Senyuman lemah dan pucat dari wajah cantiknya begitu tenang terlihat, berbeda jauh dari dua pekan lalu saat tangis dan amarah yang memenuhi ekspresi itu. Khumaira pikir berat badan istri Rahman pasti turun dari terakhir pertemuan mereka. Pipinya lebih tirus dari terakhir lalu. “Duduklah,” ucapnya mempersilakan. “Kau bukan wanita sibuk.” Khumaira tak mau menanggapi hal itu. Ia punya kesibukan, tapi kehadirannya di tempat ini bukan untuk berdebat tentang hal itu. Khumaira pun duduk sambil berucap, "Harusnya kau bersama dia di saat genting begini." "Kau membuatku makin menderita saja." Khumaira akhirnya tak mau menunjukkan jati diri yang jahat, pura-pura membuatnya tambah lelah. "Aku datang dengan niat baik. Harusnya aku tidak berkata begitu kasar saat pertemuan terakhir hari itu. Maaf.

