Hari itu Harfandi ingin menikmati bubur manado. Sayangnya, restoran favoritnya sedang tutup. Tidak masalah bagi Harfandi. Sejak Danar meninggal, ia dapat memanfaatkan Vika untuk diperintahnya melakukan hal apa pun yang ia inginkan. Oleh karena itu, Harfandi menghubungi Vika untuk segera membuatkannya bubur manado. Namun, Vika menolak permintaannya karena Daniar sedang dirawat di rumah sakit. Berhubung ia sedang memiliki waktu luang, ia pun segera mampir ke toko kue untuk membelikan Daniar brownis kesukaannya.
“Halo,” ujar Harfandi saat masuk ke ruang rawat Daniar.
“Om Harfan!” seru Daniar saat mendapati teman ayahnya muncul di kamar rawatnya.
“Hai, Daniar,” balas Harfandi yang segera menyambut pelukan Daniar. “Ini Om bawakan brownis,” lanjutnya seraya memberikan paper bag berisi sekotak brownis.
“Wah, terima kasih, Om!” ujar Daniar dengan kedua mata berbinar dan senyum ceria.
“Terima kasih, ya, Har,” ujar Vika yang segera mengambil alih paper bag berisi sekotak brownis itu untuk disimpan.
“Yo,” balas Harfandi. “Daniar lagi gambar?” tanyanya pada Daniar.
“Iya, Om, lagi gambar rumah,” balas Daniar. “Oh, iya, kita gambar diri kita, yuk, Om,” ajaknya.
“Boleh.” Harfandi pun membantu Daniar mewarnai tiga orang yang digambar oleh anak kecil itu. Ketiga orang itu adalah Harfandi, Vika, dan Daniar.
Harfandi pamit pulang saat suster menghampiri kamar rawat Daniar untuk mengatakan bahwa jam besuk telah usai. Vika pun mengantarkan Harfandi ke lobby.
“Makasih, ya, Har, udah mau jenguk Daniar,” ujar Vika.
“Keren juga ya asuransi kantornya Abi. Limitnya cukup untuk biaya berobat di rumah sakit ini,” ujar Harfandi tanpa niat membalas ucapan terima kasih Vika.
“Ini Abi yang bayar, bukan dari asuransi.”
“What? Kamu kasih tau Abi tentang Daniar?”
“Iya. Aku panik karena kamar rawat rumah sakit rujukan Daniar penuh, jadi, aku harus bawa Daniar ke rumah sakit mewah ini. Awalnya Abi cuma transfer 50 juta, terus, karena khawatir tagihan membengkak, aku minta tolong lagi ke dia. Syukurlah dia mau ngasih sebanyak itu lagi.”
Mendengar jawaban Vika, terbit seringai di wajah Harfandi. Ia mendapatkan ide cemerlang. “Kasih kertas ini ke Abi,” ujarnya seraya menyerahkan selembar kertas gambar hasil karyanya dan Daniar pada Vika. Daniar memang memberikan kertas gambar itu pada Harfandi untuk disimpannya tetapi, ada hal lain yang jauh lebih penting.
Vika mengerutkan dahinya seraya menatap Harfandi karena tidak mengerti untuk apa Harfandi memintanya melakukan hal tersebut. “Untuk apa?”
“Bilang gambar ini dari Daniar karena dia mau ngucapin terima kasih ke om Abi yang udah bayarin biaya rumah sakitnya. Bilang aja yang di gambar ini adalah dia, kamu, dan Abi.”
“Mana mau Abi sama gambar anak kecil kayak begini.”
“Kasih saja ke Abi. Dia pasti senang karena Daniar berterima kasih ke dia. Lagipula, dia mungkin akan tersentuh hatinya dan menganggap Daniar sayang sama dia. Dengan begitu, kamu bisa tambah dekat sama Abi. Itu kan yang kamu mau?” Vika pun memahami maksud Harfandi itu. Ya, dia bertekad untuk melakukan apa yang diusulkan Harfandi.
***
Setelah menikmati liburannya di Spanyol, Abi dan Melinda kembali pulang ke Jakarta dan kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Abi membagikan oleh-oleh berupa spanish fan abanico yang merupakan kipas tangan khas Spanyol, ibiza love balls yang merupakan camilan berbentuk bola-bola dengan aroma khas yang berasal dari pulau Ibiza, dan turron, yakni nougat tradisional Spanyol, pada para karyawannya. Semua orang pun tampak bergembira menerima oleh-oleh khas Spanyol itu. Berhubung mood Abi tampak sedang baik, Vika pun memberanikan diri untuk menghampiri Abi di ruang kerjanya.
“Abi,” panggil Vika.
“Hai, Vika. Gimana Daniar?” tanya Abi dengan wajah tersenyum. Vika pun menebak bulan madu yang ke sekian kalinya Abi dan Melinda berjalan dengan sangat baik dan menyenangkan.
“Sudah jauh membaik. Terima kasih banyak atas bantuannya, ya, Bi.”
“Iya, sama-sama.”
“Oh, ya, Bi, ... hmm, ... a-aku mau ngasih kamu ini,” ujar Vika ragu-ragu seraya memberikan Abi sebuah kertas gambar hasil karya Daniar dan Harfandi. Abi pun menerima kertas itu dan meneliti gambar di atasnya. “Itu gambarnya Daniar. Kata Daniar, ... orang-orang di gambar itu ... dia, aku, dan ... kamu, Bi.” Ucapan Vika itu berhasil membuat Abi terkejut dan mengalihkan pandangannya dari gambar tersebut.
“Danar?” tanya Abi seraya menatap Vika.
“D-danar meninggal waktu Daniar masih sangat kecil, jadi, dia gak punya memori tentang ayahnya.”
“Oh, ... tapi, kamu gak bilang ke dia aku ini ayahnya, kan?” tanya Abi lagi seraya kembali memandangi kertas gambar di hadapannya.
“E-enggak, kok, Bi. Aku bilang kamu itu teman ayahnya. Dia paham itu.”
“Thanks untuk gambarnya,” ujar Abi seraya mengambil paper bag dari atas meja kerjanya. “Ini ada oleh-oleh untuk Daniar, tapi, bilang ke dia, ini gak gratis. Dia harus gambarin om Abi, dirinya, ibunya, dan ayahnya.”
“Iya, Bi. Nanti aku minta Daniar untuk bikin gambar baru untuk kamu. Makasih oleh-olehnya, ya.”
“Sama-sama. Ya sudah, saya mau kembali kerja.”
“Baik, Bi. Aku permisi.”
“Ya.”
Vika kembali ke meja kerjanya dan mengembuskan napas leganya karena ia lancar berbohong di hadapan Abi. Ia khawatir Abi akan curiga karena Daniar tidak terlalu akrab dengannya dan berpikir tidak mungkin Daniar mau menggambar dirinya. Ia pun segera mengirimkan pesan pada Harfandi untuk mengabarkan bahwa ia telah sukses melaksanakan perintah pria itu untuk memberikan kertas gambarnya pada Abi.
***
Pukul 9 pagi Harfandi baru tiba di kantornya. Kemarin ia bekerja lembur sampai hingga tengah malam sehingga pagi ini ia memutuskan untuk lebih santai datang ke kantornya. Kedua matanya terbelalak saat mendapati sebuah paper bag di atas meja kerjanya. “Ini ada oleh-oleh dari Melinda, Pak,” ujar Ghea yang mengikuti Harfandi ke ruang kerjanya untuk memberikan dokumen penting untuk diperiksa bosnya itu.
“Oh,” balas Harfandi yang teringat bahwa Melinda baru saja berlibur ke Spanyol.
Saat jam istirahat, Harfandi mendapati Melinda sedang bersiap untuk menyantap hidangan makan siangnya. Langsung saja dihampirinya wanita cantik itu dan tanpa permisi duduk di hadapannya.
“Mel, makasih banyak oleh-olehnya, ya,” ujar Harfandi setelah mendarat di kursinya.
“Sama-sama, Har,” balas Melinda sebelum menyuap suapan pertamanya.
“Tumben gak bareng Nicky.”
“Nicky lagi makan siang bareng temen BEM-nya dulu.”
“I see.” Harfandi segera membuka bungkus makan siangnya yang berupa nasi padang. “Kamu nonton bola ya waktu di Barcelona?” tanyanya sebelum mengunyah suapan pertamanya. Ya, Harfandi melihat unggahan Melinda di aplikasi media sosial saat wanita itu dan suaminya menyaksikan pertandingan sepak bola di Camp Nou.
“Iya, suami aku ngefans sama Real Madrid sejak SD,” jawab Melinda dengan senyum merekah karena teringat pada Abi yang mencintai Real Madrid, bahkan ia ragu apakah suaminya itu lebih mencintainya atau klub sepak bola kesayangannya itu.
“Oh, ... menurutku *Barca lebih bagus.” (*Barca = FC Barcelona)
“I see. Barca dan Real Madrid memang banyak pemain top dunia. Waktu aku dan suami aku masih pacaran dulu, dia sering ngajak aku nobar bola.”
“Kamu suka klub apa?”
“Aku bukan pecinta sepak bola. Aku tau tentang bola ya karena Abi.”
“Tapi, ... dia tau kamu gak nyaman tiap dia ajak kamu nonton bola?” tanya Harfandi untuk menggugah rasa emosi Melinda.
“Aku nyaman-nyaman aja kok. Aku juga jadi suka nonton pertandingan sepak bola karena suami aku,” jawab Melinda seraya tersenyum.
“Ya, semoga kamu memang benar suka, bukan karena terpaksa.”
“Enggak, kok. Aku senang bisa nemenin suami aku jalanin hobinya.”
“Yeah, we’ll see sampai mana kamu akan tahan.” Melinda mengerutkan dahinya seraya menatap Harfandi dengan tatapan heran. Mengapa pria itu tampak ingin agar ia memberontak bahwa ia muak dengan hobi suaminya.
“Oh, ya, nanti kamu tampil dong di acara ulang tahun kantor kita,” ujar Melinda untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh iya, KBE sebentar lagi ulang tahun, ya,” ujar Harfandi yang teringat pada orang-orang yang akhir-akhir ini sibuk membicarakan pesta ulang tahun kantor mereka itu, “tapi, ... mau tampilin apa?” tanyanya.
“Nyanyi,” jawab Melinda dengan mantap.
“Nyanyi?” tanya Harfandi yang dijawab Melinda dengan anggukkan kepala dan senyum semringah. “Kamu suka lagu apa?” tanyanya lagi.
“Hmm, ... banyak, sih,” jawab Melinda.
“Pasti ada satu lagu yang berkesan untuk kamu.”
“Nothing’s Gonna Change My Love for You. Kalau gak keberatan, nyanyiin lagu itu aja.”
“George Benson?” tanya Harfandi dengan menyebut nama penyanyi dari lagu tersebut untuk memastikan judul lagu yang disebut Melinda memanglah lagu terkenal yang ia ketahui merupakan karangan dari Gerry Goffin dan Michael Masser.
“Yes! Tepat sekali!” jawab Melinda.
“Ok!” ujar Harfandi yang yakin bahwa ia dapat menyanggupi permintaan Melinda itu.
“Yeay!”