Bab. 3 - Merantau

2283 Words
Kegagalan adalah bagian dari proses kehidupan Entah untuk pembelajaran Atau sekaligus peringatan.. *** Beberapa hari lalu Linda di hubungi oleh Siska. Mengabarkan kalau lamaran kerjanya diterima. Hanya saja Linda tidak ditempatkan di satu area dengan Siska. Karena lowongan sebelumnya sudah terisi. Linda mendapatkan kesempatan mengisi kekosongan di area kota lain yang masih satu perusahaan dengan temannya itu. Selama kurang lebih empat bulan ini, sambil menunggu proses perceraian Linda dan mantan suaminya rampung total, ia bekerja membantu usaha laundry kecil-kecilan milik orang tua angkatnya. Orang tua kandung Linda sudah lama tiada. Sejak kecil dirinya diasuh oleh teman dekat mendiang ibunda Linda, yang memang kebetulan tidak punya anak. Bulan lalu semua proses perceraian telah selesai. Dan Linda akhirnya benar-benar bebas dari penderitaan yang ditorehkan keluarga sang mantan. Ia juga sudah mengepaki barang-barang untuk dibawa merantau. "Bawa barang secukupnya saja, Nduk. Biar kamu nggak kerepotan di perjalanan. Nanti kalau memang ada yang kurang, biar Ibu kirim." "Iya, Bu. Cuma bawa sekoper saja kok. Lagipula baju-baju saya juga banyak yang sudah nggak layak pakai. Nanti kalau sudah gajian biar beli saja di sana." "Sabar ya, Nduk. Pernikahan memang selalu banyak cobaan. Tapi kalau kamu nggak bahagia, dan sekarang memilih jadi janda, itu hakmu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu." "Saya sudah berusaha bertahan selama bertahun-tahun, Bu. Tapi, mental dan batin saya akhirnya porak poranda juga. Saya rasa jadi janda juga nggak masalah, daripada bersuami tapi serasa sendirian." Ibunya menepuk-nepuk pundak Linda. Berusaha menguatkan wanita itu. "Sudah malam, cepat tidur. Besok kan penerbangan pagi." Linda hanya mengangguk kilat. Ibunya beranjak ke luar kamar. Meninggalkan Linda yang seketika langsung terbaring, dan termenung menatap langit-langit kamar berukuran agak sempit ini. Ia berharap hidupnya bisa jauh lebih baik dari sebelumnya. Gadis itu memejamkan mata setelah menggumamkan sebuah doa dalam hati. Dan di sinilah tapak kaki Linda berdiri sekarang. Ia bangun subuh untuk menuju bandara. Penerbangannya sekitar pukul setengah delapan pagi tadi. Dari Surabaya ke Balikpapan. Lalu lanjut ke Berau. Harusnya ia menjalani training dulu selama dua minggu di Samarinda. Tapi, berhubung kepala bagian training sedang tugas di Berau, ya sekalian saja ia diminta langsung ke sana. Wanita itu menarik koper sembari menenteng tas. Berjalan ke luar bandara, mencari-cari jemputan dari kantor. Siska sudah menitipkan Linda ke temannya di sana. Jadi, minimal Linda tak kebingungan di tempat baru. Teleponnya berdering, ada panggilan telepon dari kawan Siska. Terdengar instruksi dari seberang sana. Linda celingukan mencari-cari sosok si empu suara. Sampai akhirnya ia melihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya di samping mobil berwarna putih. Pria itu berlarian mendekati Linda, lalu mengulurkan satu tangan untuk berkenalan. "Robi." Pria bertopi itu menyebutkan namanya seraya tersenyum manis. "Saya Linda." "Siska cerita sedikit banyak tentang kamu." Linda agak was-was. Ia sudah berpesan pada sang sahabat untuk menutupi status jandanya. Ia tak mau ada orang di sini yang tahu perihal kisah masa lalunya. Niatnya bekerja, bukan cari sensasi. Mengingat status janda biasanya jadi polemik di lingkungan kantor. "Sejauh mana dia cerita?" tanya Linda hati-hati. "Ya kamu datang dari Jawa. Mau merantau ke sini. Gitu aja sih." Pria berkulit sawo matang itu meringis. Kemudian mengambil alih koper Linda. "Maaf ya sudah merepotkan." "Santai aja. Sesama perantauan kita harus saling tolong menolong kalau bisa. Ngomong-ngomong, masih single apa udah punya pacar nih?" "Single," jawab Linda senatural mungkin. Ia masih harus menyesuaikan kondisi mentalnya. "Seriusan? Masa cewek secantik kamu single?" Linda hanya pura-pura tersenyum. Agaknya ia paham maksud terselubung kalimat Robi barusan. Dulu, pertama kali kenal mantan suaminya, juga hampir mirip gombalannya. Bedanya, di masa itu hati Linda masih mudah terbuai dan gampang berbunga-bunga. Sekarang sudah beda cerita. Hanya kegersangan di dalam sana. Keduanya masuk mobil setelah Robi menyimpan koper Linda di bagasi belakang. "Udah makan belum? Kalau belum, gimana kalau kita makan siang dulu. Habis perjalanan jauh, pasti kamu lapar kan?" "Nggak terlalu lapar kok." "Nggak usah sungkan ya. Aku ini temenan baik sama pacarnya Siska. Aku juga masih single. Jadi, nggak ada yang marah kalau makan sama cewek." Lagi-lagi Linda menampilkan senyum keterpaksaan. Entah sejak kapan ia jadi tak senang mendengar obrolan macam ini. Terlalu standar dan mudah ditebak alurnya. Antara niat pedekate atau niat main-main karena rasa penasaran belaka. Atau bisa jadi cuma sekadar iseng-iseng berhadiah. "Oh ya, dengar-dengar di sini disediakan mes ya?" Linda berusaha mengalihkan topik. "Jangan khawatir soal itu. Mesnya bukan sembarang mes loh." "Maksudnya?" "Jadi ceritanya, bos beli rumah gitu. Karena kebanyakan karyawan di sini orang rantauan, jadi yang masih single ditempatin di sana." "Campur?" "Nggak dong, cuma sebelahan. Ada tembok pembatas. Dua rumah, satu khusus cewek, satunya khusus cowok." "Baik banget ya sampai dipikirin segitunya." "Bukan cuma baik, tapi perhatian banget sama karyawan. Cuti nggak pernah dipersulit, selama kerjaan kita beres. Bonus juga jalan terus, asalkan pada capai target. Kalau admin biasanya bonus palingan thr aja sih. Tapi jangan salah, thr bukan cuma kebagian pas lebaran. Pas natalan sama imlek juga pada kebagian." Linda agak kaget mendengarnya. Baru ini ia tahu ada thr didapatkan tidak hanya satu kali dalam setahun. "Betulan?" "Iya. Enak kok di sini. Tapi, ada syarat khusus." "Syarat khusus?" "Karyawan baru wajib masih single dan belum pernah menikah sebelumnya. Minimal harus jadi karyawan tetap dulu selama kurang lebih dua tahun, baru boleh menikah. Kecuali mau resign duluan kalau ngebet nikah." Jantung Linda rasanya baru saja dipompa lebih keras. Bagaimana kalau ia sampai ketahuan sebelum mendapatkan kontrak karyawan tetap? Pikirannya jadi melanglangbuana tak karuan. Ia mencoba mengenyahkannya. Sebelumnya Siska sudah memperingatkan, itu sebabnya dirinya berjanji status Linda sebagai janda aman disimpan olehnya. "Udah dikasih tau Siska alasannya kenapa?" "Soal apa?" "Ya kenapa di kantor kita ada peraturan macam gitu." Linda menggeleng. "Saya pikir itu peraturan wajar. Memangnya ada alasan khusus?" "Kesahnya sih dulu pernah ada karyawan baru yang udah nikah. Pas hamil semua temennya direpotin. Alasannya klasik, maklum bawaan hamil. Udah gitu, sering ribut sama suaminya juga sampai ke kantor. Atasan dan karyawan jadi pusing ngelihatnya. Makanya dibikin peraturan kayak gitu." "Oh gitu ya..." "Satu lagi, kalau nanti kamu cinlok sama temen kantor, terus kalian mau nikah. Salah satu dari kalian wajib resign. Nggak boleh satu kantor suami istri. Ya menghindari peperangan rumah tangga kayak gitu tadi lah intinya." Linda mengangguk mengerti. Telepon Robi berbunyi. Pria itu sibuk bicara entah dengan siapa di telepon. Hingga tak terasa mobil sudah sampai di halaman rumah yang pagarnya masih belum jadi. Terlihat ada beberapa tukang sedang merenovasi bagain tersebut. Keduanya turun bersamaan. Robi membantu menurunkan koper milik Linda. Sementara wanita itu asik memandangi sekeliling arsitektur rumah minimalis tingkat dua di hadapannya. "Yang tinggal di sini ada tiga orang. Sebelumnya empat, tapi satunya keluar karena nikah sama orang kantor juga. Nanti kamu kenalan sendiri sama mereka." "Ini saya langsung ke kantor atau gimana?" Linda bingung. "Instruksi dari bos sih istirahat aja dulu. Kasihan kamu habis perjalanan jauh sendirian." "Eh! Udah datang tamu barunya!" Suara seorang wanita paruh baya berteriak mengagetkan Linda. Berjalan tergopoh menghampiri Linda dengan senyum sumringah. "Kenalkan, beliau namanya bu Ida. Kalau pagi sampai sore biasanya bersih-bersih di sini sama suaminya." Linda dan bu Ida pun berkenalan. Wanita kurus itu terlihat begitu ramah dan senang bicara. Meski baru pertama bertemu, Linda agaknya sudah nyaman ngobrol dengan beliau. Setelah mengucapkan terimakasih pada Robi, pria itu pun pamit karena harus kembali ke kantor. Sementara Linda diarahkan ke kamarnya oleh bu Ida. "Kamar Mbak Linda ada di lantai dua. Nanti kalau ada pakaian kotor mau dicucikan, tinggal simpan di keranjang cuci, taruh di dekat pintu kamar ya, Mbak." "Panggil Linda saja, Bu. Biar lebih akrab." "Saya udah biasa manggil mbak-mbak di sini begitu. Nggak apa." "Kalau cuci baju sendiri boleh, Bu?" "Ya boleh. Mesin cuci ada di lantai bawah." "Sudah berapa lama Bu Ida kerja di sini?" tanya Linda basa-basi. "Sekitar hampir tujuh tahunan. Dulu ibu saya. Terus saya terusin, karena beliau sudah sepuh." "Bu Ida asli orang sini? Atau?" "Saya lahir di Klaten. Tapi besar di sini. Dari kecil ikut pindah ke sini." Linda mengangguk paham. Bu Ida membukakan pintu kamar Linda dan memberikan kuncinya. "Sudah dibersihkan, jadi Mbak Linda tinggal istirahat. Kalau lapar, langsung ke dapur. Nggak usah sungkan. Saya paling seneng kalau masakan dihabisin. Daripada pesan online, boros." "Iya, Bu Ida, terimakasih. Kalau boleh tau, biaya untuk uang makan dan lain-lain gimana ya, Bu?" Seketika bu Ida langsung tertawa renyah. "Aduh! Mbak Linda belum dikasih tau ya? Di sini semua free. Pokoknya tinggal makan, tidur gitu aja. Yang penting kamar harus selalu bersih. Soalnya saya nggak diperbolehkan membersihkan kamar yang sudah ada penghuninya. Untuk menghindari hal-hal kurang diinginkan." "Oh gitu, saya baru tau, Bu. Enak juga ya." "Kalau gitu, saya permisi dulu ya, Mbak. Saya mau lanjut bebersih." "Iya Bu, terimakasih sebelumnya. Oh ya, sepertinya ada pintu di ujung. Itu pintu kamar?" "Bukan, Mbak. Itu pintu menuju balkon atas. Biasanya pada suka nongkrong di sana anak-anak sini." "Balkon? Saya boleh lihat?" "Oh ya boleh. Tapi saya nggak bisa temani. Satu lagi, kamar mandi ada di sebelah sana ya Mbak." Bu Ida menujuk pintu yang berada di antara kamar Linda dan kamar satunya. Dua kamar pintunya saling berhadapan. Dan kamar mandi mengapit di tengah-tengah. Di bawah juga sudah ada kamar mandi untuk dua kamar. Jadi masing-masing lantai tersedia. Untuk toilet tamu letaknya di dekat dapur. "Nggak apa, Bu. Makasih sebelumnya. Baik, Bu." Bu Ida pun permisi melanjutkan pekerjaan. Linda menengok jam di dinding. Sudah jam dua lewat. Dan ia baru ingat belum menjalankan ibadah salat Dzuhur. Segera Linda mengambil air wudhu dan salat. Setelah selesai memenuhi kewajibannya, ia membuka jendela kamar. Supaya ada angin masuk. Hawa di Kalimantan, terutama Berau memang berbeda jauh dengan di kampung halamannya. Di sini sekalinya panas terik sekali. Untung saja di kamar disediakan pendingin ruangan. Dipikir-pikir lagi, fasilitas di perusahaan ini benar-benar mumpuni. Seolah memanjakan karyawan tanpa tanggung. Namun, Linda belum berani berspekulasi jauh. Ia belum tahu betul tantangan dalam pekerjaannya nanti. Hanya bisa berharap di sini dirinya betah. Pandangan mata Linda berkeliling ke sekitaran. Di bawah sana ada jemuran baju, kemungkinan punya teman satu mesnya. Di sudut lain, ia menemukan sebuah pemandangan menakjubkan. Seorang pria berkemeja putih sedang berdiri menatap padanya dari arah rumah sebelah. Kata Robi itu mes khusus laki-laki. Linda ingin menyapa tapi ia terlanjur ngeri sendiri. Belum kenal sudah lambai tangan, nanti dikira tidak sopan. Alhasil ia mengurungkan niat. Mengacuhkan pria misterius tersebut dan menyibukkan diri membongkar koper. Beberapa menit kemudian ada panggilan masuk dari Siska. Linda mengangkatnya. "Halo?" "Gimana? Udah sampai kan? Suka nggak kamar baru?" "Kamu kok nggak bilang mesnya sebagus ini?" "Ya gimana, aku sendiri belum pernah ke sana. Cuma udah diceritain sama anak-anak yang pernah di sana. Nyaman?" "Alhamdulillah. Semoga nyaman..." "Syukurlah kalau gitu. Oh ya, kudengar dari manajerku tadi, pak Danis mau ketemu kamu, mumpung beliau di sana." "Pak Danis? Siapa?" "Aduh, aku belum kasih tau ya? Pak Danis itu kepala pimpinan area Kaltim. Jadi areanya sekitaran Balikpapan, Samarinda, Paser, Berau, Bulungan, dan Tarakan." "Hah? Terus? Kenapa mau ketemu aku?" "Biasanya beliau memang suka wawancara dadakan ke karyawan baru. Itu pun kalau pas ada kesempatan. Jadi, gak selalu. Beruntung kamu bisa bertemu langsung dengan beliau." "Tapi-" "Aku dipanggil bosku, udah dulu ya. Bye!" Panggilan ditutup sepihak. Linda mengurut kening. Nalurinya mendadak dilanda kecemasan. Banyak pertanyaan bergelayut dalam pikiran. Tentang apa saja yang akan ditanyakan ke dirinya nanti? Ia khawatir tidak bisa menjawab semua dengan baik. Ini di luar ekspektasi. Ia kira semua test sudah selesai. Wawancara sebelumnya dilakukan secara online. Test tertulis pun online. Rupanya malah dapat kesempatan wawancara langsung dengan bos besar. Jelas saja Linda gugup bukan main. Suara ketukan pintu terdengar mendadak. Lamunan Linda seketika buyar. Ia membuka pintu, melihat bu Ida tersenyum lugu. "Syukurlah Mbak Linda masih bangun. Saya kira tidur sangking capeknya." "Masih beres-beres koper, Bu. Belum bisa tidur. Ada apa ya, Bu?" "Mbak Linda diminta ke bawah, ada pak Danis ingin bertemu." Bola mata Linda membola tak percaya. Ia bahkan belum menyiapkan apa-apa seputar kisi-kisi pertanyaan serta jawaban. "Sekarang, Bu?" tanyanya panik. Bu Ida hanya mengangguk. Kemudian berlalu setelah menyampaikan pesan. Linda kelimpungam bolak-balik mengusap telinga. Kebiasaan bila dilanda gelisah. "Kenapa aku segugup ini sih?!" racaunya pada diri sendiri. "Pak Danis juga manusia biasa. Yakinkan diri sendiri. Pasti bisa! Tenang, tenang, tenang!" tukasnya menyemangati diri sendiri. Ia pun bergegas merapikan rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuh, karena belum sempat mandi. Bercermin sebentat untuk memastikan pakaiannya rapi. Sayang, polesan make up sudah luntur. Ia hanya bisa menyapukan bedak tipis-tipis dan memakai lipstik seadanya. Setidaknya, penampilannya tak terlalu kucel di depan atasan. Ia harus meminimalisir praduga buruk atas penilaian penampilan. Linda berjalan turun tangga. Menuju ke ruang tamu, tapi tak ada siapa-siapa di sana. Ia ke dapur untuk bertanya pada bu Ida. "Bu Ida di mana-" Belum sempat menyelesaikan pertanyaan, sosok seseorang menoleh dan menatapnya lekat-lekat. Jantung Linda nyaris copot dari kungkungan. Wajah tampan dengan mata legam itu, rahang tegasnya, dan bibir menawan yang menghias nyata. Wanita mana pun akan dengan mudah terpesona. Ditambah, wangi parfum maskulin yang semerbak menghunus indra penciuman. Benar-benar seksi sekali. Untuk sesaat Linda terpana. Namun, buru-buru ia membangunkan kesadaran dirinya. Mengenyahkan kekaguman kilatnya. Teringat ia pernah jatuh bangun setengah mati menghadapi seorang pria yang bisa dibilang tidak begitu tampan, tapi juga tidak jelek. Logikanya kembali terbuka. "Kamu yang namanya Linda?" Linda hanya mengangguk setengah bingung. Pria itu mencomot bakwan buatan bu Ida. Lalu duduk di kursi depan meja makan. "Duduklah," ujarnya. "Baik, Pak..." jawab Linda, lalu mengikuti instruksi. "Bagian admin ya?" "Benar, Pak?" "Sudah baca buku peraturan?" "Belum, Pak. Saya belum ke kantor." Danis mengangguk paham. "Nanti kamu pelajari baik-baik peraturan yang tertera." "Baik, Pak." Anehnya, tak ada lagi pertanyaan susulan setelah itu. Linda berusaha tetap tenang duduk berhadapan dengan pria ini. Sedangkan Danis asik mengunyah bakwan beserta lombok rawit. Sesekali curi pandang menatap wajah jelita Linda. Meski tampak samar, bisa dilihat ada sesuatu di mata Danis. Seperti sebuah ketertarikan yang seakan ditahan. Atau mungkin, lebih dari itu...? &== Simpanan ==&
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD