BERISIK!

2152 Words
*FLASHBACK ON* Aku pagi itu menggunakan kemeja biru dan celana putih tiga perempat yang terlihat pas di kakiku. Rambut yang sudah aku ikat seadanya dengan poni miring yang biasanya selalu on saat aku bekerja, kali ini terlihat berantakan. Sepatu dengan tinggi tujuh senti tidak menghalangi langkahku untuk segera berlari menuju lift. Aku telaaaatt!! Ya ampun, ini hari pertama bos baru akan masuk. Anak kedua dari keluarga Danuardara akan mengambil alih operasional perusahaan tempatku bekerja mulai hari ini. Astaga! Dia laki-laki yang sering masuk di surat kabar, portal berita online, akun gosip di sosial media, dan merupakan laki-laki most wanted di seantero Jakarta. Aku tidak boleh mengacaukan penilaiannya terhadapku sekarang. Sebagai generasi terkini, tentu saja aku tahu bahwa kelas-kelas sosial di kota ini tidak main-main. Siapa anak siapa? Rumahnya dimana? Bagaimana circle pertemanannya? Hal itu merupakan penentu seberapa sukses kehidupan kita. Sebagai anak baru lulus perkuliahan kemarin sore dan melanjutkan bekerja di kota impian sebagian besar anak daerah, bertemu orang-orang 'gaul' di kota ini yang biasanya hanya di temui di dunia maya merupakan sebuah hiburan tersendiri. Nashby Danuardara, Laki-laki yang banyak muncul di konten vlog anak-anak hits Jakarta dan sekarang dia menjadi bosku. Rasanya seperti mimpi bertemu laki-laki yang digilai oleh hampir seluruh wanita di negara ini mungkin. Ting! Pintu lift terbuka. Aku segera berkaca di sela pantulan dinding lift yang seperti cermin itu. Membenarkan sedikit letak poniku. Saat aku masuk ke dalam ruangan itu, suasananya hening dan suara sepatuku yang beradu dengan lantai membuat karyawan yang sedang berkumpul di tengah ruangan menatapku. Aku jadi menggigit bibir bawahku dan nyengir saja, pura-pura bodoh. Ku seret kakiku agar tidak berisik tapi semua orang makin melihatku. Alamak! Aku jadi berjalan cepat dan bergabung dengan semuanya, lalu mendapati Direktur perusahaanku sedang menatapku dan aku menundukkan kepalaku canggung. Aku menelan salivaku dengan susah. “Oke jadi kita lanjutkan..” Ucap Pak Hans, Direktur Utama yang saat ini bekerja untuk perusahaanku. Aku segera menegakkan kembali kepalaku untuk menatap ke arah para bos yang berkumpul di depan. Aku merasa sedang diperhatikan oleh seseorang. Dengan takut-takut aku menoleh ke arah itu. Ya Tuhaaann, ganteng sekali! Aku tahu itu Nashby Danuardara. Dia menatapku tajam dengan muka datar yang seolah-olah mengatakan ‘Masih gue pantengin lu!’. Aku jadi menelan salivaku lagi. Gila, seram sekali. Aku memilih untuk mengalihkan pandanganku setelah acara saling tatap beberapa saat itu. Aku menggigit bibir bawahku tanda takut kena masalah. “Silahkan untuk, Pak Nashby untuk menyampaikan sepatah dua patah kata untuk seluruh karyawan disini. “ Ucap Pak Hans dengan senyuman merekah. “Saya hanya akan berpesan, semoga kita semua bisa saling bersinergi dalam meningkatkan mutu perusahaan. Saya mohon bantuannya.” Ucap Nashby singkat dengan senyuman tipis di bibirnya. Jujur saja, si Nashby ini memang pembawaannya cool. Itu yang sering aku lihat di video blogging anak hits yang beredar. Dia cukup asyik disana walaupun cara tertawanya tak bisa selepas teman-temannya. Melihat langsung aslinya ternyata diluar ekspektasiku. Dia sangat dingin. Brr! Lebih ke arah seram. Kayaknya dia bukan bos yang asyik. Aku jadi tidak sadar bahwa sudah mengangkat kedua sudut bibirku dan menampilkan senyuman aneh di wajahku. “Hei, Sha! Lo mau sampe kapan berdiri disitu! Lo diliatin bego', sama Pak Nashby! Balik!” Bisik laki-laki di sampingku yang langsung menyadarkanku pada level kesadaran penuh. “Anjir!” Bisikku lirih. Aku langsung mengangguk canggung dan menunjukkan senyuman yang mungkin keliatan aneh ke arah Nashby.Sudah berapa lama aku melamun hingga tidak menyadari orang-orang sudah pergi dari sekitarku. Aku segera beranjak ke bilik kerjaku dengan tergesa. Jantungku berdetak cepat seperti habis marathon berkilo-kilo meter. Aku mengambil botol minumanku dan meneguk airnya dengan cepat. “Uhuk!” Aku tersedak oleh air minum sialan yang ku minum ini. “Pelan-pelan, Sha. Gak ada yang buru-buruin.” Ucap Mbak Fika yang merupakan seniorku di kantor dan duduk disampingku. “Ekhem!” Aku mencoba mengurangi rasa sakit di tenggorokanku dengan batuk yang ku sengaja. “Lo tumben telat, Sha. Bukannya elo yang semangat pengen ketemu Pak Nashby.” “Iya nih, semalem keasyikan baca novel sampe gak sadar udah jam tiga pagi. Gue keliatan kacau banget ya mbak?” Ucapku dengan cebikan sambil mencari kaca yang ditaruh di laci untuk aku berdandan. Sebagai anak marketing, aku harus selalu cantikkan? Jadi jangan tanya bagaimana lengkapnya laciku yang mirip seperti mini salon. “Bete gue kalo udah ngomong sama lo! Lo kacau segini cantiknya, gimana kalau lo gak kacau? Udah deh, lo paling shining, shimmering, splendid deh! Pak Nashby aja ngeliatin lo mulu!” “Ngejek mulu!” “Gak usah ngomong, Sha. Takut gue nampol muka lu.” Ucap Mbak Fika dengan tangan yang udah mulai menari diatas keyboard yang bisa menyala warna-warni, yang dia beli sendiri via online untuk dipakai dikantor. “Isshh!” Aku mencebik dengan jemari mulai menyalakan komputer. Sambil menunggu komputerku siap, aku berkaca dan membenarkan riasan wajah. Memoleskan lipstik berwarna nude yang sangat cocok dengan warna kulitku. Aku juga menata poni untuk menutup dahiku dengan sempurna. “Cantiiiiikk..” Suara laki-laki yang sudah kukenal itu menyapa telingaku. Aku jadi menatapnya dengan tatapan malas. Sudah tujuh bulan ini aku bekerja di kantor ini dan selama itu pula, suara laki-laki ini menyapaku setiap pagi. “Makin lama, makin galak aja sih neng Caca.” Ucapnya menggoda. Aku menghela nafas panjang. “Kenapa?” Tanyaku singkat pada laki-laki yang menjadi ketua timku itu, Rey. “Temenin gue laporan ke Pak Nashby sama Pak Hans ya. Buat nyampein progres di Tim kita.” “Kok gue? Kan gue baru. Mbak Fika aja deh, Mas.” Aku suka bagian ketemu duo bos tampan bersaudara, tapi bagian nyampein laporan. O.M.G! Aku tidak mau kelihatan bodoh. Reputasiku sudah hancur saat tadi telat. Aku tidak mau menambahkan list ke ilfeel-an mereka. “Lo kan icon tim kita.” Mulutnya, pengen ku setrika. Aku merasa seperti patung pancoran yang menjadi salah satu icon Kota Jakarta. Gila! Menyebalkan! Aku jadi mendengkus kesal dan kembali menatap layar komputerku. Membuka file-file yang sudah akan aku kerjakan. “Gue anggep iya. Oke, lima belas menit lagi ya. Materinya gue kirim via chat, Sist.” Ucapnya dengan senyuman manis lalu beranjak menuju ke mejanya. Dasar ketua sialan! Mau dijawab gak dijawab dia pasti maksa. Gak ada pilihan selain jawaban ‘ya’. Kampret banget punya supervisor macem dia. Aku jadi terburu membuka aplikasi pesanku dan mengunduh materinya melalui tabku. k****a materinya dan menyadari bahwa semua materi ini dibuat oleh Mbak Fika kemarin. “Mbak Fik ini bukannya yang lo kerjain kemarin?” Mbak Fika menghentikan pekerjaannya dan mengecek laporan yang ku tunjukkan. “Iya. Ini nanti lo jelasinnya berdasarkan tabulasi yang kanan ya. Terus untuk prosentasenya lo jelasin satu-satu maksudnya, dan..” “Mbak, lo aja yang maju.” Ucapku dengan nada memohon. “Gue gak bisa, Sha. Selain karena lo yang ditunjuk si kampret, gue juga harus nyerahin draft presentasi klien jam sepuluh ini. Gue bakal keluar sama anak tim sebelah buat ketemu calon klien.” Ucap Fika dengan ekspresi menguatkanku seolah mengatakan lewat sorot mata ‘lo pasti bisa, Alshamira!’ Haaassshhh! Sebel. Aku jadi cemberut sambil membaca ulang mengenai laporan-laporan yang akan dipresentasikan di hadapan dua orang anak pemilik perusahaan ini beserta dengan jajaran bos di departemenku. “Ayo, cantik. Jalan!” Ajak Rey dengan senyuman mengembang dan muka penuh kemenangan. Aku pun beranjak hanya membawa tablet sebagai bahan presentasi. Sepanjang melewati kaca yang bisa kugunakan untuk mengaca, aku berusaha untuk merapikan diriku. Tidak lupa aku merapikan anak-anak rambut disekitar wajah. Aku sengaja menggerainya setelah tadi menguncirnya. Supaya kelihatan profesional dan lebih rapi. “Serasi banget deh, kalau liat Rey sama Alshamira barengan. Selalu klop gitu bajunya.” Ucap General Managerku, Pak Daniel. Aku jadi otomatis memperhatikan penampilan rekan sejawatku itu. Benar saja, dia pakai warna biru muda sama dengan warna bajuku dan dipadukan celana berwarna cream muda. Setelah itu kulihat wajah Rey sudah cengar-cengir dengan telinga merah padam. Aku merasa creepy melihat tingkahnya. Aku tidak merasa senang di sukai cowok metroseksual macam Rey. Bukannya tidak tampan, tampan banget malah, tapi aku yakin dia punya wanita lusinan diluar sana. Ngeri saja rasanya. Don’t judge book by it’s cover. Emh, tapi sebagai screening awal, melihat penampilan dan sikap, bisa dong dijadikan patokan. Betul tidak? Sesampainya di ruangan big boss, aku segera mengikuti dimana Rey duduk. Bukan karena aku nyaman, tapi disini tugasku memang sudah seperti sekretaris dari sekretarisnya Kepala Departemenku. Aku memandang seluruh isi ruangan ini setelah duduk nyaman di sebuah sofa berwarna hitam. Ruangan ini banyak berubah. Mungkin karena ruangan ini berpindah kepemilikan dari Pak Hans ke Nashby. Terakhir kali aku kesini, saat aku seleksi wawancara akhir sekitar tujuh bulan lalu. Dulu ruangan ini bernuansa putih dan banyak aksen marble dibeberapa tempat. Kini semuanya didominasi berwarna gelap tapi tetap terlihat elegan, berkelas dan nyaman. Ya bos, sih. Udah kaya, dari dulu lagi. Kami menyebutnya old money. Pasti ya sangat berkelas. Asik memperhatikan interior ruangan ini aku jadi gak sadar bahwa duo bos besar itu sudah duduk di kursi kebesaran mereka. “Apa kabar Alshamira? Tadi kenapa telat, Al?” Tanya Pak Hans dengan senyuman ramahnya. Pak Hans ini memang paling top buat mengingat nama-nama karyawannya. Beliau disegani bukan karena statusnya sebagai direktur, tapi karena keramahannya dan cara kepemimpinannya yang memang patut diacungi jempol. Sedih sih, sosok Pak Hans harus digantikan. “Maaf, pak. Kesiangan.” Ucapku jujur. Gak tau lah, polos apa bodoh. otakku tidak bisa diajak berpikir. Aku hanya nyengir saja menjawab seperti itu. berani banget kan aku. Jangan coba sama bos kalian, ya. Takutnya entar malah di kasih surat peringatan. Pak Hans hanya tertawa, disusul dengan senyuman dan gelengan Pak Daniel dan Rey. Sedangkan Nashby sendiri menatapku dengan datar dan mata tajamnya. Aku jadi tersenyum canggung. Kayaknya si bos baru bakalan gak asik sih. Aku maunya tetap Pak Hans aja yang jadi bos. Nyaliku menciut menghadapi Nashby yang sebenarnya karena tidak sama dengan di aplikasi streaming yang sering kulihat. Tidak berapa lama kami mulai membicarakan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan departemenku. Kupikir ini akan sebentar saja, tapi sampai dengan jam makan siang akan berbunyi kami masih berkutat dengan beberapa laporan dan target serta strategi baru yang diinginkan oleh Nashby. Begitu banyaknya materi yang dibahas kami sampai pindah ke ruang rapat direksi di sebelah ruangan Nashby agar nyaman. Aku juga harus mengambil laptop operasional kantor dan beberapa kali bolak-balik ruangan kerja dan ruangan rapat untuk mengambil dokumen. Rasanya aku ingin ganti sepatu hakku menjadi sandal karena lelah sekali memakai sepatu ini. Aku yakin bagian belakang kakiku juga lecet. Di akhir-akhir menuju jam istirahat aku harus kembali mengambil sebendel laporan di lemari ruanganku. Aku berjalan tertatih menahan sakit. Kupikir tidak ada orang yang sedang memperhatikanku karena semuanya sedang asyik dengan laptop dan laporannya masing-masing. Saat aku sudah agak jauh dari ruang rapat, aku melepas sepatuku dan bermaksud untuk berjalan dengan telanjang kaki untuk mengurangi rasa sakit dan segera sampai di ruanganku. “Gak ada keharusan buat kamu pakai sepatu setinggi itu.” Ucap seseorang yang mengagetkanku karena tiba-tiba berada disampingku. Aku segera menghentikan langkahku dan menatap laki-laki di sampingku. “Eh, Pak Nash. Oh iya, Maaf Pak.” Aku segera meletakkan kembali sepatu yang ku tenteng di tangan kananku untuk kupakai. Ya kali cantik-cantik begini terlihat tidak profesional sekali kan? Berasa seperti berada di rumah saja. Baru aku mau menunduk untuk membenarkan letak sepatuku. Nashby menahan tubuhku, dan dia menatapku datar. “Gak usah di pakai lagi.” Ucapnya. Lah, gimana? Aku telanjang kaki, nih? Malu, asli! Aku yakin dahiku sudah berkerut-kerut. “Pak, ambilin sandal di ruangan saya. Di bawah meja.” Ucapnya pada salah satu OB yang kebetulan sedang membersihkan kaca di dekat kami. “Baik, Pak.” Ucap OB itu, yang kutahu namanya Pak Amir. “Mulai besok jangan pakai sepatu terlalu tinggi. Pakai flat shoes saja cukup. Saya terganggu dengan suara sepatu kamu. Mau konsentrasi tapi kamu mondar-mandir terus. Berisik.” Waduh, aku kesulitan menelan salivaku. “Maaf, Pak.” Cuma itu yang bisa kuucapkan. Aku menggigit bibir bawahku karena gugup. Suasana hening beberapa saat dan beruntungnya Pak Amir segera datang. Ia membawa sepasang sandal jepit yang terlihat panjang sekali. Lah aku disuruh pakai ini? Macam kapal selam sendalnya. Apa ini tidak makin bahaya, jika aku pakai sandal jepit seperti ini? “Sementara pakai ini ya? Nanti dateng lagi habis istirahat aja. Ganti sepatu kamu.” Aku hanya mengangguk saja dan berucap terima kasih lirih. “Yaudah, kamu balik. Ngapain bengong disini?” “Eh, iya pak.” Ucapku sambil berbalik badan. Aku berjalan dengan senyuman mengembang. Meski sandal ini membuatku berjalan mirip donal bebek karena sangat kebesaran, tapi diperhatikan Nashby dengan cara ini jauh lebih banyak rasa bahagianya daripada kesalnya. Baru beberapa langkah, aku mendengar kekehan seseorang, saat aku menoleh. Aku melihat Nashby dengan kedua alis terangkat seolah bertanya ‘apa lu liat-liat?’ dengan wajahnya yang datar. Emh, mungkin hanya salah dengar saja. Aku kembali menganggukkan kepala tanda pamit meninggalkannya dengan senyuman canggung. Aku bergegas kembali ke ruanganku dengan senyuman cerah yang kembali merekah di wajahku. Duh, emang perhatian banget si Nashby ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD