JANGAN SAKITI AKU

1315 Words
Anatasya berdiri membeku di balkon kamar, menatap langit yang berhiaskan bintang. Anatasya menatap sang rembulan yang menjadi primadona malam itu. Keindahannya begitu dikagumi oleh semua umat di dunia. "Aku kadang iri jika melihatmu. Kau muncul dalam waktu yang telah ditentukan. Tapi, dalam waktu sekejap dapat memikat semua orang yang menatapmu. Bahkan, keberadaanmu membuat hati semua orang yang menatapmu bahagia. Hanya menatapmu saja." gumamnya tanpa berhenti memandang sang rembulan. "Sepertinya aku harus menuntut Tuhan karena ketidakadilan ini," ucapnya lagi sambil membuang napas beratnya. Anatasya mengingat Darius, jika waktu bisa diputar kembali. Orang pertama yang tidak dia harapkan dikenalnya lelaki itu. Darius sudah membodohinya selama ini. Ternyata 5 tahun tidak cukup bagi Anatasya mengenal baik lelaki itu. Anatasya menundukan kepalanya, air matanya perlahan mengalir di kedua pipinya. Bukan saja penghianatan Darius yang menyakitinya. Anatasya merasakan kesedihan yang dalam dengan nasibnya saat ini. Dia menjadi istri seorang lelaki yang dikenal seperti monster. Bahkan, dia tidak mengetahui akan keluar dari rumah mewah ini dengan keadaan nyawa masih melekat di tubuhnya. Mengingat keberadaannya berstatus istri pengganti. Anatasya yakin lelaki yang kini menikah dengannya akan murka. Jika lelaki itu memutuskan mengusirnya, itu sebuah keberuntungan. Satu pilihan yang kini menyakitinya, monster itu memutuskan membunuhnya. Anatasya menatap kembali bulan yang masih setia menemaninya. "Aku ingin sepertimu meskipun hanya seorang saja yang terpikat dan mencintaiku. Tidak banyak yang aku inginkan," ucapnya dengan nada pelan kemudian menundukan kepalanya. Tanpa Anatasya sadari sebuah bintang jatuh melintasinya. Anatasya mengangkat wajahnya lagi mengarahkan pandanganya ke langit. Bintang jatuh itu sudah lenyap. "Apa aku bisa menemui Frans? bukannya orang yang koma meskipun tidak bisa menggerakkan tubuhnya tapi bisa mendengar ucapan orang di sekitarnya? seperti drama-drama yang pernah ku tonton," gumamnya sambil berjalan menuju pintu. Anatasya terdiam sesaat memikirkan yang harus dia lakukan. "Aku harus membantunya merangsang otaknya agar siuman. Jika Frans sering mendengar suaraku dan memgetahuiku merawatnya. Saat sadar, dia akan memberiku mengampuni atas kesalahan ayahku yang menukar pengantinnya dan membiarkanku hidup. Aku hanya memiliki satu kesempatan mendapatkan keputusan pengusiran darinya dengan cara itu. Sejahat apapun manusia pasti akan membalas budi dari kebaikan seseorang yang sudah membantunya. Cara satu-satunya, aku harus merawatnya." Anatasya akhirnya memutuskan melakukan misinya. Dia keluar dari kamar, Hilda langsung menghampirinya. "Nyonya mau ke mana?" tanyanya. "Aku akan ke ruangan Frans," balasnya. "Mari saya antar Nyonya. Kebetulan Nyonya besar sudah pulang," tawarnya. Anatasya berjalan menuju ruangan Frans dikuti Hilda. "Apa ibunya setiap hari datang menjenguknya?" selidiknya. Dia harus mengetahui waktu datang dan pergi wanita itu untuk menghindari omelannya. Wanita itu sangat berterus terang tidak menyukainya. Sebisa mungkin Anatasya tidak bertemu dengannya. "Nyonya besar datang setiap hari pukul 09.00 pagi dan pulang sore hari," terangnya. "Aku memiliki waktu luang menemui Frans tanpa bertemu dengan wanita pemarah itu," gumamnya pelan. Anatasya menghentikan langkahnya membuat Hilda berhenti mendadak. "Ada apa Nyonya?" "Beritahu aku! apa saja kesukaan Tuanmu? maksudku, saat dia memiliki waktu luang sebelum koma. Apa yang dia lakukan saat mengisi waktu luangnya?" selidiknya lagi. "Tuan sering menghabiskan waktu di ruangannya. Saya sering melihatnya membaca beberapa buku koleksiannya," jawab Hilda. "Apa lagi?" "Berlatih menembak dan berburu," jawabnya lagi. "Mengajak berlatih menembak dan berburu sepertinya bukan pilihan terbaik. Apa kamu bisa membawakan buku yang biasa Frans baca?" "Buku-buku yang selalu di baca ada di ruangan Tuan," jawabnya. "(Ah) Aku melupakan rak buku itu," balasnya. "Baiklah, aku akan memulai mengajaknya berkomunikasi dengan membacakan buku sebagai perkenalan," tambahnya sambil meneruskan langkahnya. Anatasya terlihat bersemangat, dia harus melakukanya demi kelangsungan hidupnya di masa depan. Akhirnya mereka berada di depan pintu ruang perawatan Frans. "Tunggu! apa ada pelayan yang memandikanya? (ah) maksudku membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya?" "Nyonya besar menugaskan seorang perawat untuk melakukan itu," jawab Hilda. "Apa dia ada di sini?" "Gadis ini menyebalkan sekali. Terlalu banyak bertanya," gerutu hati Hilda. "Apa kamu mendengar pertanyaanku?" tanya Anatasya sambil menatap dalam Hilda yang terlihat melamun. "Maafkan saya Nyonya! perawat itu datang jam 06.00 pagi dan pulang jam 17.00 sore. Setelah membersihkan Tuan, dia ditugaskan mengecek semua alat medis Tuan," terangnya. "Jika perawat itu besok datang, perintahkan dia agar menungguku!" pintanya. "Mau apa dia meminta perawat itu menunggunya?" bisik hati Hilda. "Apa kamu mendengar ucapanku?" tanya Anatasya lagi. "(Ah) Maafkan saya Nyonya, saya sedikit lelah. Baik Nyonya saya akan meminta perawat itu agar menunggu anda," balasnya. "Tolong katakan juga, jangan lakukan apapun sebelum aku datang!" pintanya lagi. "Saya akan memintanya untuk menunggu Nyonya," jawabnya. Anatasya membuang napasnya kemudian membuka pintu. Suara khas monitor pasien yang sedikit mengerikan karena menandakan seseorang sedang berjuang untuk hidup melawan tubuhnya yang sakit. Akhir-akhir ini sering Anatasya dengar. Dia menatap beberapa buku yang terdapat di salah satu rak. "Apa yang sering dibaca lelaki sepertinya?" gumamnya sambil memilih beberapa buku yang berjajar rapi di rak tersebut. Beberapa buku mengenai bisnis berjajar di rak teratas. Anatasya tertarik dengan sebuah novel penulis terkenal yang novelnya tidak pernah gagal saat diterbitkan. Novel Kekasihku Mafia Bucin karya penulis Lysta, bertemakan mafia-romance. Saat ini novel tersebut termasuk novel terbarunya yang baru diterbitkan. "Kau membaca novel romantis juga. Aku kira karaktermu yang ...? (mengigit bibir bawahnya agar tidak melanjutkan ucapannya) aku kira kau tidak membaca buku bergenre ini. Tapi ternyata...?" gumamnya sambil berbalik dan menatap Frans yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Anatasya mengambil kursi dan menaruhnya di samping ranjang, tepatnya di samping Frans. "Kita tadi sudah berkenalan, aku Anatasya Edelweis Alaric, istri penggantimu. Kau bisa memanggilku Ana. Aku sudah memberitahumu alasan mengganti kakakku menikah denganmu karena dia sudah hamil. Jika kau tidak mengalami kecelakaan mungkin pernikahan ini tidak akan pernah terjadi," ucapnya sambil menatap wajah tampan Frans. "Saat kau sadar aku harap kau memutuskan pilihan yang bijak membiarkanku pergi dari rumah ini! posisi kita sama. Aku terpaksa menikah denganmu dan kau tidak menikahi gadis yang kau inginkan," ucapnya lagi. Untuk sejenak Anatasya menatap dalam wajah Frans, semua kemewahan yang dimiliknya tidak menjaminnya bisa terhindar dari kecelakaan yang membuatnya dalam kondisi separah sekarang. "Baiklah, mulai hari ini aku akan menjadi temanmu membacakan beberapa buku koleksianmu. Sepertinya beberapa novelmu pilihan terbaik untuk aku baca karena aku tidak terlalu suka dengan buku-buku yang mengandung perbisnisan. Kepalaku tidak bisa menerimanya karena sudah dipenuhi masalah hidupku yang berat," terangnya. "Apa yang sudah kau bicarakan Anatasya? kau tidak boleh membahas masalahmu. Kau hanya akan membuatnya terbebani. Maafkan aku karena hilang kendali (hehehehe)," ucapnya lagi sambil terkekeh. Anatasya seperti orang gila yang terus berbicara tanpa ada balasan dari orang yang diajaknya berbicara. "Baiklah, aku akan memulainya. Kau harus mendengarkannya!" ucap Anatasya sambil membuka salah satu novel yang cukup menarik hatinya. "Karya ini lanjutan dari Novel Terjebak Mafia Bucin, alangkah baiknya membaca novel itu terlebih dahulu agar memahami alur selanjutnya," Anatasya langsung terdiam. "Aish, maafkan aku sepertinya aku harus mengambil novel sebelumnya. Tunggu sebentar!" Anatasya mencari novel yang dijabarkan dan tersenyum setelah menemukannya. Dia kembali duduk dan mulai membacanya. Awalnya Anatasya terlihat bersemangat. Tetapi, setelah membaca bab pertama dia langsung terdiam. "Kenapa kisah dalam novel ini mirip denganku. Kekasihnya berselingkuh bedanya berselingkuh dengan teman baiknya. Meskipun rasa sakitnya tidak sesakit aku karena Darius berselingkuh dengan kakakku. Namanya berselingkuh tetap saja menyakitkan," gumamnya. Anatasya menatap Frans karena tidak menyangka jika Frans membaca buku semacam itu. "Kenapa kau membaca kisah seperti ini? apa kau pernah mengalami diselingkuhi kekasihmu?" gumamnya sambil menatapnya dalam. "Tidak mungkin orang sepertimu mengalaminya. Maafkan atas kelancanganku!" ucapnya lagi. Beberapa saat kemudian Anatasya terdiam, dia tidak sanggup lagi membaca kisah sedih di novel tersebut untuk saat ini. Membacanya sama saja mengungkit kisah menyakitkan yang dialaminya. "Maafkan aku, tidak bisa melanjutkan membacakan novel ini," sambil menunduk menatap novel yang dipegangnya. "Kenapa kisah perselingkuhan yang menjadi tema di novel, drama juga film harus terjadi di kisah nyata? seharusnya mereka melihat akhirnya! bukankah selalu berakhir buruk," ucapnya lagi sambil menghembuskan napasnya. "Aku berharap mereka berakhir buruk. Tapi, itu sebuah mimpi. Mereka sudah menikah sebentar lagi memiliki anak. Sedangkan aku bersamamu tanpa mengetahui akhirnya," tambahnya lagi. "Apa kau akan berbaik hati padaku? setelah kau siuman? jujur aku takut kau ...." Anatasya menundukkan kepalanya dengan jemari menggaruk-garuk novel yang tadi dibacarnya. "Jangan sakiti aku!" ucapnya sambil menatapnya dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD