Diusik Rahman

1007 Words

Khalid mengikuti langkah Khumaira kemudian menutup pintu ruangan berisi kue yang tadi menyembunyikan mereka. “Yah, kau tak tahu berapa menyebalkannya Khairan. Kau akan tahu segera maksudku.” Senyum geli Khalid mencuat lagi, "Kau selalu kalah darinya." "Aku bukan kalah!” kilah Khumaira. “Aku butuh kau sebagai saksi dipihakku yang menertawakannya. Begitu." Khalid mencebik singkat sementara membawa langkah mereka kembali ke aula. "Kau akan memihakku, bukan?" tuntut Khumaira karena belum mendapatkan jawaban pasti. "Yah, kau istriku. Jadi, aku ada dipihakmu." Khumaira tampak senang, langkahnya berubah riang. “Aku tak sabar ingin memulainya.” Khalid dipenuhi rasa suka cita juga. Sisi lain Khumaira yang ia lihat sepanjang pagi ini berbeda dari pertemuan sebelum-sebelumnya. Nada bicaranya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD