Melinda mendesah pelan saat mengetahui Abi telah membeli tiket untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara Real Madrid versus Barcelona. “Sebenernya kamu nih beneran mau ajak aku jalan-jalan untuk nyenengin aku atau emang kamu sengaja minta ditemenin nonton bola?” ujar Melinda setelah Abi mengatakan padanya bahwa besok mereka akan menikmati liburannya dengan bertandang ke Camp Nou, stadion sepak bola milik FC Barcelona.
“Kan seperti kata pepatah, sambil berenang, minum air. Ya udah, mumpung kita lagi ke Spanyol ya sekalian aja nonton Real Madrid,” balas Abi seraya terkekeh.
“Huh!” keluh Melinda. Namun begitu, ia tetap setia menemani Abi menyaksikan klub sepak bola kesayangannya bertanding.
***
Hari itu Melinda mengenakan kaos dan rok putih. Untuk sepatu dan tas tangannya ia memilih warna hitam. Ia sengaja mengenakan pakaian serba putih untuk menghormati Abi sang Madridistas yang hari itu akan mendukung klub kesayangannya. Sementara itu, Abi mengenakan jersey Real Madrid dan celana jeans panjang berwarna hitam. Mereka tampak sangat ceria saat melangkah menuju stadion Camp Nou yang hari itu akan menjamu lawannya. Sepanjang pertandingan berlangsung, Melinda lebih fokus memainkan ponselnya dibandingkan menyaksikan permainan di lapangan. Saat sedang terkekeh membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Nicky yang membicarakan tentang bos barunya alias Harfandi, tiba-tiba saja Abi dan semua fans Real Madrid berdiri dan berteriak gol hingga membuat Melinda terkejut dan ternganga melihat Abi yang tampak sangat gembira. Suaminya itu bahkan saling merangkul dengan pria di samping kanannya yang juga datang untuk mendukung Real Madrid. Abi mengajak Melinda untuk ikut merayakan gol yang berhasil dicetak pemain dari tim yang didukungnya itu. Melinda pun bangkit dari kursinya dan ikut merangkul pinggang Abi dan meneriakkan kegembiraannya. Permainan di lapangan kembali berlanjut. Sayangnya, kali ini Barcelona yang berhasil mencetak gol. Melinda pun berteriak dan bertepuk tangan hingga mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang yang duduk di tribun pendukung Real Madrid. “Mel, itu Barcelona yang cetak gol, bukan Real Madrid,” bisik Abi yang membuat Melinda ternganga dan menunjukkan seringai kudanya. Abi pun terkekeh melihat ekspresi malu-malu Melinda itu.
***
Setelah menyaksikan laga Barcelona FC vs Real Madrid, Abi mempersilakan Melinda untuk berbelanja apa pun yang diinginkan istrinya itu. Melinda pun membawa Abi ke Passeig de Gracia, sebuah jalan utama di Barcelona yang menjadi area bisnis dan tempat perbelanjaan yang menyajikan berbagai toko dari luxury brand. Walaupun bilangnya bosan dengan hadiah pemberian Abi yang berupa barang-barang dari luxury brand, tetap saja Melinda membeli sebuah tas, jam tangan, dan jaket kulit dari sebuah brand ternama. Tak apalah selama Abi mau dan mampu untuk membelikannya segala yang ia inginkan.
Saat Melinda ditemani oleh seorang Sales Associate untuk memilih berbagai aksesoris yang diinginkannya, Abi mendapatkan panggilan telepon dari Vika. Sebenarnya Abi sudah meminta pada Personal Assistant dan Sekretarisnya untuk tidak mengganggunya dengan pekerjaan selama ia berlibur ke Spanyol, tetapi, panggilan telepon dari Vika mengguggah rasa penasarannya. “Halo,” ujar Abi yang akhirnya menerima panggilan telepon dari Vika.
“Abi, maaf aku telpon kamu,” ujar Vika dengan nada suara yang terdengar seperti orang yang putus asa.
“Ya. Ada apa?”
“Daniar sakit. Dia harus diopname, tapi, aku gak punya uang.”
“Bukannya pihak HR sudah bayar tagihan BPJS? Kamu bisa pakai BPJS untuk biaya pengobatan Daniar.”
“Kamar rawat penuh, jadi, aku harus bawa Daniar ke rumah sakit lain. Hmm, ... a-aku mau bawa Daniar ke rumah sakit swasta yang harganya cukup mahal.”
Dari kejauhan terlihat Melinda sudah memberikan barang-barang yang ingin dibelinya pada Sales Associate yang mendadakan wanita itu akan segera mengakhiri acara berbelanjanya. “Aku transfer 50 juta. Bawa Daniar ke rumah sakit terbaik,” ujar Abi yang tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Vika sebab sebentar lagi Melinda akan kembali datang menghampirinya.
“Terima kasih banyak, ya, Bi.”
“Ya.” Abi segera mengakhiri panggilan telepon Vika sebelum Vika sempat mengucapkan salam. Bukan karena tidak ikhlas memberikan uangnya pada Vika, tetapi, ia tidak ingin Melinda mencurigainya.
“Bi, bayar,” ujar Melinda yang melangkah menghampiri Abi dengan senyum cerianya.
“Ok, Baby!” balas Abi yang segera menghampiri Sales Associate untuk melakukan proses pembayaran.
***
Setelah berbelanja, Abi membawa Melinda ke restoran favoritnya untuk menikmati paella dan segelas white wine sebelum kembali ke hotel. Saat menyantap hidangan makan malamnya, Melinda tampak sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali Melinda terlihat tersenyum saat membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya. “Kamu kemarin-kemarin protes aku sibuk sama iPad dan kerjaan aku selama kita makan bareng, tapi, sekarang malah kamu yang main hp dan cuekin aku,” ujar Abi. Melinda pun terkekeh seraya meletakkan ponselnya di atas meja.
“Aku lagi ngobrol sama Nicky.”
“Oh, ya? Apa kabar dia?”
“Nicky lagi naksir CFO baru di kantor.”
“CFO?” tanya Abi untuk memastikan pendengarannya. Melinda menganggukkan kepalanya yang menjawab pertanyaan Abi dan menyatakan bahwa telinga Abi masih berfungsi dengan baik. “Berapa umurnya?” tanya Abi lagi.
“37 tahun,” jawab Melinda seraya tersenyum.
“Belum nikah?”
“Belum. Masih single dan belum pernah menikah.”
“Wah, good luck, ya, Nicky!”
“Semoga Nicky bisa berjodoh sama Harfandi, ya,” ujar Melinda seraya menatap kedua mata Abi dengan penuh harap.
“Amin,” balas Abi seraya tersenyum. Dengan tulus Abi mendoakan Nicky karena sebenarnya ia tahu bahwa adik kelasnya itu pernah memendam rasa untuknya yang tidak dapat ia balas.
***
Setelah selesai mandi dan mengenakan bathrobe-nya, Melinda duduk di depan meja rias. Ia menyisir rambutnya dan mengaplikasikan body mist ke tubuhnya. Melinda ingin tampil cantik dan seksi di hadapan Abi. Ini adalah bulan madunya yang ke sekian kalinya. Ia ingin menikmati setiap sentuhan hangat dari sang suami. Ia sudah tidak mau memikirkan lagi apakah nantinya ia akan bisa hamil atau tidak. Ia hanya ingin menikmati hidupnya bersama Abi, suami tercintanya.
Setelah memastikan dirinya sudah tampil dalam keadaan paripurna untuk dijamah oleh sang suami, Melinda mendapati suara dering notifikasi dari ponsel suaminya itu. Diintipnya layar ponsel yang terletak di atas nakas di samping ranjang hotel.
From: Vika
[Makasih banyak atas bantuannya, ya, Bi]
Dahi Melinda berkerut saat mendapati nama dari pengirim pesan itu. Apakah Vika yang mengirimkan pesan singkat itu adalah Vika yang dulu pernah dijodohkan dengan Abi? Sudah lama sekali sejak kejadian di masa lalu itu. Untuk apa Abi masih berhubungan dengan Vika? Dari yang pernah didengarnya dari keluarga Abi, Vika menikah tidak lama setelah ia dan Abi menikah dan berangkat ke Amerika.
Abi keluar dari dalam kamar mandi setelah menikmati air hangat untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhnya yang lelah setelah seharian berkeliling kota Barcelona yang indah itu. Melinda segera mengambil ponsel Abi dan menyerahkan ponsel tersebut pada sang pemilik. “Ada pesan dari Vika,” ujar Melinda yang membuat kedua mata Abi terbelalak.
Abi menerima ponselnya dengan berusaha tetap tenang agar Melinda tidak curiga. Abi sangat khawatir Melinda akan marah padanya jika mengetahui ia memperkerjakan Vika sebagai sekretarisnya. Ia juga khawatir Melinda akan memintanya untuk memecat Vika dari kantornya. Abi pun terpaksa berbohong demi menyelamatkan Vika karena saat ini Vika benar-benar membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup dan melunasi utang-utangnya. “Oh, ... ini Vika, sekretaris sementara aku yang gantiin Maulina selama Maulina cuti hamil,” ujar Abi seraya meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.
“Oh, ...,” ujar Melinda seraya dapat bernapas lega walau ia belum sepenuhnya yakin pada ucapan Abi. “Kenapa dia bilang terima kasih ke kamu?”
“Anaknya sakit dan harus diopname, tapi, gak dapet kamar di rumah sakit rujukan, ya udah, aku suruh aja dia ke rumah sakit yang lebih besar. Karena khawatir biayanya mahal, jadi, ... aku kasih uang aja, deh, biar gak ribet.”
“Emang dia gak ada asuransi?”
“Karyawan temporer gak dapat asuransi swasta.”
“Oh, ... Bi, ada baiknya untuk karyawan temporer kamu berikan hak yang sama juga. Karyawan tetap dan karyawan temporer itu kan sama-sama pergi ke kantor, sama-sama mengerjakan pekerjaannya, dan sama-sama memiliki peluang yang sama untuk mengalami sakit atau kecelakaan. Jadi, sebaiknya kamu berikan dia asuransi swasta juga.” Abi tersenyum memandangi Melinda karena ia setuju dengan apa yang disampaikan istrinya itu.
“Kamu benar-benar karyawan HR sejati.” Melinda pun tertawa lepas menerima pernyataan Abi itu. Namun, tawanya memudar saat Abi mulai merangkul pinggangnya dan memberikannya kecupan hangat. Abi menarik tali bathrobe yang menutupi tubuh Melinda hingga si pemilik tubuh memberikan kedipan mata genitnya. Melinda pun menarik kedua tangan pria itu untuk membawanya ke ranjang. Ia sudah tidak sabar menikmati sentuhan yang akan membuatnya merasakan surga dunia.