Setelah kejadian itu aku semakin semangat untuk berangkat bekerja. Rasanya gak pengen ada hari sabtu dan minggu. Maunya semua hari jadi weekday saja. Semua pekerjaan jadi terasa ringan, apalagi beberapa kali tim kami langsung terlibat dengan Nashby untuk pemasaran beberapa produk jasa yang ditawarkan oleh perusahaan periklanan tempatku bekerja.
Seperti pagi ini akan ada rapat mingguan yang akan di pimpin oleh Nashby untuk membahas rencana proyek masuk dan deadline masing-masing pekerjaan. Aku sudah siap dengan laptop dan materi presentasi yang tersaji di hadapanku. Rapat masih akan dimulai lima belas menit lagi, tapi aku dan Rey sudah berada di ruangan itu untuk berdiskusi dan membenahi materi-materi presentasi.
Hari ini Rey memberiku kesempatan untuk menjelaskan materi di Departemen Pemasaran oleh tim yang disupervisi Rey. Walaupun sikap Rey membuatku kadang muak, tapi aku akui dia pemimpin yang cukup baik karena memberikan kami kesempatan untuk berkembang. Dia tidak membedakan karyawan senior dan junior. Baginya kami satu tim yang sama dan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
“Lama-lama makin kompak deh Pak Rey dan Adek Alsha ini,” ucap Mbak Fika yang masuk ruangan dengan kerlingan mata menggodaku.
Aku mengernyitkan dahiku dan mulai mengamati penampilan Rey yang berada disampingku. Hmm.. jelas bikin salah paham. Aku memakai blouse berwarna putih dengan rok berwarna merah muda, sedangkan Rey menggunakan celana berwarna putih dengan kemeja berwarna merah muda. Biasanya aku sudah badmood kalau baju mulai di notice kembaran dengan Rey, tapi mungkin karena sangking seringnya. Kayaknya aku harus belajar untuk mulai tidak peduli.
Godaan Mbak Fika cuma aku balas gelengan saja. Sedangkan bosku seperti biasanya hanya nyengir saja tidak pernah berniat membalas ucapan rekan-rekan kami.
Tidak lama setelahnya Pak Daniel dan beberapa supervisor dari tim lain di bagian Pemasaran mulai masuk ke ruangan rapat ini. Kami saling menyapa dan beberapa diantara mereka sudah pasti menggodaku dan Rey dengan tema pakaian kami. Aku sebenarnya juga heran, kenapa bisa aku dan Rey selalu beberapa kali berpakaian dengan warna yang sama tanpa janjian. Ditengah candaan kami, semuanya tiba-tiba hening ketika Nashby datang. Dia menatapku sekilas lalu kembali berjalan menuju kursi khusus pimpinan rapat
Aku segera membuka rapat setelah Nashby memberikan isyarat pada Pak Daniel untuk memulai rapat. Aku menyampaikan beberapa poin penting dengan baik dan diterima oleh seluruh peserta rapat. Sebagai orang yang menyampaikan presentasi rapat, jelas semua mata pasti tertuju padaku. Tapi ditatap oleh Nashby, membuat beberapa kali bibirku bergetar karena gugup. Untungnya aku masih bisa mengendalikan diriku dan menguasai materi dengan baik.
“Mungkin ada tambahan dari yang lain, sebagai perbaikan untuk bisa kami gunakan dalam menggaet klien, bapak? Ibu?” Ucapku kepada para peserta rapat.
“Saya rasa ini cukup bagus, mengingat kita adalah perusahaan periklanan. Desain presentasi dan isi materi serta penawaran yang diberikan cukup kompetitif untuk target pasar perorangan. Itu karena sekarang mulai banyak juga orang-orang menggunakan billboard untuk menyampaikan pesan. Bagaimana menurut Pak Nashby?” komentar Pak Daniel.
“Saya juga setuju. Untuk pemasaran lapangannya di handle langsung oleh tim kalian? Per tim atau perorangan? Atau tim lain lagi nanti yang memasarkan?”
“Baik Pak, mungkin bisa saya bantu jelaskan,” ucap Rey yang sejurus kemudian sudah berdiri dan menghampiriku.
“Lo buka presentasi soal pemasaran ya, biar gue yang presentasi soal ini,” ucapnya lirih didekat telingaku. Aku mengangguk saja dan segera berlalu menuju tempat duduk yang tadi digunakan oleh Rey. Kubuka presentasi yang diminta dan Rey mulai menjelaskan beberapa hal.
Semenjak duduk kembali, ekor mataku menangkap Nashby yang sesekali menatapku ketus. Aku jadi berpikir apa ada yang salah atau kurang dari materiku tadi, sehingga dia terlihat garang. Selesai Rey memberikan presentasinya, Ia diminta duduk oleh Nashby.
“Terima kasih untuk presentasinya. Saya rasa cukup, saya hanya perlu tunggu laporan bulanannya. Terima kasih. Kalian semua bisa kembali ke ruangan kerja masing-masing,” ucap Nashby dengan datar.
Satu persatu dari peserta rapat meninggalkan ruangan ini, tinggal aku dan Rey yang masih berkutat untuk membereskan berbagai bawaan untuk presentasi tadi. Kami berdua tentu tidak sadar bahwa Nashby masih disana, sampai mataku menemukan manik matanya menatapku lekat. Aku jadi mematung beberapa saat sebelum akhirnya Rey membuatku memutus pandangan kami dengan suaranya.
“Ada yang bisa kami bantu, Pak?” Ucap Rey yang menegakkan badannya.
“Gak ada, kalian lanjutin aja. Saya masih mau disini,” jawab Nashby santai. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan muka yang ingin sekali ku timpuk karena sok cool.
Rey hanya mengangguk. Aku yang semula ikut terdiam mendengar percakapan mereka akhirnya ikut kembali membereskan barang bawaan kami.
“Permisi Pak,” ucap Rey yang kusambut dengan senyuman dan anggukan ke arah Nashby sebagai rasa sopan santunku.
“Ya.”
Akupun berjalan beriringan dengan Rey menuju ruangan kami. Rey ini sok merasa kuat sekali. Dia benar-benar tidak mau dibantu membawa lebih banyak bawaan. Padahal tangannya sudah kesusahan membawa file dan laptop di kedua tangannya. Kalau orang lihat kan kesannya aku gak sopan karena membiarkan supervisorku membawa semuanya sendiri.
“Romantis banget nih pasangan sejoli. Makin lama keliatan makin cucok,” ucap Mbak Fitri karyawan departemen lain yang berpapasan dengan kami.
“Jangan bikin gosip, Mbak. Pamali!” kataku dengan cebikan.
“Hahahaha.. Kok Pamali, sih. Bukannya dosa? Eh, aku gak gosip taauukk. Memberikan pandangan aja, kalau kalian cocok!”
“Hmm..”
“Amin deh. Doain emang jodoh ya..” ucap Rey dengan terkekeh.
“Pasti!” ucap Mbak Fitri dan Rey diakhiri dengan tos. Lah, gimana dua orang ini.
“Eiittttssss! In your dream aja Mas Rey!” kataku yang langsung meninggalkan keduanya yang gak jelas menggodaku.
“Eh, Sha. Bantuin bawa! Kok ditinggal, sih!” teriak Rey yang bisa kudengar dari jarak yang sudah agak lumayan jauh. Huuu.. tadi gak mau dibantuin. Sekarang malah panggil-panggil aku. Aku tidak menghiraukan ucapannya dan makin semangat kembali ke ruanganku dengan langkah lebar. Bodo amat lah.
Sesampainya di mejaku, aku mengambil botol minumku dan meneguk hampir setengahnya. Lelah sekali berjalan dengan cara tadi untuk sampai ke mejaku. Rasanya otakku akan meledak. Bukan karena memikirkan tingkah absurd Rey dan Mbak Fitri, tapi karena kepikiran dengan tatapan mataku yang berulang kali bertabrakan dengan manik mata hitam legam milik Nashby. Bahkan kami saling pandang untuk waktu yang lumayan lama. Aku merasakan tatapan teduhnya, bukan tatapan intimidasi. Boleh gak sih aku percaya diri bahwa tatapan itu adalah tatapan tertarik? Haduh, Mimpi terus! Aku jadi menghembuskan nafasku kasar. Aku harus bangun dan menghadapi kenyataan bahwa tidak akan semudah itu rosalinda, membuat bos dari bos – bos mu jatuh cinta sama kamu. Gapnya sangat jauh.
“Yaaa.. malah senyum-senyum sendiri. Nih, Filenya beresin. Enak banget main kabur gitu aja. Bukannya dibantuin!” Omel Rey yang menghampiriku di kubikel kerjaku.
"Tadi katanya bisa sendiri. Sekarang ngomel. Huu!”
“Ck!”
“Eeh..merajuk lah si Abaaang,” godaku sambil mencubit dagunya karena gemas.
“Lagi, Sha!”
Nah ini, bego emang aku, bisa aja ngasih celah buaya darat buat minta-minta. Duh tangan! Aku hanya menghela nafas kasar lalu mengambil tumpukan dokumen untuk ku kembalikan ke lemari berkas.
“Shaa..”
“Ekhem!” suara deheman itu mampu membuat seisi ruangan hening. Semua mata kurasa tertuju dengan sosok yang berada di dekat pintu masuk ke ruangan kami.
“Disini bukan tempat pacaran. Bisa kalian bersikap profesional?”
Yaelaah, si Bapak. Kayak kanebo kering. Kaku amat! Gak ada yang pacaran loh ini disini. Namanya juga bercanda, masa gak boleh? Aku jadi melotot ke arah Rey yang menatapku. Dia hanya mengangkat kedua alisnya.
“Maaf Pak,” ucap Rey santai.
Kampret, ngapain minta maaf. Orang kita gak pacaran. Sesaat kemudian Nashby yang kaku kayak kanebo kering ini melangkah ke arahku. Dia berhenti di samping tubuhku.
“Jaga sikap kamu di kantor!” ucapnya tajam dengan suara yang memang tidak keras tapi cukup bisa kudengar.
Lah, gimana? Kok aku kena marah? Saat dia kembali melangkah yang rupanya menuju ruangan Pak Daniel, seketika itu aku langsung melotot ke arah Rey.
“Kenape?” ucap Rey tanpa suara dan kujawab dengan memalingkan muka.
Aku bergegas menata semua file yang disuruh merapikan tadi dengan bibir yang udah monyong tanda gak terima dimarahi karena dianggap gak profesional pas kerja karena pacaran sama Rey. Gila ya punya bos masih belum matang, belum berumah tangga. Galaknya ngalahin wanita PMS. Terkadang aku bisa terpesona sama sikapnya yang diam-diam perhatian gitu, tapi kadang bisa benci setengah mati sama sikapnya yang sok jual mahal itu. Aduh, emang orang mahal itu beda.
***
Siang ini, aku dan anak-anak pemasaran dari tim Rey berencana untuk makan di restoran dekat kantor karena sedang bosan dengan menu di kantin kantor. Kami berjalan beriringan menuju restoran sushi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor.
Sesampainya disana, aku duduk diantara Mbak Fika dan Ratna sedangkan di hadapan kami ada Rey dan Iqbal. Di tim yang dipimpin Rey, kami memang hanya ada lima orang. Semenjak beberapa bulan lalu aku bergabung, sudah tak terhitung berapa kali kami makan diluar bersama-sama seperti ini. Makan siang di sebuah restoran yang harganya tidak murah bagiku yang merupakan anak perantauan, harus kos, dan gaji awal sebagai pemula yang jika dibandingkan dengan seniorku pastilah sangat jauh. Tapi, tenang saja. aku jarang sekali membayar. Ke-empat seniorku selalu membayar secara bergantian dan ya paling sering ya Rey dan Mbak Fika.
“Gak kerasa ya, udah hampir sebulanan ini bos kita ganti,” ucap Ratna senior yang berumur diatas umurku dua tahun.
“Iya. Lumayan sih, walaupun suasananya gak seceria kalo Hans yang megang, tapi gue lumayan bisa ngikutin ritmenya,” ucap Mbak Fika dengan manggut-manggut.
“Gimana rasanya Mas Rey di pimpin anak yang lebih muda?” tanya Ratna dengan wajah antusias.
“Biasa aja. Dia kan emang yang punya perusahaan. Lagipula selama ini dia gak ribet juga soal kantor. Kebanyakan ide di support dan kasih feedback yang bagus juga,” jawab Rey sambil meminum teh ocha yang sudah tersedia di hadapan kami.
“Iya sih, tapi dinginnya itu lho! Bikin gue gak bisa napas. Dia seumuran kan ya sama gue? Tapi emang mungkin keturunan kali, ya. Cukup karismatik menurut gue,” timpal Iqbal.
“Bahasa lu.. karismatik. Tua banget!” ucap Ratna sambil terkekeh.
“Iya sih, masihdua puluh tujuh tahun. Tapi dia lulusan Harvard. Gila kan? Cinta Laura aja ogah suruh sekolah disana. Kalau kata anak gen z mental health matters,” seloroh Mbak Fika. Semua pun jadi tertawa mendengar ucapan Mbak Fika.
“Itu kali ya, yang bikin dia kelihatannya ketus banget sama gue. Duh, apalagi hari ini.” Rey berkata dengan gelengan kepala.
“Nih, fans fanatiknya Nashby nih. Asik banget nyemilin nori! Astaga! Laper banget Sha?” gerutu Mbak Fika yang kujawab dengan cengiran. Hehe.. asli aku laper banget. apalagi moodku tadi sempet terjun bebas gara-gara si Nashby sok cool itu protes gak jelas.
“Ih, biarin Fika!! Shantik lagi laper. Makan yang banyak yaa Shanttiiiikkk..” Ucap Rey sambil mengusap kepalaku.
Aku yang sedang asyik ngemil jadi menghentikan kunyahan ku. Kutatap laki-laki di hadapanku dengan datar, sedangkan yang lain sudah menunjukkan berbagai ekspresi, salah satunya kuyakin ekspresi geli atas tingkah laku Rey.
“Gimana ya, Rey. Lo dibilang suka kayak lagi main-main. Dibilang main-main lo suka malu-malu kalo lagi di godain bos-bos. Lo suka beneran gak sih sama Alsha?” tanya Mbak Fika.
Uuuuhh.. asli pengen ku getok kepalanya pakai gelas kaca didepanku ini. Biar sadar dia. Gak penting banget nanyanya. Sebel! Aku cuma bisa nunjukin ekspresi cengo dengan pertanyaan Mbak Fika. Beruntungnya sebelum dijawab, makanan yang kami pesan datang. Satu set sushi yang ditata apik di atas miniatur kapal, yang kupikir gak penting juga sih ditata kayak begini. Gak ada faedahnya juga selain estetika. Bodo amat lah, aku mau makan pokoknya.
“Alsha nih, kalau soal makanan cepet banget. Alsha!” tegur Ratna.
“Apa sih mbak? Makan.. udah makan.”
“Ya santai aja dong, Sha. Kayaknya kelaperan banget deh?” ucap Mbak Fika yang kujawab hanya dengan anggukan dan disahuti dengan tawa renyah dua orang dihadapanku. Aku sudah gak peduli gengsi kalau di depan mereka.
“Jadi gimana, Sha. Lo masih tetep naksir Nashby? Gak pindah haluan aja ke Mas Rey?” Celetuk Ratna.
Uhuk!
Nasi yang sedang ku kunyah sempat menyembur keluar, untung tidak banyak.
“Alsha! Jorok ih!” ucap Ratna dengan nada jijik. Sedangkan aku sendiri masih memandang dengan tatapan aneh ke arah Ratna. Sumpah pertanyaannya tidak mutu sama sekali. Aku gak akan milih dua-duanya. Semuanya aneh!
***