Bsb 5

1190 Words
Begitu ke rumah sakit. Gentala bertemu dengan orang tua Rosiana di depan ruangan ICU. Ia berkenalan dengan mereka. Gentala kemudian mengajak kedua orang tua Rosiana ke kantin rumah sakit agar bisa mengobrol lebih nyaman sambil makan. Mereka duduk berseberangan sambil menunggu pesanan datang. “Maaf, Bapak, Ibu sebelumnya karena saya terpaksa menjadi wali penanggung jawab untuk Rosiana. Saat itu darurat dan dia harus segera dioperasi. Maaf kalau saya lancang menandatangani persetujuan untuk operasi," ucap Gentala sopan. “Jangan minta maaf, Nak Genta. Justru kami yang harus berterima kasih karena Nak Genta melakukan hal yang tepat. Jika terlambat beberapa menit saja mungkin nyawa Rosi tidak akan tertolong,” ucap ayah Rosiana. Ayah Rosiana lalu menceritakan masalah yang sedang dihadapi oleh anaknya itu. “Sejak lima tahun yang lalu Rosiana didiagnosa mengidap penyakit langka yaitu Anemia Aplastik, kelainan darah langka di mana sumsum tulang gagal memproduksi sel darah baru (merah, putih, dan trombosit) secara cukup akibat kerusakan sel punca.” Gentala mendengarkan dengan serius. “Awalnya ia hanya sering lelah karena kuliah sambil bekerja, terus suka pingsan, kadang gampang memar, akhirnya waktu dia mimisan lalu pingsan kami bawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa dan dilakukan tes, ternyata dia mengidap Anemia Aplastik.” Raut wajah Andre, ayah Rosiana terlihat sendu. Seseorang datang membawa makanan pesanan mereka. Setelah menata makanan di meja, orang itu pergi. “Kasihan, dia masih muda, tetapi sudah menderita seperti itu. Dia harus sering masuk rumah sakit. Keadaan ekonomi kami tidak begitu baik, meskipun ada asuransi tetapi tidak mengkover semuanya ....” Andre menghela napas. “Rosiana sepertinya lelah dan putus asa, ia pun berniat bunuh diri. Begitu hilang dari rumah kami mencarinya ke mana-mana, tapi nggak ketemu. Sampai kami menerima telepon dari pihak rumah sakit. Maaf jika kami merepotkan dan terima kasih sudah menolong Rosi. Juga berapa biaya yang kemarin itu, biar saya ganti semuanya?” “Tidak usah, Pak. Saya senang bisa membantu. Kita harus semangat untuk Rosi. Bapak jangan khawatir, saya akan bantu biayanya. Rosiana akan sembuh, saya janji.” Gentala bersungguh-sungguh. Ia merasa iba mendengar kisah Rosiana. “Terima kasih banyak, Nak Genta. Padahal kamu bukan siapa-siapa dan kita baru kenal, tapi kamu begitu baik dan peduli pada anak kami." "Ini kewajiban kita sebagai sesama manusia, Pak. Selagi saya bisa dan mampu akan saya bantu sebisa saya," ucap Gentala. ia tidak akan mengatakan kalau sesungguhnya ia kenal dengan Rosiana sejak dulu. "Yang paling sulit itu untuk mencari donor darah, karena golongan darah Rosiana langka seperti saya. Saya pun sudah sering donor untuk dia, itu pun kadang kurang dan kalau saya sakit saya tidak bisa donor," lanjut Andre. “Anda tidak usah khawatir, saya kenal seseorang yang bisa mendonorkan darahnya dengan golongan darah yang sama seperti Rosiana,” ucap Gentala yakin. Orang tua Rosiana saling tatap dan tersenyum bahagia. “Benarkah? Terima kasih, Nak Genta. Oh ya, sampaikan juga terima kasih saya untuk orang yang sudah mendonorkan darahnya waktu operasi kemarin. Kalau tidak ada dia, Rosiana tidak akan selamat.” “Iya, Pak. Nanti saya sampaikan.” “Nak Genta, silakan makan dulu. Nanti keburu dingin,” ucap ibunya Rosiana, Arumi. “Iya, Bu.” Mereka pun mulai menikmati makanan tersebut. Selesai makan mereka kembali ke ICU. “Orang tua Rosiana?” tanya seorang perawat yang menghampiri mereka. “Iya, saya ayahnya. Ada apa, Sus?” tanya Andre. “Anda diminta menemui dokter, ada sesuatu yang ingin disampaikan.” “Iya, Sus.” Ayah dan ibu Rosiana berjalan di belakang perawat itu menuju ruangan dokter. Gentala hanya diam menatap ke dalam ruangan ICU. Malang sekali nasib Rosiana. Dalam hati ia berjanji akan mengusahakan apa pun agar Rosiana sembuh. Ia akan membahagiakannya, hingga Rosiana melupakan penderitaan yang dialaminya. Beberapa menit kemudian, orang tua Rosiana kembali dengan wajah murung. Tampak kesedihan di sana. “Apa kata dokter, Pak?” tanya Gentala. Ibunya Rosiana justru menangis. “Rosi harus segera transplantasi sumsum tulang belakang, sebelum penyakitnya tambah parah.” Andre menjelaskan yang dokter katakan. “Pak, di mana kita mencari orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya? Apakah Rosiana bisa sembuh, Pak? Aku tidak mau kehilangan dia!” Arumi sungguh tak sanggup kehilangan anak yang ia cintai. Anak satu-satunya. “Iya, Bu. Aku juga nggak mau kehilangan Rosi. Kita akan cari terus pendonornya.” “Saya juga akan bantu mencarinya, Pak, Bu.” “Terima kasih banyak, Nak Genta.” *** Genta sudah sampai di rumah, ia baru pulang dari kantor. “Genta, tumben udah pulang?” tanya ibunya yang duduk di ruang keluarga. “Iya, Ma. Pekerjaannya bisa diwakili orang. Genta mau mandi dulu.” Gentala beranjak ke kamarnya. Sengaja ia pulang cepat karena ingin menjenguk Rosiana. Ia juga sudah menyuruh asistennya untuk mencari orang yang siap mendonorkan sumsum tulang belakang buat Rosiana. Setengah jam kemudian, Gentala sudah rapi dan bersiap pergi. “Genta, mau ke mana?” tanya Silvana. “Mau keluar sebentar,” jawab Gentala. “Mama udah lama nggak ketemu Ziyana, kamu jemput dia suruh makan di sini. Mama masak banyak.” Gentala bingung, bagaimana caranya dia mengajak Ziyana sedangkan mereka saja sedang renggang. Bahkan nomornya saja diblokir oleh Ziyana juga seluruh akun media sosialnya. Bukan ia tak ingin menemui Ziyana, tetapi ia merasa saat ini Rosiana lebih penting. Ia sadar dirinya salah, telah melanggar janji untuk tidak peduli lagi pada Ziyana, ia meninggalkan Ziyana sendiri setelah donor darah untuk ke dua kalinya. Ziyana pantas marah padanya. Ia akan minta maaf, tetapi belum ada waktu. “Genta!” panggil ibunya. “Ah, iya Ma. Aku akan jemput Ziyana sekarang.” Gentala melangkah keluar dari rumah. “Heran, tuh anak kenapa ngelamun terus, sih?” gumam Silvana. *** Di sisi lain, tepatnya di kantor Ziyana. Wanita itu masih sibuk membaca berkas kasus terbaru. Di mejanya menumpuk berkas-berkas yang berhubungan dengan kasusnya. Ziyana tidak biarkan dirinya diam melamun. Ia harus sibuk agar tidak memikirkan satu orang yang tidak pernah peduli padanya. Bukan ia ingin melupakan Gentala. Ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi ia butuh waktu untuk mengobati hatinya, untuk mempercayai Genta kembali setelah dikecewakan ke sekian kalinya. Butuh waktu untuk memikirkan ulang semua hal. Namun, ia tidak mengerti kenapa Gentala bisa bersikap santai ketika nomornya diblokir? Benarkah Gentala tidak peduli lagi padanya? Kepala Ziyana tiba-tiba berdenyut nyeri. “Kamu, kenapa Ziya?” tanya seorang lelaki rekan kerja Ziyana. “Sakit kepala,” jawab Ziya seraya memijit pelipis kepalanya. “Kamu pulang aja, Ziya. Dari kemarin kamu aku lihat kamu terlalu memforsir kerja kamu. Ingat badan kamu juga butuh istirahat,” nasihat dari rekan kerjanya. “Iya, aku pulang sekarang. Nanti kalau ada apa-apa telepon aku, ya.” Ziyana merapikan berkas-berkas yang bertebaran di atas mejanya. Ia lalu memisahkan berkas yang akan dia bawa pulang. “Aku pulang duluan, ya.” Ziyana pamit pada semua orang. “Ziya kalau istirahat itu nggak bawa kerjaan pulang. Sama aja itu kerja cuma pindah tempat doang,” tegur temannya melihat berkas yang Ziyana bawa. Ziyana hanya nyengir kuda. “Tanggung sedikit lagi aku baca.” Ia lalu berlalu pergi. Sampai di luar gedung ia melihat seseorang yang sudah satu minggu ini tidak pernah bertemu. Seseorang yang dengan keras coba ia lupakan, tetapi sepertinya gagal. Sebab ia masih merasakan getaran itu begitu melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD