Sebagai Ayah

1234 Words
Menikah tanpa melihat mempelainya? Bintang Abimayu menikahi Latifa Bakrie tanpa bertemu satu kali pun sebelum ijab qabul?! Khumaira jelas tercengang mendengar penuturan sang ayah. Ada yang lebih serampangan daripada Khumaira dalam memilih pasangan hidup. Khumaira hanya memperjuangkan cinta sampai hampir jadi istri kedua. “Nini bilang Abati dan Ummi pasangan paling harmonis sepanjang keturunan Abinaya.” “Harmonis bukan berarti kami saling mencintai, Saleha. Abati menikahi Latifa Bakrie untuk Nini, hanya untuk ... Nini, awalnya.” Khumaira tak tahu apa yang disesali ayahnya atas pernikahan mereka. Intinya, saat ini sang ayah terkesan punya penyesalan, padahal mereka pasangan yang amat sangat berbahagia. Khumaira tak sekalipun mendengar cekcok ayah ibunya. Mereka saling terikat hati dan mesra, tepat seperti yang dikabarkan Nyonya Rani dan selalu ditampilkan di depan mata Khumaira. “Mungkin Abati lebih tepat disebut pria buta arah itu,” renungnya lagi. Khumaira tak suka ini. Aura sedih, berat dan melankolis. Itu aura Latifa Bakrie, bukan Bintang Abimayu. “Jadi, Abati setuju saja jika Khumaira harus menolak Khalid, bukan? Intinya patuh perintah ibu.” Bintang tergelak oleh nada suka cita putrinya. “Kau pintar sekali, Saleha.” Khumaira sampai di depan kamarnya, kamar bekas Nini dan Kakeknya dulu. Sampai detik ini Khumaira yakin Bintang sama sekali tidak memaksanya menerima Khalid. Sekalipun karena Khumaira banyak tuduhan dan tudingan harus diterima olehnya, sang ayah tak menghakimi Khumaira dari segi apa pun juga. Khumaira rasa tak banyak gadis seberuntung dirinya. “Abati, Khumaira sayang Abati.” “Abati juga sayang padamu, Saleha.” Bintang kemudian melanjutkan langkah menuju ruang tamu. Tempat sahabatnya duduk menunggu bersama putranya. *** Ini kali pertama Khalid menginjakkan kaki di Kastil Abinaya. Kesannya seperti menjamah bangunan kuno prasejarah saja. Termenung Khalid sendirian, memikirkan bagaimana langkah anggun Khumaira berjalan di sekitar Kastil, atau saat kemungkinan gadis itu berlarian sendiri di sana. Bisa ia bayangkan sudut mata Khumaira menyipit karena senyuman di balik cadarnya, senyum di wajah Khalid sendiri merekah tak diminta. “Khalid.” Khalid terlonjak kaget. “Iya, Abi?” “Kita tidak akan langsung melamarnya,” ujar Bagas tenang duduk di sisi putranya. “Kenapa?” Khalid langsung memfokuskan netranya pada sang ayah sambung. Penuh sabar ia tunggu penjelasan atas penundaan yang Bagas ingin katakan. “Bintang itu sahabatku, aku lebih mengenalnya daripada orang lain. Dia pasti tahu maksud dan tujuan kita, tetapi aku ingin kau dan Khumaira sedikit memberi waktu untuk kalian lebih mengenal dulu. Kau paham maksudku?” Khalid mengangguk. Jika ia menuruti keinginan sendiri, nuraninya mau menghalakan Khumaira malam ini juga. Namun, ia sadar kalau dirinya sendiri tak cukup sabar saat ini. Khalid sedang di landa pesona Khumaira. Akalnya sedang tertutup jerat cinta tak kasat mata pada gadis bercadar itu. Khalid melirik kotak yang ia siapkan di belakang. “Boleh aku memberikan hadiah?” “Asal bukan cincin.” “Memang bukan,” ujar Khalid malu-malu. Ia sudah seperti anak belia belasan tahun yang baru pertama jatuh cinta. Khalid merangkai sendiri hadiah yang ia bawakan khusus untuk Khumaira, pun awalnya tak ada terbersit untuk memberi sesuatu setelah hatinya, tetapi saat melihat taman bunga halaman rumah Wandawarma, terlintas begitu saja keinginan hati Khalid untuk mempersembahkan sesuatu untuk pujaan hatinya. Di saat Khalid tengah dilanda cinta, Bagas di sisi lain penuh pertimbangan dan kekhawatiran. Langkahnya berat, ingin mundur, tetapi sudah terlanjur sampai. Mereka sudah turun dari mobil menuju pintu utama Kastil Abinaya. “Aku masih saja memikirkan wasiat ibumu, Khalid. Kau tahu. Aku sangat mencintainya. Aku sungguh tidak ingin kau mengecewakannya sedikit pun.” “Abi, kau tahu kalau Ibu pasti sedang menikmati taman dari tamannya surga karena cintamu ini,” kelakar Khalid. Bagas berhasil tersenyum. “Ibumu akan jadi cintaku satu-satunya.” Khalid tak meragukan hal itu. Dengan rupa dan kedudukan yang dimiliki Bagas Wandawarma, bukan hal sulit menjerat wanita muda maupun berpengalaman. Namun, hati tak bisa disangkal keinginannya. Sebagian pria memang hanya mencintai sekali dalam seumur hidupnya. Sebagian pria malah tak cukup satu dan berpaling seperti ayah kandung Khalid yang mengecewakan itu. “Kau sudah tahu kalau pewaris Abinaya itu mencintai satu selamanya?” “Kudengar begitu.” “Khumaira punya seorang pria di hatinya, Khalid. Pria itu sudah menikah. Sejak dia menikah, para pria lain baru berani melamar Khumaira dan semuanya juga ditolak.” Khalid sudah tahu faktanya. Namun, bagaimana bisa menolak keinginan hati untuk memiliki Khumaira? Khalid jelas tak bisa mundur sebelum mencoba menggapai gadis itu. “Kau tak apa jika ditolak juga?” “Abi bilang kita bukan melamar hari ini?” Bagas membuang wajah karena salah mengajukan pertanyaan. Satu kata umpatan ia lontarkan lalu menendang pelan kaki putranya. “Aku siap jika dia menolak, Abi. Namun, jika begitu yang terjadi, aku akan tinggal di laur negeri sampai Khumaira menikah dan hidup bahagia dengan pilihannya.” Bagas tertawa atas jawaban tegas putranya. “Jangan warisi kebodohanku, Khalid.” Khalid mengedikkan bahu tak peduli. Baginya Bagas lebih terhormat dalam hal mencintai daripada ayah kandungnya sendiri. “Kurasa Khumaira itu cinta sejatiku.” “Khumaira sudah punya cinta sejati. Pria yang kusebutkan tadi,” balas Bagas, berniat menjatuhkan tekad Khalid. “Kalau Khumaira bukan cinta sejatiku, berarti pria itu juga bukan cinta sejati Khumaira. Khumaira masih berpeluang jadi cinta sejatiku, Abi. Tapi jelas dia dan pria itu bukan cinta sejati.” Bagas hanya bisa menggelengkan kepala. Pendirian Khalid berpadu dengan ambisi Khumaira. Rasanya akan menarik sekali jika pasangan itu benar-benar menikah. “Kau gugup?” “Tak bisa dihindari,” aku Khalid. “Abi juga gugup saat bertemu cinta pertama kali.” “Ibumu bukan cinta pertamaku, tapi pelabuhan akhir.” “Khumaira juga bukan, tapi pelabuhan akhir,” ulang Khalid dengan nada yang sama. “Kau pintar sekali memutar kata, Khalid.” “Aku hanya menggunakannya saat butuh saja,” balasnya sungkan. “Jangan gunakan di depan Khumaira. Dia mungkin langsung menolakmu.” Khalid melebarkan senyumannya. “Bukannya Abi menyuruhku mundur? Rasanya seperti disemangati.” Bagas mengeluarkan kata umpatan lagi. “Kau benar-benar pandai membuat orang kalah.” “Yah, aku cukup percaya diri akan menjadi cinta sejati Khumaira.” “Ya Tuhan, anak ini tidak bisa ditolong lagi,” keluh Bagas. Mereka disambut pelayan, kemudian dipersilakan duduk. Tak lama setelahnya Khalid melihat kedatangan Bintang Abimayu berikut suara azan sebagai pengiring langkah. Bagas dan Bintang berjabat tangan saling senyum dan peluk singkat. “Mari kita salat dulu,” ajak tuan rumah menunjuk ke pintu. Yang Khalid ketahui, taat keturunan Abinaya itu. Taat negara, taat syariat. Tak heran jika Khumaira punya banyak hal istimewa yang tak dimiliki gadis kalangan biasa. Khalid berjalan di belakang ayahnya dan ayah Khumaira. Ia rasa ada yang kurang. “Khairan tidak ikut?” “Dia pasti sudah menunggu di mobil,” jawab Bintang sedikit berbalik. Putranya sangat mirip Tuan Abinaya asli yang sebenarnya, kecuali sedikitnya humor dalam canda. Tak heran jika hampir semua anggota keluarga menantikan Khairan sebagai pemangku takhta. “Dia mungkin akan mengucapkan permintaan maaf kepadamu.” Khalid yakin itu didasari kejadian malam itu tentang buku. Ia tak mengambil hati sama sekali. “Pria menghormati pria. Dendam tidak pernah ada di antara pria.” Bintang tersenyum, “Percayalah, dia menyukaimu. Padahal sedikit sekali orang yang disukainya di dunia ini.” “Aku tersanjung,” balas Khalid sopan. Bintang yakin sekali pria muda di belakangnya memang cocok dijadikan menantu. Terutama sebagai pendamping Khumaira. Yang perlu ia lakukan hanyalah membujuk Ifa untuk ikut serta menggiring Khumaira sebagai mempelai Khalid Wandawarma. Semoga saja yang luluh malam ini bukan hanya hati Latifa Bakrie, tetapi Khumaira Abinaya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD