Kekhawatiran Seorang Ibu

1236 Words
Khumaira menunggu sore, jam pulang kerja ayahnya. Ia mengenakan gaun lengan pendek, mirip dengan yang biasanya dipakai Latifa Bakrie saat di rumah. Khumaira melantunkan zikir petang di lorong Kastil Abinaya. Bintang kemudian muncul di pintu dengan sebuket bunga di tangan lainnya yang tak membawa tas kerja. Ucapan salam dan senyum mengawali pertemuan mereka. Seperti biasa, seringnya bunga yang dibawakan Bintang adalah untuk Khumaira bukan Latifa. Namun, selalu Khumaira bagikan beberapa tangkai dari miliknya untuk sang ibunda. Latifa Bakrie itu tak suka hal-hal berlebihan dan mencolok. Ibunya tipe manusia yang ... mengalir, terima takdir begitu saja. Istilahnya sederhana, yang sama sekali bertentangan dengan Khumaira. “Abati, kalau Khumaira bicarakan sesaat yang penting sekarang, kau tidak keberatan?” “Silakan. Kau punya kesempatan sampai kita bertemu Ummi.” Khumaira ingin menikah. Ia ingin seorang pria yang jadi suaminya mencintai Khumaira seperti Bintang Abimayu mencintai Latifa Bakrie. Saat pulang ke rumah, orang pertama yang ingin ditemuinya selalu Ifa, dan sepanjang pintu depan hingga kamar, langkah Bintang selalu tergesa, seolah tak sabar berjumpa istrinya. “Abati mengumumkan tentang keterkaitan pernikahan Khumaira dengan takhta, apa alasannya?” “Khalid akan melamarmu? Kapan kalian bertemu hari ini?” “Abati...!” Awalnya Bintang heran, tapi rasanya sudah jelas sekali apa yang dimaksudkan sahabatnya. “Bagas menghubungiku. Siang tadi, setelah rapat anggota Abinaya. Dia dengan putranya akan ikut makan malam bersama kita.” Khumaira menyimpulkan jika faktor pertama yang menyebabkan keputusan ayahnya adalah malam itu. “Jadi, karena yang Khairan katakan saat di pernikahan Sofie?” “Ya.” Khumaira sebal, kecewa dan iri. Ayahnya bahkan memperhitungkan canda adiknya sebagai keseriusan. “Abati, Khairan itu sepuluh tahun.” “Kau yakin dia sepuluh tahun seperti anak normal lainnya?” “Dia memang jenius. Tetapi bukan untuk memukau semua orang!” keluh Khumaira benar-benar tak menyembunyikan rasa iri yang ada. Bintang tersenyum lelah. “Khaira tidak tertarik dengan takhta, Khumaira. Satu-satunya alasan Khaira mengatakan itu agar kau mau menerima pria lain dan mengikhlaskan Rahman.” Kini Khumaira rasa Bintang juga memihak cinta. Memang tak terpisahkan hal itu dari keluarga Abinaya. Namun, Khumaira selalu punya bagian berbeda dari garis keturunan Abinaya. Ia pewaris berkelamin perempuan, satu-satunya. Cinta sejatinya yang Khumaira jaga belasan tahun tak berujung pelaminan juga. Jelas takdir tak berpihak baik padanya. “Apa pendapat Ummi?” Mereka menaiki tangga menuju kamar tempat Latifa Bakrie berada. “Beliau rasa Khalid tidak tepat untuk Khumaira.” Bintang menghentikan langkah. Ekspresi terkejutnya tak bisa disangkal. “Begitu? Mengapa?” Khumaira pun tak sangat yakin pendapat ibunya. “Khalid terlalu keras.” “Mungkin menurutnya tak cocok untuk Latifa Bakrie?” Bintang tersenyum penuh bangga melanjutkan langkah. “Tentu saja, yang cocok dengan Ifa hanya aku seorang.” “Bukan, Abati. Ummi berpendapat Khalid benar-benar terlalu keras untuk Khumaira,” sanggahnya yakin. Bintang menelaah ekspresi jujur sekaligus bingung putrinya. Beberapa saat terdiam, ia lalu memutuskan pembicaraan. “Abati perlu istirahat, Saleha.” Khumaira terpaksa memundurkan langkahnya. Meskipun pembicaraan mereka belum selesai, tetapi sudah di depan pintu kamar ayah ibunya. “Khumaira butuh keyakinan, Abati.” Khumaira menyerahkan beberapa bunga kepada ayahnya, untuk disampaikan kepada ibunya. “Kau tidak perlu buru-buru memutuskan, Saleha. Malam ini dan kapan waktu kita bisa menemukan hal-hal tentang Khalid yang kau butuhkan.” “Baik, Abati.” Khumaira lalu berbalik badan saat ayahnya membuka pintu kamar dan menghilang. Bintang menemukan Latifa Bakrie sedang menulis. Jika bisanya wanita itu akan melirik dari cermin, atau berbalik badan menyambutnya, saat ini fokusnya menulis saja. Tak tahan dengan rasa penasarannya Bintang begitu saja memeluk punggung Ifa. Aroma dari rambut pucat kekuningan itu menguar menenangkan sarafnya. “Kau baru saja sampai.” Bintang melepaskan beberapa tangkai bunga dan tas kerjanya di atas meja. Sejurus kemudian ia menarik buku yang ditulis Ifa. Setengah halaman itu intinya perasaan Latifa Bakrie tak nyaman dengan pembicaraan putri mereka tentang Khalid Wandawarma. Ifa punya ketakutan tak beralasan jika hubungan Khumaira dan Khalid diteruskan. Bintang melepas buku, menarik pelan istrinya agar bangkit dari kursi itu. Banyak hal bercampur yang ingin Bintang lakukan. Ia ingin mencumbui istrinya detik ini juga, tapi ia juga ingin sekali mendengar serta mengusir ketakutan Ifa akan isi tulisannya. “Kau akan memilih yang mana dulu? Mendesah atau berbicara?” Ifa mengerjap polos, yang makin membuat keinginan hasrat Bintang mendahului akal sehatnya. Bintang mengecup bibir istrinya, dan karena tak cukup sekali ia pilih melumatnya sekali lagi, lebih lama dan menikmatinya. Tangan Ifa menahan dadanya. “Sebentar, Bintang.” Mengambil tangan Ifa, Bintang letakkan tapak tangan itu ke pipinya. Hangat, yang menenangkan sekaligus membangkitkan gairah. Bukan hanya keinginan penyatuan tubuh mereka, Bintang ingin Latifa Bakrie satu perasaan dengannya. Inginnya wanita itu membagi semua kegundahan yang ada. “Sayang,” panggilnya merdu. “Oh! Ya Tuhan!” Bintang tersenyum atas reaksi terkejut Ifa yang selalu membuat hatinya bersemangat. Suka sekali ia akan percikan gairah Ifa yang menggemaskan. “Aku perlu mengatakan sesuatu!” Ifa gugup mengangkat satu tangannya di antara tubuh mereka. “Ki---kita bicara dulu.” Bintang menelengkan kepala, memperhatikan mata indah istrinya yang gelisah. “Aku mencintaimu, Latifa Bakrie.” Ifa mengusap wajah Bintang, “Ya Tuhan, kau membuatku tak nyaman.” “Karena menginginkanku detik ini juga?” goda suaminya usil. Ifa tersenyum. Tangannya beralih ke jas Bintang dan melepasnya, juga membuka kancing kemeja suaminya beberapa butir teratas. “Kau lelah?” “Hampir lelah, sebelum bertemu denganmu.” “Anda memang pandai sekali merayu, Tuan,” komentar Ifa menarik tangan suaminya menuju tempat tidur. Ifa duduk dan seperti biasanya, Bintang akan meletakkan kepalanya pada pangkuan istrinya sambil damai mendengarkan suara lembutnya, serta belaian mesra Ifa pada rambutnya. Alangkah baiknya jika Khumaira juga memiliki cinta sejati yang akan menemani hidupnya berbahagia sepanjang masa. “Bisakah Khumaira memilih pria lain?” “Karena?” “Khumaira tertarik pada pria itu.” Ifa yakin, tak ada habisnya Khumaira akan tertarik pada pria bernama Khalid itu. Ifa suka putrinya, tetapi Ifa takut dia akan terluka dan jadi berbeda setelah menikah. Bintang menangkap kekhawatiran istrinya. “Apa yang kau takutkan?” “Segalanya.” “Itu banyak sekali, Ifa.” “Memang.” Ifa coba merinci hal-hal yang membuatnya ragu, “Pertama kali melihat Khalid itu, aku tidak nyaman.” Sebenarnya Ifa selalu bereaksi begitu terhadap pria, sampai dia terbiasa dan lebih banyak bicara dengan pria tersebut. “Kukira Khalid termasuk pria yang baik, dan sempurna sekali untuk menjadi pendamping Khumaira.” Ifa diam. Tanda tak setuju Ifa akan pendapat Bintang tak dijelaskan lebih lanjut. Bintang bangkit, sesuatu benar-benar mengganggu istrinya. “Sayang, mari kita putuskan nanti. Khalid akan ikut makan malam bersama kita.” “Boleh aku tidak ikut?” Netra Bintang siaga. Latifa Bakrie yang ia kenal tak pernah begitu menghindar. Bahkan, pesta meriah Abinaya berusaha dihadiri, tetapi tak pernah sampai mengurungkan niat untuk hadir. “Kau kenal Khalid?” Ifa menggeleng. Kemudian secara refleks ia mengangkat tangan ke dadanya yang serasa sesak, dan air mata turun ke pipinya. “Aku tak tahu, Bintang. Aku hanya tidak ingin Khumaira hidup bersama dengannya.” Ada kekhawatiran lain yang Ifa takutkan. Ingat kisahnya dengan Tuan Abimayu dulu, bagaimana kalau perasaan tak nyaman seperti itu yang menghalanginya merestui Khumaira?! Ifa punya debaran berbeda dengan pria muda bernama Khalid itu. Kesan dengannya bukan menakutkan, nyamannya seperti Bintang tetapi Ifa tahu, ia tak berhak punya perasaan terhadap pria lain selain suaminya. Mana bisa Ifa ungkapkan pada Bintang kenyataan ini, menuliskannya juga Ifa takut. Tangis saja yang bisa melegakan perasaannya. Bintang memeluk, menenangkan istrinya. "Cantik sekali dirimu, Ifa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD