Berbalik Arah

1459 Words
Khumaira tahu jiwa pemberani ada pada setiap garis pewaris Abinaya. Namun, Khairan baru sepuluh tahun untuk jadi perisai Khumaira. Ia lalu mengusap rambut hitam adiknya, gerakan lain yang Khairan paling benci selain diganggu saat membaca. “Kau tak perlu tahu.” “Rahman?” Satu nama itu membuat Khumaira membelalakkan matanya. “Bagaimana kau kenal nama itu?!” Khumaira menyembunyikan nama Rahman di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Latifa Bakrie dan Bintang Abimayu mungkin tahu kisahnya, tetapi Khairan belum hidup saat itu. Khairan tak seharusnya tahu siapa Rahman dan kisah tragis Khumaira bersama pria itu. Khumaira tak pernah menggunakan nama itu sebagai penolakannya akan lamaran yang datang. Biasanya Khumaira memakai nama Khalid, memaksudkan seorang mujahid yang dijuluki pedang Allah, Khalid Bin Walid. “Bagaimana kau kenal nama itu?!” Khairan tersenyum sedetik, mengejek Khumaira. “Ada yang senang sekali bersenandung dengan surah Ar-rahman di Kastil Abinaya. Aku juga menemukan surat yang ditulis saat usiamu sembilan tahun. Kau jatuh cinta padanya saat itu?” Manik penasaran adiknya membuat Khumaira berucap. “Ya Tuhan, Khairan! Kau baru sepuluh tahu. Bukan seratus!” Khumaira menggeletik adiknya sehingga Khairan kehilangan sikap sok dewasa itu. “Buku-buku sudah meracunimu. Kau bisa kerdil jika menekan pikiran sedini ini. Harus kuberitahu Ummi dan Abati agar mengosongkan perpustakaan segera.” Khairan menghindar, menepis tangan Khumaira dari ketiaknya. “Kau sembilan tahun saat itu.” Khumaira tak penting menyangkal. “Di mana surat itu?” “Kau akan menemukan semua rahasia Ummi, Abati, Nini, bahkan semua orang yang terlibat dengan Latifa Bakrie jika masuk halaman-halaman dalam perpustakaan,” beritahu Khairan yakin. Khumaira menekan telunjuk pada tengah-tengah kedua alisnya. “Lalu aku akan membeli kacamata minus seribu.” Khairan tertawa. Tawa yang terdengar renyah seperti milik Abati mereka. Khumaira bisa memastikan bahwa nanti Khairan akan digilai banyak sekali gadis-gadis. “Rahman. Perlu kunikahkan kalian?” tawar Khairan serius, meletakkan dua tangan di belakang punggungnya. “Abati masih hidup, Khairan,” sahut Bintang menyela kedua anaknya yang bercanda akrab, tanpa sadar telah jadi perhatian beberapa mata di pesta. “Kau juga belum baligh.” “Karena Abati menyinggungnya, kurasa aku akan menikah saat jatuh cinta,” balas Khairan yakin. Bintang menggeleng heran. Jiwa renta dalam tubuh mungil putranya kembali mencuat. Ia lebih suka melihat Khairan tertawa daripada berbicara dengan pemahaman dewasa. “Abati jatuh cinta saat usia ....” “Tujuh belas.” Bintang menatap putranya lagi. Sepertinya tekad kuat Latifa Bakrie tumbuh dalam diri Khairan Abinaya. “Topi dan kenangan. Layangan dan pantai,” jelas Khairan, wajahnya menampilkan kemenangan mutlak tak terbantahkan. “Bintang dan bintang-bintang.” Bintang yakin putranya memang pantas sebagai pewaris Abinaya, bahkan dia sudah cemerlang di usia muda sepuluh tahunnya. “Aku tidak tahu yang mana, tapi kurasa cinta pertamaku itu Hanifa.” “Latifa. Kau tahu, saat seorang pria tertarik pada lawan jenisnya, bayangan mereka sering datang. Ummi tak bisa ditemukan, jadi Abati hanya melupakan cinta itu bukan tidak memilikinya.” Khumaira tahu sedikit saja tentang nama itu dari Ustazah Zahra, adiknya Hanifa Haris. Namun, Khumaira tak tahu banyak tentang kisah Ummi dan Abatinya selain romansa mereka yang membuat iri Khumaira. “Cerita itu akan luput jika Wandawarma tak mengingatnya,” kenang Bintang. “Kita bicara apa?” tanya Khumaira karena muncul nama tak terduga dalam percakapan mereka. Bintang dan Khairan saling bertatapan. Kemudian Khairan memunculkan suaranya, “Abati perlu menikahkan dia. Kalau dia menikah dengan orang yang tepat, beri untuknya takhta Abinaya.” Khumaira bereuforia memegang bahu Khairan, “Kau serius?!” “Kau ingin penyakitmu diendus orang-orang sekitar?” balas Khairan siaga pada matanya. Khumaira punya perasaan melambung yang sulit diredamnya. Ia ingin berlari dan memeluk Khairan, juga menciuminya sepenuh hati. Namun, kalimat adiknya benar sekali untuk dituruti. Penyakitnya tak boleh jadi alasan lain selain jenis kelamin yang akan menghalanginya menduduki takhta Abinaya. *** Dua hari kemudian. Khalid diberitahu untuk menemui ayahnya oleh salah seorang pelayan rumah mereka. Meski biasanya mereka akan sarapan bersama, tetapi secara khusus pagi ini berbeda. Khalid mengetuk pintu sambil menerka apa gerangan hal mendesak yang ingin ayah sambungnya sampaikan. “Kalau Khalid, masuklah.” Khalid mengayunkan pintu perlahan. “Abi memanggilku?” Bagas mengenakan kemeja putih dengan celana hitam polos, menduduki kursi kerjanya. “Katakan padaku apa masalah yang terjadi antara kau dengan Rizal Seroseja di pesta pernikahan malam kemarin.” Khalid menggulung bibir sesaat. “Abi ---“ “Ada hubungannya dengan gadis itu,” tebak Bagas langsung. Rizal Seroseja memang dikenal pembuat onar, tetapi biasanya Khalid bukan orang yang senang meladeni hal-hal remeh begitu. Khalid menghela napas. Bukan sedarah, tapi mereka punya ikatan beberapa belas tahun lamanya, dan naluri sesama pria dewasa. “Rizal ingin mencemari Khumaira.” “Pria itu menghubungimu?” Khalid mengedikkan bahu. “Kurasa dia tidak tahu apa-apa tentang aku.” “Dia melupakan orang yang memukulnya, maksudmu begitu?” tanya Bagas remeh. Khalid mengalihkan mata ke jendela terbuka kamar ayahnya. Saat Khalid menyentuh Rizal, pria malang itu sudah tak sadarkan diri. Mungkin itu alasan Rizal tak mau mengusut permasalahan ini, harga dirinya lebih baik diselamatkan oleh pukulan Khalid daripada hantaman Khumaira. Lebih baik begitu daripada diketahui khalayak bahwa dia berniat jahat terhadap pewaris istimewa darah Abinaya. “Abi, Khumaira yang memukul Rizal.” Bagas Wandawarma terdiam. Sesaat kemudian dia mengeluarkan sebuah sapu tangan putih. Khalid lupa dengan keberadaan benda itu di saku jasnya malam kemarin. Ia benar-benar tak ingat untuk menyimpan atau membuangnya sekalian. Pastinya ditemukan pelayan rumah dan beginilah pagi yang harus ia lalui. “Kudengar Khumaira memang banyak bisanya,” ujar Bagas pelan. “Benar-benar pewaris seperti Bintang.” Terdengar seperti gadis itu binatang melata saja, yang beracun dan berbisa. Namun, hal valid itu sudah dipersaksikan oleh Arthur, bahwa Khumaira melebihi sebagian pria. “Bagaimana kau bisa terlibat?” “Aku tak sengaja melihat mereka, berniat membantu tapi Khumaira bisa menyelamatkan dirinya sendiri.” “Jadi, kau membantu, menggantikan sebagai pelaku?” “Harga diri pria berbeda dengan wanita. Rizal mungkin lebih suka aku yang memukulnya. Siapa pula yang percaya kalau Khumaira mampu menumbangkan pria berlemak dengan satu pukulan telak?” Bagas mengangguk setuju. Masuk akal alasan yang Khalid kemukakan. Sapu tangan itu terayun di atas meja kerjanya, “Kembalikan padanya. Aku tidak ingin Bintang tahu. Aku benar-benar menghargai wasiat ibumu, Khalid. Dan, aku tidak ingin persahabatanku dengan Bintang berubah canggung karena kalian.” Bagi Khalid, Bagas Wandawarma adalah pria baik yang menggantikan peran ayahnya. Dia mencintai ibu Khalid sepenuh hati. Benar-benar pria sejati yang menganggungkan cinta. Khalid jadi terkenang Khairan Abinaya. Kalimatnya malam itu tentang kekuatan cinta. “Kau bisa mengembalikan ini padanya tanpa diketahui siapa-siapa.” Khalid akhirnya mengambil benda peninggalan Khumaira tersebut, langsung memasukkan dalam saku celananya. Ia tak punya nomor kontak Khumaira, tak tahu bagaimana cara menemukannya tanpa bertanya kepada siapa-siapa. “Paling tidak aku harus mengunjungi Arthur Bakrie di perusahaan Abinaya.” “Kau masuk sarangnya?” tanya Bagas heran. “Lalu Abi punya solusi?” Bagas mengedikkan bahu. “Aku tidak bisa membantumu.” Selesai sarapan Khalid memang mengunjungi perusahaan permata itu lagi. Ia melimpir ke meja petugas penerima tamu dengan beberapa percakapan singkat sampai akhirnya bisa mengorek informasi keberadaan Khumaira. Khalid langsung saja melesat pergi setelah mendapatkan nama sebuah masjid yang katanya butuh waktu setengah jam untuk dijangkau. Khalid memasang tanda pada aplikasi peta ponselnya. Kemudian tak lama ia sampai di sana, sebuah bangunan putih pualam yang cukup megah dan lenggang. Banyak sandal sepatu wanita di pelataran tangga, lalu gemuruh suara membaca ayat Al-Qur’an terdengar serempak. Berhenti, lanjut lagi. Khalid tak asing dengan surah yang para wanita bacakan itu, dan karena rasanya masih harus lama ia menunggu selesainya kegiatan Khumaira, Khalid beranjak masuk masjid untuk mengerjakan salat Duha. Semata-mata mengisi kekosongan waktu, bukan terbiasa rutin mengerjakannya. Ia berwudu lalu masuk. Di pertengahan bangunan ada tirai hijau yang menjulang membatasi shaf para wanita dan pria. Wajahnya yang basah bekas wudu refleks membuat Khalid merogoh saku. Hampir saja ia mengusap wajah dengan sapu tangan Khumaira, Khalid lalu mendengar suara wanita yang begitu saja membuat jantungnya berdebar. Lembut, merdu, fasih, tenang dan nyaman sekali di pendengaran. Setelah suara satu itu tenggelam, suara serempak mengikuti bacaannya. Khalid salat, ketenangan menyusup di kepalanya. Saat sujud, Khalid merasa semua beban sirna. Setelah selesai salat itu Khalid menyimak saja bacaan mereka dengan perasaan damai yang sulit ia temukan sejak ibunya meninggal. “Ustazah, pekan depan libur?” “Ukhty,” ralatnya sebentar. “Mohon maaf, saya punya kegiatan, untuk pekan depan kita libur dulu. Kalian bisa mengulang hafalan lama sementara.” Suara Khumaira, Khalid yakin itu miliknya. Khalid mengeluarkan sapu tangan Khumaira dari sakunya. Ia mengusap kain lembut itu dengan perasaan nyaman yang sulit dijelaskan. Bersih pikirannya. Khalid membuka lipatannya dan menemukan pada salah satu sudut perseginya sulaman : Khu. Abinaya dan sebuah lambang lumba-lumba berbenang biru. Khalid meraba sulaman itu dengan jemarinya. Hasil yang rapi, pikirnya sendu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD