FRANS PRIA AROGAN

1998 Words
Sepanjang malam Anatasya tidak bisa tidur memikirkan nasibnya juga ayahnya. Dia mendengar Frans menyuruh Fedrick lelaki yang baru bertemu dengannya itu memanggil ayahnya. Frans terlihat murka setelah mengetahui gadis yang dinikahinya bukan Valery. "Ya Tuhan, apa hidupku akan berakhir hari ini?" gumamnya sambil mondar mandir di depan pintu. Anatasya terlihat berantakan, jangankan memperhatikan penampilannya. Mengikat rambutnya saja tidak. Setidaknya, bangun tidur minimal cuci muka dan menggosok giginya kemudian menyisir rambutnya. "brak!" Anatasya terkejut mendengar suara pintu terbuka, Hilda muncul dari balik pintu. "Anda dipanggil Tuan Frans ke ruangannya," ucap Hilda. "Apa ayahku ada di sana juga?" tanya Anatasya dengan wajah panik. "Saya tidak tahu Nyonya, saya hanya ditugaskan memanggil Nyonya," jawabnya. Anatasya langsung ke luar kamar dengan terburu menuju anak tangga. "Anda mau ke mana Nyonya?" tanya Hilda. Anatasya menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya. "Ke ruangannya," jawabnya dengan polos. "Tuan menunggu nyonya di ruang pribadinya. Di sana," balas Hilda sambil menunjuk ruangan yang berada di pojok satu lantai dengan kamarnya. "(Ah) ternyata di situ," balas balik Anatasya dengan wajah memerah. Tentu saja dia malu karena terlalu percaya diri main pergi saja menuju ruangan Frans di perawatan. "Mari Nyonya!" ajak Hilda. Anatasya mengikuti Hilda, ternyata ruang pribadinya satu lantai dengan kamarnya melewati ruang kecil untuk bersantai dan satu kamar. Anatasya baru mengetahuinya. Setelah menghadap pintu, Hilda mengetuknya. Anatasya terlihat tegang beberapa kali dia menarik napasnya kemudian menghembuskannya sambil meremas kedua sisi baju tidurnya. Terdengar sesuatu yang jatuh atau terpukul di dalam ruangan menambah ketegangan di hati Anatasya. Jantungnya berdetak tak karuan. Tangannya bergetar. Dia merasa seolah sedang menuju persidangan terpidana mati. Hilda membuka pintu dan mempersilahkan Anatasya masuk. "Silahkan masuk Nyonya?" "Ba-baik," jawab Anatasya dengan wajah memucat. Anatasya melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruangan itu dengan netra menatap ke arah Frans yang sudah menatapnya dengan tajam, terlihat sangat mengerikan. Anatasya juga melihat ayahnya sedang berlutut di hadapannya. Dua bodyguard bediri tak jauh dari ayahnya dengan senjata yang terselip di pinggangnya. Anatasya juga melihat lelaki semalam yang belum sempat berkenalan dengannya. Ada satu lagi lelaki paruh baya yang sedang duduk santai dengan cerutu terselip di tangannya. Situasinya saat ini benar-benar sulit. Dia berada di ambang kematian atas penghakiman dosa yang seharusnya tidak tertuduh padanya. "Ayah!" panggil Anatasya dengan bibir bergetar dan mata memerah. Alaric menoleh ke arahnya, kemudian maju dengan kedua lutut di atas lantai. "Beri pengampunan pada putriku Tuan Frans! Anatasya tidak bersalah. Dia gadis malang yang hanya menuruti permintaanku," pinta Alaric. "Meskipun begitu, putrimu memiliki peran dalam kesalahanmu," bantah Frans dengan nada dingin. "Apa kau lihat bagaimana penampilan putrimu sekarang?" tanyanya sambil menatap Anatasya. Anatasya bukan saja menjadi pusat perhatian Alaric tetapi semua lelaki yang ada di ruangan itu. "Sial! aku lupa mencuci mukaku. Malunya, rambutku masih berantakan dan wajahku belum terkenal air," umpat batinnya. Andai waktu bisa diputar. Setelah bangun tidur Anatasya langsung mandi dan bersolek secantik mungkin, meskipun pikirannya kalut dan tidurnya tak nyenyak. Hatinya menjerit kecil dalam hatinya sambil menyelipkan rambutnya yang berantakan ke sela telinganya. "Apa kau melihatnya!" bentaknya membuat Anatasya tersentak kaget. "Apa kau melihat wajahnya? aku tidak yakin jika dia bangun langsung teringat mencuci mukanya. Apa gadis seperti ini pantas menjadi Istriku (hah)!" Frans mencengkram dagu Alaric dengan kuat, kemudian menariknya ke atas. "Aku mohon, jangan sakiti ayahku!" pinta Anatasya dengan nada memelas. "Aku tidak memintamu menyuarakan hatimu!" tolak Frans dengan mata membulat seolah hendak keluar dari sangkarnya membuat Anatasya langsung mengatupkan kedua bibirnya. "Kau sudah mempermainkan dan menyepelkanku Alaric!" umpatnya. "Jika ayahku membiarkan Valery menikah denganmu. Aku yakin kau akan lebih murka lagi setelah mengatahui dia sudah hamil? ayahku tidak menyepelekanmu. Justru mencegahmu mendapatkan kerugian," bela Anatasya dengan cepat. "(Aaah) jadi begitu!" balas Frans sambil melepas kasar cengkaramannya. Kemudian melangkah ke arah Anatasya. Anatasya panik, dia mundur perlahan. Dari ekpresi wajahnya, jelas terlihat ketakutan. Lelaki yang selama ini terlihat teduh dan tenang terbaring di atas kasur. Kini terlihat bengis, menakutkan dan mengerikan. Tangan Frans begitu cepat bergerak mencengkram kuat dagunya. Kemudian mendorongnya hingga punggung Anatasya menempel keras ke dinding yang dingin. Pekikan kesakitan terhempas pelan dari bibir gadis itu. Wajah tampan tapi mengerikan bak iblis pencabut nyawa itu hanya berjarak beberapa sentimeter saja. "Gadis berani, apa kau beranggapan aku akan menyentuhmu karena Valery hamil (hah)?" ucapnya sambil mengarahkan pandanganya ke tubuh Anatasya. Anatasya melihat garis bibirnya mencemooh, cara Frans memperhatikan tubuhnya. Anatasya merasakan tatapannya merendahkan fisiknya. Anatasya menyadari tidak secantik dan semontok Valery. Apalagi di bagian buah dadanya bahkan tubuhnya yang kurus seperti kurang gizi. Itu yang ada dalam pikirannya. Fransisco lelaki kedua yang terang-terang menghina fisiknya. Tetapi, cara Frans lebih baik daripada Darius yang munafik. "Jangan mimpi!" ucapnya lagi dengan garis bibir mencemooh dan merendahkan. Anatasya sudah kenyang dengan penghinaan semacam itu. Dia menengadahkan wajahnya dengan segala keangkuhannya. "Ceraikan aku!" balas Anatasya sambil menatapnya dalam. Menatap netra penuh kebencian. "Usir aku dari rumah ini!" pintanya lagi dengan bibir bergetar. Tersungging senyuman menakutkan dari bibirnya menandakan jika Frans tidak setuju dengan permintaannya. "Jangan pernah bermimpi bisa keluar dari sini dengan mudah. Kau sudah memutuskan mempermainkanku dengan ayahmu. Kaupun harus terima konsekuensinya," balasnya. "Sudah aku duga, aku tidak akan mendapatkan pengampunan dengan mudah," jerit batinnya. Anatasya tidak berkedip sedikitpun, gadis itu bahkan tidak menangis dalam diamnya. Baginya ucapan Frans sudah cukup. Dia menerima hukuman apapun meskipun bayangan menakutkan melintasi pikirannya. Frans bisa saja menguliti tubuhnya atau mengambil nyawanya dengan menembak kepalanya. Semua kekerasan itu bisa dia lakukan dengan mudah. Tapi, bagaimanapun bentuknya rasa sakit itu. Anatasya akan hadapi. Dunia ini sudah tidak ramah setelah ibunya meninggal dunia. Ditambah Darius yang menjadi harapannya bisa membuatnya bahagia berbalik menyakitinya. Jika dengan tersandungnya masalah dengan lelaki arogan yang kini di depannya. Satu-satunya cara mengakhiri hidupnya. Baginya jauh lebih baik. Anatasya sudah tidak menginginkan apapun. Setelah dirundung rasa sakit yang tak berujung. "Baiklah, aku siap menghembuskna napasku yang terakhir. Aku berharap bila Tuhan memberi kesempatan lagi terlahir kembali. Tidak ingin bertemu dengan semua orang yang aku kenal di kehidupanku yang ini. Termasuk lelaki kejam ini," ucap batinnya sambil menatap Frans dengan angkuh. Frans merasakan tatapan gadis itu mengikatnya, hatinya sedikit terpaku. Ini kali pertamanya dia merasakan itu. "deg deg deg!" Untuk sepersekian detik, mereka saling beradu pandang. Frans merasakan jantungnya berdetak kencang. Perlu dicatat! tidak ada seorang pun yang berani membalas tatapannya. Tapi, Anatasya tanpa rasa takut seperti menantangnya. Frans melepaskan genggaman tangan di rahangnya dengan kasar. Kemudian duduk lagi dengan kaki menyilang di depan pamannya. Dia mengambil cerutu, Fedrick menyalakan pematik. Frans menghisapnya dan menyemburkan asapnya sambil menatap tajam pamannya. Anatasya terlihat mengusap rahangnya yang seakan remuk. Beberapa kali dia menarik napasnya untuk menenangkan perasaannya. Bohong jika dia tidak takut. Dibalik sikapnya yang angkuh dan pasrah. Nyalinya sebenarnya menciut, apalagi saat tangan Frans mencengkram rahangnya. "Pantas saja Valery bersikeras tidak mau menikah dengannya. Lelaki itu jahat dan kejam," ucap batinnya sambil menatap Frans. "Abraham dan ibumu sudah menandatangani pengalihan semua aset atas namamu. Tapi, ada poin yang perlu kau ingat. Ayahmu memberikan tenggang waktu setahun pengalihan itu dianggap sah. Dia tidak mau dibodohi dengan pernikahan kontrak atau sandiwara pernikahanmu," terangnya. Araf paman angkat Frans menatap ke Anatasya. Frans tidak merespon ucapannya, dia sedang menikmati cerutu yang dihisapnya. Araf tersenyum tipis sambil merapatkan pungungnya ke sandaran kursi. "Menurutku, gadis itu jauh lebih cantik dari Valery. Hanya saja kau perlu merubahnya," gumamnya sambil mengalihkan pandangan pada Frans yang terlihat acuh. Frans masih menikmati cerutu yang dihisapnya. Dia tidak berbicara sepatah katapun. "Lepaskan Alaric selama kau masih menggunakan putrinya!" ucapnya lagi sambil menaruh gelas bening yang masih terdapat sisa cairan wine. "Keluarkan tua bangka itu dari ruangan ini!" perintah Frans tanpa menoleh. Kedua lelaki yang berdiri tak jauh dari Alaric mengangkat tubuhnya. Anatasya langsung menghadangnya membuat kedua lelaki itu berhenti membawa Alaric keluar. "Ayah!" panggil Anatasya sambil memegang tangannya. "Maafkan ayah, Ana! karena ayah kau terjebak dalam masalah." "Tidak ayah! kau tidak perlu mengatakan itu. Baik di rumah ataupun di sini bagiku sama saja. Jaga kesehatanmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi..." balas Anatasya. "Anatasya putriku (hik hik hik )" panggil Alaric sambil melepaskan tangannya dari pegangan kedua lelaki itu, memeluknya. "s**t! kenapa kalian tidak segera membawanya keluar dari sini!" hardik Frans sambil menatap kedua anak buahnya yang langsung memisahkan pelukan anak dan ayah itu. "Jaga dirimu baik-baik!" ucap Alaric sebelum lenyap dari pandangan Anatasya. Setelah ayahnya keluar, Anatasya berdiri dengan punggung merapat ke dinding. Beberapa kali dia menyeka air matanya. Fedrick tidak berhenti menatapnya, merasa kasihan. Apalagi mengetahui alasan Anatasya menikah dengan saudaranya itu karena dipaksa. "Bawa dia ke kamarnya!" perintah Frans pada Fedrick. Fedrick langsung menatap Anatasya agar berjalan sendiri ke luar ruangan. Anatasyapun mengerti, dia berjalan menuju ke pintu. Sebelumnya, menatap ke arah Frans yang melirik padanya. Di luar, Hilda sudah menunggunya dan Fedrick memberikan isyarat agar mengikuti mereka menuju ke kamarnya. Anatasya berjalan lemah dengan tatapan kosong tanpa berucap sepatah katapun. Baginya, bisa berjalan di atas lantai rumah mewah ini merupakan keberuntungnya. Dia masih memiliki kesempatan untuk bernapas meskipun tidak yakin bisa bernapas sampai kapan. "Selama tinggal di sini, kau harus bersikap baik dan menuruti yang diperintahkan Frans agar dia tidak marah dan menyakitimu!" ucap Fedrick saat Anatasya berdiri di depan pintu kamarnya dan Hilda membukanya. Anatasya menatap dalam Fedrick yang terlihat canggung bahkan wajahnya langsung memerah. "Panggil aku Fedrick! aku saudaranya, tepatnya adik Frans," ucapnya memperkenalkan diri meskipun tanpa mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan. Anatasya masih menatap dalam wajah tampan lelaki itu, wajah berbeda dari Frans. Lelaki yang mengakui adiknya itu sangat jauh berbeda. Senyuman dari bibirnya lepas. "Apa ada yang salah dengan wajahku? hingga kau melihatku seperti itu?" candanya masih menyertakan senyuman yang semakin membuat ketampannya terlihat maksimal. "Tidak ada yang aneh. Kau masih terlihat tampan." Fedrick tersipu malu mendengar ucapannya. Baru kali ini ada yang berani menggodanya, meskipun hanya berupa pujian. "Ma-maafkan aku karena terlalu lancang mengatakan itu! aku merasa senang masih ada yang bisa diajak bicara. Aku tidak bermaksud merayumu. Aku hanya mengatakan kebenarannya," balas Anatasya dengan cepat. "Aku paham karena bukan kau saja yang merasakan rumah ini terkesan horor. Aku yang sering datang ke sini merasakan itu," balasnya. "Terima kasih!" ucap Anatasya sambil tersenyum. Wajahnya semakin terlihat cantik padahal belum tersentuh air. "Untuk apa?" "Karena kau memperlakukanku dengan baik," balasnya lagi. "Hanya itu saja yang bisa aku lakukan," balas Fedrick. "Segera masuk! Frans akan murka jika melihatmu masih di luar." "Baiklah," balas Anatasya. Fedrick menatap pungung Eleanor yang menghilang setelah pintu tertutup. Fedrick hendak memutar tubuhnya. Tapi, mengurungkannya setelah melihat pintu kamar Anatasya terbuka lagi. "Tunggu!" ucap Anatasya yang muncul dari balik pintu. Hanya kepalanya saja. "Aku harap kita bisa berteman baik," ucapnya sambil tersenyum cantik. Fedrick menganggukan kepalanya dan kepala Anatasya menghilang seiring pintu tertutup. Fedrick tersenyum sambil berjalan ke ruangan Frans. Sementara di ruangan Frans, "Dasar gadis nakal dan bodoh. Begitu mudahnya mempercayai lelaki yang baru saja kau kenal hanya karena berbicara santai padamu," gumamnya pelan. Tanpa Fedrick sadari, Frans sedang menatap ponselnya melihat mereka berbicara bahkan adiknya tersipu malu. Bagi Frans sikapnya itu terlihat menggelikan. Tanpa Frans sadari ketidaksukaannya itu bentuk perasaan cemburunya. "Kebiasaan, selalu saja tebar pesona," umpatnya pada Fedrick. "Siapa yang tebar pesona?" tanya pamannya. Frans menatap dalam pamannya yang langsung tertawa kecil. "Jangan terlalu keras pada gadis itu! aku takut kau terkena karma. Siap tahu tiba-tiba kau menyukainya," ucap sang pamannya. "Jangan asal berucap paman!" tepisnya sambil menggeram. "Saat ini yang perlu kau lakukan berdamai dengan gadis itu! apalagi di depan ayah dan ibumu selama 1 tahun!" ucap sang paman sambil berdiri. "brak!" Pintu terbuka dengan keras, terlihat wanita paruh baya berlari cepat ke arah Frans. "Ya Tuhan, ternyata benar. Kamu sudah sadar," ucapnya dengan kedua mata memerah. "Aish, tidak bisakah aku tenang di hari pertamaku bangun?" gumamnya pelan. Frans tahu ibunya tidak akan berhenti mengusiknya dengan pengawasannya. Wanita itu akan bersikap overprotektif. Baik dari penyediaan makanan, pakaian dan hal-hal yang kecil. Omelan-omelannya yang akan membuat kepala Frans pusing. "Aku akan ke markas, bersikap baiklah pada ibumu. Dia yang selama ini merawat dan mengawasimu!" ucapnya sambil tersenyum ke arah kakak iparnya. "Meskipun kau akan sedikit sakit kepala." Frans teringat Anatasya, dia harus menahan seatap dengannya selama 1 tahun. "s**t! aku benar-benar muak! kenapa harus gadis itu? gadis yang jauh dari tipeku," teriak batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD