Bertemu Laras

1202 Words
Kenapa tidak maju untuk melangkah? Memperbaiki kesalahan yang terjadi dimasa lalu. Mengapa terus meratapi apa yang sudah terjadi? Bukankah sudah tidak ada gunanya lagi? Menyesal hanya membuat hidup kita berhenti di satu titik dan tidak akan bisa memperbaiki. * Hujan lebat disertai petir menguasai bumi malam ini. Rumah sakit terlihat sepi dan mencekam akibat cuaca yang sangat ekstrim tersebut. tidak seorangpun terlihat perawat yang berlalu lalang seperti hari biasanya. Melihat hujan, Nusa terbayang dengan malam naas yang membuatnya bertransformasi ke dalam tubuh seekor kucing, malam dimana ia di usir oleh Sekar secara kasar. Pandangan Nusa meredup, entah mengapa rasa sakit masih ia rasakan tatkala mengingat malam itu. Harga dirinya benar-benar terinjak ke dasar bumi, Nusa merasa sebagai laki-laki yang telah di permalukan dan di hina oleh seorang wanita bernama Sekar Ayu Diningtyas. Tidak seperti namanya, dia bukan wanita ayu melainkan seorang monster yang bersembunyi di balik paras ayu. Ditambah lagi akhirnya Nusa tau alasan Sekar membuangnya, bukan karena ia tidak mampu bekerja seperti yang mulut wanita itu ucapkan melainkan ada laki-laki lain yang telah mengisi hatinya. Semudah itukah Sekar berpaling? Harusnya pertanyaan itu Nusa tujukan untuk dirinya, bukan Sekar. Semudah itukah Nusa berpaling? Yang ada, sekarang Nusa menyesal. Menyesal telah memilih Sekar dan meninggalkan Laras yang tulus mencintai dan menerima diri Nusa apa adanya. Petir kembali menggelegar, memperlihatkan pada Nusa kalau ia lah yang berkuasa malam ini. Bola mata Nusa memandangi ruang yang selalu tertutup itu, sudah hampir dua minggu ia berdiri dan berjuang di dalam sana. Beberapa kali terlempar keluar karena dianggap sebagai kucing penganggu. Beberapa kali juga ia bersentuhan dengan tubuhnya dan berharap pertukaran itu terjadi, namun semua hanya sia-sia. Nusa sama sekali tidak menemukan celah untuk kembali pada raganya yang terbaring di dalam sana. Ataukah petir bisa mengembalikan aku lagi? Bukankah petir juga dulu yang membuat jiwaku berpisah dengan tubuhku? “Meooong.” Dengan mantap Nusa melangkahkan kaki ke bawah derasnya hujan, menjauh dari tempat perlindungannya. Kepalanya menengadah ke langit, menatap angkasa kelam yang sedang memuntahkan curahan air dan meniupkan angin. Tuhan semesta alam, kembalikan aku pada ragaku. Aku memerlukan ragaku supaya aku bisa bersimpuh di depan kaki Laras, istriku. Aku memerlukan ragaku supaya aku bisa memohon maaf pada Cakra dan Lentera, buah hati kami. Aku membutuhkan ragaku supaya aku bisa memperbaiki kesalahan dan kekhilafan yang telah aku perbuat. Aku membutuhkan ragaku untuk menyelesaikan masalahku dengan Sekar. Aku mohon Tuhan.... kembalikan aku pada ragaku yang masih terbaring di dalam sana. Whuuusshhh.... Angin bertiup menerpa tubuh Nusa yang telah basah kuyp tersiram air hujan. Sekuat tenaga ia mencengkrap tanah untuk menahan kuatnya angin. Nusa kemudian memejamkan mata, mengamini doa yang baru saja ia ucapkan, berharap Tuhan akan mengabulkan permintaannya malam ini juga. Seketika kilatan cahaya melewati tubuh Nusa diikuti dengan suara petir yang menggelegar. Nusa terperanjat dan merasakan aliran darahnya berjalan cepat. Nusa melayang. ** “Bagaimana keadaan nya, Dok?” Samar Nusa mendengar suara seorang wanita bertanya. “Dia demam.” Terdengar suara seorang pria menjawab pertanyaan wanita itu. Dimana aku? Nusa merasakan elusan lembut di kepalanya, perlahan-lahan ia mengingat apa yang sudah terjadi. Kemudian senyum terbit di wajahnya. Ia bisa merasakan kalau sekarang ia sedang tidur di kasur yang empuk dan hangat, bukan lagi di jalanan. Apakah tuhan sudah mendengar doaku? Aku kembali... tubuhku kembali.... Terima kasih Tuhan, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku berjanji kalau aku akan setia pada keluargaku. Terima kasih Tuhan... terima kasih.... Dengan riang Nusa bersorak di dalam hati, lalu ia mulai membuka mata guna menatap dunia yang sekarang telah berpihak kepadanya. Dimana aku? Kenapa dunia bewarna kuning? Kenapa semuanya bewarna kuning? Nusa kemudian memutar kepalanya ke sisi lain, ia terperanjat dan gamang saat melihat pemandangan yang berada di bawahnya. Tubuhnya sekarang berada di sisi jurang yang cukup tinggi, apabila ia bergerak sedikit saja maka ia akan jatuh ke bawah sana. Tunggu dulu... ini bukan seperti jurang. Ini seperti lantai dengan keramik bercorak coklat. Lalu apa yang bewarna kuning itu? Nusa kembali memutar kepalanya ke arah semula. Sekarang ia sadar kalau sekarang berada di dalam dekapan seseorang yang sedang memakai baju bewarna kuning. Orang itu mendekap Nusa dengan hangat. “Terima kasih, Dok. Aku permisi dulu.” Suara itu terdengar keluar dari atas kepala Nusa, suara seorang wanita yang sekarang mendekap Nusa di dadanya yang empuk. Aku ternyata belum kembali. Aku masih tetap seekor kucing, yang sekarang entah berada dimana. Nusa kembali menutup mata, pasrah dalam dekapan wanita itu. ** Dua hari Nusa berada dalam rumah sederhana punya wanita yang membawa Nusa ke dokter hewan tempo lalu. Di rumah ini, makan dan minumnya terurus. Dia tidak sendirian di sana, ada beberapa kucing lain yang berada dalam pengasuhan wanita itu. Sepertinya wanita itu penyanyang kucing, terlihat dari caranya memperhatikan, memberi makan dan memandikan. Tubuh Nusa sekarang mulai segar, ia merasa jauh lebih kuat di banding hari sebelumnya. “Hmmm... kau sepertinya sudah sembuh.” Wanita itu kembali mengelus lembut kepala Nusa. “Meooong.” Nusa menggesekkan kepalanya pada lengan wanita itu, setidaknya ia perlu mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Nusa sendiri tidak tau apa yang telah terjadi malam itu, kenapa ia bisa berada di tangan wanita yang baik hati ini. “Meooong.” Nusa kembali menggerakkan tubuh, membalas perlakuan wanita yang sekarang menyapu lembut tubuhnya. “Ayo main,” perintah wanita itu. Tidak jauh dari tempat Nusa sekarang, ada beberapa kucing yang sedang di beri mainan oleh wanita tersebut. Ada juga kucing yang seperti dirinya, diam dan tidur di kandang masing-masing. Wanita itu juga menyiapkan rumah untuk kucing yang sedang ia pelihara. Sungguh wanita yang baik hati. Namun Nusa tidak berminat untuk bermain, ia ingin keluar dari rumah tersebut dan mencari keluarganya. Sebuah mainan wanita itu letakkan di depan Nusa, tapi ia tidak tertarik. Mata Nusa menatap pintu rumah yang tertutup rapat, ia sedang mencari cara untuk keluar dari sana dan melanjutkan perjuangannya. Kemudian terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, Nusa menegakkan kepalanya. Setidaknya ia bisa melihat dunia luar dan menerka tempat ia sekarang berada. “Sebentar.” Wanita itu terburu-buru berjalan dari arah dalam untuk membukakan pintu. Ia lalu tersenyum pada tamu yang baru datang. “Silahkan masuk, letakkan di dalam ya,” ucap wanita itu. Lalu seseorang masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kardus berukuran kecil yang entah apa isinya. Nusa membelalakkan mata, tubuhnya langsung bangkit dan menatap tamu yang baru saja masuk. Tuhan... benarkah itu dia? “Saya letakkan di sini saja ya, Bu,” ucap tamu tersebut sambil meletakkan barang yang ia bawa di samping Nusa. Nusa memejamkan mata menikmati suara nan merdu yang baru saja melintasi telinganya. Pemilik suara yang sangat ia rindukan beberapa minggu ini. “Ini.” Wanita itu memberikan satu lembar uang kepada tamunya. “Terima kasih, Bu.” Ia lalu melangkah ke luar, meninggalkan ruangan tempat Nusa berada. “Meooong.... meooong....” Nusa berteriak sekuat tenaga, tangannya mencakar jeruji besi yang menghalanginya untuk mengejar orang itu. Laras... laras... tunggu! Ini aku Laraaas... ini aku... ini aku Nusa, suamimu! Tolong keluarkan aku dari sini, aku ingin meminta maaf padamu! Laraaaas..... “Meooong... meooong....” Nusa terus mencakar-cakar dengan garang saat melihat tubuh Laras menghilang di balik pintu. Jangan pergi Laras... jangan pergiiii.... Aku butuh bertemu denganmu, tolong keluarkan aku di sini! Layaknya manusia, tubuh Nusa luruh ke lantai melihat Laras pergi meninggalkannya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD