Tiba waktunya untuk Rosiana operasi ke dua menangani pendarahan di kepala. Ziyana pun sedang mendonorkan darahnya. Satu labu sudah terisi, kini labu ke dua. Donor darah lebih dari satu labu terutama whole blood tidak sembarangan bisa di lakukan karena bisa menyebabkan anemia dan defisiensi zat besi pada si pendonor.
Biasanya dalam keadaan darurat, prosedur ini dilakukan menggunakan teknologi Apheresis atau pisah komponen agar si pendonor aman. Itulah yang dokter lakukan pada Ziyana. Setelah donor darah selesai, Ziyana sedikit pusing dan mual. Dokter meminta Ziyana tetap berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi dari badan. Dokter mengganjal kedua kaki Ziyana dengan bantal.
Gentala selalu mendampingi Ziyana. Ia lalu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah diberi sedotan pada Ziyana. Wanita itu menyedot hingga habis setengahnya. Sambil menunggu Gentala juga menyuapi Ziyana dengan potongan roti.
Setelah lebih dari lima belas menit, Ziyana sudah merasa lebih baik. Ia bersyukur tidak pingsan lagi seperti donor darah yang pertama dan Gentala juga menepati janjinya untuk selalu menemani Ziyana.
“Kamu, udah enakan, Sayang?” tanya Gentala perhatian.
“Udah,” jawab Ziyana seraya mengangguk.
“Sekarang kamu mau pulang atau di sini aja?” tanya Gentala. Ziyana mendelik mendengar pertanyaan Gentala. Buat apa dia di sini? Lebih baik ia pulang istirahat di rumah.
Siapa yang suka berlama-lama di rumah sakit? Sepertinya hanya Gentala seorang, itu pun karena ada sosok wanita cantik si cinta pertamanya. Ya, kecuali dokter dan tenaga kesehatan lain yang bekerja di rumah sakit. Itu pun mereka terpaksa karena panggilan tugas. Kalau Gentala panggilan ayang.
“Kamu pikir aja, Mas. Ngapain aku di rumah sakit? Oh, jangan-jangan kamu yang mau di sini terus nungguin wanita itu, iya?” Ziyana tidak salah menuduh Gentala karena pada kenyataannya kemarin-kemarin Gentala selalu berada di rumah sakit.
“Nggak, aku ‘kan udah janji sama kamu. Aku nggak akan urusi dia lagi sudah ada keluarganya.”
“Bagus, deh. Ingat ya, kamu udah janji sama aku. Kalau kamu ingkar dan bohongi aku lagi kamu kebangetan!”
“Iya, Sayang.”
“Ya udah, kita pulang, yuk!” Ziyana turun dari tempat tidur. Gentala lalu menggandeng Ziyana keluar dari ruangan donor darah.
***
Sampailah mobil Gentala di depan rumah Ziyana. Ia turun lalu membukakan pintu untuk sang kekasih. Mereka melangkah bersama menuju pintu. Gentala menuntun Ziyana yang melangkah pelan karena masih lemas.
Di rumah sepi tidak ada siapa pun, orang tua Ziyana sedang bekerja. Mereka tidak tahu perihal anaknya yang mendonorkan darah. Ziyana juga tidak kembali ke kantor. Tidak mungkin ia bekerja dalam keadaan lemas seperti ini.
Gentala menuntun Ziyana ke kamarnya di lantai dua. “Kamu mau makan apa?” tanya Gentala. Ziyana harus makan setelah donor darah. Sepotong roti tidak akan mengembalikan tenaganya.
“Aku mau soto ayam Bandung, jawab Ziyana.
“Oke, aku beliin sekarang. Kamu istirahat aja dulu.” Gentala mengusap puncak rambut Ziyana dengan lembut terpancar rasa sayang dari matanya. Gentala lalu keluar kamar.
Ziyana tersenyum. Gentala telah kembali mesra seperti biasanya. Ziyana berbaring di tempat tidur, matanya perlahan terasa lebih berat lalu ia pun memejamkan matanya.
Setengah jam kemudian, Gentala masuk ke kamar Ziyana dengan membawa nampan di tangannya. Terdapat satu piring nasi, semangkuk soto ayam Bandung, lalu segelas s**u, dan air mineral.
Gentala melihat Ziyana tertidur pulas. Ia menaruh nampan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia tidak tega membangunkan Ziyana.
Tiba-tiba ponselnya berdering mengatakan kalau kondisi Rosiana menurun. “Baiklah, Sus. Saya segera ke sana. Terima kasih.” Gentala menutup teleponnya lalu menatap Ziyana.
Kekasihnya itu sedang tidur, mungkin tidak masalah jika ia pergi sebentar. Ziyana tidak akan tahu dia pergi. Dengan pikiran itu, Gentala pun keluar dari kamar Ziyana. Tanpa Gentala ketahui Ziyana sudah bangun dan mendengar perkataan Gentala di telepon.
Begitu mendengar suara pintu tertutup, Ziyana membuka mata. Hatinya teriris, air mata yang menggenang tak sanggup lagi ia tahan, hingga berubah menjadi isakan dan derai air mata. Lagi-lagi Gentala lebih memilih Ana palsu dibanding dirinya yang berstatus kekasih. Kepercayaannya dikoyak oleh janji palsu yang Gentala ucapkan.
Ponsel Ziyana berbunyi, ada pesan w******p yang masuk. Itu pesan dari Gentala, Ziyana membuka pesan tersebut dan membacanya.
Sayang, maaf aku ada urusan mendadak. Aku harus pergi. Aku nggak pamit sama kamu, karena nggak tega bangunin kamu. Aku sudah siapkan makanan buat kamu di meja samping tempat tidur. Kalau udah bangun langsung dimakan, ya.
“Ternyata kamu masih saja berbohong, Mas,” lirihnya pelan.
***
Esok harinya, Ziyana tidak mau memikirkan Gentala. Ia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Kini ada kasus baru yaitu perceraian. Di mana si suami terbukti selingkuh dan menggelapkan aset istri.
Sang istri menggugat cerai dan meminta asetnya di kembalikan. Ziyana bergabung dengan tim pengacaranya dipihak penggugat. Di tengah masalah percintaan yang ia alami, Ziyana harus tetap profesional dan fokus dalam pekerjaannya.
Entah efek dari donor darah atau karena banyak pikiran, akhir-akhir ini ia menjadi cepat lelah dan pusing. Demi ketenangan hatinya ia memblokir nomor Gentala.
Satu hari, dua hari, hingga tak terasa sudah satu minggu berlalu. Ziyana tinggal menunggu keputusan sidang besok, semua bukti sudah dipaparkan, saksi sudah memberi keterangan di sidang. Ziyana dan tim sudah berjuang keras dan berharap mereka memenangkan kasus ini.
Mengenai hubungannya dengan Gentala, Ziyana sama sekali belum membuka blokirnya di ponsel. Gentala pun tidak ada inisiatif untuk bertemu dengannya. Ziyana, pulang lebih cepat hari ini. Ia sampai di rumah pukul lima sore.
Ziyana segera ke kamar untuk membersihkan diri. Mama papanya Ziyana sedang duduk santai di depan televisi. Beberapa menit kemudian Ziyana keluar dari kamar dengan pakaian santai. Ia lalu duduk di samping papanya. Jadi, posisinya kepala keluarga di apit oleh dua bidadari.
“Ziya, gimana kasus yang kamu kerjakan? Udah ada keputusan?” tanya sang Mama, Gita.
“Besok baru ada keputusan, Ma,” jawab Ziyana.
“Oh,” Mulut Gita hanya berbentuk bulat tanpa suara.
“Gimana kamu sama Genta?” tanya papa Ziyana, Hendrawan.
“Baik? Papa tumben ada di rumah?” tanya Ziyana mengalihkan pembicaraan, Ia malas ditanya-tanya soal Gentala.
“Papa kangen rumah, kangen kamu dan kangen kita kumpul,” jawab Hendrawan seraya membelai rambut Ziyana dengan lembut. Tatapannya penuh perasaan sayang.
“Ziyana juga kangen Papa.” Ziyana memeluk cinta pertamanya itu dengan sayang.
“Aku nggak baik-baik aja, Pa. Genta udah khianatin aku, dia melukaiku berkali-kali.”
Ziyana hanya bisa mengeluh dalam hati, pelukannya semakin erat. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Anak Papa kenapa peluknya tambah kenceng, kangen banget, ya?” Hendrawan membalas pelukan Ziyana. Ia lalu mengusap-usap sayang punggung Ziyana.
“Dih, udah gede masih manja aja!” ledek Gita.
“Mama iri, tuh Zi. Pengen dipeluk juga.” Hendrawan yang membalas ledekan Gita.
Ziyana melepaskan pelukannya pada sang papa. “Mama bukanya iri, tapi cemburu!” koreksi Ziyana.
“Tenang, kalian berdua dapat pelukan papa.” Hendrawan lalu memeluk dua wanita kesayangannya. mereka tertawa bersama.
Hangat, itu yang Ziyana rasakan. Beberapa bulan ini memang mereka jarang berkumpul seperti ini karena kesibukan masing-masing. Kini kehangatan keluarga ini telah kembali, menjadi obat di saat hatinya terluka.