Bab 7

1001 Words
Mobil melaju kembali dengan suasana yang lebih tegang dari sebelumnya. Gentala fokus menyetir, sedangkan Ziyana menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka. Begitu sampai di rumah Gentala, Ziyana langsung turun tanpa menunggu lelaki itu membukakan pintu. Gentala menghela napas lalu menyusul. “Alhamdulillah kalian sampai juga, Mama sudah khawatir Ziyana tidak datang.” ucap Silvana menyambut kedatangan Gentala dan Ziyana, mereka berdua mencium tangan Silvana dan ayah Gentala. Ziyana tersenyum tidak enak. “Maaf, Tante, Om, tadi ada sedikit kendala di jalan,” ucap Ziyana. Ya, kendala perdebatan Ziyana dan Gentala. “Kendala apa? Apakah terjadi sesuatu pada kalian? Terus kalian nggak apa-apa ‘kan?” tanya Silvana khawatir. “Kami nggak apa-apa, Tante, alhamdulillah. biasalah Tante, macet,” jawab Ziyana. “Oh, syukur alhamdulillah, Tante udah khawatir. Ya udah, yuk! Kita langsung aja ke ruang makan," ajak Silvana. Mereka pun pergi bersama-sama ke ruang makan, di sana sudah tersaji banyak hidangan di atas meja makan. Kepala keluarga duduk di samping Silvana. Gentala duduk di samping ayahnya dan Ziyana duduk di samping Gentala. Ziyana melirik Gentala yang tampak tidak fokus makan. Pikirannya melayang ke tempat lain atau sosok lain yang sedang sakit. Ia gelisah dan selalu melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. “Kamu kurusan ya, Ziya?” tanya Silvana. Ziyana mengalihkan pandangannya ke arah Silvana, mencoba tidak peduli pada sikap Gentala. Ia langsung tersenyum canggung. “Iya, Tante.” Ziyana tersenyum kecil. “Pasti kamu capek, jangan kerja terus. Kamu juga harus ingat makan, istirahat. Kamu itu bukan robot!” “Iya, Tante. Aku emang lagi banyak kasus di kantor. Suka telat makan.” “Kerja semangat itu bagus, tapi kesehatan juga penting. Semua harus seimbang.” Papa Gentala ikut bersuara. “Genta, kamu harus perhatiin pacarnya, dong! Kalau Ziya sering lupa makan kamu ajakin, atau kamu ajak makan siang bareng.” Silvana menegur Gentala yang diduga tidak perhatian. “Maaf, Sayang. Aku sibuk banget belakangan ini, nggak sempat ajak kamu makan bareng.” Gentala lalu mengambilkan hidangan daging lalu ditaruh di piring Ziyana. “Makan yang banyak, Sayang. Biar sehat dan berisi,” ucapnya lagi. “Makasih, aku ngerti kok, kalau kamu juga sibuk sama urusan kamu, sampai sering lembur. Jadi, aku selalu di duakan,” sarkas Ziyana. Ia tersenyum manis, tetapi sesungguhnya ia menyindir Gentala. Tatapan mereka bertemu, Gentala tersenyum tipis. Suasana makan malam terasa canggung bagi mereka berdua, tapi orang tua Gentala tidak menyadarinya. Gentala sesekali melirik Ziyana yang terlihat kesal dan menjaga jarak darinya. Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga. Berbincang sebentar. Tak terasa malam semakin larut. Silvana menyuruh Gentala mengantar Ziyana pulang karena. “Antar Ziya pulang ya, Mas,” pesan ibunya. “Iya, Ma.” Ziyana berdiri lebih dulu. “Aku, pulang dulu, Tante. Makasih makan malamnya, masakan Tante selalu enak.” “Kalau enak, sering-sering dong, ke sini. Nanti biar Tante suruh Genta jemput kamu.” “Iya, Tante, kalau aku nggak sibuk nanti aku sering ke rumah Tante.” Ziyana lalu mencium tangan Silvana dan ayah Gentala. “Gentala sebentar, papa mau ngomong sama kamu.” Papa Gentala sepertinya ingin bicara serius. “Aku tunggu di mobil,” ucap Ziyana lalu melangkah keluar seraya mengucap salam. Beberapa menit kemudian Gentala masuk ke mobil. Suasana kembali hening. Gentala menyalakan mesin, lalu melirik Ziyana yang duduk memalingkan wajah ke arah jendela. “Sayang, ...” “Nyetir aja,” potong Ziyana dingin. Gentala menelan ludah. Ia lalu menyalakan mobilnya dan perlahan mobil itu melaju menuju jalan raya. Gentala fokus ke jalan, ia teringat dengan pesan papanya tadi. “ "Genta, kamu sudah pacaran terlalu lama dengan Ziyana. Apakah kamu tidak ingin maju selangkah ke jenjang pernikahan? Jangan pacaran terlalu lama, segera lamar Ziyana. Kamu bicarakan baik-baik dengan Ziya, Papa harap ada kabar baik dari kalian... segera.” Suasana mobi masih hening, Ziyana tidak mengeluarkan satu pun suara. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Sementara Gentala dilanda rasa galau. Ucapan papanya menambah beban pikirannya. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Ziyana. Ziyana langsung membuka sabuk pengaman dan turun tanpa mengatakan apa pun. “Ziya!” panggil Gentala. Ziyana berhenti, tapi tidak menoleh. “Sebenarnya aku mau ngomong penting, tapi aku tahu hati kamu lagi emosi. Kita akan bicara setelah kamu merasa lebih baik. Aku akan beri kamu waktu. Maaf aku nggak mampir, ini udah malam.” “Kamu yang selalu bikin aku emosi!” ketus Ziyana. “Hati-hati di jalan!” ucap Ziyana mengingatkan. Ia lalu berjalan masuk. Meski sedang kesal ia tetap peduli pada Gentala. Rasa cintanya lebih besar dari pada rasa kecewa. Gentala menatap punggung Ziyana seraya tersenyum. Ia senang Ziyana masih peduli padanya walau sedang marah sekalipun. Ia merasa beruntung dicintai begitu besar oleh Ziyana. Gentala kemudian melajukan mobilnya begitu melihat Ziyana sudah masuk ke dalam rumahnya. Gentala mengarahkan mobilnya ke rumah sakit. Ia akan menjenguk Rosiana, sebelumnya ia mampir untuk membeli makanan untuk kedua orang tua Rosiana. *** Di dalam kamar, Ziyana menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Matanya terasa panas, tapi ia menahan air mata yang ingin jatuh. “Kenapa, sih kamu berubah banget, Mas?” gumamnya. Tiba-tiba ponsel Ziyana di dalam tas berbunyi. Ia lalu bangkit mengambil ponselnya di dalam tas. Ziyana melihat ada pesan dari Gentala. Gentala Aku minta maaf. Aku sayang kamu. Jangan marah lagi. Ziyana membaca pesan itu lama tanpa membalas. Beberapa menit kemudian masuk pesan lagi. Gentala: Telepon aku kalau kamu sudah siap bicara, Love you. Ziyana memejamkan mata. Ia menyimpan ponselnya tanpa membalas pesan Gentala. Ia masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya. butuh waktu untuk mencerna kejadian-kejadian yang mengganggu hubungannya dengan Gentala. Harus berapa kali Gentala meminta maaf, tetapi setelah dimaafkan kembali berbuat kesalahan? Ziyana bosan mendengarnya. Kata maaf dari mulut Gentala terasa hampa Tidak lagi terasa penyesalan atau ketulusan. Ziyana berguling-guling di tempat tidur. ia tiba-tiba bangkit lalu duduk di tempat tidur . Ia berpikir sebenarnya Gentala ingin bicara apa tadi? terlihat sangat serius. Apa ini berhubungan dengan panggilan papanya tadi? Ziyana menguap, ternyata malam sudah larut. Pantas terasa sunyi dan dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD