Bab. 4 - Mengagumi

1469 Words
Manisnya kata mungkin mudah diterka Semudah itu pula dipoles dengan puingan percaya Ada yang terlena dengan segera Ada pula yang jatuh bertahap tanpa terduga *** Tiga bulan kemudian... Pria itu berjalan membawa beberapa tentengan kantung plastik, di sampingnya Linda membantu membawa semampunya. Keduanya masuk ke dalam rumah sembari sesekali bercanda. "Wah! Banyak banget belanjaannya, Pak! Biar kami bantu!" seru Anis, salah satu penghuni mes yang identik dengan kacamata minusnya. Tari dan Nina yang asik duduk di sofa sambil main ponsel pun langsung berdiri dan ikut mengambil alih bawaan Danis. "Pak Danis lama-lama aja dinas di sini. Biar kami makin irit. Secara dibelanjain mulu tiap bulan," celoteh Nina tanpa sungkan. Sangking perhatian dan baiknya Danis pada para karyawanan, mereka kadang lupa bicara dengan atasan sendiri. Malah seperti teman nongkrong. Untung saja bahasa dan intonasi yang dipakai tetap sopan, tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun. "Sebelum saya, memangnya nggak kayak gini?" "Boro-boro dibeliin sembako, Pak. Malah yang ada tiap hari datang cuma numpang makan," timpal Tari terang-terangan. Mulut lemesnya langsung ditabok oleh Anis. Ia juga dapat plototan dari kedua temannya. Gadis berambut pendek sebahu itu hanya bisa meringis setelah sadar dirinya keceplosan. "Biar kita aja yang beresin, Mbak. Mbak Linda istirahat saja. Gantian, kan udah capek belanja," kata Anis si paling pengertian. Di sini memang Linda paling dituakan. Selain karena umurnya di atas mereka, juga karena sosok Linda yang notabene terlihat dewasa bagi anak-anak mes lain. Maklum saja, mereka bertiga umurnya masih di bawah dua puluh enam tahunan. Sementara Linda sudah di atas itu. Sementara yang lain sibuk menata belanjaan yang dibeli tadi, Danis mengajak Linda ngobrol di teras depan rumah. "Capek ya?" "Lumayan, Pak." "Tapi seru kan?" Linda hanya mengangguk. "Besok libur temenin saya jalan ya?" "Pak Danis nggak bosan apa minta temani saya terus? Kok nggak sama yang lain?" "Selera saya bukan mereka. Gimana dong?" "Maksudnya?" "Masa kamu masih nggak paham juga? Kamu kira selama beberapa bulan ini saya dekatin kamu karena apa?" "Karena Pak Danis memang orang baik dan perhatian sama karyawan." Sontak pria itu langsung tepuk jidat. Agaknya semua tindak tanduk yang ia tunjukkan masih belum cukup jelas di mata Linda. Wanita ini tetap saja tak paham ada udang di balik batu. Begitu peribahasanya. Atau memang, ia sengaja pura-pura menutup mata agar tidak lagi terjebak dengan perasaan sendiri? Entahlah. "Saya menyukai kamu." Danis to the point. "Kamu pasti tanya kenapa? Karena kamu cantik dan bisa bikin saya nyaman. Simple kan?" Linda semakin tak mengerti dengan perkataan Danis. Dengan mudahnya pria dengan bibir seksi ini bicara tanpa beban sama sekali. Seolah tidak ada sekat membentengi di antara keduanya. Linda memang menyukai Danis, tapi hanya sebatas karyawan terhadap atasannya yang baik. Ia belum berpikir akan sampai sejauh ini Danis mengutarakan perasaan secara gamblang. Melihat kediaman Linda, Danis menghela nafas pendek dan tersenyum. Sejujurnya, dilihat dari sudut mana pun, Danis memang sangat tampan dan mempesona. Naif jika ada yang menyangkal fakta tersebut. Sama halnya dengan Linda, ia pun mengakui betapa menawannya pria di hadapannya. Hanya saja, terlalu cepat untuk memastikan ucapannya sungguhan atau tidak. Ia belum yakin. Ditambah, Linda sadar diri, kalau dirinya mungkin tidak cukup pantas bagi Danis. "Banyak perempuan cantik di sini, Pak. Soal nyaman, saya rasa terlalu berlebihan. Kenapa harus saya? Lagian, apa nggak terlalu kilat ya? Bisa saja Pak Danis hanya kagum sama saya. Seperti saya kagum sama Pak Danis." "Kamu mengagumi saya?" Danis menampilkan wajah sumringah. Seperti kata peribahasa lama, gayung pun bersambut. "Semua orang mengagumi Pak Danis. Malah kami kira Pak Danis sudah punya pasangan." "Jangan suka mengira-ngira sendiri. Lebih baik tanya langsung ke orang yang bersangkutan." Lagi-lagi Linda hanya tersenyum simpul. Ia menggaruk tengkung sangking bingung harus berkata apa. Masalahnya, ia tak yakin dengan perasaannya sendiri. "Saya nggak maksa kamu jawab sekarang. Tapi, saya harap ya jangan kelamaan juga." "Pak Danis serius apa bercanda sih?" "Seribu rius. Kurang banyak? Satu triliun rius, gimana? Masih kurang banyak?" candanya berusaha melunakkan ketegangan di raut muka Linda. "Saya cuma karyawan biasa, Pak." "Klise. Urusan hati nggak bisa disandingkan dengan pekerjaan." "Tetap saja saling bertautan, Pak." "Bisa nggak sih kamu berhenti panggil saya Pak kalau nggak lagi jam kerja? Saya pengen denger kamu panggil nama saja biar lebih akrab." "Nggak sopan, Pak." "Kita hampir seumuran, beda bulan." Suasana mendadak hening untuk beberapa saat, hanya suara embusan angin sayup-sayup semakin kencang terdengar. Langit mulai mendung, tapi belum tentu hujan akan turun. Cuaca di Kalimantan memang lain daripada yang lain. Kalau di Pulau Jawa ada musim kemarau dan musim hujan, maka di sini bisa dibilang hujan atau panas datang sesuka hati, tanpa pandang musim biasanya. "Kayaknya mau hujan, Pak Danis nggak pulang?" "Kamu ngusir saya?" "Bukan, bukan gitu maksud saya-" "Paham paham. Kamu khawatir kan sama saya?" "Nggak gitu juga sih, Pak..." "Yasudah saya pamit pulang dulu sama anak-anak." Danis berdiri dan berniat masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya terhenti sejenak. "Kenapa, Pak?" tanya Linda heran. "Hash, kamu sih." "Saya? Saya nggak ngapa-ngapain," balas Linda bingung. "Ya kamu bikin saya pengen stay di sini terus." Mendengar kata-kata rayuan Danis, Linda hanya bisa geleng kepala. Hatinya belum mempan kalau cuma sekadar gombalan ambigu. Pahit manis asmara sudah ia telan dalam-dalam sampai kepenuhan dan tumpah ruah. Manisnya hilang, sisa pahitnya saja. Begitu pikirnya. Hanya saja, yang bikin jantung nyaris gempa ya wajah tampan dan senyum menikam Danis. Apalagi tatapan matanya yang tajam menghunus. Bahkan saat diam tanpa kata pun, sorot retinanya seolah sedang bernyanyi riang. Linda hanya manusia biasa, punya batas wajar dalam mengagumi keindahan karya Sang Kuasa. Senyum dan pandangan mata Danis sebenarnya yang selalu membuat batin Linda goyah tak karuan. Rasanya ingin langsung loncat ke pelukan pria itu. Akhirnya, setelah berpamitan Danis pun pulang. Anis duduk di teras menemani Linda yang termenung dalam lamunan. "Mbak Linda," panggilnya hati-hati. "Eh iya? Kenapa, Nis?" "Pak Danis kayaknya suka sama Mbak." "Ah kamu sok tau." Linda berusaha menampik terkaan Anis. "Ih gini-gini aku ngerti tau, Mbak. Bisa bedain mana perhatian biasa, mana perhatian luar biasa." "Maksudnya?" "Sebelum ada Mbak Linda di sini, biasanya belanja bulanan diantar kurir. Tapi, sudah berapa bulan belakangan, beliau belanja sendiri. Modusnya aja minta temani Mbak Linda tuh." Pernyataan Anis memang ada benarnya juga. Dan Linda makin tak tahu harus berkilah dengan bahasa apa. Danis sudah terang-terangan mengakui perasaan. Sekarang, teman satu kantor plus satu rumah pun agaknya sudah tahu juga niat terselubung atasan mereka. "Mbak! Kok malah bengong sih?!" Anis menjawil lengan Linda. Membuat wanita itu tersentak dari pikiran yang makin rumit di kepala. "Mungkin itu cuma perasaan kamu saja, Nis." "Apa iya? Kok kayak jelas banget ya?" "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Pak Danis minta tolong aku temenin belanja karena mungkin aku paling tau sama kebutuhan rumahan yang harga dan kwalitasnya sesuai. Kan waktu itu pernah main tebak-tebakkan kita? Ingat nggak?" Anis menimbang sejenak. "Oh iya! Hehe, baru ngeh, Mbak." "Soal pak Danis sekarang lebih seneng belanja sendiri, kan kalian sempat komplain, barang yang diantar kurir sering salah atau kurang. Mungkin menghindari hal itu." "Iya juga ya. Kayaknya aku terlalu over thingking deh, Mbak." "Ya wajar sih. Tapi, semoga kamu dan yang lain nggak salah paham sama aku dan pak Danis ya? Gimanapun juga, beliau atasan kita, jangan mikir aneh-aneh. Aku cukup tau diri kok." "Tenang aja, Mbak. Santai. Kalau aku sih lebih suka pak Rey." "Pak Rey? Kenapa gitu? Bukannya kalian sering curhat kalau beliau jarang bisa diajak bercanda? Malah orangnya serius mulu." "Aku suka yang dingin-dingin menantang gitu, Mbak. Sayang, aku udah ada yang punya." Spontan Linda tertawa. Entah kenapa ia merasa lucu melihat ekspresi songong Anis. "Kamu ada-ada saja. Memangnya berani deketin beliau? Misal belum ada cowokmu." "Hehe, nggak sih." "Ckck." "Pak Danis tuh ganteng maksimal, baiknya juga no kaleng-kaleng. Kalau pak Rey itu manisnya luar biasa, juteknya sungguh terlala, tapi sekali ngomong selalu ada benernya." "Kok malah jadi ngebandingin mereka?" Anis hanya meringis sambil garuk kepala. Tanpa sadar, yang dibicarakan malah datang. Hampir saja keduanya terjungkal kaget, mendengar suara salam dari seseorang. Anis langsung berdiri memakai sandal jepit hijau. Diikuti Linda yang tak kalah terkejutnya. Keduanya serempak menjawab salam pria itu. "Pak Rey? Ada apa malam-malam ke sini?" tanya Linda berusaha mengalihkan kegugupan. "Saya habis ada acara di luar. Kebetulan dapat bingkisan. Jadi saya bagi buat mes pria dan mes perempuan." Pria berkulit bersih itu menyodorkan paper bag pada Linda. "Wah! Makasih, Pak!" celetuk Anis semangat. Ia berharap Rey tidak mendengar ocehan absurdnya tadi. "Angin malam nggak bagus buat badan. Sebaiknya kalian segera masuk rumah. Saya langsung balik," ujarnya lalu kembali ke mobil. Begitulah Rey, meski terlihat dingin dan ketus di luar, tapi siapa yang tahu betapa luas dan ramah hatinya. Hanya saja, tidak sembarangan orang bisa mendapatkan keramahan itu. Di dalam mobil, Rey menatap wajah cantik Linda dengan semburat aneh. Mungkin wanita itu benar-benar lupa pernah bertemu dengannya sebelum di sini. Tapi, Rey masih ingat dengan jelas. Ia tersenyum tipis, kemudian menyalakan kembali mesin mobilnya. "Bisa jadi jodoh..." gumamnya. &== Simpanan ==&
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD