Sepucuk Surat Perpisahan.

1034 Words
* * * Apa yang kudengar dari pria m*sum bernama Nick itu tidak membuat ku percaya begitu saja.Untuk mencari kebenaran nya,aku mendatangi tempat usaha Nathan.Miracle corp.Aku ingin memastikan jika yang dikatakan Nick adalah bohong.Nathan yang ku kenal sejak lama tidak mungkin berbuat sekeji itu pada ku.Aku yakin,itu hanya bualan dan cuma omong kosong pria itu yang berupaya memisahkan ku dengan Nathan.Oleh sebab itu,Nathan berniat memutuskan ku di hari jadi kami yang ke tiga tahun.Tapi yang ku herankan,apa maksud dan tujuannya?.Motif apa yang melatarbelakangi nya sampai ingin sekali memisahkan ku dengan Nathan?,sedangkan pria itu sama sekali tidak ku kenal.Bahkan belum pernah ku jumpai sebelumnya. "Selamat siang,Asya!.Apa pak Nathan ada dikantornya?".Aku bertanya pada resepsionis yang bekerja di bawah pimpinan Nathan Nugraha. "Maaf mbak Alma,Pak Nathan sudah tidak ada disini lagi.Perusahaan ini sudah berpindah tangan pada pak Nicholas Lee Aditirta.".Benar-benar mengejutkan ku penuturan Asya ini. Tidak habis pikir Nathan hengkang dari perusahaan dan menghilang dari ku secepat ini.Jika begini keadaan nya,harus ku akui kalau ucapan pria m*sum itu benar adanya. "Dimana sekarang Pak Nathan?.Apa kamu tau?".Asya langsung menggelengkan kepalanya yang tentunya ku mengerti dan ku percayai. Sebab aku yakin Nathan tidak mungkin pulang ke apartemen nya disaat sudah berulah dan melakukan dosa besar,yaitu menjual ku pada seorang gigolo.Nyali nya tidak lah sebesar kekejian nya.Nathan yang ku kenal dulu sangat baik,perhatian dan begitu mencintai ku,telah tiada.Nathan sekarang tak ubahnya seperti seorang mucikari yang sangat menjijikkan dan menyebalkan.Membuatku muak dan ingin menguburnya hidup-hidup. "Tidak mbak.Aku tidak tau.Pak Nathan pergi tanpa mengatakan apapun setelah berpamitan,tapi pak Nathan menitipkan surat ini untuk mbak Alma". Surat?.Perasaan ku tidak enak saat menerima surat yang diberikan Asya pada ku.Sungguh pandai Nathan ini.Sengaja menghindari ku dan tidak mau bicara secara langsung dengan ku untuk menjelaskan apa yang sudah diperbuatnya.Nathan memilih bicara dengan tulisan dan bukannya secara lisan. "Baiklah.Terima kasih!,Asya.Sampai jumpa!". Langkah ku memburu saat keluar dari lobby perusahaan menuju taman.Aku terduduk di bangku taman dengan perasaan tidak sabar untuk membaca sepucuk surat dari Nathan.Jantungku berdegup saat membaca isi surat ini. Teruntuk Alma ku sayang. Maafkan aku.Aku mencintai mu tapi telah memperlakukan mu semena-mena.Aku terpaksa melakukan itu pada mu.Aku bangkrut dan terlilit hutang yang nominalnya sangat besar.Saat membaca surat dariku ini,mungkin aku sudah pergi jauh.Kamu tidak perlu susah payah mencari pria yang pengecut ini. Do'aku semoga kau bahagia saat ku tinggalkan.Selamat tinggal,sayang. Nathan. Sadistik.Triple kill untuk mu Nathan.Aku merobek dan meremas surat yang bertulisan tangan Nathan dengan perasaan yang membara.Ku buang ke tempat sampah dan pergi sejauh mungkin dari taman yang pernah ku injak bersama Nathan.Sungguh benar ucapan pria yang bernama Nick itu.Nathan telah pergi setelah menjualku dan menghancurkan hidup ku.Pupuslah sudah harapan ku menikah dengan Nathan dan menjadi istrinya yang pernah ku impikan sebelum kejadian tadi malam berlangsung. Tapi setidaknya aku masih beruntung.Nathan tidak melamarku dan belum menikahi ku saat ku tau tabiat Nathan yang sebenarnya.Bahkan sedikit pun aku tidak menyesal ditinggalkan Nathan.Aku malah senang sebelum terlambat ku sesali.Sumpah demi Bibi ku,Arum.Aku akan menghapus kenangan Nathan didalam memori kepala ku. Mengungkit soal Bibi ku.Aku jadi merindukan nya dan ingin pulang menemui Bibi yang tinggal di kampung.Ya Bi Arum yang sangat ku sayangi dan satu-satu nya orang yang ku miliki di dunia ini setelah Nathan pergi.Bibi yang selalu ada untuk ku sejak aku dilahirkan.Ya benar.Sebab lbu meninggal setelah melahirkan ku ke dunia ini akibat pendarahan yang hebat.Aku besar tanpa merasakan kasih sayang lbu dan tidak pernah tau sosok Ayah ku. Jika pulang ke kampung halaman ku nanti,apa yang akan ku katakan pada Bibi?.Sungguh,aku tidak kuasa menyakiti hati Bibi jika Bib sampai tau yang telah ku alami.Bibi pasti akan bersedih dan menangisi ku.Aku tidak mau melihat Bibi menangis disaat masih membekas dalam ingatan ku akan pengorbanan Bibi untuk ku.Bibi sampai rela mengorbankan simpanan nya berupa gelang emas yang beratnya tidak lebih dari 5 gram hasil dari jerih payahnya sebagai penjahit rumahan biasa yang tidak memiliki sertifikat kursus.Keterampilan Bibi dalam menjahit baju yang didapat nya secara otodidak itu,cukup banyak menyumbangkan rejeki yang berkah meski penghasilan nya tidak menentu.Aku dan Bibi tidak kelaparan dan aku bisa bersekolah sampai lulus meski hanya sampai tingkat atas. Tapi,aku harus pergi kemana lagi jika bukan ke rumah Bibi?,sedangkan aku di Jakarta menetap di rumah kost.Aku tidak punya tujuan lain selain Bibi.Tidak mungkin aku tinggal disini lagi sementara banyak kenangan pahit yang terukir di kota ini.Tidak mungkin pula aku menghiba pada pria yang telah menodai kesucian ku.Sedetik pun aku merasa jijik saat menatap pria itu.Apalagi jika harus berlama-lama dengan nya. * * * Seperti orang linglung aku menyusuri jalan setapak menuju rumah kost ku yang sudah lama menjadi tempat berteduh ku selama di Jakarta.Tanpa kusadari aku sudah sampai disini saja saat matahari sudah mulai condong.Sesampainya didepan kamar kost ku,aku terkejut melihat koperku sudah ada diluar dan tergeletak begitu saja didepan pintu.Entah apa gerangan yang terjadi?.Aku tidak mengerti.Seingat ku,setiap bulannya aku rutin membayar uang sewa nya dengan tepat waktu. "Alma.Uang sewa mu bulan ini aku kembalikan ya.Maaf!.Kamu harus mengosongkan kamar ini dan pergilah ke alamat ini.Seseorang meminta ku untuk memberikan kartu nama ini pada mu,Alma.lni ambillah!".Ibu kost yang aku anggap sebagai lbu kedua,memberi ku sebuah amplop dan kartu nama yang bertuliskan Nicholas Lee Aditirta.Siapa dia?.Kenapa aku harus ke rumah nya dan menemui nya?. Semua ini membingungkan,tapi aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengambil kartu dan amplop yang lbu kost sodorkan lalu menyimpan nya di tas ku.Pasalnya aku tidak mau berdebat dengan lbu kost yang hanya memperpanjang dan menambah masalah yang sedang ku hadapi saat ini. "Baik Bu.Terima kasih.Aku pamit.Permisi".Sambil menyeret koper ku yang berisi pakaian dan barang-barang pribadi ku,aku melangkah dengan gontai menuju jalan raya. Entah aku harus pergi kemana sekarang?.Aku sudah tidak memiliki tempat tinggal sementara uang ku tidak cukup untuk bermalam di penginapan termurah sekalipun untuk jangka waktu yang lama.Sedangkan mencari tempat kost an yang lain dan murah dikota sebesar ini tidaklah mudah.Apalagi dikota yang dikenal sebagai kota metropolitan yang semuanya serba mahal. Mau tidak mau aku pun harus pulang ke kampung halaman ku dan menemui Bibi.Akhirnya dengan berat hati aku menaiki metro mini menuju terminal Bis antar kota.Hanya ini jalan satu-satu ku agar keluar dari tempat ini yang dimana terdapat banyak kenangan pahit yang terukir di dalam hidup ku.Kenangan bersama si pria pecundang dan si pria m***m itu.Kenangan itu harus segera ku lupakan dengan cara pergi sejauh mungkin dari kota ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD