Suara langkah dan percakapan riang menemani perjalanan Khumaira. Menoleh pada jendela yang tertutup, setitik rasa duka mengganggu damainya. Khumaira tetap melangkah tanpa berbalik. Ia telah meninggalkan Rahman di belakang bersama perasaannya yang berusaha Khumaira buang. Sadar sekali Khumaira akan apa yang telah ia putuskan. Khalid, pria di depan sana itu tegak berjalan, tegas memutuskan. Tak ada kesepakatan yang berhasil Khumaira raih darinya, kecuali Khalid akan menjalani perannya sebagai suami. Khumaira tak bisa memaksakan keinginannya akan pria itu, tidak sekarang. “Kalian sudah kembali,” sambut Bintang kepada tiga orang yang bergabung dengan mereka lagi. “Jadi, apa keputusan akhirnya?” “Saya akan menikahi putri Anda, Tuan.” Bintang beralih pada putrinya, “Kau sungguh-sungguh mener

