Ziyana secepatnya pamit pulang. Ada satu tempat yang ia curigai menjadi tempat Gentala singgah. Tempat di mana lelaki itu bekerja untuk sementara. Ziyana melajukan mobilnya dengan perasaan kalut.
Andai benar Gentala ada di sana, bagaimana? Apa yang akan Ziyana lakukan? Marah? Menangis, atau apa? Antahlah, yang jelas ia pasti akan sangat kecewa pada Gentala.
Ziyana sudah sampai, setelah ia parkir, Ziyana turun dari mobil. Ia berjalan dengan perasaan cemas. Ziyana menghampiri meja informasi, menanyakan pasien kecelakaan yang masuk empat hari yang lalu. Ia tidak tahu nama pasien dan itu membuatnya sulit mengetahui letak ruang perawatan pasien.
Ziyana menyebutkan Gentala sebagai walinya dan berhasil, perawat tersebut memberi tahu ruang perawatan wanita itu, semoga saja benar. Ia melangkah cepat tidak sabar ingin segera membuktikan apakah dugaannya terhadap Gentala benar atau salah?
Semakin dekat dengan tujuan langkahnya semakin melambat. Ketakutan menghadapi kenyataan buruk tiba-tiba hadir. Menurut resepsionis tadi, pasien itu masih di ICU. Ia melihat Gentala berdiri di sana di depan kaca ICU.
Ziyana perlahan menghampiri Gentala, suara sepatu yang semakin dekat membuat Gentala menoleh. Ia tampak terkejut melihat sosok kekasihnya yang beberapa hari ini tidak bertemu. Bahkan tidak pernah ia hubungi. Gentala menegakkan tubuhnya.
“Ziya, kamu kok bisa ke sini?” tanya Gentala.
“Ya, bisa, dong! Kamu aja bisa ke sini, kenapa aku nggak bisa?” jawab Ziyana sewot, tetapi tetap pelan.
“Maksud aku, kamu tahu dari mana aku ada di sini?” tanya Gentala lembut tak ingin terpancing emosi oleh Ziyana.
“Aku nggak tahu! Aku asal tebak aja. Mungkin insting seorang pacar kali!” sahut Ziyana ketus.
“Maaf, aku cuma mampir sebentar. Ingin tahu perkembangan kesehatannya. Habis ini aku juga ke kantor lagi, kok!” Kebohongan untuk ke sekian kalinya yang terlontar dari mulut Gentala.
Ziyana menatap lekat wajah Gentala. Wajah dari sosok yang dulu berjanji akan selalu setia dan tidak pernah menyakiti, kini berdusta. Apakah semua janji itu hanya omong kosong, gombalan receh yang tidak ada artinya?
“Mas, berhenti berbohong! Atau kamu akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya. Apa kamu nggak capek, Mas?” Mata Ziyana berkaca-kaca.
Gentala menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Ia paling benci melihat Ziyana menangis dan sekarang ia sendiri penyebab air mata itu menetes.
“Ka ... kamu ngomong apa, sih?” Gentala enggan mengakui kesalahannya,
“Kamu nggak usah pura-pura. Aku tahu kamu udah beberapa hari ini nggak masuk kantor. Bahkan kamu juga membohongi orang tua kamu sendiri. Kamu itu bukan lembur di kantor, tega kamu bohongi aku, Mas?”
Jadi, Ziyana sudah tahu. Gentala merasa sangat bersalah. “Maaf, aku beneran cuma mau lihat dia sebentar aja. Karena keluarganya belum tahu siapa dan aku masih tercatat walinya. Jadi, aku yang bertanggung jawab di sini. Aku nggak bilang kamu atau kedua orang tuaku soalnya aku tahu kalau bilang pasti kalian tidak akan izinkan dan suruh aku lepas tangan.”
“Ya, pasti.” Ziyana tak habis pikir dengan Gentala. Sudah tahu Ziyana tidak akan mengizinkan, tetapi tetap melakukannya.
“Kamu itu nggak ada hubungannya sama dia, tapi kamu sampai bela-belain nggak ke kantor, pulang malam, berbohong sama aku dan orang tuamu. Aku nggak habis pikir, kenapa, Mas? Ada apa sebenarnya? Apa kamu kenal dia?” Terlontar juga pertanyaan yang selama ini dipendam Ziyana.
“Nggak, aku benar nggak kenal dia, ini hanya rasa iba, rasa kemanusiaan aja,” jawab Gentala.
Seorang perawat menghampiri mereka. “Mas Gentala, akhirnya pasien mau bertemu dengan Anda. Oh iya lupa, kalung milik pasien yang kemarin saya kasih Anda, masih ada ‘kan? Soalnya pasien tadi menanyakan kalungnya. Tolong nanti kasih ke pasien juga, ya.”
“Iya, Mbak. Makasih.” Perawat itu tersenyum lalu pergi.
“Kalung? Kalung apa?” tanya Ziyana.
“Kalung milik pasien, waktu operasi kan dibuka dan waktu aku jenguk ke ICU, perawat tadi ngasih kalung ke aku.” Gentala mengeluarkan kalung tersebut dan menunjukkannya pada Ziyana.
Ziyana terkejut, itu adalah kalung miliknya yang sudah lama hilang. Kalung pemberian seorang remaja SMP bernama Ata, yang sangat ia cintai. Kalung itu diberikan ketika lelaki itu lulus SMP sebagai kenang-kenangan. Ziyana menatap kalung itu lalu beralih menatap Gentala.
“Ini kalung dia?” tanya Ziyana.
“Iya, aku melihatnya dia memakai kalung ini,” jawab Gentala.
“Aku ke dalam dulu, mau menanyakan identitasnya biar keluarganya cepat dihubungi, sekalian memberikan kalung ini.” Gentala melangkah menuju ruang ICU.
“Mas, aku ikut boleh?” tanya Ziyana. Ia sangat penasaran, bagaimana kalung miliknya bisa ada di tangan wanita itu. Ia juga tidak mungkin tiba-tiba bilang pada Gentala kalau kalung itu miliknya dan sudah lama hilang.
“Ikut aja, aku nanti minta izin pada perawatnya.” Gentala kembali melangkah diikuti Ziyana.
Mereka diizinkan masuk, tetapi hanya sebentar. Mereka memakai pakaian khusus untuk yang menjenguk ruang ICU. Gentala mendekat ke sisi tempat tidur sedangkan Ziyana sedikit memberi jarak berada di bagian kaki pasien.
“Kamu sudah lebih baik?” tanya Gentala dengan lembut. Ziyana mengamati interaksi mereka.
Perempuan itu mengangguk. Gentala menunjukkan sebuah kalung pada pasien. “Ini punyamu?” tanyanya.
“Iya, aku mene ....” Perkataan pasien dipotong Gentala.
“Ana?”
Ziyana menatap Gentala mendengar nama Ana keluar dari mulut Gentala. Nama itu adalah panggilannya dari Ata. Jika Gentala tahu nama Ana, lantas apakah Gentala itu ‘Ata’ nama panggilan yang Ana berikan untuk lelaki pemberi kalung tersebut.
“Namaku Rosiana ... kadang dipanggil Ana,” jawab Rosiana dibalik masker oksigennya.
“Jadi, kamu benar Ana? Kamu ingat siapa yang memberikan kalung ini padamu?” tanya Gentala dengan semangat karena terlalu senang, akhirnya ia bertemu dengan orang yang ia cari. Cinta pertamanya yang tiba-tiba menghilang.
Ziyana menatap lekat Gentala. Ia sama sekali tidak bersuara. Wajah Gentala terlihat begitu bersemangat. Apakah karena kalung itu atau karena Rosiana?
Rosiana melirik Gentala, matanya berkedip. Ia lalu meringis seraya merintih kesakitan. Gentala panik lalu memanggil dokter. Ziyana dan Gentala diminta untuk keluar.
Beberapa saat kemudian dokter keluar, ia mengatakan pada Gentala sebagai wali pasien, kalau Rosiana harus dioperasi lanjutan karena pendarahan di kepalanya yang saat itu belum bisa dikeluarkan karena posisinya yang rawan. Kini operasi harus segera dilakukan.
“Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk Ana.” Gentala sudah yakin kalau wanita itu adalah Ana. Ziyana merasa risih mendengar Gentala memanggil Ana pada wanita lain.
“Tapi, kami butuh darah untuk antisipasi dan di rumah sakit ini golongan darah pasien tidak tersedia karena langka. Mungkin Anda bisa mencari golongan darah yang sama dengan pasien, kami juga tetap mencari ke PMI.”
“Ini dok, kebetulan Ziyana golongan darahnya sama dengan Ana. Kemarin juga dia yang donor darah.” Gentala tanpa ragu menarik Ziyana mendekat.
“Oh, yang waktu itu pingsan setelah donor darah? Apa sekarang kamu sudah sehat, kalau sakit atau belum makan lebih baik tidak donor darah. Kita cari yang lain,” ujar dokter. Ia takut si pendonor kembali pingsan.
“Waktu itu dia pingsan karena belum makan aja dok, sekarang dia sehat dan sudah makan. Iya ‘kan Ziya?” tanya Gentala menatap Ziyana dengan mata penuh harap.
Ziyana tidak langsung menjawab, ia sedang berpikir, apakah benar lelaki di sebelahnya ini adalah Ata, cinta pertamanya?
“Ata, itukah kamu? Kenapa aku harus tahu tentang kamu dengan cara seperti ini? Dia bukan Ana kamu, akulah Ana. Haruskah aku berkorban lagi untuk orang asing yang kau anggap diriku? Aku mengerti sekarang, kau begitu perhatian padanya karena menganggap dia Ana.” Ana berbicara dalam hati.
“Aku nggak mau, asal kamu tahu, aku belum makan karena aku mencarimu ke kantor lalu ke rumahmu dan ke sini. Aku berniat makan siang denganmu, tapi kau sangat susah ditemui. Begitu ketemu kau minta aku donor darah. Apa kau gila? Kau tidak peduli kondisiku yang penting dia selamat. Apa aku tidak penting bagimu?”
Emosi Ziyana meledak, ia tidak peduli jika dokter melihatnya marah-marah. Ziyana lalu pergi meninggalkan Gentala. Persetan dengan Rosiana, mati pun ia tidak peduli.
“Sayang! Ziya! Ziyana!” teriak Gentala sambil mengejar Ziyana. Ia memanggil nama lengkap Ziyana untuk menegaskan bahwa ia serius dan meminta Ziyana berhenti.
Ziyana berbalik badan. “Apa? Kamu mau bujuk aku untuk donor darah lagi, iya?”
“Maaf, aku tidak tahu kamu belum makan, kita sekarang pergi makan, ya. Setelah itu kamu mau donor darah, ya?” Gentala berkata dengan lembut.
Ziyana kembali ingin emosi. “Ini bukan demi Rosiana, tetapi demi aku. Agar aku tenang. Setelah operasi aku tidak akan lagi mengurusi dia karena identitas orang tuanya sudah diketahui dan bisa dihubungi. Anggap aja ini pertolongan terakhir untuknya, gimana?” Gentala langsung menjelaskan panjang lebar sebelum Ziyana kembali marah. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Ziyana
“Kau tenang, jika aku donor darah? Kalau aku pingsan lagi, gimana?”
“Aku akan selalu bersamamu. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan pastikan kau baik-baik aja.” Gentala tersenyum lembut.
Ziyana kembali luluh, ia pun akhirnya setuju untuk donor darah, tetapi ia akan makan lebih dulu. Kali ini Gentala mengajak Ziyana makan di luar rumah sakit.