Anatasya terlihat serius dengan keputusannya merawat Frans. Dia belajar cara merawatnya pada perawatnya. Anatasya juga belajar mengetahui fungsi semua alat medis baik yang menempel ataupun diperlukan jika dalam kondisi darurat setiap dokter mengecek Frans. Juga belajar banyak hal untuk merangsang otak Frans agar siuman.
Setiap malam Anatasya pun rutin membacakan buku yang tersedia di rak. Sering mengajaknya mengobrol meskipun seperti orang gila.
Anatasya kadang ketiduran di ruangannya karena kelelahan. Ibu Frans tidak mengetahui kegiatan Anatasya di belakangnya.
Malam ini, langit memuntahkan airnya dengan sangat deras disertai angin kencang dan kilatan petir seolah membelah langit. Disusul gemuruh langit berteriak keras membuat jantung siapapun dibuat kaget.
Anatasya memiliki pobia hujan seperti itu. Biasanya dia bersembunyi di balik selimut tebal di atas kasurnya. Tapi, malam ini Anatasya sangat mengkhawatirkan Frans.
Dia takut petir yang tak tentu arah menyebabkan listrik membuat padam. Hingga fungsi alat medis yang dibutuhkan Frans mati. Sepengetahuannya dari dokter dan perawat, Frans tergantung pada alat-alat medis itu.
Anatasya berlari kencang dengan tangan bergetar, sesekali menutup kedua telinganya saat kilatan petir menyambar bumi. Berkali-kali dia menjerit saat gemuruh guntur menggelegar keras. Anatasya langsung memasuki ruangan Frans kemudian memegang tangannya dengan tangan bergetar.
"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Anatasya sambil memperhatikan semua peralatan medis. "Aku berharap petir tidak menyebabkan aliran listrik mati.
"duaaaaaar!"
"Aaaaa--!" teriaknya sambil berjongkok dengan tangan masih menggenggam tangan Frans. Anatasya menyembunyikan diri ke tepi ranjang dengan satu tangan menutup sebelah telinganya.
"Ya Tuhan," ucapnya saat lampu mati dan beberapa alat medis ikut mati.
"Hilda Hilda! siapapun di sana segera perintahkan siapapun untuk menyalakan listrik darurat!" teriaknya. "Aish, kemana para pelayan itu? Kenapa mereka tidak men-..."
Anatasya langsung terdiam saat tangan Frans menggengam balik.
Kilatan petir menyambar sekilas menerangi ruangan. Namun tidak mampu menerangi ruangan dengan sempurna hingga keduanya tidak bisa saling bertatap muka.
Lampu kembali terang begitu juga semua alat medis menyala. Anatasya mengarahkan pandanganya ke Frans yang sudah menatapnya. Netranya menatap tajam, raut wajahnya yang sinis cukup menjawab akan adanya sesuatu yang kurang baik.
"Kau siapa!?" tanya Frans tanpa melepaskan gengaman tangannya.
"A-aku--," jawab Anatasya dengan gagap.
Anatasya berpikir sejenak, dalam hatinya bertanya kondisinya dalam keadaan normal atau amnesia. Biasanya pasien koma dengan luka parah dibagian kepalanya, dalam drama-drama yang dia tonton mengalami amnesia.
"Kenapa diam?! katakan kau siapa!?" hardiknya membuat Anatasya tersentak kaget.
Fedrick saudaranya, anak angkat Abraham Hilton memasuki ruangan diikuti beberapa anak buah dan pelayan. Mereka tentu panik karena listrik sempat padam. Tetapi, Fedrick dikejutkan dengan Frans yang siuman.
"Kau siapa!" tanya Frans lagi dengan memasang wajahnya yang semakin garang.
Anatasya meringis karena Frans meremas kuat tangan.
"A-aku..." jawab Anatasya terlihat kebingungan sambil menatap Fedrick.
Fedrick, lelaki asing yang baru dia temui juga. Anatasya seperti anak ayam yang terpisah dari induk dan saudara-saudarinya. Dia tidak memiliki siapapun untuk berlindung. Dia berada di antara orang-orang yang tak dikenalinya.
"Kau harus menahan amarahmu, Frans! kondisi tubuhmu belum normal," ucap Fedrick sambil mendekatinya. "Lepaskan tangan gadis itu!"
Frans menatap dalam wajah cantik Anatasya, cantik alami tapi terkesan udik. Pelayannya saja berwajah cerah dan bermakeup. Anatasya jauh dari kata cantik menurut levelnya.
"Dia istrimu Anatasya Edelweis Alaric," ucap Fedrick.
"s**t! apa-apaan ini!" umpat Frans sambil melepaskan tangan Anatasya dengan kasar.
Anatasya langsung mundur dengan tubuh bergetar sambil memegang pergelangan tangannya yang sakit oleh genggaman kuat Frans.
Frans menarik selang infusnya hingga jarum yang menusuk lengannya terlepas. Kemudian duduk, Fedrick tentu saja panik melihatnya.
"Aish, kau ini keras kepala sekali. Dokter Georgi sedang di perjalanan. Tidakkah kau bersabar menunggunya datang tanpa melepaskam alat-alat medis yang menempel di tubuhmu," protes Fedrick memgomelinya.
"Aku akan mati lemas jika menunggunya datang," bantahnya sambil mencabut semuanya alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Seorang pelayan dengan cepat membantunya mengenakan piyama kimono.
"Aku belum selesai denganmu," ucap Frans sambil menatap tajam Anatasya yang terlihat ketakutan. "Siapa yang memiliki kewenangan mengganti pembelai wanitaku?" tanya Frans pada Fedrick.
"Di hari pernikahanmu situasinya darurat. Jika kau tidak segera menikah di hari itu. Waktu yang diberikan ayah habis. Sedangkan, gadis yang ingin kau nikahi sudah menikah dengan lelaki lain karena hamil."
"s**t!" umpatnya kesal. "Berapa lama aku tertidur?"
"Kau koma selama 3 bulan," jawab Fedrick.
"Apa kau sedang bercanda?" tepisnya sambil duduk di kursi dengan salah satu kaki bertumpu di kaki satunya lagi.
Frans tidak terlihat sudah mengalami koma. Dia tampak segar dan bertenaga. Bisa dilihat dari cara dia meremas tangan Anatasya dan tatapannya yang beringas.
"Kau mengalami kecelakaan di bulan Januari, sekarang tanggal 30 Maret. Sebelum kecelakaan di bulan Januari kita memberikan kekacauan di Full House," terangnya sambil memperliahkan layar ponselnya untuk memberitahu tanggal saat ini.
"Tanisa! Talia..." panggil Frans.
Fedrick memberikan isyarat agar Anatasya menyahutnya. Anatasya tentu saja dia karena bukan namanya yang dipanggil. Frans seenaknya memanggilnya dengan nama lain.
Anatasya menghampirinya dengan tangan bergetar dan gugup.
"Saya Anatasya Tuan, anda bisa memanggil saya Anatasya atau Ana!" ucapnya meralat Frans karena memanggil nama yang salah.
"Tidak perlu kau mengaturku memanggil namamu! aku bebas memanggil namamu sesukaku!" bantah Frans dengan nada tinggi.
"Tapi Tuan, nama itu pemberian dari kedua orang tuaku. Anda tidak bisa mengganti nama saya seenaknya. Dari kecil saya dipanggil dengan nama-," bantah balik Anatasya teguh pada pendiriannya. Anatasya bahkan melupakan siapa yang sedang dituntutnya.
"Siapa yang memintamu menyangah ucapanku (hah!)?" potong Frans sambil menatapnya tajam.
Anatasya langsung merapatkan kedua bibirnya dan menunduk kemudian mengangkat lagi wajahnya menatap Frans.
"Saya...," jawabnya sambil menatap polos.
"Diam!" bentak Frans membuat Anatasya terperanjat karena kaget. "Jika aku memintamu bicara, bicaralah! jika aku tidak menyuruhmu, diamlah!"
Anatasya menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
"Panggil Alaric sekarang juga dan kurung dia!" perintahnya.
Anatasya terlihat panik. Apalagi dua lelaki bertubuh kekar itu menggengam lengannya kemudian mengapitnya.
"Saya mohon Tuan! jika Tuan tidak menginginkan saya. Ceraikan dan bebaskan saya. Saya tidak keberatan Tuan mengusir saya," pinta Anatasya dengan terburu sambil berontak agar terlepas dari genggaman kedua lelaki itu.
"Kau dan ayahmu sudah mempermainkanku. Kau salah, jika bisa bebas begitu saja dariku," jawab Frans.
"Saya mohon ampuni saya! saya terpaksa menikah dengan Tuan. Saya hanya-," balasnya lagi.
"Diam! kau gadis yang sulit diatur. Aku sudah memintamu tidak berbicara, jika aku tidak menyuruhmu. Tunggu saja hukuman dariku!" balas Frans sambil tersenyum jahat.
"deg deg deg!"
Anatasya merasakan jantungnya berhenti, apa yang dilakukannya 3 bulan ini merawatnya, membacakan buku dan mengajaknya berbicara ternyata sia-sia.
Anatasya juga membenarkan, gosip miring mengenai karakter buruknya. Ternyata benar, Fransisco memiliki karakter kasar, arogan dan menakutkan.
Fedrick memberi isyarat mata pada kedua lelaki itu agar mereka segera membawa Anatasya ke luar.
"Saya mohon Tuan! lepaskan saya!" teriak Anatasya.
Anatasya tak berhenti berteriak berharap Farns memberinya kesempatan untuk berbicara, meskipun sia-sia.
"Aku tidak mengerti dengan keputusanmu? seharusnya kau membatalkan pernikahannya! masa aku menikahi gadis sepertinya," protes Frans.
"Aku terpaksa menyetujui pertukaran pengantin wanitamu karena..." jawabnya tapi terhenti.
"praaang!"
Frans mengobrak ngabrik semua barang yang ada di dalam ruangan itu hingga beberapa alat medis terbanting jatuh, rusak dan pecah.
Fedrick hanya berdiri mematung memperhatikan saudara angkatnya itu meluapkan kekesalannya.
Frans berjalan dengan tertatih ke arahnya dengan d**a naik turun tak beraturan. Dia sangat marah dan tidak terima keputusan yang diambil Fedrick membiarkannya menikahi Anatasya. Frans menarik kedua kerah Fedrick dengan kedua rahang mengeras.
"Kau pun tahu jika aku tidak suka orang lain memutuskan sesuatu tanpa ijinku. Meskipun adikku sendiri," ucapnya dengan bibir gemas.
"Aku mengakui kesalahanku. Tapi, aku memikirkan masa depanmu. Jika kau tidak mau menerima gadis itu. Kau bisa menceraikan dan mengusirnya seperti yang diminta oleh gadis itu," terang Fedrick.
"Menceraikan dan mengusirnya kapan saja aku bisa melakukannya. Yang membuatku marah adalah keputusan kalian tanpa persetujuanku membuatku seperti kambing congek di mata Alaric. Dia sudah mengolok-ngolokku, menghinaku dan mempermainkanku dengan memberikan gadis yang levelnya jauh lebih rendah dari seleraku," ungkap Frans.
"Gadis itu...."
Fedrick menceritakan Anatasya yang akan menikah dihari sama. Fedrick juga menceritakan kisah pilunya yang harus menerima kenyataan kekasihnya menikah dengan Valery yang sudah dihamili kekasihnya. Dia juga mengatakan Anatasya terpaksa mengganti Valery menikah dengan Frans.
Fedrick mengatakannya tak hanya dari Alaric. Tapi, dari hasil laporan orang kepercayaannya.
"Itulah alasan Anatasya menjadi istrimu," ucapnya. Setelah menceritakan alasan sebenarnya.
Frans melepaskan cengkraman tangannya di kerah Fedrick dengan kasar. Dia melangkahkan kakinya menghadap ke arah dinding kaca tebal yang memisahkan ruangan itu dengan taman.
"Jika kau ingin mengetahuinya lebih jelas semuanya ada di berkas ini," ucap Fedrick sambil mengeluarkan sebuah berkas dari balik jaketnya.
Frans mengabaikannya, dia masih sangat marah. Dia belum bisa menerima keputusan yang diambil Ferdick, dia harus memberikan perhitungan pada Alaric karena sudah mempermainkannya.
Frans memutar tubuhnya menatap Fedrick sangat tajam.
"Tetap saja, aku harus memberi mereka pelajaran," gumamnya dengan kedua rahang mengeras.