Banyak alasan yang Khumaira miliki untuk memikirkan Khalid Wandawarma lagi. Pria itu memang memesona, aura karismatiknya berbeda dengan Bintang Abimayu. Dia bukan pria hangat seperti Rahman, tetapi Khumaira yakin pria itu sosok yang baik dan peduli. Khumaira membawa langkah kembali ke pesta. Jantungnya masih berdebar, masih tentang pria yang ia tinggal di taman Nenek Naraya. Khalid terjun dari balkon untuk menolongnya, jelas pria itu sudah di sana sejak awal, mungkin juga mendengar percakapannya dengan Rizal. Mungkin juga melihat Arthur dan pasangan abmoralnya. Namun, satu hal terakhir yang Khalid katakan membuatnya kehilangan kesan baik atas pria itu. Kalimat lamaran yang bernada canda begitu jelas bukan keseriusan melainkan ejekan, seolah pria itu tahu bagaimana Rahman sudah merendahkan Khumaira. Entahlah, Khumaira tak mau ambil pusing tentang niatnya. Ia lebih suka memikirkan seperti apa solusi yang dimiliki Khalid atas cuci tangan Khumaira terhadap Rizal Seroseja.
Langkah Khumaira terpaku saat semua orang tiba-tiba menatap ke arahnya. Pandangan penuh tanya mereka membuatnya risi, syukurnya Bintang Abimayu mendekati Khumaira dan membawanya menyingkir. Kemudian di belakang Khumaira muncul Khalid menggendong Rizal di punggungnya. Bekas tanah tersisa di jas Rizal, lebam biru di ujung rahangnya, dan kelopak mata tertutup. Merekalah yang orang-orang perhatikan bukan Khumaira.
“Aku menemukannya.” Khalid menjawab tanya tak terucap mereka.
“Kau pasti memukulnya,” keluh seorang wanita meringis.
Khalid rasa ia memang lebih baik meng-kambing hitam-kan dirinya, dengan begitu lebih mudah untuk ditangani hal sepele ini tanpa merusak reputasi Khumaira. “Baiklah. Itu yang kami lakukan, tadinya. Pukulannya meleset. Pukulanku ... ada hasilnya. Di mana harus kuletakkan dia sebelum bangun lagi?”
Khumaira tersenyum tanpa sadar. Pikirannya terlalu jauh jika menganggap pria itu berpikir lamban. Pastinya dia cerdas dan terkendali.
Bintang mengekori Khalid yang diberi jalan menuju sofa. “Baru beberapa hari dia kembali, sudah ada korbannya.”
“Abati pernah membuat onar begitu? Memperebutkan Ummi, misalnya?” tanya Khumaira, tak sadar akan nada geli dalam suaranya sendiri.
Bintang seketika melihat kepada putrinya, “Kau yang mereka rebutkan?!”
Khumaira melotot sambil bertekan tangan di pinggang, “Abati, Khumaira bertanya.”
“Tidak pernah. Tidak separah itu. Kau yang mereka perebutkan, Saleha?” Ulang Bintang tak melepaskan putrinya dari genggaman.
Bukan diperebutkan. Lebih tepatnya Khalid menyelamatkan Khumaira dari niat busuk Rizal. Ia tetap diam mengalihkan mata pada ibunya di kejauhan. Sosok Latifa Bakrie di sisi Bibi Aya. Demi Tuhan, mereka tak tahu apa yang tengah dilakukan Arthur di luar sana. Mereka tak akan menduga apa yang diperbuat cucu kebanggaan Nyonya Naraya itu.
Bintang menutup pandangan putrinya dengan berdiri di depan Khumaira. “Kau dari pintu itu juga. Rizal berbuat yang bukan-bukan kepadamu?!”
Sekilas kekhawatiran sang ayah mengingatkan Khumaira akan betapa berharga dirinya. Ada pria baik yang selalu mencintainya, siap melindungi dan menerima apa adanya Khumaira. Tak ada cinta setulus yang ayahnya persembahkan. Khumaira beralih mata pada Khalid yang masih diberi jalan oleh peserta pesta menuju sofa di pojok ruangan dansa. “Abati asal menyimpulkan.”
“Benar, kau yang diperebutkan mereka.” Bintang kukuh dengan pendapatnya. “Abati kenal kedua pemuda itu. Khalid, putra sahabat Abati. Dia jelas bukan pria yang suka ikut campur, tetapi Rizal pernah kau tolak lamarannya. Dia menjelekkanmu di belakang setelah kejadian itu.” Bintang lalu bersedekap tangan di d**a, “Jadi, kau sudah menemukan pahlawan selain aku?”
Kesimpulan akhir yang melenceng dari dugaan Khumaira. Ia jadi tergelak lalu memukul lengan ayahnya pelan. Perlindungan yang Bintang berikan sepanjang usianya membuat Khumaira aman sejahtera. Pernah terpikirkan olehnya akan menikahi Bintang Abimayu, sebelum Khumaira tahu kalau pernikahan itu tidak bisa dengan ayah sendiri dan sebelum paham kalau harus ada hubungan biologis di antara suami istri. Pria ternyaman di dunia, begitu Latifa Bakrie katakan tentang Bintang Abimayu. Khumaira setuju. Tak pernah ada rasa takut untuk mengatakan apa saja kepada ayahnya. Dia selalu membuat suasana apa pun itu berubah nyaman. Model pria baik itu ada di depan mata Khumaira, hanya saja ... Khumaira takut ia tersihir ilusi seperti penilaiannya terhadap Rahman sampai siang tadi.
***
Khalid baru saja melepaskan pria pengganggu Khumaira di sofa. Punggungnya terasa pegal juga oleh pria berlemak korban wanita bercadar di sana. Khalid duduk di sisi pria tak sadarkan diri bernama Rizal Seroseja. Niat membantunya benar-benar berguna. Khumaira tampak senang, baik-baik saja bersenda gurau dengan ayahnya dari kejauhan. Hubungan mereka tampak akrab, seperti saat siang tadi di perusahaan. Dari ayah Khalid, ia mendengar kalau Bintang Abimayu itu pria yang sangat sempurna sejak lahir. Keturunan baik-baik dan pria terhormat. Bukan saja fisik dan materi, beliau dipastikan berakhlak baik. Putrinya juga menakjubkan. Putranya sama saja, menakjubkan juga. Rasanya mereka semua cocok sebagai pewaris Abinaya. Khumaira juga, jika saja orang-orang mau memberinya kesempatan untuk membuktikan diri.
“Dan kau melamun setelah membuat kekacauan ini.”
Khalid menoleh kepada pria lain di sisinya. Bagas Wandawarma, ayah Khalid. Wajah mereka tak mirip, karena tak sedarah. Khalid hanya putra tiri dari pernikahan ibunya sebelum menikahi duta negara tersebut.
“Oh, pemilik hatiku. Cahaya indahmu menembus batin,” syairnya terdengar dalam bahasa arab.
Khalid fasih tiga bahasa. Inggris, Indonesia dan Arab. Bagas dulu bekerja di salah satu negara timur tengah sebagai perwakilan negara. Bisa dikatakan lingkaran sosial Bintang Abimayu itu menakjubkan. Mereka orang-orang hebat, tapi tak pernah berlagak sombong dan angkuh dengan kelebihan yang mereka miliki.
“Dari tadi kau memperhatikan putri Bintang,” komentar Bagas lagi.
“Mengapa aku tidak boleh tertarik kepadanya, Abi?”
“Khumaira?”
“Ya.”
Bagas memajukan bibirnya sebentar. “Itu pesan terakhir ibumu. Kita tidak bisa lagi bertanya padanya, aku juga tak tahu alasan sebenarnya.”
“Harus kuturuti?”
“Percayalah, aku akan ikut mendukungmu menikahi putri Bintang. Namun, aku tak mau kau melakukan hal yang akan kau sesali nanti. Tentu ada alasan yang kuat mengapa ibumu melarang, dan anggap saja itu yang terbaik untuk dilakukan. Kau tak perlu tahu alasannya, patuh saja. Bisa jadi itu akan melindungimu dari terluka.”
Khalid dengar nasehat ayahnya, tetapi ia tak puas begitu saja. “Mengapa gadis itu yang tak boleh Khalid nikahi?”
Bagas Wandawarma menatap keakraban Bintang dan putrinya. “Ibumu melarang kau menikah dengan keturunan Abinaya. Satu-satunya putri Bintang ... Khumaira. Bukan kau saja yang tertarik padanya. Khumaira itu cantik. Dia mirip ibunya secara wajah. Sifatnya, lebih mirip Bintang. “
Khalid ikut arah dagu ayahnya kepada sosok anggun yang gerakannya seolah tak disadari sekeliling mereka. Namun, Khalid tak bisa seratus persen memperhatikan Latifa Bakrie karena dia menutup sebagian wajahnya dengan masker. Cukup mengingat Khairan Abinaya, bisa disandingkan betapa cantiknya Khumaira.
“Kau sudah dewasa, Khalid. Manusia merdeka memilih sendiri jalan hidupnya,” ucap Bagas menepuk pundak putranya.
***
Khumaira ditinggal sendirian setelah Bintang Abimayu menyapa Latifa Bakrie. Keduanya tampak menjauh dari aula pesta. Mungkin saja mereka punya urusan pribadi. Tak perlu kecerdasan tinggi untuk melihat tatapan cinta di antara keduanya. Kadang Khumaira iri sekali pada Latifa Bakrie karena punya suami sesempurna Abatinya.
Khumaira mendapati Arthur muncul di pintu utama. Dengan gerakan percaya diri seolah tak ada saksi perbuatan tak bermoralnya tadi, dia mendekati Khumaira.
Arthur menyuguhkan segelas minuman kepada Khumaira, “Kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang tadi?”
“Aku bukan Arthur Bakrie,” jawab Khumaira menyimpan kedua tangannya di dalam uluran jilbab.
Arthur minum perlahan, tampak melirik sekeliling mereka, “Kau tahu siapa teman kencanku?”
“Aku tak peduli.”
“Baguslah. Terima kasih,” balasnya menampilkan seringai bahagia.
“Kalau kau akan tetap di sini, aku bisa memberimu ceramah tentang moral. Berminat?”
Arthur tersenyum menyingkir, “Aku suka kau sesekali.”
Khumaira tak pernah sekali pun menyukai Arthur Bakrie. Usianya sama dengan Sofie, tetapi dia sampah masyarakat, benalu keluarga. Cucu kesayangan Nyonya Naraya yang tingkahnya lebih kekanakan daripada Khairan.
“Khumaira!”
Khumaira terperanjat. Ia menoleh pada sosok adiknya, yang entah sejak kapan tiba di sisinya. “Kau benar-benar bisa membuatku mati muda, Khairan!”
Senyum singkat terbit di bibir tipis adiknya. “Kurasa kau mengenal satu Khalid yang menarik.”
“Maksudmu?”
“Wandawarma.”
Khumaira terbatuk-batuk, tetapi tak bisa pura-pura menghindar. Kadang beda usia empat belas tahun dirinya dengan Khairan tak membuat kesan Khumaira lebih tua. Malah, ada kalanya Khairan lebih menakutkan daripada siapa pun yang ia kenal dari keluarga Abinaya maupun keluarga Bakrie. “Buku apa yang kau baca tadi?”
“Aku paling benci diganggu, sikapku padanya tadi kasar sekali.”
Percuma berkilah, Khairan benar-benar mewarisi kegigihan Nini mereka, Nyonya Rani Abimayu. Khumaira tak bisa menyebutkan ia berlemah lembut pada Khalid. Pertemuan pertamanya siang tadi, ia menampar pria itu, dan malam ini Khumaira membuat Khalid menyelesaikan kasusnya. Dia terlalu tampan untuk disamakan dengan kambing sebenarnya.
Khairan menghujam tatapan pada kakaknya, “Kau akan berlagak seperti Latifa Bakrie?”
Khumaira tersenyum, “Aku diam karena tak berminat dengan kisahmu. Beda dengan Ummi yang biasanya tak tahu harus menanggapi bagaimana.”
“Kau tertarik padanya, bukan?”
Khumaira tidak tertarik pada Khalid. “Aku tertarik membenahi hatiku. Jangan membaca tentang cinta sejati terlalu banyak, harapanmu yang tinggi akan makin menyakitkan saat terhempas nanti.”
Khairan menelengkan kepalanya, “Siapa yang membuatmu patah hati?”