Seburuk-buruknya masa lalu yang pernah terjadi
Tidak akan lebih buruk jika dijadikan pelajaran berarti..
***
Ruangan manajer begitu sepi dan hening. Hanya terdengar sayup-sayup suara hujan yang awet sejak subuh menyapa. Seorang pria tampak sibuk berkutat dengan layar laptop dan bolak-balik mengecek kertas-kertas dalam map. Biasanya ia selalu fokus dalam bekerja, tapi hari ini minatnya terhadap pekerjaan agak berkurang.
Masih terbayang kejadian pagi tadi. Melihat dengan dua mata kepala sendiri, bagaimana perlakuan mesra Danis pada Linda. Ya, ada kecemburuan menelisik batin Rey. Pria yang sulit jatuh cinta ini benar-benar terjerat cinta sepihak. Langkahnya rupanya kalah jauh dari kawan baik sekaligus atasannya, Danis.
Entah sudah berapa kali ia mengetuk-ngetukkan ujung bulpoin ke atas meja. Resah melanda semakin sulit dikendalikan. Sesekali ia memutar kursi dan menatap kaca besar di belakangnya. Memandang guyuran hujan yang begitu merdu mendayu. Seakan berusaha menghibur kesepian hatinya. Tetap saja, semakin ditahan, ia semakin sulit mengelak dari kenyataan. Bahwa ia benar-benar cemburu.
Suara ketukan pintu terdengar. Seseorang masuk setelah dipersilahkan. Wanita itu sedikit tersenyum, kemudian menyerahkan map merah untuk diperiksa Rey.
"Ini laporan bulanan yang Pak Rey minta saya print," katanya kemudian.
Rey menerima sambil menghela nafas perlahan. "Sudah makan siang?" Pertanyaan yang sangat jarang ia lontarkan pada siapa pun. Sayangnya, Linda tidak pernah menyadari perhatian kecil ini.
Maklum saja, jiwa seorang wanita yang pernah merasakan kepahitan asmara dari kehancuran biduk rumah tangga, jelas tak lagi sama dengan semasa gadis dulu. Ia lebih percaya aksi ketimbang sekadar kata-kata belaka. Bahkan meski sudah terang-terangan bereaksi pun, belum tentu ia mudah menerima.
"Sudah, Pak."
Pria itu hanya mengangguk sekilas. Berpura-pura membuka map dan melihat lembaran kertas di dalamnya. Padahal tak bisa fokus sama sekali. Hatinya meronta-ronta ingin mengajukan pertanyaan jelas. Namun lagi-lagi logikanya melarang keras. Gengsi kalau harus bertanya tanpa sebab pasti. Siapa dirinya? Rey sadar ia tak ada hak mempermasalahkan kedekatan Linda dengan siapa pun. Ia hanya tak ingin wanita di hadapannya salah haluan. Rey tahu betul siapa Danis dan bagaimana status pria itu. Hanya saja mungkin hanya Rey yang tahu di sini.
"Kalau begitu, saya permisi lanjutkan pekerjaan lagi, Pak."
"Ya."
Linda berbalik.
"Berhati-hatilah," kata Rey tiba-tiba.
Ucapannya tentu menghentikan langkah Linda. Wanita yang mengikat rambut sepundaknya itu menoleh kembali. "Maksudnya, Pak?" tanyanya tak mengerti.
"Bukan apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaan kamu."
"Baik, Pak."
Linda bingung, sikap Rey sangat aneh belakangan ini. Kadang muncul kalimat-kalimat yang sangat tidak ia pahami. Setelah ditanya balik, tak ada jawaban jelas. Pria ini benar-benar seperti es di kutub utara. Terlihat dingin dan sulit dipahami. Mungkin, jika ada yang memaksa mendekati atau menyelami kedalaman perasaannya, bisa jadi membeku atau hipotermia seketika. Pikiran Linda jadi melantur ke mana-mana.
Baru beberapa menit duduk menggarap tabel-tabel di layar laptop, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Lalu menyodorkan minuman ringan kesukaan Linda. Pria itu tersenyum sekilas, lalu mengedipkan sebelah matanya.
Hampir saja ia kelabakan, takut kalau yang lain menyadari. Begitu menoleh sekeliling, ternyata teman-temannya juga mendapatkan minuman yang sama. Bedanya, punyanya ternyata ada tempelan kertas kecil.
"Terimakasih, Pak Danis," ujarnya menagan kegugupan.
"Pak Danis memang bos paling pengertian deh!" seru Anis yang sudah membuka tutup botol minumannya. "Kan makin semangat kerja kalau kayak gini."
"Lanjutin kerjaan kalian. Jangan pamer ke divisi lain kalau saya sering kasih minum kayak gini ya?"
"Siap Pak!"
Danis berlalu menuju ruanganannya. Sementara Linda membaca tulisan yang tertempel di botol miliknya.
'Hari ini jangan pulang dulu. Temui saya di ruangan.'
Dalam hati Linda membaca dengan seksama. Bahkan terdapat tanda cinta di ujung kalimat. Perasaannya mulai gelisah. Sebagai wanita normal yang batinnya sempat remuk, ia sangsi. Tapi di sini lain, ia malah makin nyaman dengan sikap serta perhatian pria itu. Berulang kali melawan perasaan, tetap saja nalurinya memberontak paksa. Seakan tak bisa lagi dihalau. Sejujurnya, Linda cemas kalau hatinya terjatuh kembali. Wanita itu menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan.
Kembali menekuni pekerjaan adalah salah satu solusi terbaik, mengalihkan pikiran dan jiwanya yang sibuk berperang rasa.
"Lama-lama aku jadi suka sama nih minuman," ujar Nina setelah meneguk habis minuman bervitamin C itu.
"Bukannya kamu nggak suka yang asem-asem?" Tari heran.
"Habisnya keseringan dicekokin sama pak Danis sih, kan jadi malah terbiasa."
"Nah loh, ini baru terbiasa dan suka sama minuman yang dikasih ya. Jangan-jangan nanti malah terbiasa dan suka sama yang ngasih?" goda Anis sambil mengedip-ngedipkan mata genit.
"Apaan! Nggak mungkinlah! Mana boleh kita karyawan suka sama bos. Kalau putus, bisa jadi bahan olok-olok orang satu kantor. Malu!" Nina mengemukakan argumennya.
Mereka bekerja sambil bicara satu sama lain. Terkadang bertanya pada Linda pendapatnya. Dipikir-pikir, benar juga apa yang diucapkan Nina barusan. Linda jadi makin galau merenungi hubungannya dengan Danis. Mau dibawa ke mana akhirnya? Menerima? Atau menolak tegas? Sayang, jiwanya sudah kadung tertarik lebih dalam. Ia mengusap-usap telinga, lagi-lagi kebiasaan jika gundah gulana melanda.
Sekitar pukul setengah enam sore, semua karyawan sudah pulang. Hari ini tidak ada yang lembur di divisi admin. Ruangan jadi terlihat lenggang. Linda terpaksa berbohong pada kawan-kawannya, beralasan ia belum menyelesaikan laporan, dan meminta mereka pulang duluan saja. Awalnya Anis ingin membantu, tapi ditolak halus oleh Linda. Akhirnya mereka pulang duluan. Barulah Linda mengemasi meja dan membersihkan beberapa sobekan kertas yang bercecer.
Ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Danis. Linda mengangkatnya.
"Ya, Pak?"
"Kenapa belum ke ruangan saya?"
"Maaf, sebentar lagi saya ke sana, Pak. Ini masih bereskan meja."
"Bereskan nanti saja. Cepat ke sini sekarang." Intonasi bicara Danis sudah tak mau dibantah lagi.
Segera Linda menuju ruangan bosnya. Tepat ketika wanita itu masuk, Rey baru saja ke luar dari ruangannya sendiri. Ia sempat melihat punggung Linda sekilas. Lagi-lagi cemburu di hati menyapa tanpa permisi. Niatnya ingin menyusul ke ruangan Danis, tapi urung karena telepon mengganggu.
Di dalam ruangan, Danis sedang duduk minum teh di sofa. Ia memberi kode dengan menepuk-nepuk telapak tangan ke sofa, menyuruh Linda duduk di sampingnya. Linda hanya bisa menurut tanpa berpikir kejauhan. Hanya saja ia memberi jarak agar mereka tak terlalu berdekatan.
"Kok jauh-jauh?"
"Nggak enak kalau terlalu dekat, Pak."
Danis membuang nafas pendek, menggeser duduknya, dan langsung merengkuh bahu Linda. "Mau sampai kapan menghindari saya? Kamu belum jawab pertanyaan saya waktu itu. Sudah hampir tiga minggu saya menunggu kepastian."
"Saya belum siap-"
"Sepertinya kamu memang tipikal yang senang dipaksa ya?"
"Maksudnya?"
"Kalau ditanya jawabnya kelamaan. Saya sendiri yang capek nunggu."
"Pak Danis, saya-"
"Hari ini fix ya?"
Kalimat Linda terus dipotong oleh Danis. Pria itu benar-benar paham caranya menghadapi wanita dilematis seperti Linda. Ketimbang diam menunggu, memang sebaiknya menangani dengan caranya sendiri. Terkesan seperti paksaan memang, tapi ia pikir ini pasti akan berhasil menghindarkan dari penolakan. Bisa dibaca raut sungkan di wajah Linda. Danis tahu betul alasan klisr itu yang membuat Linda bingung menjawab.
"Hari ini fix? Maksud Pak Danis?"
"Ya hari ini fix kita jadian."
Bola mata Linda membebalak tak percaya. Semudah itu kah Danis meresmikan sebuah hubungan? Ada rekahan bunga mekar di sudut jiwa Linda, tapi lagi-lagi ia khawatir akan layu dan mati nantinya. Beberapa detik berlalu dalam kebungkaman.
"Kok diam? Kamu nggak suka betulan sama saya?"
"Saya nggak mau jadi bahan omongan orang kantor, Pak. Baru berapa bulan saya kerja di sini. Masa tiba-tiba jadian sama atasan sendiri? Pasti ujungnya akan jadi gunjingan ke depannya. Saya nggak suka jadi topik utama gosip di sini. Teman-teman di sini baik sama saya. Kalau mereka berubah karena saya jadian sama Pak Danis, gimana?" Ia mengutarakan keluh kesah dalam pertimbangannya sendiri. "Lagi pula, Pak Danis tau sendiri, di divisi pak Hartono juga ada desas-desus nggak enak. Kasusnya hampir mirip. Anak-anak langsung jaga jarak sama Vivian."
"Oh jadi alasan kamu itu?"
Linda mengangguk sekilas.
Danis hanya geleng kepala dan mesem. "Yasudah, kita main belakang."
"Maksudnya?" Linda kaget.
"Jangan suudzhoon. Maksud saya, kita diam-diam saja. Nggak perlu ada yang tau hubungan kita. Cukup kamu dan saya. Yang penting kita saling nyaman dan saling sayang. Kamu keberatan?"
Pria itu meletakkan secangkir teh di atas meja. Mengisi kembali cangkir tersebut dan menyeruputnya perlahan. Ia juga meminta Linda meminum teh dari gelas yang sama.
"Biar releks," katanya.
Linda ikut meneguk sedikit minuman dalam cangkir.
"Enak kan?"
Wanita itu hanya mengangguk.
"Ini teh kesukaan saya. Teh chamomile. Biar kamu tau."
"Pak Danis, boleh saya tanya sesuatu?"
"Ya, silahkan."
"Pak Danis nggak lagi mempermainkan saya kan?"
Spontan Danis tertawa mendengar pertanyaan jujur Linda. Ia juga melihat jelas rona keraguan di wajah wanita ini.
"Kamu sebetulnya takut jadi bahan gosip? Atau ragu sama perasaan saya?" keluhnya setengah menahan tawa. "Linda, sekarang semua terserah sama kamu. Intinya, kalau kamu terima saya senang. Kalau kamu tolak ya saya terus berjuang sampai kamu mau."
"Pak Danis benar-benar hobi memaksa ya."
"Nggak juga. Tergantung situasi dan kondisi."
"Ehm... baiklah."
"Baiklah?" Danis mengerutkan kening. Menuntut kejelasan lebih.
"Saya terima." Linda berusaha mengusir ketakutan dalam hatinya. Ia juga berhak menata kembali kebahagiaan yang pernah hancur berkeping-keping kan?
Memang kadang benar kata orang, kalau sudah jatuh cinta, sulit sekali menolak fakta apapun. Padahal baru beberapa bulan, Danis berhasil menaklukkan hati Linda. Memang paling tepat menyusup dalam batin seseorang di kala sedang rapuh-rapuhnya. Di situlah kesempatan menang lebih besar. Walau Danis mungkin belum tahu tentang masa lalu Linda.
"Tapi, dengan satu syarat."
"Syarat? Katakan." Danis tak sabar mendengar kalimat selanjutnya.
"Tolong jangan pernah tanyakan tentang masa lalu saya. Apapun yang terjadi. Ini permintaan tulus dari saya."
Sejenak Danis menimbang. Lalu mengangguk mengerti. Senyumannya memang sungguh memabukkan. Linda selalu dibuat terlena dengan keindahan bibir pria ini. Apalagi sorot matanya yang mengagumkan. Bahkan dalam diam pun, Linda seperti disihir oleh mata itu.
"Baiklah. Kita sepakat?"
"Hmm..."
"Kamu yakin nggak mau ada yang tahu hubungan kita?"
Linda mengangguk mantap. Rasanya lebih aman demikian. Setidaknya bisa meminimalisir segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
"Oke."
"Boleh saya pulang sekarang?"
"Masa baru dibikin seneng, kamu mau ninggalin saya?" keluh Danis seperti bocah.
"Terus? Saya harus ngapain di sini?"
"Hash, temenin saya saja."
"Pak Danis nggak mau pulang? Nggak capek?"
"Masih ada sedikit pekerjaan. Kamu mau kan nemenin saya sebentar lagi?"
"Yasudah kalau gitu."
Hampir setengah jam lebih Danis berkutat dengan laptop. Sampai tak sadar Linda ketiduran. Ia mematikan laptop dan berniat mengajak Linda pulang. Tapi malah baru sadar kalau wanita di sampingnya sudah terlelap.
"Cantik banget kamu..." bisiknya.
Melihat ketenangan dan parah menawan Linda, naluri kelelakian Danis mulai diuji kesabarannya. Di luar masih hujan, dan hari mulai agak gelap. Linda terbangun ketika merasakan kecupan di pipi kirinya. Satu tangan Danis sudah berpindah membelai pucuk rambut kekasih barunya.
"Sudah selesai?"
"Sudah barusan."
"Maaf, saya ketiduran."
"Nggak masalah."
"Kita pulang?"
Danis terdiam sesaat. "Sebentar lagi ya?"
"Mau ngapain lagi?"
Pandangan mata pria itu beralih pada bibir ranum Linda. Mendekatkan wajahnya ke wajah Linda. Tubuh Linda serasa terkunci seketika, membiarkan dirinya dibuai dengan ciuman semanis madu alami. Semakin dalam dan semakin kuat menyapu bibirnya. Danis memeluk wanita itu lebih kuat. Satu tangannya turun membelai lengan Linda. Ciumannya ikut turun menikmati leher jenjang di hadapannya. Menenggelamkan diri di sana dengan nafas yang memburu.
Linda terengah-engah menghadapi perbuatan Danis. Ia benar-benar tak bisa berbohong, kalau dirinya menyukai sentuhan ini. Namun, ia sadar tak bisa membiarkan lebih jauh lagi. Seketika Linda mendorong paksa Danis untuk menjauh.
"Kenapa, Sayang?" Danis kaget. Matanya masih sayu.
"Jangan sampai kelewatan, Pak Danis."
Pria itu tersenyum dan membuang nafas kasar. Ia memijat tengkuk, merebahkan diri pada sandaran sofa sebentar. Lalu mengurut kening sekilas. Danis benar-benar sedang dalam masalah besar. Di saat libidonya melonjak naik, harus dipaksa turun mendadak. Ia memejamkan mata, bersusah payah menenangkan hasrat terpendamnya. Ia tak mau terlihat bajing*n di mata perempuan yang ia cintai. Reputasinya bisa jelek di hadapan Linda. Padahal, baru saja ia berhasil menerima kepercayaan dari wanita itu.
"Maaf, saya-"
"Saya paham. Saya yang harusnya minta maaf," ujar Danis masih menutup mata.
Linda agak sangsi dan sedikit merasa bersalah. Tapi ia juga tak ingin kehormatannya runtuh hanya karena nafsu sesaat. Bukan berarti seorang janda bebas bertindak sesuka hati. Ia tetaplah perempuan biasa, yang ingin menerima sentuhan lebih secara benar.
Suara adzan mulai terdengar. Linda berdiri dan mengulurkan sati tangannya pada Danis. Pria itu sudah membuka mata kembali. Fokus melihat uluran tangan Linda.
"Ayo kita salat sama-sama."
Jantung Danis nyaris lepas dari kungkungan. Malu sekaligus bangga membelenggu dalam otaknya.
"Kamu ngajak saya salat?"
Linda mengangguk dibarengi lengkungan senyum manis. "Pak Danis seorang muslim kan?"
"Iya, tapi-"
"Saya nggak akan maksa. Tapi, saya cuma mengingatkan. Jangan pernah tinggalkan kewajiban."
Mendengar nasihat sederhana Linda, batin Danis terketuk nyata. Ia berdiri dan mengangguk kilat.
"Saya khawatir akan sulit lepas dari perasaan ini," gumamnya pelan.
"Kenapa?" Linda tak begitu mendengar perkataan Danis.
"Bukan apa-apa."
Keduanya berjalan bergandengan sampai pintu. Kemudian Linda melepaskan pegangan tangan Danis. Seperti kesepakatan mereka sebelumnya. Hubungan ini harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Baru kali ini Danis merasa tak suka dengan perjanjian tersebut.
'Biasanya aku have fun, sekarang kenapa malah was-was?' racaunya dalam hati.
Apa maksudnya?
&== Simpanan ==&