Ziyana menahan dirinya untuk tidak berlari menghampiri Gentala. Ia melangkah dengan pelan terkesan malas. Gentala menatapnya dalam sambil bersandar pada mobil seraya melipat kedua tangannya di depan d**a.
Jarak mereka semakin dekat. Ziyana berhenti dengan jarak dua langkah dari Gentala. “Kamu mau apa?” tanya Ziyana langsung. Ia tak ingin basa-basi menanyakan kabar.
Gentala menurunkan kedua tangannya lalu berdiri tegak. “Kenapa nomorku di blokir, akun medsosku juga?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Ziyana.
Ziyana terkekeh. “Lucu, aku sudah blokir sekitar satu minggu yang lalu dan kamu baru tanya sekarang, ke mana aja kamu selama ini?”
“Aku sibuk, belum sempat menemuimu, buka blokiran aku!” jawab Gentala dengan nada sedikit memaksa.
Ziyana tersenyum miring. “Sibuk? Sibuk dengan Rosiana?” Dalam hati sebenarnya Ziyana kecewa dan sedih karena Gentala sama sekali tidak minta maaf setelah meninggalkannya waktu itu.
Apakah menurutnya itu tidak penting? Karena itu dia merasa tidak bersalah dan tidak perlu meminta maaf.
Mengingat tempat mereka kini berada, Gentala tidak ingin berdebat dengan Ziyana. “Kita pulang sekarang, Mama mengundangmu makan malam di rumah. Aku antar kamu pulang terus kita ke rumahku.”
“Aku nggak mau pulang bareng kamu. Nanti aku ke sana sendiri. Kamu duluan aja.” Ziyana lalu berbalik badan dan pergi menuju tempat mobilnya berada.
“Ziyana.” Gentala memanggilnya dengan suara lembut, tetapi Ziyana tetap berjalan menjauh.
Gentala mengepalkan tangannya. Tidak mungkin dia berteriak di sini. Ia lalu berbalik dan masuk ke mobilnya. Ia akan mengikuti mobil Ziyana.
Begitu mobil Ziyana melaju, Gentala mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah Ziyana, Gentala ikut turun. Ziyana tidak memedulikan Gentala, tetapi juga tidak mengusirnya. Terserah lelaki itu mau berbuat apa, Ziyana masuk lalu langsung ke kamarnya.
Ia harus segera mandi dan pergi ke rumah Gentala memenuhi undangan mama Gentala. Walau kesal pada anaknya rasanya tidak sopan menolak undangan orang tua Gentala.
Selesai berdandan Ziyana keluar kamar. Tiba di ruangan keluarga ia melihat Gentala sedang duduk ditemani oleh mama Ziyana, Gita.
“Tuh, anaknya udah turun. Ya udah gih, kalian langsung berangkat aja, nanti kemaleman. Salam buat mama dan papamu ya Genta,” ujar Gita.
“Iya, Tante. Kami berangkat.” Gentala mencium tangan Gita. Begitu juga Ziyana mencium tangan ibunya.
Mereka lalu berangkat dengan mengendarai mobil Gentala. Di dalam mobil tidak terjadi percakapan, suasana begitu hening, bahkan tidak ada suara musik yang mengalun untuk memecah kesunyian. Ziyana malas bicara sedangkan Gentala bingung mengawali pembicaraan.
Namun, mereka tidak bisa begini terus. Rasanya tidak nyaman. Gentala akhirnya mulai mengeluarkan suara.
“Maaf,” ucapnya singkat sebagai pembuka. Ia melirik Ziyana ingin tahu reaksinya.
Ziyana terlihat melirik sekilas kemudian kembali menatap ke arah jendela mobil. Mungkin pemandangan di luar lebih menarik dari pada Gentala.
Melihat sikap Ziyana yang cuek, Gentala menghela napas. “Sayang, aku minta maaf. Aku udah ninggalin kamu ketika kamu tidur, tapi aku udah nulis pesan. Pas aku mau telepon kamu, nomor aku udah kamu blokir. Aku mau temui kamu langsung, tapi aku benar-benar sibuk. Maaf, ya, Sayang.”
Selesai bicara, satu tangan Gentala mengambil tangan Ziyana dan menggenggamnya. Ziyana menarik tangannya. Gentala masih saja berbohong. Sampai kapan semua ini akan berlanjut? Ziyana tidak bisa meneruskan hubungan ini jika masih saja ada kebohongan.
“Sampai kapan kita begini, Mas?” tanya Ziyana.
“Maksud kamu?”
“Sampai kapan hubungan kita ini dilandasi kebohongan. Sampai kapan kamu akan terus berbohong demi wanita itu? Aku capek, Mas. Kamu datang ketika butuh, udah itu kamu pergi buat ketemu dia. Kamu perhatian banget sama perempuan lain dibanding aku, kekasihmu sendiri yang udah mendonorkan darahnya buat wanita kesayanganmu itu! Aku sakit hati, Mas!” Ziyana mengeluarkan semua unek-unek yang terpendam dengan mata berkaca-kaca. Napasnya tersengal-sengal menandakan betapa ia emosi.
“Jadi, kamu nggak ikhlas donor darah buat Ana? Dia itu lagi sakit, kamu nggak usah cemburu. Aku hanya peduli dan bantuin orang yang sedang sakit. Kamu jangan egois!” ucap Gentala sambil tetap menyetir, matanya tertuju lada jalan raya, tetapi kata-katanya menusuk jantung Ziyana
Ziyana menatap tak percaya pada Gentala. Kenapa Gentala menuduhnya tidak ikhlas? Sedangkan ia hanya ingin Gentala tidak diam-diam menemui Rosiana, kekasih mana yang ikhlas kalau pacarnya perhatian sama perempuan lain? Ia iklhlas mendonorkan darah, tetapi tidak ikhlas dengan perhatian berlebihan Gentala untuk perempuan itu.
Jika Gentala ingin menjenguk Rosiana ‘kan bisa mengajaknya tidak perlu diam-diam seperti itu. Seperti seorang kekasih yang sedang selingkuh. Terus tadi Gentala bilang ia egois? Siapa lebih egois? Gentala yang lebih egois, memaksanya donor darah demi wanita itu lalu ditinggalkan begitu saja. Huh, maling teriak maling.
“Aku, egois? Tidak ikhlas? Kamu waras, Mas! Jangan dipelintir, Mas. Yang waras, yang waras!” teriak Ziyana kesal.
Gentala menepikan mobilnya merasa suasana tidak kondusif. “Ziya, aku nggak ngerti kenapa kamu marah-marah begini?”
“Hah, aku marah-marah? Kamu yang mulai! Aku tahu kamu pergi bukan karena ada kerjaan, tapi kamu menemani wanita itu di rumah sakit ‘kan? Jujur aja, Mas.”
“Iya, iya, oke aku ngaku. Aku ke rumah sakit karena kondisi Ana memburuk. Aku juga ....”
“Sebentar, Mas. Kamu bilang siapa? Ana? Kamu udah punya nama panggilan khusus buat dia, wah, hebat! Udah sejauh itu kamu ama dia.” Ziyana merasakan sakit yang amat sangat.
“Aku Ana kamu, Ata, tapi kamu nggak ngenalin aku dan anggap orang lain aku. Kamu menyakiti Ana kamu dan meratukan wanita lain,” jerit hati Ziyana.
Ana membuka sabuk pengamannya. Ia hendak membuka pintu, tetapi gentala langsung menahan tangannya. “Sayang, tunggu! Kamu salah paham. Ana itu bukan panggilan khusus, tapi karena itu memang nama dia.”
“Lepas!” Ziyana berusaha melepaskan tangannya. Ia malas membahas Ana.
“Kamu tenang dulu. Kita bicarakan baik-baik, oke.”
“Nggak ada yang baik-baik. Yang kamu lakuin juga nggak baik, aku nggak mungkin tenang aja kamu perlakuin kayak gini!”
“Iya, aku minta maaf. Aku salah. Aku nggak akan panggil dia Ana lagi. Aku nggak akan bohongi kamu lagi. Kalau aku mau jenguk dia aku akan izin kamu dan ajak kamu, oke?” Gentala mengalah untuk saat ini. Posisi mereka sedang di pinggir jalan dan ia tak ingin membuat keributan. Hari juga semakin malam, orang tuanya sedang menunggu kedatangan mereka.
Ziyana tidak percaya pada Gentala, tetapi ia juga tidak bisa berdebat di jalan seperti ini. Terlebih saat ini, orang tua Gentala pasti sedang menunggu mereka untuk makan malam.
Ziyana menarik tangannya hingga pegangan tangan Gentala terlepas. Ia lalu membenarkan posisi duduknya kemudian memasang sabuk pengaman. “Jalan, aku nggak mau bikin Mama kamu nunggu lama!”
Gentala membuka mulutnya ingin bicara. “Nggak usah ngomong apa-apa, diam! Nyetir aja.” Ziyana langsung menyela membuat Gentala kembali menutup mulut lalu menyalakan mobilnya.