Malam hari itu, Harfandi mendapati Melinda sedang menikmati makan malamnya dengan laptop di hadapannya di pantry kantor mereka, saat ia akan pulang ke unit apartemennya. Langsung saja Harfandi duduk di hadapan Melinda tanpa permisi. “Hai, Melinda. Kok belum pulang?” tanyanya.
“Eh, iya, belum, Pak. Ada deadline,” jawab Melinda yang terkejut tiba-tiba saja Harfandi muncul di hadapannya dan mengajaknya berbincang.
“Lagi ngerjain apa, sih?”
“Ini, Pak, ... saya lagi buat perencanaan biaya katering untuk acara perpisahan pak Timur nanti. Saya sudah menghubungi beberapa vendor dan sekarang ini saya buat laporan perbandingan harga dari beberapa vendor itu.”
Harfandi tampak berpikir sejenak seraya memandangi Melinda hingga Melinda merasa sedikit risih. Melinda pun kembali menyibukkan diri dengan laptopnya agar tidak terus-terusan berpandangan dengan Harfandi. “Pakai jasa katering dari restoran saya saja,” ujar Harfandi yang berhasil membuat Melinda kembali menatapnya.
“Apa? Pakai jasa katering dari restorannya pak Harfandi?” tanya Melinda untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
“Harfandi saja, Melinda,” ujar Harfandi yang tidak ingin dipanggil dengan sapaan bapak.
“Maaf, Pak, ... saya tidak terbiasa memanggil bos dengan namanya saja,” ujar Melinda seraya tersenyum canggung.
“Saya ini CFO. Itu berarti kamu mendapatkan perintah dari bos kamu. Panggil saya Harfandi saja.”
“B-baik, Pak, ... eh, ... Har,” ujar Melinda seraya menunjukkan seringai kudanya.
“Besok saya bawakan masakan dari restoran saya. Saya jamin kamu pasti suka.”
***
Harfandi tahu Melinda sering datang lebih awal ke kantor. Jam kerja KBE dimulai pukul 8 pagi, tetapi, Melinda sering kali sudah terlihat di meja kerjanya pukul setengah 8 pagi. Pagi hari itu, sebelum tepat pukul 8 pagi, Harfandi menghubungi Melinda melalui sambungan telepon ke nomor ekstension Melinda. “Halo,” ujar Melinda menjawab panggilan telepon dari Harfandi.
“Halo, Mel. Maaf, saya lupa bawa makanan dari restoran saya. Jadi, nanti kita makan siang di restoran saya saja, ya.”
“Hah? T-tapi, ...,” ujar Melinda gelagapan karena hari itu ia memiliki janji makan siang dengan Nicky di restoran baru yang berlokasi di mall dekat kantor mereka.
“Jam 12 nanti langsung ke lobby, ya. Saya tunggu di sana,” ujar Harfandi yang tidak ingin mendengar penolakan dari Melinda.
Belum sempat Melinda membalas ucapan Harfandi, sambungan telepon mendadak berakhir. Melinda bingung dengan ajakan Harfandi yang mendadak itu. Sementara itu, Harfandi sedang memandangi layar laptopnya dengan seringai di wajahnya. Ya, mana mungkin Harfandi sudi repot-repot membawakan makanan untuk Melinda jika ada hal yang jauh lebih mengasyikkan, yakni membawa istri Abi itu ke restoran miliknya.
***
Pukul 11 siang, Melinda mendapatkan pesan dari Nicky di Microsoft Teams-nya.
Nicky Mariska: [Mel, nanti jadi, kan, kita makan siang di resto baru yang ada di mall kesayangan kita?]
Melinda tampak menghela napas beratnya. Ia lupa mengabarkan pada sahabatnya bahwa siang hari itu ia akan makan siang bersama Harfandi. Melinda berpikir apakah sebaiknya ia meminta Harfandi untuk mengajak Nicky juga, tetapi, setelah dipikirkan dengan matang, ia mengurungkan keinginannya itu karena ia khawatir Harfandi akan keberatan membawa Nicky yang merupakan salah satu anggota tim di bawah asuhannya.
Saat sedang asyik-asyiknya melakukan rekonsiliasi bank di software akuntansi di laptopnya, mata Nicky seketika terbelalak saat pesan dari Melinda masuk ke aplikasi Microsoft Teams-nya.
Melinda Wiyono: [Maaf banget Nick, tadi gue lupa kabarin lo. Hari ini gue diajak makan siang sama bos lu buat urusan kerjaan]
***
Pukul setengah 12 siang, Harfandi mengirim pesan pada Melinda bahwa dirinya akan segera turun ke lobby dan menunggunya di sana. Melinda pun segera mengambil tote bag dan memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam sana lalu berpamitan pada bosnya. “Pak Reihan, ...,” panggilnya hingga si empunya nama menoleh padanya, “saya makan siang duluan, ya.”
Reihan tampak mengerutkan dahinya karena setahunya jam belum menunjukkan pukul 12 siang. “Buru-buru amat?” tanyanya.
“Udah ditunggu sama pak Harfandi,” jawab Melinda.
“Apa?”
“Iya, Pak. Pak Harfandi ngajak saya ke restorannya biar saya bisa pertimbangkan katering restoran dia untuk acara perpisahan pak Timur nanti.”
“Hah? Dia ngajak kamu doang?” tanya Reihan yang benar-benar terkejut dengan pernyataan Melinda tersebut.
“I-iya, ... Pak,” jawab Melinda yang membuat Reihan merasakan adanya kejanggalan. Untuk apa Harfandi, yang notabene adalah seorang Direktur Keuangan, mengajak Melinda pergi ke restoran milik pria itu? Namun begitu, Reihan tetap mengizinkan Melinda untuk mengambil jam istirahat makan siang lebih awal.
“Ya sudah, sana pergi.”
“Terima kasih, Pak.” Melinda pun buru-buru meninggalkan ruang kerja timnya dengan dapat bernapas lega karena ia khawatir Reihan akan mencurigainya bahwa ia sedang berbohong.
Begitu tiba di lobby gedung kantornya, ia mendapati Harfandi yang sedang serius memainkan ponselnya di sofa ruang tamu. Saat serius seperti itu, Harfandi terlihat lebih tampan. Rasanya tidak salah jika ia ingin menjodohkan Nicky, sahabatnya, dengan pria itu.
Belum sempat Melinda memanggil namanya, Harfandi sudah terlebih dulu menolehkan pandangannya dari layar ponselnya dan mendapati wanita berparas dan bersuara indah itu di hadapannya. “Ok, let’s go!” ujarnya dengan senyum semringah seraya bangkit dari sofanya. Ia membawa Melinda menuju area parkir mobil dan melarikannya ke restoran miliknya di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat.
Setibanya di Anggito’s Pefect Recipe, para pelayan tampak menyambut kehadiran Harfandi dengan penuh hormat. Melinda pun merasa sungkan karena perlakuan pelayan di restoran itu sangat terasa penuh penghormatan. Wajar saja, pikir Melinda, karena ia sedang bersama dengan bos mereka.
Harfandi sengaja meminta juru masaknya menghidangkan menu andalan restorannya untuk dinikmati oleh Melinda. Sop buntut, ayam bakar bumbu bali, ikan sambal rica-rica, tahu krispi, dan nasi hangat, serta segelas jus sirsak tersaji di meja mereka hingga membuat Melinda ternganga. “H-har, ...,” ujarnya.
“Ya, Mel?”
“Ini makanan segini banyaknya apa iya habis kita makan berdua aja?” ujar Melinda seraya memandangi Harfandi dengan raut wajah penuh tanda tanya yang membuat Harfandi terkekeh.
“Gak usah dipaksain makan semuanya. Bungkus aja makanan yang belum mau kamu cicipin sekarang.”
Awalnya Melinda tertarik dengan tawaran Harfandi tersebut karena ia dapat memberikan makanan lezat di hadapannya pada Nicky untuk hidangan makan malam berhubung sahabatnya itu tinggal seorang diri di sebuah rumah indekos. Namun, ia khawatir Harfandi akan menganggapnya rakus jika ia membungkus semua makanan itu. “Eh, ... gak usah repot-report.”
“Gak repot sama sekali, kok, Melinda. Saya malah senang kalau bisa membuat kamu senang.” Melinda tampak mengerutkan dahinya setelah mendengar ucapan Harfandi itu. Sejak awal Harfandi bekerja di KBE, pria itu sering mengucapkan kalimat yang terdengar ambigu seolah-olah pria itu ingin melakukan pendekatan romantis padanya. Namun, Melinda menepis pikiran liarnya karena ia berpikir tidak mungkin ada pria di perusahaan tempatnya bekerja mau melakukan pendekatan romantis padanya sebab para rekan kerjanya tahu bahwa ia adalah seorang wanita bersuami, apalagi, suaminya adalah seorang pengusaha besar yang memiliki perusahaan ternama.
“Ayo, silakan dimakan,” ujar Harfandi setelah puas memandangi raut wajah Melinda yang memandanginya dengan tatapan bingung.
“Oh, iya, ... terima kasih,” balas Melinda. Ia pun segera menyantap nasi dan sop buntut di hadapannya. Seketika kedua matanya terbelalak saat mendapati masakan lezat itu hadir di indera perasanya. Rasanya benar-benar lezat.
“Gimana?” tanya Harfandi yang yakin bahwa Melinda menyukai hidangan yang dipilihkan untuknya.
“Wah, ini enak banget!” jawab Melinda dengan senyum merekah.
“Cobain juga ayam bumbu bali dan ikan rica-ricanya. Tiga makanan ini memang andalan restoran aku ini.”
“Gak heran deh restoran kamu full house di jam istirahat makan siang begini, ditambah masih ada orang-orang di luar restoran yang belum kebagian tempat. Makanannya enak-enak banget!” puji Melinda hingga Harfandi kembali menunjukkan seringainya karena ia yakin untuk urusan masakan ia menang telak dibandingkan Abi. “Wah, ke mana aja ya aku selama ini? bisa-bisanya aku gak tau ada restoran yang menunya seenak ini.”
“Kamu suka kulineran sama suami kamu?” tanya Harfandi untuk memancing emosi Melinda.
“Hmm, ...,” gumam Melinda untuk berpikir apakah jika ia jawab jujur bahwa ia dan Abi sudah lama sibuk dengan urusan masing-masing dan jarang sekali pergi berduaan, akan membuat gosip di kantornya. “Iya, suka. Aku sama suami aku suka coba makanan dan restoran baru,” jawabnya seraya tersenyum yang membuat Harfandi curiga ia sedang menutupi sesuatu.
“Kalau kamu jadi istri aku, kamu akan terbebas dari tugas masak. Aku suka masak dan aku berani bilang masakan aku enak karena keluarga dan teman-teman aku semuanya bilang masakan aku enak. Kamu pasti bahagia kalau jadi istri aku.” Melinda pun kembali dibuat tercengang dengan ucapan Harfandi. Apa-apaa pria itu, pikirnya. Mengapa Harfandi berani sekali mengatakan hal tersebut? Padahal pria itu bisa saja mengatakan siapa pun yang menjadi istrinya akan bahagia, bukan berandai-andai seandainya dirinya yang menjadi istri pria itu. “Eh, ... maaf. Maksud saya, ... hanya pengandaian saja. Tidak ada maksud apa-apa,” lanjut Harfandi setelah ia dan Melinda terdiam selama beberapa detik.
“Iya, tidak apa-apa,” balas Melinda seraya tersenyum canggung yang semakin membuat Harfandi bersemangat untuk merebutnya dari sang suami.