Di saat hati sudah terpaut
Di saat jiwa sudah menyatu
Tidak akan ada yang bisa memisahkan kecuali maut yang datang menjemput.
**
Laraaaas.....
“Meooong... meooong....” Nusa terus mencakar-cakar dengan garang saat melihat tubuh Laras menghilang di balik pintu.
“Meooong....”
“Kenapa? Kau kenapa?” Wanita yang membawa Nusa ke rumahnya itu berlari mengejar Nusa yang heboh. Ia membuka pintu kandang dan meraih tubuh Nusa untuk ia bawa ke pelukannya.
“Kau kenapa?” tanyanya lembut sambil mengusap kepala Nusa.
Dengan cepat Nusa melompat dari gendongan wanita itu dan berlari ke arah pintu yang tertutup. Nusa mencakar-cakar pintu kayu dengan kukunya yang tajam sambil berteriak.
“Meooong... meooong....”
Laraaas... laraaas....
“Hei, kau kenapa? Kau belum boleh keluar, cuaca di luar sedang tidak bagus. Apa kau mau di sambar petir seperti waktu itu?”
Wanita itu kembali meraih tubuh Nusa untuk duduk di pangkuannya. Ia memperlakukan Nusa dengan kasih sayang, seperti perlakuan seorang ibu terhadap anak kandungnya. Nusa merasa damai berada dalam pelukannya, seketika tubuh Nusa melunak dan terdiam dalam elusan si wanita.
“Untung aku cepat menemukanmu, kalau tidak kau pasti sudah mati di sana.”
Nusa mendengarkan apa yang wanita itu sampaikan, karena ia memang penasaran kenapa ia bisa sampai di tangan wanita yang baik hati ini.
“Meooong.” Nusa menidurkan kepalanya di atas paha wanita tersebut sambil memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa menemui Laras.
Jika Laras ia lihat datang ke rumah wanita ini, berarti jarak antara dia dan Laras tidak jauh. Mungkin esok atau esoknya lagi, Laras akan kembali datang. Seandainya Nusa bisa berbicara mungkin ia akan bertanya langsung pada wanita baik hati ini.
Nusa menjadi sadar diri, mungkin kejadian malam waktu itu peringatan dari tuhan karena jiwanya belum bisa kembali ke raga. Tuhan masih mengujinya untuk tetap berada dalam tubuh seekor kucing, ini artinya ia harus berjuang untuk mendapatkan maaf dari Laras beserta anaknya dahulu baru kemudian Tuhan mengembalikan jiwanya.
“Meooong.”
Nusa memejamkan mata di bawah elusan tangan si wanita yang baik hati itu, hatinya sudah mulai menerima takdir yang akan ia jalankan. Ini perintah Tuhan, dan Nusa tidak bisa lagi mengingkarinya.
Setidaknya Nusa sudah melihat dengan matanya sendiri kalau Laras dalam keadaan baik-baik saja. Itu sudah cukup bagi Nusa.
*
Laras menatap Nusa yang sedang membangun rumah kecil untuk mereka. Karena bekerja dengan orang kaya itu selama dua minggu, Nusa memiliki uang yang cukup hingga bisa membangun rumah di tanah milik keluarga Laras.
Tanah itu tidaklah luas, dan rumah yang mereka bangun juga tidak besar, tapi cukup untuk menampung mereka dan buah hati yang sebentar lagi akan lahir.
Sebagian bahan yang Nusa gunakan untuk membangun rumah sederhana mereka di ambil dari bahan yang sudah di buang, atap dan beberapa kayu yang masih layak pakai. Nusa tinggal membeli kekurangannya.
Rustam menawarkan tambahan uang jika ada lagi yang di butuhkan dan belum terbeli, namun Nusa bersikeras untuk menolak tawaran Rustam. Bagaimanapun, saat ia dan Laras sudah di izinkan untuk tinggal sebentar di sana, itu sudahlah cukup bagi Nusa. Ia tidak ingin lagi menampung hidup pada ayah mertuanya itu. Ia sangat malu.
“Dek, abang hanya bisa bangun yang seperti ini.”
Nusa berjalan mendekati Laras yang sedari tadi duduk memperhatikan. Pria itu mengambil tempat di samping istrinya.
“Tidak apa Bang, ini lebih dari cukup buatku.” Laras menjawab sambil mengelus perutnya yang besar.
“ Saat anak kita lahir nanti, kita sudah bisa menempatinya, ‘kan?” tanya Laras dengan wajah berseri.
‘Ya tuhan, Laras... hanya rumah kecil satu kamar tanpa dapur yang bisa aku berikan tapi kamu sudah sebahagia ini?’ Hati Nusa berkata, ia menatap haru pada wanita yang sebentar lagi akan melahirkan anaknya ke dunia ini. Jiwa raga Nusa ikut menghangat melihat reaksi Laras sewaktu bertanya, reaksi polos yang sarat akan cinta.
“Nanti saja kalau abang sudah bisa buatkan dapur sederhana baru pindah ke sini ya?”
Kasihan Laras jika ia nanti ingin masak tapi tidak punya dapur.
“Aku bisa masak di luar, Bang.”
“Nanti hujan gimana?” sanggah Nusa.
Laras tampak berfikir sebentar, lalu...
“Aku akan ambil sedikit sudut yang di dalam rumah untuk aku jadikan dapur. Sedikiiiit saja.” Laras menempelkan ibu jari dan telunjuknya sembari menyipitkan kedua mata.
Nusa tersenyum kecil melihat istri cantiknya itu. Meskipun perut Laras semakin membuncit dan bobot tubuhnya sudah naik beberapa kilogram, di mata Nusa ia selalu cantik.
Keduanya kemudian terdiam, mata mereka saling menatap satu dengan lainnya. Pancaran cinta terlihat jelas di wajah mereka.
Laras memutuskan tatapan mereka yang terpaut. Ia menghela nafas panjang.
“Aku sebenarnya juga malu harus menumpang terus di rumah Ayah,” ucap Laras dengan nada yang sangat pelan, ia menundukkan kepala.
Nusa terpana, ia semakin merasa bersalah pada istrinya, menyesali dirinya yang masih belum bisa memberikan kehidupan yang layak.
‘Tuhan... aku berjanji akan membahagiakan mereka seumur hidup aku, hukum aku jika aku sampai melalaikan mereka dan mengingkari janjiku.’
Nusa berjanji di dalam hati.
Ucapan Laras yang mengatakan juga malu untuk berlama-lama tinggal di rumah ayahnya tersebut seolah memacu Nusa untuk bekerja lebih giat lagi. Nusa memegangi kedua tangan Laras dengan erat.
“Abang janji, sebelum kamu melahirkan... kita akan menempati rumah sederhana kita ini.”
Tangan Nusa yang awalnya mengenggam erat tangan Laras sekarang berpindah pada perut Laras yang buncit. Tangan besar dan sedikit kasar itu mengusap perut Laras dengan kasih sayang.
“Doakan papa ya, Nak. Supaya papa bisa dapat rezeki yang lebih banyak lagi dan bisa menyelesaikan rumah yang sedang papa bangun ini.” Sembari berkata otak Nusa berfikir, pekerjaan apa lagi yang harus di lakoninya biar ia bisa dengan cepat mendapatkan uang. Bekerja dengan orang kaya pemilik istana itu sudah selesai, uang yang ia dapat sudah ia belikan untuk kebutuhan membangun rumah, sebagian lagi ia berikan pada Laras untuk di berikan kepada Ibunya. Mulai besok Nusa akan duduk kembali di pasar menjadi kuli panggul atau apapun yang di mintai orang, ia harus mengumpulkan uang lagi untuk membeli perlengkapan bayi karena sebentar lagi buah hati mereka akan lahir.
Kemudian Nusa menunduk untuk memberi kecupan di perut Laras. Rasa cinta nya untuk Laras dan calon buah hati mereka sangatlah besar. Cinta Laras untuk dirinya membuat Nusa kuat dan semangat untuk berjuang.
Laras seperti peri yang menerima Nusa apa adanya, menerima semua kekurangan Nusa padahal pria itu tidak memiliki apa-apa selain cinta.
Tangan Laras terulur untuk mengusap kepala suaminya, Nusa mengangkat kepala mendongak pada wajah Laras yang sekarang sedang menunduk menatap wajahnya.
“Aku sayang kamu,” bisik Nusa.
“Aku juga,” balas Laras.
“Aku cinta kamu,” ucap Nusa lagi.
“Aku juga.”
Nusa tersenyum, ia kemudian mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan singkat di bibir istrinya. Lalu ia menarik sedikit wajahnya demi melihat rona di wajah Laras.
Pipi kemerahan itu masih sama dengan saat pertama kali Nusa menyentuhnya dan Nusa tidak pernah bosan melihat bagaimana wajah Laras malu-malu saat Nusa menyentuhnya.
“Ayo kita masuk.”
Nusa bangkit dan mengandeng Laras untuk masuk ke rumah.
“Kita lanjutkan di dalam, ya,” ujar pria itu lalu memberikan kerlingan nakal untuk Laras.
Dengan tersenyum simpul Laras menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Nusa. Keduanya pun masuk ke dalam melanjutkan kegiatan yang sudah tertunda.
*
Dunia hanya milik mereka
Milik mereka yang sedang jatuh cinta
Yang lain....