BAB 01 - Kelas Yang Ramai
Siang itu, suasana kelas sangat ramai - ada yang bermain handphone, mengobrol, bercerita, tidur bahkan memakan bekal mereka. Padahal di meja guru ada seorang wanita yang duduk disana menggunakan seragam khas seorang guru. Guru itu tidak marah, bahkan beliau sibuk menekan-nekan tombol tombol di keyboard laptopnya.
Saat itu jam kosong. Sudah tidak ada pelajaran karena mereka sudah menyelesaikan ujian kenaikan kelas, tinggal menunggu nilai yang keluar dan pengumuman naik kelas 3. Guru itu adalah wali kelas mereka, seorang wanita paruh baya, beliau dikenal sabae dan akrab dengan anak-anak didiknya.
la mendongak dari laptopnya dan pandangannya menyapu seluruh isi kelas dari ujung ke ujung, pojok ke pojok. Lalu tertuju pada salah satu rombongan anak laki-laki yang berkumpul di pojok kelas. Dan salah satu dari mereka tidur dengan lengan yang terlipat di atas meja dan wajah yang terbenam di antara lengannya.
Bu Erna berdiri dari tempat ia duduk dan berjalan ke kerumunan siswa laki-laki ang berada di pojok kelas itu.
ucap Bu Erna "Haris kenapa? keliatannya kek lemes banget kamu, nak...?" sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi terbuka Harris
"Siang Bu Ema, kayaknya memang sakit bu, dari berangkat juga sudah lemas dia" ucap Yoel yang saat itu tangannya mengelus-elus rambut halus Harris. Lengan Harris terlipat di atas meja, dan wajahnya terbenam diantara lengan-lengannya, nafasnya teratur.
"Harris, nak..." ucap Bu Erna dengan nada yang selembut sutra sambil mengelus-elus punggung anak yang terlelap itu.
"Semalem belajar sampai kapan ris?" tanya Jian, saat itu ia merasa nyaman duduk dipangkuan adiknya.
Tak ada jawaban. Harris masih nyaman di alam mimpinya. Donny yang duduk disampingnya hanya diam dan sesekali melirik Harris yang terlelap.
Saat itu posisi duduk mereka - Yoel dipinggir samping jendela, disebelahnya Harris dan disebelah Harris ada Donny. Di depan Yoel ada Kyan yang memangku Jian Padahal disamping Kyan terdapat satu kursi kosong namun kakaknya itu lebih suka duduk di paha adiknya, Kyan juga tidak mempermasalahkan hal itu. Disamping kursi kosong itu ada Sian.
"Harris" Bahu Harris disentuh oleh Yoel
Anak laki-laki yang terlelap tadi langsung bangun. Duduk tegak. Matanya kosong selama beberapa detik. "Hm?"
"Harris sakit ya? pulang aja ya... gapapa?" ucap Bu Erna lembut.
"Enggak bu, saya gapapa" ucap anak yang baru bangun tidur itu sambil jarinya menggosok matanya yang masih mengantuk
"Beneran gapapa? Ibu balik ke meja ibu ya? Nanti kalau mau pulang bilang aja ke ibu..."
"lya bu, terima kasih." ucap Harris kepada wanita itu. Ucapan Harris hanya dijawab anggukan. Lalu beliau kembali ke mejanya.
"Kenapa maksa? Pulang aja kalau gak kuat." Ucap Sian.
"Enggak, nanti kalo orang rumah tau gue pulang duluan sebelum jam pulang yang ada dimarahin."
"Tapi lo lagi sakit ris, bakal tetep dimarahin?" tanya Donny khawatir.
"Yaelah kayak lo gak tau aja orang tua gue kayak gimana." satu kalimat yang cukup membuat sekelompok itu hening. Harris hanya menggaruk belakang lehernya yang bahkan tidak gatal.
Waktu terus berjalan. Hingga bel istirahat berbunyi Segerombolan anak laki-laki tadi berjalan di lorong, hendak ke kantin.
Lalu tiba-tiba, tangan kecil yang ramping menyentuh lengan Donny dari belakang hingga membuatnya terkejut dan langsung refleks dengan kasar menyingkirkan tangan ramping itu dengan kasar dan berbalik.
"Eh maaf maaf" ucap Donny dan ada nada rasa bersalah di dalamnya kepada gadis di depannya itu.
"Eh, iya gapapa... maaf juga udah buat kamu kaget..." gadis itu tertunduk malu-malu. Pandangan nya menatap lantai yang kini ia pijak, tak berani mengangkat kepalanya.
Lalu, gadis itu mengeluarkan sebuah paper bag coklat dan memberikannya langsung ke tangan Donny "Ini buat kamu. Sama-sama!" ucap gadis itu yang langsung melarikan diri dari sana dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Donny hanya terdiam ketika gadis itu pergi begitu saja. Paper bag dari gadis itu masih di genggamnya, la menatap paper bag itu lalu melihat ke tempat gadis misterius tadi menghilang.
"Aduh ada yang lagi falling in love ini kayanya" ucap Jian sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Siapa?" tanya Donny dan talapannya melihat Jian.
"Si kocak, ya lo lah." ucap Sian sambil merogoh sakunya mencari uang untuk membeli makanan di kantin.
"Apasih? enggak!" ucap Donny dengan nada tinggi, walaupun tubuhnya bereaksi lain - wajahnya memerah seperti tomat, telinganya panas, dan tangannya menggaruk belakang leher yang tidak gatal.
"Haha, udah kayak tomat itu wajahmu, Don." tawa Yoel, awalnya membuat sekelompok itu hening, lalu yang lain ikut tertawa karena wajah Donny yang semakin memerah.
"Tadi itu Aisy namanya" ucap Harris. la tau Donny pasti akan bertanya-tanya siapa gadis misterius tadi.
"Kok lo tau ris? Jangan-jangan itu mantan lo ya?" tanya Jian penasaran dengan memiringkan kepalanya.
"Matamu, dulu satu SMP, anaknya juga famous dulu di SMP, aktif banget di organisasi." Ucap Harris yang juga membuat Donny merasa kagum.
Mereka lanjut melakukan perjalanan jalan ke kantin.
Di kantin mereka duduk di kursi di salah satu meja panjang yang terletak di pojok kantin. Mereka semua pesan makan, kecuali Donny.
Donny membuka paper bag tadi dan mengeluarkan isinya. Sebuah kotak bekal berisi makanan, Nescafe kalengan, dan coklat.
Donny membuka kotak bekal itu dan dibuat kagum dengan isinya - nasi goreng yang dicetak lucu dengan bentuk kelinci dan selada sebagai rambutnya, udang goreng krispi, potongan buah melon. Baunya harum, dan tampak menggugah selera. Di tutup kotak bekal tu tertempel sticky note "Semogaa suka yaaw" - pengagum.
Denny membalik sticky note itu beberapa kali.
"Pengagum?" ulangnya pelan. Entah kenapa sudut bibinya terangkat sedikit.
Donny terdiam dan teringat oleh perkataan Harris la bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang gadis itu kagumi darinya?
Donny buru-buru memasukkan sticky note itu ke sakunya saat Jian melirik
"Apaan sih?" gerutunya pelan. Padahal dalam hati ia membaca tulian itu berkali-kali
"Haha, lucu juga jir, when yeah gue dapet kayak gitu juga?" ucap Yoel dengan senyum tipisnya dan sedikit tertawa.
"When ya, when ya" ucap Jian sambil memakan mie ayam nya.
"Apasih "Ucap Donny sinis. Tapi lak bisa dipungkiri, jantungnya berdetak kencang hingga rasanya mau copot. la mengambil sendok dan mulai memakan isi dari kotak bekal itu.
"Haha" Kyan hanya tertawa.
"Enak juga..." ucap Donny lembut dan pelan dengan mulut yang masih penuh dengan nasi goreng.
"Apa Don? Enak Don?" ucap Jian sangat keras bahkan sampai beberapa anak yang ada di kantin dan penjaga kantin menoleh ke tempat mereka. Dan Harris, Yoel, Sian, serta Kyan hanya tertawa.
"Apasih Ji." ucap Donny, mulutnya masih penuh, wajahnya terasa panas.
Sementara itu. Kebetulan Aisy juga sedang berada di kantin bersama teman dekatnya dan mereka berdua mendengar semuanya. Wajahnya langsung memerah, hatinya berdebar kencang.
"Hahaha" gadis yang ada di samping Aisy, teman dekatnya - Liana yang juga mendengar ucapan Jian tadi serta melihat wajah merah Aisy hanya tertawa. Menganggapnua temannya ini lucu ketika salah tingkah.
"Diem ih Li." Aisy memalingkan muka karena malu mendengar temannya tu tertawa.
Aisy menoleh sekali lagi ke arah meja sekumpulan anak laki-laki itu. Melihat Donny memakan bekal yang ia buat sejak subuh membuat jantungnya kembali berdebar lebih kencang.
Setidaknya bekal itu tidak berakhir di tempat sampah. Itu sudah lebih dari cukup bagi Aisy.