bc

Frekuensi EROR

book_age16+
3
FOLLOW
1K
READ
family
second chance
friends to lovers
drama
bxg
campus
highschool
naive
like
intro-logo
Blurb

Novel ini adalah sebuah surat cinta terbuka setebal 150+ bab yang saya kirimkan ke semesta, berharap angin bakal meniup lembarannya sampai ke tangan Melly (Lulusan SDN Karang Tengah 2 Cileduk, Tahun 1991).

Saya hanya ingin dia tahu, bahwa cowok lempeng yang dulu dia samperin ke gang buntu—cowok yang kelihatan gak peduli dan milih diam karena minder belum paham kode wanita—sebenarnya menyimpan rasa yang sama besarnya sejak tahun 1987. Dan rasa itu, bersama seluruh penyesalannya, masih hidup dan bernyawa di dalam d**a saya sampai detik ini, di tahun 2026.

-----

Bagi Davin, memahami isi kepala cewek jauh lebih rumit daripada menggambar draf elevasi arsitektur. Sejak kecil, Davin punya satu masalah besar: frekuensi otaknya selalu error dalam membaca situasi. Dia bukan jelek, dia cuma buta kode.

Hidupnya dikelilingi oleh sinyal-sinyal misterius yang tak pernah berhasil ia pecahkan:

Melly: Cinta masa kecil yang kembali muncul di kampus yang sama. Hadir dengan senyum hangat, namun menyimpan sejuta misteri dan jarak yang tak kasatmata.

Dina: Si cewek aktif dan cerewet, yang setiap kalimatnya adalah teka-teki penuh maksud yang tak pernah Davin sadari.

Siti: Bentuk perhatian paling tulus yang tidak banyak menuntut, selalu hadir menenangkan dalam keheningan.

Arsy: Suster rumah sakit yang hadir di titik terendah hidup Davin, membawa rasa baru yang asing saat dunianya sedang tidak stabil.

Di antara riuh rendah dunia perkuliahan dan simulasi pikiran di kepalanya sendiri, Davin terus berjalan di tempat. Dia tidak tahu bahwa takdir tidak pernah berjalan melambat hanya demi menunggunya peka.

Ketika waktu menuntut sebuah pilihan dan satu per satu orang mulai melangkah pergi, ke mana hati Davin akan bermuara? Dan siapakah yang sebenarnya berhasil menyamakan frekuensi dengannya?

Sebab pada akhirnya, Davin harus berhadapan dengan satu kenyataan pahit yang datang terlalu terlambat:

“Ternyata tepat waktu pun, belum tentu tepat orangnya.”

chap-preview
Free preview
BAB 1 — Kursi Goyang Dekat Pilar
Ada tiga hal yang gak gue pahami siang ini: kenapa kursi kantin ini makin reyot, kenapa rasa roti cokelat di tangan gue manisnya fiktif, dan kenapa nama cewek yang gak gue kenal bisa bikin gue mendadak sesak. "Melly. Sastra Inggris," celetuk Farel di depan gue, masih sibuk ngunyah ayam geprek. Gue gak nengok. Gue pura-pura gak tertarik. Tapi demi Tuhan, nama itu langsung nempel di kepala gue. Kayak kepingan memori lama yang mendadak dipaksa masuk lagi ke otak gue. Aneh. Biasanya gue gak nyimpen nama orang asing. Bau kopi sachet yang dicampur terlalu banyak gula nyerempet hidung gue pas gue baru narik kursi. Manis, panas, sedikit gosong dari dispenser air yang entah kenapa selalu kepanasan. Tapi gue udah kebiasa. Setiap jam dua belas lewat dikit, kantin Universitas Nusantara bakal berubah jadi lautan manusia dan suara. Tapi fokus gue agak terganggu siang ini. Di pojok kanan meja tempat gue duduk, ada coretan spidol merah yang mulai pudar. RPL 4EVA. Harusnya tulisan itu gak nyambung sama lingkungan fakultas teknik. Tapi entah kenapa… gue ngerasa pernah liat tulisan itu berkali-kali. Atau mungkin cuma perasaan gue yang lagi kacau. "Lu dengerin gue gak sih, Vin?" Farel ngetuk layar HP-nya yang retak parah ke meja. Masih HP yang sama dari semester satu. "Gue bilang anak Ilmu Komunikasi itu nge-chat gue lima menit sekali. Gue cuma telat bales dua belas menit, dia udah nanya gue di mana." "Ya tolak aja," jawab gue pelan sambil buka bungkus roti. "Enak lu ngomong. Lu tuh aman banget jadi manusia. Gak pernah deketin siapa-siapa." Farel nyengir, nunjuk gue pake sendok. "Hidup lu flat banget, Davin." "Damai." "Tapi horor. Lu kayak manusia tanpa masa lalu," timpal Farel asal. Kalimat Farel barusan entah kenapa kerasa kayak jepretan karet di kuping gue. Tanpa masa lalu? Sialan. "Eh," Farel tiba-tiba nyolek kaki gue pake ujung sepatunya. Suaranya langsung berubah pelan. "Anak Sastra yang gue omongin tadi lewat." Gue nengok setengah malas. Dan saat itulah, jantung gue kayak kehilangan satu ketukan. Gue liat dia. Rambut panjang bergelombang, diikat setengah, dengan jepit rambut biru kecil di samping kiri—warna langit sore sebelum hujan. Dia jalan pelan sambil bawa nampan berisi makanan. Sebuah novel kecil nyelip di bawah notebook hitamnya. Orang-orang yang lagi ngantri otomatis geser sedikit, kasih jalan. Bukan karena dia minta, tapi karena kehadiran cewek itu somehow bikin orang sadar kalau dia ada di sana. "Melly," bisik Farel lagi, seolah takut suaranya kedengeran ke seberang kantin. "Anaknya pendiem banget. Tapi denger-denger, dia gak tersentuh." Melly. Gue gak bisa ngalihin mata gue. Rasa familier itu datang lagi, kali ini lebih hantam. Jauh di lubuk hati gue, ada suara yang teriak kalau gue kenal jepit rambut biru itu. Gue kenal cara dia jalan. Bahkan gue hafal robekan kecil di sudut cover notebook hitam yang dia bawa. Tapi di mana? Kapan? Mata gue masih ngikutin dia yang sekarang duduk di meja ujung dekat jendela, sendirian. Dia benerin jepit rambutnya sedikit sebelum mulai makan. Gerakan kecil itu—harusnya gak penting—malah terekam jelas di kepala gue. "Lu kenal dia?" tanya Farel curiga, merhatiin muka gue yang tegang. "Gak." Jawaban gue terlalu cepet. Farel langsung nyengir jahat. "Bahaya. Biasanya cowok yang jawab kecepetan itu justru lagi mikirin hal yang enggak-enggak." "Lu kebanyakan teori." Gue pura-pura fokus nyeruput kopi es gue yang mulai mencair. "Kalau lu gak tertarik, gue deketin ya? May lumayan, memperbaiki keturunan," kata Farel santai. Gelas kopi gue berhenti setengah jalan di udara. Cuma sebentar, tapi tangan gue sempat gemetar dikit. Sesuatu di d**a gue mendadak kerasa panas dan posesif. Ego yang aneh, padahal gue gak kenal cewek itu. "Terserah," kata gue, dingin. "Waduh. Langsung jutek." Farel ketawa puas. "Davin, Davin... biasanya cowok yang bilang 'terserah' itu justru yang paling kepikiran." Gue gak ngerespon. Gue milih matiin obrolan dan naruh gelas kopi. Gue gak mau Farel makin curiga. Drrt. HP gue di atas meja bergetar pendek. Notifikasi IG masuk. Ada satu akun baru yang baru aja nge-follow gue. Nama akunnya berupa nama samaran. Gue buka refleks, dan napas gue tertahan. Foto profil pertama yang muncul di layar: cewek dengan rambut panjang bergelombang. Nama akunnya: @sky_blue91. Gue langsung noleh ke arah meja di dekat jendela. Di sana, Melly masih duduk tenang. Dia gak megang HP. HP-nya tergeletak pasif di samping nampan. Kalau dia gak lagi main HP, terus siapa yang baru aja nge-follow gue pake akun itu? Dan yang lebih gila... dari mana dia tau nama akun i********: gue? Gue matiin layar, lalu naruh HP telungkup dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kenapa lu? Muka lu kayak abis liat setan," tanya Farel bingung. "Gak ada apa-apa," bisik gue. Mata gue balik lagi ke meja dekat jendela. Sekali lagi. Ketiga kalinya dalam sepuluh menit. Gue gak suka kebiasaan baru ini. Rasa ingin tahu itu tipe penyakit yang biasanya menjangkiti Farel, bukan gue. Tapi siang ini, ada yang salah dengan radar gue. Roti cokelat di tangan gue bahkan keburu hambar sebelum sempat gue habisin. Di seberang sana, Melly membuka novel kecilnya. Membalik halaman dengan gerakan konstan, lalu jemarinya mulai menggoreskan sesuatu di pinggir kertas. Dia nulis pake tangan kiri. Dan entah kenapa… detail sekecil itu langsung memicu denyut aneh di pelipis gue. Kayak sebuah memori lama yang terkunci mendadak dipukul dari dalam. "Gue balik studio dulu," kata gue sambil melempar bungkus roti ke nampan. Farel ngeliat jam di HP-nya yang retak. "Masih ada empat puluh menit, El Profesor. Buru-buru amat." "Ngantuk." "Bohong." "Dosen gue billing konsep maket gue kurang punya 'napas ruang'. Gue mau nyari napas itu dulu." Farel diem dua detik, melongo. "Gue gak ngerti satu kata pun dari kalimat itu." "Bagus." Gue bangkit, menarik tas ransel ke bahu. Sialnya, jalur keluar kantin mengharuskan gue lewat tepat di samping meja dekat jendela. Tempat Melly duduk. Gue udah masang mode lempeng. Pandangan lurus ke depan. Harusnya gue jalan terus. Tapi tepat saat jarak kami tinggal dua langkah, Melly mengangkat kepala. Mata dia cokelat redup. Kayak warna kopi hitam yang udah mendingin semalaman. Dia liat tepat ke arah mata gue. Dua detik. Mungkin tiga. Terus, sudut bibirnya terangkat. Dia senyum. Tipis banget, nyaris tak kentara. Itu bukan senyum ramah seorang asing, bukan juga basa-basi mahasiswi ber-IPK tinggi. Lebih kayak… dia tahu sesuatu tentang gue, sesuatu yang gue sendiri lupa. Kaki gue berhenti mendadak. Tanpa gue perintah. "Davin?" Sebuah suara cempreng dari arah belakang langsung memotong momen itu. Melly menunduk lagi, kembali fokus ke novelnya seolah interaksi singkat tadi gak pernah ada. Gue menoleh, mendapati seorang cewek berambut pendek dengan kemeja flanel kebesaran tengah berdiri memegang gulungan kertas kalkir. Dina. Anak Perencanaan Wilayah Kota yang entah kenapa hobi banget muncul di radar gue akhir-akhir ini. "Lu mau ke studio, kan? Titip ini dong ke lantai tiga, taro di meja Kak struktur. Gue mau ada kelas di gedung seberang, buru-buru!" Tanpa nunggu jawaban gue, Dina langsung menjejalkan gulungan kertas itu ke pelukan gue. "Makasih ya, Davin yang baik hati dan tidak sombong!" Dina langsung berbalik dan lari kecil, meninggalkan gue yang bahkan belum sempat bilang ya atau enggak. Gue mengembuskan napas panjang. Tipikal Dina. Cewek itu selalu datang seperti badai, melempar pertanyaan-pertanyaan atau permintaan random yang sebenarnya gak pernah gue tangkap maksud aslinya. Farel sering bilang Dina itu sengaja nyari alasan biar bisa interaksi sama gue. Tapi menurut gue? Dina cuma males naik tangga ke lantai tiga. Sederhana. Gue selalu malas memperumit pikiran untuk hal-hal gak penting. Gue melangkah keluar kantin, membiarkan riuh suara manusia tertinggal di belakang. Berganti bunyi langkah kaki gue sendiri di koridor luar yang panas menyengat. Gue lewat pilar samping tangga. Cat putihnya mulai kusam, menyisakan retakan tipis di bagian bawah yang memecah seperti akar pohon. Mata gue berhenti di situ. Di pilar ketiga dekat lorong fakultas… ada tulisan kecil warna merah yang digores asal menggunakan spidol. RPL 4EVA. Lagi. Jantung gue mencelos. Langkah gue otomatis terkunci. Sesuatu tentang tiga kata itu bikin d**a gue sesak—tipe rasa gak nyaman yang ganjal di hati. Kayak lirik lagu masa kecil yang hampir keinget tapi selalu gagal diucapkan. Kayak mimpi yang tinggal sisa suasananya aja waktu kita bangun. Seseorang menyenggol bahu gue dari belakang, membuyarkan lamunan. Gue mengerjap, lalu kembali berjalan menaiki tangga sempit menuju studio Arsitektur di lantai tiga. Cat dinding belokan tangga ini mulai mengelupas, dan entah kenapa, bau kopi sachet gosong dari kantin tadi masih samar menempel di hidung gue. Mengikuti senyum misterius Melly yang terus berputar di kepala. Pas gue sampai di depan pintu studio, langkah gue melambat lagi. Di samping pintu ada papan gabus penuh kertas revisi, poster lomba, dan jadwal asistensi yang semrawut. Di sudut paling bawah papan, nyaris tertutup pamflet seminar setahun lalu… ada coretan pulpen kecil. Warna merah. RPL 4EVA. Gue mematung beberapa detik. Ini gila. Tiga kali dalam sehari, di tempat terpisah. Refleks, gue merogoh saku, mengeluarkan HP dan memotret tulisan itu. Jari gue gemetar tipis di atas layar. Gue gak tahu kenapa gue harus mengambil foto ini. Gue cuma tahu, ada bagian dari hidup gue yang tertinggal di dalam tiga kata itu. Bagian penting yang dengan tololnya… udah berhasil gue lupakan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
753.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
986.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
363.6K
bc

Not just, the Beta

read
350.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook