PERNIKAHAN KONYOL

1944 Words
Setelah acara pernikahan berlangsung dengan dihadiri pihak pembelai wanita saja dan perwakilan pihak pembelai pria. Alaric menatap putrinya yang malang. Kemudian memeluknya dengan erat. "Maafkan ayah, Ana!" ucapnya dengan air mata yang mengalir begitu saja di kedua pipinya. Berbeda dengan Anatasya yang memilih diam. Anatasya sudah terluka sangat dalam dengan penghianatan dan hinaan Darius. Juga pasrah dengan nasibnya yang tak mungkin bisa lari dari pernikahannya yang aneh ini. Sikap Anatasya membuat Alaric semakin merasa bersalah. Setelah melepaskan pelukannya, Alaric menatap dalam rupa cantik putrinya yang tak jauh berbeda dari ibunya. Anatasya menatap balik ayahnya, tanpa ekspresi sedih ataupun bahagia. "Pernikahan macam apa ini ayah? pernikahan ini tidak sah. Lelaki yang menjadi suamiku tidak hadir dalam proses pernikahan. Hanya karena dia sudah menandatangi buku pernikahan. Kami resmi menjadi suami istri secara hukum. Ini bukan pernikahan normal ayah?" bantah Anatasya. "Ayah sudah menjelaskan alasannya. Ayah hanya memiliki satu putri yang bisa menolong ayah yaitu kamu. Ini semua kesalahan ayah yang tidak memiliki kemampuan melindungimu. Maafkan ayah Ana, maafkan ayahmu!" balas Alaric sambil menatapnya penuh rasa salah. Salah karena sudah mengorbankan putrinya sendiri sebagai alat pembayaran. Keadaan yang membuatnya memilihnya harus menjadi tumbal demi kemajuan perusahannya. "Jika boleh jujur, ayah lebih senang kamu tinggal di sini. Ketimbang tinggal di rumah. Ayah tidak ingin melihatmu sedihan yang disebabkan Darius dan Valery. Rumah ini tempat terbaik untukmu," ucap Alaric sambil menatapnya penuh kesedihan. "Yang menjadi suamiku sekarang seperti monster ayah. Meskipun dia diminati oleh seluruh wanita di dunia ini hanya karena menginginkan materinya. Dia lelaki yang menakutkan (hikhikhikhik)," tolak Anatasya sambil meremas kedua sisi jas yang dikenakan ayahnya. Terang saja Anatasya mengetahui siapa Frans. Sebatas pemberitaan yang berseliweran. Meskipun, Anatasya belum pernah bertemu dan berbicara dengan Frans. "Bersikap baiklah jika Tuan Frans siuman! menurutlah! ikuti semua yang diperintahkannya! itu salah satu cara kamu bertahan hidup. Dalam surat perjanjian, Tuan Frans akan menceraikanmu 5 tahun yang akan datang. Kamu memiliki harapan bebas putriku. Ayah akan menjadi orang pertama membantumu hidup normal lagi di luar rumah ini," terangnya. "(Hik hik hik)" Anatasya menangis tersedu-sedu karena hanya itulah yang bisa dia lakukan. Semua ucapan penyemangat sang ayah tetap saja tidak mengobati rasa takutnya. Tentu saja Anatasya takut, dia takut hidupnya akan berakhir di tangan lelaki yang terkenal monster itu. "Meskipun kau tidak menikah dengan Tuan Frans. Hati ayahmu tetap sakit membayangkan kesedihanmu melihat kebersama Darius dan Valery. Beban itu yang membuat ayah merelakanmu menikah dengan Tuan Frans," ucapnya lagi. "Ayah (hik hik hik)," tangisannya semakin menjadi. Menangis, hanya menangis yang bisa Anatasya lakukan saat ini. Beberapa menit kemudian, Setelah keduanya mencurahkan isi hati dengan menangis. Alaric melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi kedua pipi putrinya. "Jaga diri baik-baik! sesekali ayah akan datang ke sini mengunjungimu," ucap Alaric. "Ayah tidak bisa berlama-lama di sini." Alaric meninggalkan Anatasya yang terlihat sedih dan bingung. Jelas saja Anatasya kebingungan dia mati gaya di rumah asing itu. Tanpa ada seorangpun yang dikenalnya. Bahkan, tidak mengenal lelaki yang menjadi suaminya. Seorang pelayan mengantar Anatasya ke sebuah kamar mewah. "Ini kamar nyonya, kami sudah mempersiapkan semua kebutuhan nyonya. Pelayan yang sudah ditugaskan Tuan Frans untuk melayani Nyonya sedang bersiap. Silahkan Nyonya beristirahat dulu!" ucap pelayan cantik itu. Anatasya hanya menganggukan kepalanya karena dia masih kebingungan. Bukan itu saja, Anatasya menyukai penampilan pelayan itu. "Ya Tuhan, pelayan saja sangat cantik. Apa aku layak menjadi istri tuannya?" bisik batinnya. "Apa nyonya memerlukan sesuatu untuk saya bantu?" tanyanya sambil tersenyum cantik. "Tidak! aku hanya ingin beristirahat," balas Anatasya. "Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya. Pelayan cantik pun pergi meninggalkan Anatasya. Anatasya mengigit bibir bawahnya sambil mengelilingi pandanganya ke sekitarnya kamar. Kamar mewah dengan ukuran 10 kali lipat dari luas kamarnya. Dengan 10 putaran saja mengunakan sepedah bisa membuatnya berkeringat. Anatasya menatap kasur king mewah di sampingnya, menatap televisi dengan layar sangat lebar beserta alat elektronik yang komplit. Satu hal yang membuatnya penasaran. Anatasya menghampiri sebuah foto besar yang membentang di salah satu dinding kamar. Dia berdiri menatap gambar seorang lelaki tampan bersama seekor singa yang berjongkok di sampingnya. Lelaki itu terlihat santai memegang kepala hewan buas itu seperti kucing peliharaannya. Anatasya menatap dalam wajah tampan lelaki itu. Netranya sangat tajam, hidungnya mancung, bibirnya seksi dan perawakannya yang kekar dan atletis. Dari raut wajahnya yang terlihat santai, Anatasya bertanya-tanya. Kenapa gosip mengatakan jika lelaki itu sangat dingin dan menakutkan. Bahkan, dianggap seperti monster kejam. Tapi, singa yang menatap dirinya dalam gambar itu membenarkan gosip tersebut. Kucing besar yang sering menjadi raja hutan itu bukan peliharaan manusia biasa. "Singa saja takluk padanya. Kau memiliki hewan peliharaan yang sangat mengerikan. Tunggu! jika aku melakukan kesalahan. Aku bisa dijadikan makanan hewan peliharaannya itu. Sangat mengerikan," gumamnya sambil begidig. Anatasya menatap dalam lagi wajah tampan lelaki itu. Wajahnya tidak asing karena sering muncul di beberapa media sebagai pengusaha jasa bodyguard terbaik. Bahkan, dia sering merasa bosan mendengar rekan kerja sekantornya dengan antusias menggosipkanya. Ada yang terpesona ada juga yang menjadi haternya. Anatasya tidak terlalu fokus memperhatikanya. Karena dalam hatinya hanya menyimpan satu nama Darius. Cklek Terdengar bunyi gagang pintu berputar, Anatasya langsung menoleh ke arah seorang gadis cantik mengenakan seragam rapi muncul dari balik pintu. "Perkenalkan saya Hilda, saya ditugaskan melayani Nyonya," ucap gadis itu. "Jadi, gadis ini yang ditugaskan Frans menjadi pelayan pribadiku? gadis yang sama cantiknya dengan pelayan tadi. Frans memperkerjakan pelayan berwajah cantik ternyata," bisik batinnya. Anatasya langsung mendekatinya, "apa kamu tahu di mana Franssco berada? maksudku Tuan Frans," tanyanya sambil meralat panggilannya. "Nyonya tidak perlu memanggil Tuan dengan Tuan Frans mengingat Nyonya istri Tuan!" saran gadis itu dengan ramah. "A-aku masih canggung memanggilnya..." balas Anatasya. "Bukan saja canggung tapi takut karena belum pernah bertemu sekalipun dengannya," bisik batinnya lagi. "Lebih baik Nyonya segera membersihkan diri! saya akan menyiapkan air hangat untuk anda," tawarnya sambil melangkah menuju ke salah satu pintu di ruangan itu. "Saat ini yang aku inginkan hanya mengetahui keberadaan Frans," tolaknya membuat Hilda menghentikan langkahnya. "Lebih baik Nyonya membersihkan diri dulu. Setelah itu menemui Tuan. Saya akan mengantar Nyonya ke ruang perawatannya," balasnya. "Dia ada di rumah ini?" tanya Anatasya dengan ekpresi terkejut mendengar informasinya. Anatasya kita Frans dirawat di Rumah Sakit. "Anda benar, Nyonya. Atas keinginan Nyonya besar," jawabnya. "Nyonya besar berharap aroma dan suasana rumah ini merangsang Tuan Frans siuman. Rumah ini merupakan rumah impian Tuan," terangnya lagi. "Antarkan aku ke ruangannya!" pinta Anatasya. "Tapi, Nyonya?" "Aku menikah dengan pria dalam kondisi koma, karena pengantin priaku tidak bisa menghampiriku. Aku yang akan menghampirinya," ucapnya. "Baiklah, jika Nyonya bersikeras. Saya aka mengantar Nyonya!" balasnya sambil mempersilahkan Anatasya mengikutinya. "Kenapa begitu mudah sekali meminta sesuatu di rumah ini? apa menjadi orang kaya seperti ini?" bisik batinnya. Anatasya mengikuti Hilda sambil mengarahkan pandanganya ke setiap sudut ruangan. Rumah megah yang sangat luas. Hingga Hilda berhenti di sebuah pintu tertutup di lantai satu. "Maaf Nyonya!" Hilda langsung menyemprotkan sesuatu ke seluruh tubuh Anatasya. Semacam hand sanitizer semprot. "Ya Tuhan, kamu mengagetkanku!" teriak Anatasya. "Maaf Nyonya, semua yang masuk ke ruangan Tuan harus dalam kondisi bersih. Tolong ulurkan kedua telapakan tangan Nyonya!" ucapnya. Anatasya mengikuti yang diminta Hilda, wanita itu mengoleskan hand sanitizer cair kemudian menggosok kedua tangannya dengan lembut. "Silahkan masuk!" ucapnya sambil membuka pintu. Anatasya menegakkan tubuhnya kemudian berdehem untuk menstabilkan perasaanya. Dalam hatinya merasa gugup bercampur takut. Setelah hatinya tenang dan siap, Anatasya memasuki ruangan itu. Padahal orang yang akan ditemuinya sedang koma. Kenapa dia panik dan gugup? Setelah memasuki ruangan yang sama luasnya dengan kamarnya. Anatasya melangkah perlahan menghampiri seorang lelaki yang tertidur lemah di kasur mewah. Hanya suara alat medis yang terdengar di ruangan itu. Anatasya tidak memahami membaca tulisan yang tertera di alat-alat medis yang mengelilingi pria itu. Dia lebih fokus memperhatikan tubuh Frans. Kepalanya terbungkus perban dengan noda darah yang sedikit merembes di salah satu sisi kepalanya. Salah satu tangannya pun terbalut. Anatasya tidak melihat bagian kakinya karena tertutup selimut. Mulut dan hidungnya tertutup alat bantu napas, beberapa alat medis lainnya menempel di dadanya. Anatasya dengan perlahan mendekati Frans, lelaki yang biasa digosipkan rekan kerjanya. Yang dikagumi juga memiliki citra buruk menakutkan karena karakternya. Kini berada di hadapannya sebagai suaminya. Anatasya menatapnya dalam. "Perkenalkan aku Anatasya Edelweis Alaric. Hari ini kau menjebakku hingga resmi menjadi suamiku. Sebenarnya, aku tidak yakin saat kau sadar akan menerimaku karena yang ingin kau nikahi kakakku, Valery," ucapnya dengan nada pelan. Anatasya mendekatkan mulutnya ke salah satu lubang telinga Frans. "Segera bangun! aku ingin kau bangun dan mengusirku. Aku tidak memiliki cara lain keluar dari rumahmu kecuali kau mengusirku," bisiknya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? kenapa kau mendekati putraku dengan gaun kotormu?" ucap seorang wanita membuat Anatasya menegakkan tubuhnya kemudian menoleh ke arahnya. "Apa kau Valery yang menikah dengan putraku?" tanyanya dengan nada dingin dan angkuh. Anatasya terdiam, dia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu. Anatasya mendengar dengan jelas wanita itu mengatakan Frans putranya. Dia sedang berhadapan dengan ibunya. "Aku-..." berhenti sesaat karena berniat membantah dirinya Valery. Tapi, dia teringat foto Frans di kamar. Binatang mengerikan itu akan melahapnya jika Anatasya ketahuan sudah membohongi mereka karena yang harusnya menikah dengan Frans saudarinya. Tapi, malah dirinya. Banyak alasan yang akan membuat wanita itu melenyapkannya atas penipuan. Anatasya tidak mau mati konyol. Dia akan menerima hukuman apapun atas pertukaran dirinya itu asal Frans yang menghukumnya. "Anda benar, saya Valery," jawabnya sambil tersenyum lebar. "Keluar!" usirnya. "Kenapa anda mengusir saya?" tanyanya dengan polos. "Kau tidak diperbolehkan mendekati putraku dengan gaun yang sudah dipakai dari luar ruang ini. Itu akan membahayakan kesehatan putraku. Segera keluar dari sini!" terangnya diakhiri pengusiran. "Ya Tuhan, pantas saja putranya digosipkan memiliki karakter buruk. Wanita yang melahirkannya seperti itu," ucap bantinnya. "Apa kau sedang membicarakan keburukanku dalam hatimu?" ucapnya membuat Anatasya terperanjat kaget. "Ti-tidak! saya tidak seperti yang anda tuduhkan," bantah Anatasya. "Dari cara bicaramu kau melakukanya," bantahnya. "Segera keluar dari sini! apa kau ingin aku meminta pelayan menggusurmu?" ancamnya. Anatasya dengan cepat keluar ruangan itu disertai tatapan tajam wanita itu. "(Huh)" Anatasya meniup-niup udara dari mulutnya dengan punggung bersandar di pintu. "Ibu dan anak yang menakutkan," gerutunya pelan. "Maaf Nyonya, pasti Nyonya kena marah Nyonya besar. Saya sudah meminta Nyonya membersihkan diri karena Nyonya besar tidak mengijinkan siapapun mendekati Tuan dalam keadaan tidak bersih," terangnya. Anatasya menatap wajah pelayan barunya itu yang terus saja tersenyum manis. Hilda sangat ramah juga cantik. Gadis secantik dia hanya menjadi seorang pelayan. Pelayan-pelayan cantik. Frans memiliki standar dalam memilih pelayan. Apalagi istri. Valery sosok gadis yang jauh berbeda denganya. Seharusnya, yang berada di posisinya saat ini dia. Anatasya baru menyadari, benar apa yang dikatakan Darius. Dia gadis kolot, norak dan tidak cantik. Itulah kenapa Darius lebih memilih Valery yang baru berhubungan 1 tahun daripada memilihnya yang sudah menjadi kekasihnya selama 5 tahun. "Mari kita kembali ke kamar!" ajak Hilda. Anatasya melangkahkan kakinya menuju ke arah anak tangga. Kamarnya berada di lantai 2. Anatasya menghentikan langkahnya sambil berbalik ke arah Hilda. "Tunggu! bukankah kamu pelayan pribadiku? apa kau ditugaskan khusus melayaniku?" tanyanya. "Benar Nyonya," jawabnya sambil tersenyum ramah. "Aku perhatikan kamu berpenampilan sangat rapih dan cantik. Apa kamu mau mengajarkanku cara merias wajah?" tanya Anatasya. "Apapun permintaan Nyonya saya dengan senang hati bersedia mengajarkan Nyonya," balasnya tanpa melenyapkan senyuman yang mempercantik wajahnya. "Terima kasih, semoga kita menjadi rekan yang solid dan akur," ucap Anatasya. "Saya juga berharap seperti itu," balasnya. Anatasya memutar tubuhnya, kemudian meneruskan langkahnya. Sejak melihat Hilda, Anatasya merasa bahagia dan ingin melenyapkan semua kenangan pahitnya. Mulai hari ini, Anatasya akan menikmati semuanya sampai Frans simuman. Anatasya akan menerima nasibnya sampai Frans siuman dan berharap mengusirnya dari rumah mewah itu, hanya itu harapan satu-satunya. Tentu saja Frans akan mengusirnya, jelas-jelas Anatasya bukan gadis yang diinginkannya. Dia tidak menyadari raut bibir Hilda berubah karena kekesalan dalam hatinya. Netranya menatap punggung Anatasya. "Seharusnya aku yang berada di posisimu karena aku yang selalu ada setiap Tuan mengingkanku," bisik batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD