AKU DIKHIANATI

1575 Words
Dua hari sebelum hari pernikahan Anatasya dengan Darius. "Aku tidak mau menikah dengan lelaki kejam itu ayah," tolak Valery sambil menangis. "Kita sudah membicarakannya dari dua minggu yang lalu. Jika Tuan Fransisco akan membebaskan hutang ayah dengan imbalan menikahimu. Tuan Frans memilihmu karena sering melihatmu. Dia menyukaimu Valery," ungkap Alaric. "Tolong bantu aku terbebas dari permintaan menakutkan ini ibu! (hik hik hik hik)," pinta Valery sambil memeluk ibunya. "Apa kau berniat menumbalkan putriku?" bantah Mona sambil menatap tajam Alaric. Mona ibu Valery, istri Alaric. Tepatnya, istri kedua setelah istri pertamanya meninggal dunia. "Bukankah kau tahu jika beberapa bulan ini perusahaan diambang kebangkrutan. Kita jatuh miskin. Jika tidak meminjam uang dari Tuan Frans. Dalam surat perjanjian, hutang harus dibayar dua bulan lagi sedangkan keuangan perusahaan baru stabil. Jika aku mengembalikan semua yang yang dipinjam, sama saja mengembalikan perusahaan menuju kebangkrutan," terang Alaric. "Meskipun itu alasannya, aku menentang keras putriku dijadikan alat pembayaran hutang. Apalagi lelaki yang akan menikahinya lelaki mengerikan. Tidak! aku tidak rela memberikan Valery pada lelaki itu," bantah Mona sambil memeluk erat putrinya yang sudah dari tadi menangis. "Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu ibu. Aku lebih baik mati daripada harus hidup bersama lelaki sepertinya. Dia bukan manusia tapi monster. Aku tidak yakin akan hidup lebih lama setelah menjadi istrinya," keluh Valery sambil terisak. "Apa kalian sudah siap hidup miskin?" tanya Alaric terlihat sangat kesal. "Jika Tuan Frans memilih Anatasya. Dia tidak akan sepertimu. Anatasya tidak akan segan-segan mengorbankan dirinya untuk kita." "Jika putrimu bersedia, nikahkan saja Anatasya dengan monster itu!" serang balik Mona. "Tuan Frans menginginkan Valery bukan Anatasya," bantah Alaric. "Tuan Frans akan murka jika aku menukar Valery dengan Anatasya." Saat ruangan itu diisi dengan perdebatan panas. Terdengar dering ponsel Alaric mendapatkan panggilan. Alaric menerimanya. "Ada apa Calvin?" tanyanya. Calvin adik kandungnya. Calvin ditugaskan menjadi wakil pimpinan di perusahaannya. "Tuan Frans mengalami kecelakaan," jawabnya. "Apa!" teriak Alarik karena terkejut dengan mata membulat. "Jangan bercanda, Calvin!" "Apa kakak tidak melihat televisi atau berita di seluruh media? Saat ini berita mengenai kecelakaannya menjadi tranding topik," balasnya. "Kamu pun tahu waktuku sangat padat dengan jadwal pertemuanku dengan beberapa rekan bisnis kita. Aku tidak sempat menonton televisi atau melihat-lihat berita di sosial media. Aku bahkan baru sampai di rumah," balasnya. "Lantas, bagaimana kondisinya sekarang?" "Tuan Frans terluka parah dari pemberitaan yang tersebar dia mengalami pendarahan di otak, mengakibatkan otaknya tidak berfungsi. Saat ini Tuan Frans dalam kondisi koma," terangnya. "Ya Tuhan," balas Alaric sambil melirik istrinya dan Valery. Beberapa menit kemudian, Alaric selesai berbicara dengan adiknya. Alaric menyalakan televisi untuk memastikan laporan Calvin. Dia memutar beberapa chanel, semuanya membahas kecelakaan maut Frans. Tidak heran jika Frans menjadi tranding topik pemberitaan di berbagai media, mengingat Frans salah satu pengusaha muda terkaya di negara ini. "Apa lelaki itu mengalami kecelakaan dan koma?" tanya Mona sambil duduk di samping suaminya yang menganggukkan kepalanya. "Jika dia dalam kondisi koma. Bukankah pernikahannya batal?" "Pernikahannya akan tetap dilaksanakan. Ada alasan lain Tuan Frans memutuskan menikah," balas Alaric. "Aku sudah menandatangani surat kuasa Valery dan Tuan Frans akan menikah di tanggal yang sama dengan pernikahan Anatasya." "Aku tidak mau menikah dengannya ayah. Aku tidak mau (hik hik hik hik). Jika ayah merestuinya, ijinkan aku yang menikah dengan Darius," pinta Valery. "Apa kau sudah tidak waras?" teriak Alaric sambil berdiri dengan mata melotot. "Mana mungkin Darius menikahimu. Dia akan menolakmu karena Darius kekasih adikmu, calon adik iparmu." "Darius akan bersedia menikah denganku ayah. Ketahuilah! alasanku tidak mau dinikahkan dengan Fransisco? aku sedang hamil anak Darius," terang Valery membuat mata Alaric membulat. Bukan saja Alaric yang terkejut, ibunya juga. "Jangan bercanda, Valery! mana mungkin kamu dihamili Darius. Bukannya Darius selama ini kekasih Anatasya?" bantah ibunya dengan mata tak kalah membulat dengan suaminya. "Kami menjalin hubungan di belakang Anatasya setahun yang lalu. Sebenarnya, Darius ingin memutuskannya. Tapi, dia tidak bisa melakukannya karena kasihan," terang Valery sambil menatap Alaric dan Mona. Mona menggenggam tangan putrinya, kemudian menarik menjauhi Alaric. "Jangan bercanda, Valery! Jika tidak mau dinikahkan dengan lelaki itu. Jangan mengarang sesuatu yang tidak masuk akal," bantah Mona. "Aku tidak bercanda ibu. Darius dan aku saling mencintai. Kami sering menghabiskan malam bersama," balasnya sambil menatap dalam ibunya. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mona pada Alaric. "Jika kamu memaksa Valery menikah dengan lelaki itu. Dia akan murka setelah mengetahui gadis yang dinikahinya sudah hamil. Jika kamu menikahkannya dengan Anatasya. Meskipun awalnya tidak terima. Anatasya masih virgin lama kelamaan dia akan menerimanya? meskipun menyalahkan kita tapi dia tidak dirugikan," saran Mona. Mona secara tidak sadar mengatakan putrinya tidak berharga karena sudah tidak virgin, hamil pula. Alaric terdiam tidak menjawab ucapan istrinya. "Valery hamil sayang. Alasan menukar putrimu demi kebaikan lelaki itu," bujuk Mona. Untuk beberapa saat, Alaric berpikir keras mengambil keputusan terbaik untuk kedua putrinya. Tetapi, keputusan itu tidak baik bagi salah satu putrinya. "Maafkan ayah, Anatasya! Ayah harus mengambil keputusan menyakitkan ini." "Baiklah, ayah akan menikahkan Anatasya dengan Tuan Frans," ucapnya sambil menghelak napasnya yang berat. Alaric sudah membayangkan kesedihan putrinya setelah mengetahui Darius menikahi Valery. Ditambah ayah dari bayi yang dikandung kakaknya, Darius. Valery bersorak senang mendengar keputusan ayah tirinya. Saking senangnya, Valery berjingkrak-jingkrak sambil memeluk ibunya. "Jangan melompat-melompat. Ingat, kamu sedang hamil!" protes Mona. "Terima kasih ayah, aku sangat menyayangimu," ucap Valery sambil memeluk Alaric. Alaric menikah dengan Mona saat usia Valery 9 tahun dan Anatasya 7 tahun. Alaric tidak membedakan kasih sayangnya pada Valery dengan Anatasya yang merupakan putri kandungnya. Beberapa hari kemudian, Setelah pertemuan resmi kedua keluarga dengan keputusan pembelai wanitanya menjadi Valery, Darius terlihat senang. Lelaki itu tanpa ragu menyetujuinya. Melihat kenyataan itu hati Alaric tidak senang, bagaimanapun Anatasya putri kandungnya. Ayah mana yang akan terima putrinya disakiti dan dipermainkan. Akhirnya, hari pernikahan pun tiba. Mona mengunci kamar Anatasya sampai acara pernikahan dan jamuan usai. Meskipun beberapa teman Anatasya kaget karena pembelai wanitanya Valery. *** Beberapa saat setelah Anatasya mengetahui, Darius menikahi Valery karena hamil. Anatasya sangat syok. "Maafkan aku, Ana! aku menyukai kakakmu, hubungan kami sudah berjalan satu tahun," terang Darius. Anatasya langsung mundur dengan bibir bergetar sambil menggelengkan kepalanya sebagai reaksi tidak percayanya. Bagaimana bisa dia kecolongan hingga tidak mengetahui hubungan mereka. "Kau br*ngsek, Darius! kau br*ngsek!" teriak Anatasya sambil memukul-mukul d**a-nya. Darius memilih diam menerima pukulannya. Tetapi, sikapnya membuat Valery terbakar api cemburu. "Jangan sakiti suamiku, Ana!" bela Valery sambil menarik kedua tangan Anatasya menjauhkannya dari d**a bidang Darius. "Apa kau tidak memikirkan sedikitpun perasaanku? tega-teganya kau merebut kekasihku. Kau jahat, Valery!" serang balik Anatasya sambil menghempaskan tangannya dengan kasar. "Aaaa---!" jerit Valery mulai berakting seolah tubuhnya didorong Anatasya. Tubuhnya oleng ke samping. "Valery!" panggil Darius setengah berteriak. Dengan cepat Darius menarik tangan Valery kemudian memeluknya. "Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Darius. "Aku dan bayi kita baik-baik saja sayang," balas Valery dengan manja. " (Hah) sayang? kalian benar-benar tidak punya hati saling memanggil sayang di depanku," cibir Anatasya sambil menatapnya sinis. "Aku malah ingin memanggil istriku beribu kali dengan panggilan itu di depanmu, Anatasya. Kau gadis pemarah dan sering bersikap kasar. Apa kau tidak mendengar Valery sedang hamil? kau tidak boleh bersikap kasar padanya! kau bisa membuat bayinya dan Valery celaka," bantah Darius terkesan berlebihan membuat Anatasya membulatkan matanya tak percaya. Darius tidak pernah berbicara keras dan kasar padanya. Setelah mengakui terang-terangan Valery hamil anaknya, Darius berubah. "Aku tidak menyesal memutuskan menikah dengan Valery. Kakakmu gadis pintar, cantik, mudah bergaul tidak norak sepertimu," ucap Darius semakin membuat Anatasya kesal. Hinaan pun terlontar begitu saja tanpa sedikitpun merasa iba. Sudah menyakitinya dengan membatalkan pernikahannya karena berselingkuh dengan saudari tirinya. Ditambah ucapan sarkasnya. Darius benar-benar mengungkapkan sebuah penghinaan yang menyakitikan. Darius dengan lantang membandingkannya dengan kakaknya yang jauh berbeda dengannya, terutama dalam penampilan. Tentu saja, Valery lebih unggul darinya. Sejak kecil dia mendapatkan segalanya, terutama materi. Valery lebih dimanjakan untuk melakukan medi pedi, bolak balik ke salon dan berbelanja pakaian bermerk dan barang-barang mewah. Berbeda dengan Anatasya, di belakang ayahnya. Mona memperlakukan putri tirinya dengan tidak adil. Jatah keuangan untuk Anatasya, dia gunakan untuk kesenangannya bersama putrinya. Itulah alasannya pakaian Anatasya selalu sederhana tidak semodis Valery. Kembali ke Anatasya yang tidak terima dihina Darius. "Darius!" teriak Anatasya. "Kau harus tahu, Ana! selama ini aku tertekan karena penampilanmu yang kolot. Aku bahkan tidak yakin kapan kau mencuci mukamu?" "Kenapa kau mengatakan itu sekarang (hah)?" bantah balik Anatasya dengan kedua mata memerah. "Karena selama ini aku kasihan. Aku menunggu waktu yang tepat memutuskanmu dan memberitahumu lebih menginginkan Valery," jawabnya sambil menatap tajam. Tatapan Darius yang dipenuhi cinta lenyap bagai sang mentari yang enggan bertahan kala malam tiba. Anatasya telah kehilangan sosok lelaki yang selama ini menjadi satu-satunya harapan menuju masa depannya yang bahagia. "Cukup Darius!" teriak Alaric. Alaric memberikan isyarat mata pada kedua lelaki yang mengenakan jas lengkap. Anak buah Frans yang hendak membawanya ke rumah Frans. "Kalian boleh membawanya!" perintah Alaric dengan rahang mengeras. "Mereka siapa ayah?" tanya Anatasya sambil mundur menghindari mereka. "Kamu akan menikah dengan lelaki yang pantas untukmu," ucap Valery sambil tersenyum senang. "Jelaskan padaku ayah!" teriak Anatasya sambil menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Hari ini kau akan menikah tetapi dengan lelaki yang sudah ayah pilih," jawab Alaric. "Tidak ayah, aku tidak mau," tolak Anatasya. "Aku terima Darius menikah dengan Valery. Aku rela, tapi jangan nikahkan aku dengan lelaki yang tidak aku kenal," bantahnya. Kedua lelaki berjas lengkap itu memegang kedua tangan Anatasya yang berusaha menghindarinya bahkan melawannya. Meskipun akhirnya Anatasya dalam genggaman kedua lelaki itu. "Lepaskan!" teriak Anatasya saat kedua lelaki berjas lengkap itu memegang kedua sisi tangannya kemudian menarik tubuhnya ke luar kamar. "Semoga pernikahanmu bahagia," ucap Valery sambil melambaikan tangannya seolah mengolok-ngoloknya. "Ayah!" teriak Anatasya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD