Setelah tiga hari berlalu, rasa bosan memang menyapa Khumaira. Menduduki takhta tak sangat menyenangkan, tak seperti yang ia angankan. Khairan benar, tak menarik tinggal dalam ruangan besar itu tanpa banyak hal bebas dilakukan. “Ada apa, Saleha?” tanya Khalid lembut kepada wajah merengut Khumaira yang sedang merapikan penampilannya. “Aku malas bekerja.” Senyum simpul Khalid tercipta. “Kau tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Kita tak melakukan apa-apa selain datang dan duduk di ruangan itu sambil bicara.” “Itu yang membuatku malas,” sahut Khumaira masam. “Kau ingin sesuatu untuk dilakukan?” “Ya.” Khalid mengatur penampilannya sendiri sementara Khumaira juga bersiap-siap. “Kau tak ingat yang Windi katakan kemarin?” Khumaira ingat. Sekretaris mereka mengatakan kalau s

