tapi gue ga mau menyakiti dan disakiti. Cukup bersenang-senang dengan diri sendiri. Ibu tentu tidak tahu keinginan gue untuk punya anak tanpa suami. Kalau dia tahu gue akan dikotbahi mulai dari Kejadian sampai Wahyu, sampai otak ini tercuci sempurna dengan Firman Tuhan. Tapi maaf ibu, saya tidak percaya pernikahan, saya tidak ingin terjebak dalam dilema pernikahan. Lihat saja di grup literasi banyak yang curcol tentang kelakuan suaminya, ada yang minta poligami, ada yang kasih uang belanja cuman 20 ribu sehari, ada yang selingkuh sama adik iparnya, ada ada aja, b***t semua pokoknya. Belum lagi teman-teman di hotel dan teman sekolah yang sudah menikah, kebanyakan yang ga bahagianya, jadi buat apa nikah? Tapi gue pengen banget punya bayi, punya anak, ingin merasakan hamil, menjadi perempuan seutuhnya. Karena itu gue ke club orang-orang kaya. Orang kaya itu identik dengan gizi yang baik, pendidikan yang baik, pola pikir yang beyond. Beruntung ketemu Sofio, udah ganteng, kaya raya, berarti gizi, pendidikan, pola pikirnya bagus. Jadi anakku pasti akan luar biasa, kalau cowok ganteng banget, kalau cewek cantik banget... kalau kembar? Wuah... gue akan bertobat dan pergi beribadah. Ha ha ha... Waktu cuti sudah habis, gue harus kembali ke Bali dan bekerja. Meninggalkan ibu dan Deon. "Bu, Bening berangkat ya?" "Sebentar, ini bekalnya dibawa." Ibu membawakan bekal, gue memasukkannya ke dalam ransel. "Kamu sudah berdoa belum?" "Belum, ibu aja yang doain biar manjur." Ujarku asal. "Heis! ga ada itu manusia yang berdoa jadi manjur doanya, itu sama aja kamu percaya dukun klenik!" "Hehehe iya Bu iya." "Deon..." Ibuku berteriak memanggil Deon. "Ayo kita berdoa, setelah itu antar kakakmu sampai bandara ya." Kami berdoa, well, mereka yang berdoa, gue membuka mata dan melihat betapa seriusnya mereka berdoa. "Amin." Gue kembali ke Bali, bekerja. *** Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan penamaan tokoh, tempat dan atau lainnya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Palgiator dilarang nyolong! Terimakasih buat para pembaca, tolong kasih bintang 5, like dan komen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD