Rahman diam. Tak ada kata yang diucapkannya. Tak ada senyum percaya diri seperti tadi lagi. "Dia mungkin sulit melepaskanmu dari hatinya, tapi Khumaira menginginkan hal itu, sangat menginginkannya. Sampai-sampai dia memilihku yang asing untuk menyembuhkannya dari ingatan tentangmu." Khalid menarik napas panjang. "Aku mengatakan semua ini bukan untuk merasa menang darimu. Lagi pula, yang kita berdua inginkan adalah kebahagiaan Khumaira, bukan. Kau bisa memulai kisah cintamu yang lain, biarkan Khumaira tenang bersamaku." "Kau pikir itu hal yang mudah dilakukan?!" sentak Rahman marah. "Aku sudah menikah sebelumnya, bahkan gadis itu bernama sama dengannya, tapi rasa yang hadir tetap berbeda, Tuan Wandawarma! Jangan berlagak bijak tentang perasaanku. Aku ingin dia bahagia, tapi aku tidak bisa

