Bab 1: Pria yang Tak Seharusnya Kucintai
Namaku Dinda Arumi.
Jika hidup adalah sebuah tangga, maka aku lahir di anak tangga paling bawah.
Aku tumbuh di rumah sederhana di pinggiran kota bersama ibuku yang bekerja sebagai penjahit. Ayahku meninggal saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, ibuku menjadi satu-satunya orang yang berjuang agar aku bisa tetap sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena itulah aku belajar satu hal sejak kecil.
Jangan bermimpi terlalu tinggi.
Sebab semakin tinggi mimpi itu, semakin sakit saat kenyataan menjatuhkanmu.
Aku berusia dua puluh empat tahun ketika semuanya berubah.
Hari itu sebenarnya sama seperti hari-hari biasanya.
Aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan properti ternama di Jakarta. Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk membantu ibuku dan membayar kontrakan kecil yang kami tempati.
Pagi itu aku datang lebih awal karena harus menyiapkan dokumen rapat direksi.
Aku berjalan cepat sambil membawa setumpuk berkas di tangan.
Sayangnya, nasib buruk selalu datang saat seseorang sedang terburu-buru.
Tubuhku menabrak seseorang tepat di tikungan koridor.
Bruk!
Berkas-berkas langsung berhamburan ke lantai.
"Astaga!"
Aku berjongkok panik mengumpulkan semuanya.
"Maaf... maaf sekali."
Aku bahkan belum sempat melihat wajah orang yang kutabrak.
Sampai sebuah suara rendah terdengar di atas kepalaku.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku membeku.
Suara itu terlalu tenang.
Terlalu berwibawa.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Dan untuk sesaat, aku lupa cara bernapas.
Pria itu berdiri tepat di depanku.
Tinggi.
Tampan.
Mengenakan setelan jas hitam mahal yang terlihat sempurna di tubuhnya.
Rahang tegas.
Mata gelap yang tajam.
Dan aura yang membuat siapa pun langsung tahu bahwa pria ini bukan orang biasa.
Aku buru-buru berdiri.
"Maaf, Pak."
Ia mengambil beberapa lembar dokumen yang tercecer lalu menyerahkannya kepadaku.
"Tidak perlu panik."
Jari kami bersentuhan sesaat.
Aneh.
Hanya sentuhan singkat.
Namun jantungku berdebar lebih cepat.
"Kau bekerja di sini?"
Aku mengangguk.
"Iya, Pak."
Ia tersenyum tipis.
Senyum kecil yang entah kenapa membuat wajah tampannya semakin berbahaya.
"Saya Thomas."
Aku hampir menjatuhkan dokumen yang baru saja kukumpulkan.
Thomas.
Nama itu langsung membuat darahku berdesir.
Thomas Abraham.
Putra tunggal pemilik perusahaan.
Direktur utama termuda yang sering menjadi bahan pembicaraan seluruh karyawan.
Pria yang konon memiliki kekayaan yang bahkan tak bisa kuhitung dengan jari.
Dan pria yang wajahnya sering muncul di majalah bisnis.
Ya Tuhan.
Aku baru saja menabrak bos besar.
"Saya Dinda."
Tatapan matanya menelusuri wajahku beberapa detik.
"Aku pernah melihatmu."
Aku terkejut.
"Benarkah?"
Ia mengangguk.
"Di ruang arsip. Kau sering lembur."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Fakta bahwa pria seperti Thomas Abraham memperhatikan keberadaanku terasa mustahil.
Namun sebelum aku bisa berkata sesuatu, seseorang datang menghampiri.
"Pak Thomas, rapat akan segera dimulai."
Thomas mengangguk.
Sebelum pergi, ia kembali menatapku.
"Sampai bertemu lagi, Dinda."
Lalu ia berjalan meninggalkanku.
Dan tanpa kusadari, mataku mengikuti langkahnya sampai pria itu menghilang di ujung koridor.
Saat itu aku belum tahu.
Bahwa pertemuan sederhana tersebut akan mengubah seluruh hidupku.
---
Dua minggu berlalu.
Aku berusaha melupakan kejadian itu.
Bagaimanapun juga, dunia kami berbeda.
Sangat berbeda.
Aku hanyalah karyawan biasa.
Sedangkan Thomas Abraham hidup di dunia yang bahkan tidak berani kubayangkan.
Namun takdir seolah senang mempermainkanku.
Suatu malam aku lembur sendirian.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Aku sedang fokus menyelesaikan laporan ketika suara seseorang membuatku menoleh.
"Masih di sini?"
Jantungku langsung melompat.
Thomas.
Lagi.
Ia berdiri di depan mejaku sambil melepas jasnya.
Entah kenapa penampilannya malam itu terlihat lebih santai.
Lebih manusiawi.
Tidak seperti sosok direktur dingin yang sering dibicarakan orang-orang.
"Saya harus menyelesaikan laporan ini, Pak."
"Kau sering lembur."
Aku tersenyum kecil.
"Tagihan listrik tidak membayar dirinya sendiri."
Thomas tertawa.
Tawa yang hangat.
Untuk pertama kalinya aku melihat sisi lain dirinya.
Dan aku membencinya.
Karena semakin lama aku melihatnya, semakin sulit bagiku untuk bersikap biasa.
"Sudah makan malam?"
Aku menggeleng.
"Belum."
"Kebetulan aku juga belum."
Aku menatapnya bingung.
"Lalu?"
"Makan denganku."
Aku hampir tersedak ludah sendiri.
"Apa?"
Thomas tampak santai.
"Hanya makan malam."
"Tapi saya—"
"Anggap saja ucapan terima kasih karena kau bekerja keras untuk perusahaan ini."
Aku tahu seharusnya aku menolak.
Namun entah kenapa kata-kata itu tidak pernah keluar.
Satu jam kemudian aku sudah duduk di sebuah restoran mewah yang bahkan tidak pernah berani kumasuki sebelumnya.
Lampu gantung kristal berkilauan di atas kepala.
Musik piano mengalun lembut.
Dan harga satu menu di sana hampir sama dengan biaya hidupku selama seminggu.
Aku merasa seperti orang asing.
Thomas memperhatikanku.
"Kau terlihat tegang."
"Aku memang tegang."
Ia tersenyum.
"Kenapa?"
Aku menatap sekeliling.
"Karena aku takut menyentuh sesuatu dan harus menjual ginjal untuk membayarnya."
Thomas tertawa keras.
Beberapa pengunjung menoleh.
Namun ia tidak peduli.
Untuk pertama kalinya malam itu aku melihatnya tertawa tanpa beban.
Dan anehnya, aku ikut tersenyum.
Percakapan kami mengalir begitu saja.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang mimpi.
Aku menceritakan ibuku.
Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada sikap meremehkan.
Tidak ada tatapan kasihan.
Hanya perhatian yang tulus.
Hal itu membuatku nyaman.
Terlalu nyaman.
Sampai aku lupa bahwa pria di depanku berasal dari dunia yang berbeda.
Namun kenyataan selalu datang pada waktunya.
Saat kami keluar dari restoran, seorang wanita cantik menghampiri Thomas.
Wanita itu tinggi, elegan, dan terlihat seperti model majalah.
"Thomas."
Suaranya lembut.
Thomas langsung berhenti.
Aku melihat perubahan di wajahnya.
Bukan terkejut.
Melainkan tidak nyaman.
"Katherine."
Wanita itu menatapku sekilas sebelum kembali memandang Thomas.
"Ayahmu mencarimu."
Aku merasa seperti penyusup.
Jelas sekali wanita itu berasal dari kalangan yang sama dengan Thomas.
Cantik.
Kaya.
Berkelas.
Sementara aku hanya gadis biasa dengan gaun kantor sederhana.
"Kau siapa?" tanyanya padaku.
Aku tersenyum sopan.
"Dinda."
Tatapannya berubah.
Seolah sedang menilai.
Mengukur.
Dan hasilnya jelas tidak memuaskan.
"Oh."
Hanya satu kata.
Tetapi cukup membuatku memahami posisiku.
Thomas menyadari hal itu.
Ia melangkah sedikit lebih dekat kepadaku.
Gerakan kecil yang membuat Katherine mengeraskan rahangnya.
"Aku akan mengantar Dinda pulang."
Nada suara Thomas tegas.
Katherine tersenyum tipis.
Namun matanya dingin.
"Sampai jumpa di pesta keluarga minggu depan."
Lalu ia pergi.
Aku mengembuskan napas panjang.
"Pacarmu?"
Thomas menggeleng.
"Tidak."
"Tapi dia cantik."
Thomas menatapku beberapa detik.
"Aku tidak memperhatikannya."
Entah kenapa jantungku berdebar mendengar jawaban itu.
Dan aku membenci diriku sendiri karenanya.
---
Malam semakin larut ketika Thomas mengantarku pulang.
Mobil mewahnya berhenti di depan gang kecil tempat kontrakanku berada.
Thomas memandang lingkungan sekitar.
Rumah-rumah sederhana.
Jalan sempit.
Lampu yang redup.
Dunia yang sangat jauh dari kehidupannya.
Untuk pertama kalinya aku merasa malu.
"Aku tinggal di sini."
Thomas mengangguk.
"Nyaman?"
"Cukup."
Aku hendak turun ketika ia memanggil namaku.
"Dinda."
Aku menoleh.
Tatapan matanya membuatku gugup.
"Aku senang makan malam tadi."
Aku tersenyum.
"Aku juga."
Untuk beberapa detik kami hanya saling memandang.
Tidak ada yang berbicara.
Namun sesuatu terasa berbeda.
Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Sesuatu yang berbahaya.
Karena untuk pertama kalinya sejak bertemu Thomas Abraham, aku mulai menyadari satu hal.
Aku sedang jatuh cinta.
Dan itu adalah masalah besar.
Masalah yang jauh lebih besar daripada kemiskinan.
Lebih besar daripada perbedaan status.
Lebih besar daripada apa pun yang pernah kuhadapi.
Karena pria yang mulai mengisi pikiranku setiap malam adalah pria yang seharusnya tidak pernah kucintai.
Pria yang hidup di dunia yang tidak akan pernah menerimaku.
Dan aku belum tahu bahwa cinta itu akan menyeretku ke dalam pilihan-pilihan yang kelak membuatku harus menentukan satu hal:
Memilih cinta...
Atau menyelamatkan diriku sendiri.
Bersambung ke Bab 2...